Good Husband?

Good Husband?
Dua Puluh Lima (Memperjelas Ingatanmu)


__ADS_3

"Kamu kemana saja?!" Tanya Bima setengah marah pada Sheila yang kini sudah berada di kamar.


Bima langsung bergegas putar balik ke rumah saat Tiwi memberi kabar bahwa Sheila tengah berada di rumah.


"Sekarang aku sudah di rumah. Bukannya Mas Bima ada yang ingin dijelaskan?"


Bima menghela nafas panjang. Dia ingin marah, tapi disisi lain dia juga ingin semua kesalahpahaman ini segera berakhir. "Apa yang ingin kamu ketahui? Aku akan menjawab semuanya."


"Apa semua yang Kak Keyra katakan itu benar? Apa benar Mas Bima dan Kak Keyra pernah tidur bersama?"


"Itu hanya sebuah kesalahan."


"Jadi semua itu benar?" Sheila menatap Bima kecewa. Dia tak percaya bahwa suami dan kakaknya pernah berhubungan sampai sejauh itu.


Sheila pikir keduanya tak ada hubungan sama sekali, selain perjodohan tanpa perasaan.


"Saat itu disebuah pertemuan, ada yang salah memberikan obat perangsang pada minuman kami berdua. Mereka bilang seharusnya gelas itu untuk orang lain, tapi kami tak sengaja meminumnya."


"..."


"Setelah itu pasti kamu tahu apa yang terjadi. Saat itu kami tak mempermasalahkannya karena pada akhirnya kami juga akan menikah. Semuanya diluar kehendakku. Juga, saat itu kami tak memiliki persamaan lebih satu sama lain. Jadi aku berpikir itu bukan sesuatu yang besar."


"Lalu apa bedanya dengan apa yang kita lakukan di Lombok? Bukannya kita juga berada dibawah pengaruh alkohol?"


"Jelas itu sangat berbeda!"

__ADS_1


"Apanya yang berbeda? Kita melakukannya juga dalam keadaan tak sadarkan diri dan kita juga tak ada perasaan satu sama lain."


"Tidak semuanya benar. Kamu harus tahu bahwa saat itu aku tak mabuk sama sekali. Aku melakukannya dalam keadaan sadar."


"Siapa yang tahu Mas Bima jujur atau tidak? Pada saat itu bahkan banyak hal yang tak begitu jelas untukku. Bagaimana bisa aku percaya Mas Bima juga mabuk atau tidak?"


Bima mendorong Sheila untuk berbaring ke tempat tidur. "Kalau begitu aku akan membuatnya nyata sampai kamu tak bisa melupakan setiap detailnya."


"Apa yang Mas Bima mau lakukan?"


"Memperjelas ingatanmu." Bisik Bima pada telinga Sheila yang berhasil membuat seluruh tubuh Sheila meremang.


Sheila tak percaya mereka akan melakukannya. Apa Bima sudah gila? Bagaimana bisa mereka melakukannya di tengah argumen ini.


"Mas Bima sudah gila ya!"


"Kamu bisa mendorongku semaumu, kalau kamu bisa." Tantangnya yang jelas membuat Sheila kalah telak. Mana mungkin dia bisa mendorong Bima mundur.


Sekarang Sheila hanya bisa mengikuti dan menuruti apa yang Bima perbuat padanya. Bahkan isakan tangis kecil Sheila tak menghentikan apa yang tengah Bima lakukan.


"Kamu harus tahu betapa besar aku mencintaimu." Bisiknya ditengah isakan Sheila.


"Masss Bimaa.. cukuphh.. hiks.." mohon Sheila yang tak didengarkan sama sekali oleh Bima.


Bahkan Bima semakin gelap mata saat mendengar Sheila memohon sambil meracaukan namanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." Balas Bima mengecup kening, kedua mata, hidung dan kemudian turun ke bibir Sheila.


"Aku mencintaimu." Ulang Bima terus menerus sampai Sheila membalasnya.


#


Sheila mengerjabkan mata. Dia melihat sekeliling kamar. Sepertinya ini sudah sangat siang.


Sheila mengintip bajunya. Sepertinya Bima mengganti baju dan juga membersihkan tubuhnya.


Seperti biasa Bima sudah menyiapkan makanan dan juga memo kecil di sebelah makanannya.


'Maafkan aku. Aku hanya ingin kamu tahu bagaimana aku sangat mencintaimu. Mungkin setelah bangun kamu akan sedikit kesulitan, jadi makanlah walaupun hanya sedikit. Dari suami yang selalu mencintaimu.'


Sheila tersenyum kecil melihat memo itu dan bergantian melirik makanan di meja. Dia benci pada dirinya sendiri yang mudah tersentuh hanya dengan hal kecil seperti ini.


Di dalam hatinya, Sheila bertanya pada dirinya sendiri, apakah tidak masalah jika dia memaafkan hal ini?


Jika dipikirkan lagi, sebenarnya masa lalu Bima dan Keyra bukan hal yang penting. Lagipula dulu keduanya memang hampir menikah. Semuanya memang benar diluar kemampuan Bima.


Apa mungkin sekarang Sheila juga sudah jatuh cinta begitu dalam pada Bima sampai tak berpikir lebih rasional seperti sekarang?


Sheila menggeser tubuhnya untuk sedikit lebih dekat dengan meja nakas dan benar saja, dia merasakan nyeri disekujur tubuhnya. Apalagi dibagian pinggang ke bawah.


Sepertinya Sheila akan membatalkan untuk memaafkan Bima. Dia akan marah lebih lama lagi karena Bima telah membuatnya kesakitan hingga seperti ini.

__ADS_1


#


__ADS_2