Good Husband?

Good Husband?
Tiga Belas (Hal yang Bukan Biasa)


__ADS_3

Sheila melihat Bima tersenyum ramah ke arah Listy. Mereka terlihat sangat akrab dengan saling bercanda dan tertawa bersama.


"Maaf, aku sudah tidak bisa melanjutkan pernikahan ini lagi. Aku sudah menemukan wanita lain yang sangat aku cintai."


Seluruh tubuh Sheila membeku mendengar Bima mengucapkan kata itu dan pergi sambil menggandeng tangan Listy. Perlahan mereka mulai berjalan menjauh di depan Sheila.


Mereka tersenyum bahagia saat bersama. Membuat hati Sheila teriris dan merasakan perih. Rasanya sangat sakit.


Sheila merasakan sebutir air mata mengalir di pipinya. Dia menangis tanpa suara.


"Sheila..."


Bima melirik ke arah Sheila. Dia tersenyum simpul kemudian mengecup pipi Listy yang tersenyum penuh cinta pada wanita di sebelahnya.


"Sayang? Sheila.. Shel.."


Sheila membuka matanya dengan nafas terengah-engah. Dia menatap Bima yang melihatnya dengan wajah khawatir.


"Kamu kenapa? Mimpi buruk?" tanya Bima dengan nada khawatir.


Sheila langsung memeluk Bima tanpa menjawab pertanyaannya. Ternyata semuanya hanya mimpi. Semuanya tidak nyata. Bima masih berada di sampingnya. Sheila merasa sangat bersyukur akan hal itu.


"Tenang... semuanya baik-baik saja, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan..." ucap Bima sambil menepuk pelan punggung Sheila. Memilih untuk menenangkannya.


Bima menahan diri agar tidak bertanya pada Sheila apa yang sangat menggangu istrinya itu sampai dia bisa bermimpi buruk sambil menangis. Dia hanya ingin membiarkan Sheila merasa tenang terlebih dahulu.


Tak berselang lama Bima mendengar nafas Sheila yang mulai m teratur. Sheila tertidur dalam pelukannya.


Cukup lama, Bima membiarkan posisi itu sampai dirasa Sheila sudah mulai terlelap, perlahan Bima membaringkan Sheila pada tempat tidur yang lebih nyaman.


#


"Pak? Pak Bima? Pak?" ulang Jessica beberapa kali memanggil nama atasannya. Karena sedari pagi Bima sering tak fokus saat bekerja.


Padahal beliau tak pernah sekalipun hilang fokus bahkan saat kondisi badan sedang tidak fit sekalipun. Jessica cukup terkejut melihat bosnya bisa uring-uringan seperti sekarang.


"Oh maaf, iya kenapa?"


"Maaf Pak, ini ada beberapa dokumen yang terlewat belum Bapak tanda tangani."


"Benarkah, taruh di meja saja kalau begitu."

__ADS_1


"Baik, Pak. Kalau boleh tahu apa Pak Bima sedang tidak enak badan?"


Bima menatap Jessica bingung. Bukannya dia sangat sehat hari ini? Kenapa sekretarisnya itu memiliki pemikiran begitu.


"Tidak. Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik. Apa aku terlihat seperti orang sakit?"


"Tidak, Pak. Hanya saja Bapak terlihat kurang fokus. Saya pikir mungkin karena Bapak sedang tidak enak badan."


"Maaf, aku hanya sedang banyak pikiran."


Jessica menatap bosnya tak percaya. Sejak kapan Pak Bima banyak pikiran? Bahkan saat saham perusahaan turun drastis bosnya tak pernah merasa panik sedikitpun. Jessica jadi penasaran apa yang membuat bosnya bisa kepikiran sampai tak fokus bekerja seperti ini.


"Kalau Bapak tidak keberatan, Bapak bisa bercerita kepada saya. Saya akan berusaha untuk membantu semampu saya, Pak."


Bukannya Jessica ingin mencampuri urusan pribadi bosnya. Hanya saja pekerjaannya bisa berkali lipat tambah banyak nanti kalau keadaan bosnya tidak kunjung membaik.


Bima menatap Jessica enggan. Sebenarnya Bima hanya kepikiran soal Sheila yang dari tadi pagi terus mendiamkannya. Membuatnya seakan memiliki salah kepada istrinya itu.


Padahal dia merasa tidak melakukan hal yang salah. Jujur Bima tak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Masalahnya adalah Bima tak mungkin menceritakan masalah rumah tangganya kepada orang lain. Tapi Bima juga merasa bersalah jika karena dirinya urusan kantor jadi banyak yang kacau.


"Kalau Bapak tidak bisa bercerita kepada saya, mungkin Bapak bisa mencari orang lain yang Bapak rasa nyaman untuk bercerita," usul Jessica yang sepertinya cukup membantu.


