
"Tuan, saya sudah memastikan semuanya. Bahwa Nyonya Sheila tidak pernah menikah dengan siapapun. Untuk sekarang Nyonya Sheila hidup bersama seorang wanita lansia dan seorang putra. Saya sudah memastikan bahwa anak itu adalah anak dari Tuan Bima."
Juwan menyerahkan hasil tes DNA yang telah dia lakukan diam-diam pada Bima.
"Kerja bagus. Tetap awasi Sheila dan laporkan semuanya."
"Baik, Tuan."
"Sekarang kamu bisa pergi."
Seperginya Juwan, Bima masih menatap kertas ditangannya. Jika saja dia tahu Arjuna adalah anaknya, pasti dia akan memperlakukan dia lebih baik lagi.
#
Berulang kali Sheila sudah meminta Nek Isha untuk kembali ke kamar, tapi dia masih saja begitu keras kepala ingin membantu pekerjaan Sheila.
Terpaksa Sheila akhirnya mengizinkan Nek Isha untuk membantunya mengelap beberapa piring yang telas selesai dia cuci.
Membersihkan rumah sambil mengamati anaknya yang tengah bermain bersama anak majikannya, merupakan rutinitas Sheila saat ini.
Sheila sangat bersyukur memiliki majikan sebaik Intan. Wanita cantik itu begitu murah hati membiarkan Arjuna yang notabenenya adalah anak pembantu bisa bermain dengan anaknya.
Tidak hanya bermain, bahkan Intan juga memperlakukan keduanya tanpa ada perbedaan. Layaknya Arjuna seperti anak Intan sendiri.
Jasmine juga hampir setiap hari datang untuk bermain. Baru kemarin juga Sheila sempat menyapa gadis kecil yang selalu diceritakan Arjuna kepadanya.
Anehnya, Sheila tak pernah melihat orang tua Jasmine mengantarnya kesana. Sheila hanya selalu melihat Jasmine datang diantar oleh sang supir yang juga jarang terlihat di sekitar.
Bagaimanapun Sheila merasa bersyukur tak harus bertemu dengan Bima maupun Listy.
Meskipun Bima tak dapat mengenalinya, tapi Sheila masih merasa terbebani saat bertemu dengannya.
Setelah pekerjaannya usai, Sheila kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak. Bunyi ponsel membuat Sheila tak jadi memejamkan matanya dan memilih untuk memeriksa siapa yang mengiriminya pesan.
Ada sebuah video dan juga pesan di bawahnya. 'Apa kamu yakin tahu siapa ayah dari anak itu?'
Refleks Sheila melempar ponselnya. Tanpa sempat memutar videonya, Sheila sudah tahu video apa itu hanya dengan membaca pesan di bawahnya.
Ingatan itu perlahan kembali teringat jelas seperti baru Sheila alami kemarin.
Darimana orang-orang itu tahu nomer ponselnya? Padahal Sheila terus mengganti nomernya secara bertahap.
__ADS_1
#
Hari ini Bima sudah memutuskan untuk membawa Sheila kembali ke rumah. Dia sudah meminta Listy agar Intan bisa memberikan Sheila waktu untuk berbicara dengan Bima.
Dari penjelasan singkat Listy, Intan cukup paham bagaimana kondisi Bima dan Sheila saat ini. Hal itu juga memperjelas Intan, darimana wajah tampan Arjuna diturunkan.
Awalnya memang Intan cukup terkejut, tapi dia memilih untuk percaya dan tak keberatan membantu Listy dan Bima.
#
Dengan wajah bingung Sheila berjalan ke arah kamarnya untuk beristirahat. Entah apa yang terjadi, Intan menyuruh Sheila untuk beristirahat lebih awal.
Bahkan dia juga mengajak Arjuna dan Nek Isha untuk keluar bersama dan meninggalkan Sheila untuk menjaga rumah.
Katanya sebagai ganti Sheila tidak ikut, Intan bersikeras untuk meminta Sheila beristirahat di kamar.
