
Sheila hanya bisa membalas semua candaan Dewa dengan senyuman. Selama perjalanan pulang tentu saja Dewa selalu menjadi dominan dalam dialog keduanya.
Sesekali Sheila lebih memilih mengawasi jalan dari kaca mobil. Dia hanya masih kepikiran dengan cerita Oma tadi.
"Oh, benar. Kita akan lewat kantor Kak Bima. Jalan itu akan lebih senggang..."
Sheila tetap mendengarkan Dewa yang terus mencoba mengobrol lebih banyak dengannya. Sheila mengamati jalan yang dia ingat merupakan kawasan perusahaan suaminya.
Sheila juga ingat rumah makan di depan kantor. Bahkan Sheila masih ingat meja mana yang dia pakai. Meja itu, tunggu... Sheila sampai harus membuka kaca mobil untuk memastikan dia tidak salah lihat.
"Ada apa?" tanya Dewa khawatir saat melihat Sheila yang tenang berubah menjadi panik.
"Tidak. Bukan apa-apa sepertinya aku salah lihat." Jelas Sheila kembali membenarkan posisi duduknya.
Sheila mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dia melihat chat balasan dari Bima yang belum sempat dia buka.
'Mas Bima di mana?' ketik Sheila lalu dia kirim.
'Di kantor. Ada apa?'
'Sudah makan siang?'
'Sudah. Baru selesai tadi. Tumben kamu tanya aku sudah makan siang atau belum.'
'Makan siang sendiri?'
'Sama Listy. Kebetulan tadi baru selesai meeting sama dia, jadi sekalian dia makan siang disini.'
Ternyata Sheila tidak salah lihat. Jadi tadi benar dia melihat Listy dan Bima makan bersama sambil berpegangan tangan.
Sheila jadi teringat mimpi buruknya semalam. Sheila takut jika mimpi buruknya tidak hanya sekedar bunga tidur.
'Mas, nanti Sheila mau main ke rumah temen boleh?'
'Siapa?'
'Gia.'
'Iya, boleh.'
Sheila meletakkan ponsel kepangkuannya. Dia kembali murung menatap ke arah jalanan. Tentu saja Dewa masih mengamati apa yang terjadi pada kakak iparnya ini.
"Mas Dewa..."
"Hmmm? Iya, kenapa?"
"Apa saja yang Mas Dewa tahu tentang hubungan Listy sama Mas Bima?"
Dewa tertegun menatap Sheila sejenak sebelum akhirnya bercerita semua yang dia tahu.
#
Tok.. tok.. tok..
"Hey, tumben main nggak ngomong dulu?" ucap Gia kaget mendapati Sheila sudah berada di depan pintu kamar kosnya.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Sheila langsung memeluk Gia erat. Gia yang mengerti bahwa sahabatnya ini tidak sedang baik-baik saja langsung membawanya masuk.
Gia mendudukkan Sheila ketepian tempat tidur. Menatap sendu sahabatnya yang masih terisak.
"Gi, gue harus gimana?"
"..."
"Gue takut cerai, hiks..."
"Lo ngomong apa sih? Kenapa lo harus cerai?"
"Gia, gue nggak mau cerai."
"Bima bilang mau ceraiin lo?"
Sheila menggeleng pelan, "enggak," lirihnya.
"Terus kenapa lo bisa kepikiran kalau bakal cerai? Bima kasar sama lo?"
Sheila menggeleng lagi. "Mas Bima baik banget sama gue."
Gia menatap Sheila tak mengerti. "Coba lo tenangin diri lo dulu, habis itu lo bisa cerita ke gue."
"Gi, gue takut Mas Bima suka sama cewek lain. Lo tahu kan alasan kita nikah? Gue sama Mas Bima sama-sama terpaksa nikah. Gimana kalau Mas Bima sama sekali nggak bisa suka sama gue terus minta cerai?"
"Lo udah mulai suka sama Mas Bima?"
"..."
"Jadi lo udah mulai suka sama Mas Bima, tapi lo belum tahu gimana perasaan Mas Bima sama lo?"
"Nggak cuma itu. Mas Bima punya first love yang bahkan gue nggak berani ngebayangin bisa saingan sama dia."
"Mereka mulai berhubungan satu sama lain lagi?"