#


"Hai..." Sapa Dewa ramah saat melihat Sheila menuruni tangga.


Tiwi akhirnya undur diri untuk menawarkan minuman tapi ditolak halus oleh Dewa karena dia bilang takkan berlama-lama.


"Apa aku mengganggu?" tanya Dewa masih dengan nada ramahnya.


Sheila menggeleng sambil tersenyum ramah juga. "Tidak sama sekali. Aku hanya... Ya kau tahu, hanya sedang bermalas-malasan di kamar."


Dewa tersenyum senang mendengar jawaban dari Sheila. "Bagus. Oma menyuruhku menjemputmu untuk makan siang bersama. Aku berharap kamu tidak keberatan dengan hal itu?"


Sheila merasa sepertinya itu bukan ide yang buruk. Apalagi setelah mimpi buruk semalam, Sheila jadi merasa takut untuk tidur.


"Tentu saja aku bersedia. Waktuku sangat tersedia untuk Oma. Bisa tunggu sebentar, aku akan siap-siap dulu."


"Oke."


Sheila langsung bergegas kembali ke atas untuk bersiap-siap. Tidak lupa juga dia mengirim pesan kepada Bima untuk memberikan kabar.

__ADS_1


#


"Oh.. cucu Oma yang paling cantik sudah datang." Diana langsung menyambut Sheila dengan pelukan hangat, padahal mereka baru saja membuka pintu.


"Oma sudah kangen sekali sama kamu. Jadi Dewa menyarankan untuk menculikmu ikut makan siang bersama," ucap Diana tanpa mengurangi raut bahagia di wajahnya.


Sheila menatap Dewa yang tersenyum ramah kepadanya. "Semua akan Dewa lakukan agar bisa membuat Oma bahagia."


"Terimakasih. Kamu memang yang terbaik."


Hari ini Sheila merubah penilaiannya pada Dewa dari pertama mereka bertemu. Dewa ternyata sangat ramah dan mudah mencairkan suasana.


Guyonan-guyonan lucunya selalu berhasil membuat Oma dan Sheila tertawa terbahak-bahak.


Drrt... Drrt ...


"Maaf, nona-nona cantik. Sedikit ada keperluan mendesak," ucap Dewa sambil mengacungkan ponselnya, "aku akan segera kembali." Dewa menjauh sejenak untuk mengangkat teleponnya.


"Bukankah dia menyenangkan? Sangat berbanding terbalik dengan Kakak sepupunya, Bima. Sebenarnya dulu saat masih kecil Dewa itu cukup pendiam, bahkan Bima yang selalu lebih riang dan aktif untuk bermain."


"Mas Bima begitu Oma?" tanya Sheila tak percaya membayangkan Bima jadi cerewet seperti Dewa.


Diana mengangguk semangat. "Iya. Dia selalu dikelilingi banyak anak-anak untuk mengajaknya bermain. Bahkan saking seringnya bermain diluar, pernah sekali Bima pulang dengan baju dan tubuhnya.. uhh.. semua tertutup lumpur. Katanya jatuh di parit atau apa dulu Oma lupa."


"Serius Oma? Mas Bima berarti bandel banget ya Oma pas masih kecil?"


"Bukan lagi. Bima sama sekali tak pernah absen membuat orang rumah mengomelinya. Uhhh, bikin gemes pokoknya." Diana berdiam sejenak dan menurunkan senyum bahagia pada bibirnya.


"Tapi setelah kecelakaan itu terjadi Bima berubah jadi pendiam sekali. Dia juga jadi jarang main bersama teman sekolah dan terus memilih untuk mengurung diri di kamarnya. Kalau ingat itu hiks... Oma selalu..."


Sheila memeluk Oma yang mulai terisak. Ini pertama kalinya Sheila mendengar dan tahu apa yang terjadi pada kedua orang tua suaminya.


Dia tak pernah menyangka bahwa keduanya ternyata telah meninggal akibat kecelakaan. Entah bagaimana kronologinya Sheila tak berani bertanya lebih lanjut. Jika melihat bagaimana reaksi Oma dan berubahnya Bima hingga menjadi pendiam seperti sekarang, tentu kejadian itu sangat membuat traumatik bagi keluarga Rahadi.


"Oma sangat bersyukur Bima masih diberikan keselamatan. Oma tak tahu bagaimana jadinya kalau Bima juga harus pergi," lanjut Diana saat isakannya sudah mereda.


Sheila terkejut saat tahu ternyata Bima juga berada dalam kecelakaan itu.


"Ada apa ini? Apa aku ketinggalan sesuatu yang menarik?" tanya Dewa yang sudah kembali ke meja makan.


"Tidak. Bukan apa-apa," balas Oma sambil tersenyum kembali. "Ayo kita lanjut makan."

__ADS_1


#


__ADS_2