
Melihat mobil papanya yang sudah berada di garasi dijam segini membuat Keyra cukup terkejut. Tidak biasanya papanya pulang lebih awal.
Saat masuk ke dalam rumah, Keyra lebih dikejutkan lagi saat melihat Mbak Nia membawa semangkuk bubur ke lantai dua yang seharusnya lantai itu hanya ada kamar Sheila dan Keyra.
"Sheila ada di rumah, Mbak?"
"Iya, Non. Non Sheila baru keluar dari rumah sakit pagi tadi. Nyonya meminta untuk membawa pulang Non Sheila ke rumah dulu sebelum pulih."
Keyra mengangguk mengerti. "Aku aja yang bawa buburnya, Mbak." Keyra mengambil alih bubur itu dari tangan Mbak Nia.
Sebenarnya Mbak Nia merasa sungkan. Bagaimanapun juga Keyra tak pernah sekalipun mengerjakan pekerjaan rumah.
"Udah, nggak pa-pa. Sekalian juga kan aku mau ke atas."
"Baik, Non. Kalau begitu saya permisi ke dapur." Akhirnya Mbak Nia menyerahkan nampan itu pada Keyra.
Tok.. tok..tok..
"Iya, Mbak. Masuk aja."
"Aku nggak tahu kalau kamu sakit sampai dirawat di rumah sakit."
"Kak Keyra? Aku kira Mbak Nia."
"Sorry ya, aku nggak ikut jenguk."
"Nggak pa-pa, Kak. Aku tahu Kak Keyra sibuk."
Sheila mengangkat sedikit badannya agar bisa duduk. Keyra meletakkan bubur Sheila di meja kecil yang ada di sebelah tempat tidurnya.
"Kamu sakit apa?"
"Cuma demam aja. Mas Bima terlalu melebih-lebihkan. Sebenarnya aku nggak perlu sampai ke rumah sakit."
"Ya nggak pa-pa dong. Berarti dia care sama kamu. Lagian kamu aneh-aneh aja. Musim kemarau panas begini bisa-bisanya demam."
"Hehehe, salahku sih pengen tidur di luar pas ke puncak kemarin."
"Oh, kalian habis liburan?"
Sheila mengangguk sambil tersenyum. Dia juga mulai memakan buburnya.
"Berarti hubungan kalian udah mulai dekat ya? Aku denger kamu juga baru pulang bulan madu dari Lombok."
"Heem.. hadiah dari oma."
"Kenapa nggak ambil yang di Paris?"
"Kakak juga tahu soal itu?"
"Denger aja sih. Jadi kamu beruntung dong udah nikah sama Bima?"
Sheila menatap kakaknya bingung, tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka. "Maksud kakak gimana?"
"Aku lagi susah banget ini. Kayaknya aku kena karma deh sama kamu. Salah satu produkku ada yang ditarik BPOM, tapi nama baik produkku udah jadi terlanjur jelek. Penjualan plus konsumen yang datang ke klinik menurun drastis. Beberapa bulan ini aku udah habis-habisan pakai tabunganku sendiri buat gaji karyawan sama naikin produkku lagi, tapi gagal. Aku bahkan juga udah minjem uang di bank."
__ADS_1
Sheila menatap kakaknya kaget. Walaupun mereka besar dari bisnis, tapi mereka tak pernah di ajarkan untuk meminjam uang di bank oleh papanya. "Kenapa kakak nggak pinjem aja sama papa?"
"Kamu nggak tahu ya? Papa udah lepas gara-gara kejadian kemarin. Katanya karena aku nggak nurut jadi aku udah siap untuk mandiri tanpa bantuan papa. Ya, beginilah."
Sheila menggeleng tak percaya. Padahal papanya sangat sayang pada Keyra. Bagaimana mungkin papanya memutuskan hal seperti itu.
"Kalau kamu disini berarti Kak Bima juga disini?"
"Mas Bima masih di kantor. Nanti pulang dari kantor katanya mau mampir."
Keyra mengangguk mengerti. "Ya udah, habisin buburnya. Biar cepet sembuh."
"Iya, Kak. Thanks."
Kemudian Keyra meninggalkan Sheila untuk pergi ke dalam kamarnya. Badannya sudah sangat lelah karena beberapa hari ini diforsir untuk bekerja.
#
"Bima udah sampai?"
"Iya, Ma. Bagaimana keadaannya Sheila, Ma?"