"Bukan lagi. Mereka dari dulu nggak pernah lost contact, bahkan Listy udah kayak bagian dari keluarga Rahadi."
"Terus apa yang lo takutin coba? Kalau selama ini mereka deket dan nggak memilih buat nikah. Ya udah jelas mereka nggak ada rasa satu sama lain, kan?"
"Mereka nggak direstui," ucap Sheila lirih.
"..."
"Gue harus gimana, Gi?" Mata Sheila kembali terlihat sendu. Membuat Gia tak berani mengatakan apapun dan hanya bisa memeluknya.
"Gue bener-bener takut, Gi."
"Sheila, mending lo omongin ini baik-baik deh sama Mas Bima. Lo tahu kan gue belum nikah, jadi sorry banget gue nggak berani ngasih lo saran lebih dari ini."
"Tapi gue takut... Gue takut denger hal yang nggak pengen gue denger."
Gia mengusap punggung Sheila pelan. Kembali mempererat pelukan keduanya.
#
__ADS_1
"Kirim alamatnya sekarang!"
"Juwan, siapkan mobil sekarang juga!"
"Baik, Tuan."
Bima sudah mulai uring-uringan saat Sheila tak kunjung pulang padahal sekarang sudah tengah malam dan tak ada kabar lagi dari istrinya itu setelah pesan tadi siang.
Bima bahkan harus merepotkan sekretarisnya di tengah malam untuk mencari alamat rumah Gia dan melacak sinyal terakhir dari ponsel Sheila.
Masalahnya adalah sekarang Gia tidak sedang berada di alamat rumah aslinya. Dia tinggal di kos dan sering berpindah-pindah. Gia tidak pernah tinggal di kos yang sama lebih dari 3 bulan.
Tok.. tok.. tok..
Gia mengusap matanya saat mendengar pintu kamarnya di ketuk. Dia berdiam sebentar untuk memastikan bahwa memang ada orang yang benar-benar mengetuk pintu kamarnya.
"Iya, sebentar."
Gia membeku beberapa detik saat mendapati Bima sudah berada di depan pintu kosnya dengan dua orang pria tinggi besar di belakangnya.
"Apa Sheila ada di sini?"
Dengan wajah masih syok, Gia mengangguk. "Iya, dia ada di dalam."
"Permisi," ucap Bima lalu masuk ke dalam kos begitu saja bahkan sebelum dipersilahkan oleh pemiliknya.
Gia meninggalkan dua orang besar lain di luar dan mengekor di belakang Bima, menghampiri Sheila yang tengah terbaring di tempat tidur.
"Bisa berikan nomer ponselmu?" ucap Bima kembali berbalik ke arah Gia.
Bima tak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Akan lebih mudah jika dia memiliki nomer Gia untuk dihubungi.
Gia mengangguk mengerti dan kemudian mengetikan nomer pada ponsel yang diberikan kepadanya.
"Apa Sheila bercerita sesuatu padamu?"
Gia terdiam. Dia tak tahu harus mengatakan semuanya atau lebih baik memilih untuk diam. Namun pada akhirnya dia menggeleng pelan sebagai jawaban.
Gia mengulurkan ponsel Sheila pada Bima. "HP Sheila tadi mati, mungkin dia lupa mengabari."
"Terimakasih." Bima menerima ponsel milik Sheila dan memasukannya ke kantong celananya.
Gia memperhatikan bagaimana Bima menatap Sheila yang mulai perlahan mengangkat tubuh kecil temannya.
Bahkan Bima sempat menghentikan pergerakannya saat Sheila melenguh, seakan Bima tak ingin membuat Sheila terbangun.
Gia tersenyum kecil saat melihat Sheila bahkan tak terbangun saat Bima menggendongnya. Gia bahkan melihat Sheila mengusapkan wajahnya di leher Bima, seakan itu tempat ternyamannya untuk tidur.
"Aku akan membawa Sheila pulang. Terimakasih sebelumnya dan maaf harus datang tengah malam seperti ini."
"Tidak apa-apa."
Gia ikut mengantar Bima sampai ke mobilnya. Sebenarnya Gia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia masih enggan, antara takut dan bingung.
Pada akhirnya Gia tak berani dan membiarkan mobil mewah itu melaju pergi.
__ADS_1
#