"Sudah lumayan membaik, udah sempet turun juga tadi dari kamar. Katanya bosen di kamar terus."
"Kalau begitu Bima langsung ke atas ya, Ma."
"Iya. Nanti nginep disini aja, Bim."
"Iya, Ma. Nanti Bima omongin dulu sama Sheila."
"Dia baru aja tidur."
Bima langsung menghentikan tangannya. "Oh, aku pikir kamu tidak ada di rumah."
"Iya. Kemarin-kemarin lagi sibuk banget. Emang baru tadi siang pulang."
"..."
"Oh iya, aku boleh ngobrol sebentar nggak?"
"Mau ngomong apa? Kalau soal kemarin aku udah maafin. Lagipula diantara kita tidak mungkin ada yang merasa disakiti atau menyakiti."
"Tapi aku masih belum lega kalau nggak langsung minta maaf sama kamu."
"Oke, sebenarnya ada yang mau aku tanyakan juga."
Keyra mengangguk mengerti dan kemudian membawa Bima ke rumah kaca di belakang rumah.
Jarang ada yang datang ke sana kecuali mamanya. Karena yang merawat bunga-bunga disana hanyalah mamanya.
"Bunga-bunga yang indah." Puji Bima yang melihat beberapa bunga warna-warni telah mekar sempurna.
"Mama suka banget sama bunga. Jadi papa buat rumah kaca ini sebagai hadiah."
Bima mengangguk mengerti. Alasan kenapa omanya memilih tunangannya dari keluarga Wijaya adalah karena melihat kemesraan keduanya bahkan diusia yang tidak muda lagi.
__ADS_1
Oma berharap Bima juga akan mendapatkan hal yang sama jika berhasil dijodohkan dengan salah satu putri keluarga Wijaya. Maka dari itu oma tidak marah bahkan saat mereka mengganti pengantin wanitanya.
"Jadi?" Ucap Bima yang ingin ini cepat selesai.
"Aku benar-benar merasa bersalah padamu. Aku sebenarnya tidak ada niatan untuk membatalkan pernikahan kita. Kamu tahu aku hanya merasa masih terlalu muda untuk menikah."
"Iya, tidak masalah."
Bukannya merasa lega, Keyra sedikit merasa tak suka saat Bima menerimanya begitu saja.
Walaupun Keyra sudah menduga bahwa Bima akan bereaksi seperti ini, tapi melihat sendiri bagaimana Bima bereaksi begitu tenang. Membuat Keyra merasa dia bukan apa-apa dan Bima tak akan merasa kehilangan sedikitpun.
"Kamu juga tahu kan kalau hari-hari menuju pernikahan merupakan hari yang paling berat. Apalagi saat aku mendengar hal yang sebenarnya konyol, tapi entah kenapa saat itu aku mempercayainya."
"Mendengar apa?"
"Hanya hal konyol tentang kesialan dan sebagainya."
"Oh itu, jadi kamu mendengarnya. Maaf, seharusnya aku memberitahumu lebih dulu."
Keyra cukup terkejut bahkan Bima tak ada niat untuk menyangkalnya.
"Kenapa reaksimu begitu tenang?"
"Kamu mengharapkan aku bereaksi seperti apa?"
"Sheila juga tahu hal ini?"
Bima mengangguk. "Aku memberitahunya beberapa hari yang lalu."
"..."
"Sepertinya semua sudah jelas. Sebaiknya kita bergegas kembali ke dalam."
Bima meninggalkan Keyra yang masih berdiri disana. Keyra hanya ingin merenungkan apa dia baru saja melakukan kesalahan karena membatalkan pernikahan mereka?
#
Bima mengerutkan sedikit keningnya saat melihat Sheila sudah berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Apa kamu sudah cukup sehat untuk melakukan ini?" Tanya Bima tak suka tapi dia berusaha membuat nada bicaranya senormal mungkin.
Sheila sebenarnya sadar kalau Bima sedikit kesal. Mungkin jika mereka sedang berada di rumah, Sheila sudah ditarik pergi dari dapur.
"Mas Bima udah disini? Oh kata mama, Mas Bima mau nginap juga?"
"Bagaimana menurutmu?"
"Karena sudah disini nginep aja sekalian. Kan, Mas Bima juga belum pernah nginep disini."
"Oke. Kalau begitu aku akan menginap."
Sheila tersenyum senang dan kembali melakukan kegiatannya, tapi Bima menariknya pergi untuk duduk di sofa menemaninya mengobrol.
#
__ADS_1