Bahkan Intan sampai memanggil jasa membersihkan rumah dari luar untuk memastikan bahwa Sheila benar-benar harus beristirahat.
"Apa aku kelihatan seperti orang sakit?" Tanya Sheila pada dirinya sendiri. Tapi seingatnya dia sangat sehat, mungkin hanya sedikit banyak pikiran saja.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa?" Tanya Sheila pada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Karena tak kunjung ada jawaban, Sheila bangkit dan membuka pintu.
Pasti akan lebih aneh jika tiba-tiba saja Sheila menutup pintu kamarnya begitu saja.
"Maaf, sepertinya Anda salah ruangan. Saya permisi." Ucap Sheila tanpa berani menatap mata Bima. Dia kembali menutup pintu, tapi Bima lebih dulu berhasil menahannya.
"Tidak, aku memang berencana datang untuk menemuimu." Bima masuk menyelinap ke dalam kamar Sheila tanpa permisi.
"Apa kamu ingin menutupnya? Atau kamu lebih nyaman membiarkan pintunya terbuka?" Tawar Bima setelah berada di ruangan yang sama dengan Sheila.
"Apa yang sedang Tuan lakukan?"
"Aku? Aku hanya sedang mencoba mengobrol dengan istriku."
Sheila mematung mendengar kalimat Bima. Bukannya Bima tak dapat mengenalinya kemarin? Lalu bagaimana bisa?
"Apa maksud Tuan? Mungkin Tuan salah mengenali saya dengan orang lain?"
"Kamu masih menyangkalnya? Sebenarnya kemarin aku hanya berpura-pura tak mengenalimu dan memilih waktu yang tepat untuk membawamu pulang. Aku tak ingin kamu kabur lagi seperti sebelumnya."
__ADS_1
"Aku sudah menikah dengan orang lain. Untuk apa kamu datang mencariku?" Ucap Sheila yang secara tidak langsung telah mengaku.
"Aku tahu kamu berbohong."
"Bukannya kamu juga sudah memiliki keluarga baru? Putrimu pasti terluka jika tahu apa yang sedang dilakukan papanya sekarang."
"Apa yang kamu katakan? Aku tak pernah menikah lagi. Tak perduli apa yang terjadi, kamu akan selalu menjadi istriku."
"Aku melihatnya. Gadis kecil bernama Jasmine, bukannya dia putrimu dengan Listy?"
"Jasmine memang anak Listy, tapi dengan suaminya. Listy menikah dengan orang lain tepat setelah kamu pergi. Sayangnya suami Listy sakit dan harus pergi meninggalkan keluarganya. Jadi aku membiarkan Jasmine melihatku seperti sosok ayah untuknya."
"..."
"Kamu juga tidak perlu merasa bersalah soal Keyra. Keyra sudah menikah dengan Dewa. Kamu harus pulang dan melihat banyak hal yang terjadi saat kamu tak ada."
"..."
"Juga papa dan mamamu... Tidakkah kamu merindukan mereka?"
Perlahan sebutir air mata Sheila mulai menetes. Dia benar-benar telah menjadi anak yang durhaka. Bisakah dia termaafkan?
"Mama cukup terpukul dan sempat jatuh sakit. Apa kamu tidak ingin melihat keadaannya sekarang?"
Sheila menggeleng perlahan. Mungkin mamanya akan lebih terpukul jika tahu alasan sebenarnya Sheila pergi dari rumah.
"Aku tidak bisa kembali." Sheila terisak sambil berbisik lirih.
"Aku tahu kamu butuh waktu untuk berpikir. Pikirkan semuanya dengan baik, tapi tolong.. tolong jangan pergi lagi. Aku mohon.. aku juga ingin tetap bisa melihatmu, melihat bagaimana anak kita tumbuh."
Sheila mendongak menatap Bima. "Kenapa kamu begitu yakin bahwa Arjuna adalah anakmu?"
Bima hanya bisa tersenyum sambil memberikan sebuah kertas pada Sheila. "Tak perduli sekeras apapun kamu mengelak, aku akan membawa bukti dan membantah semuanya."
Sheila membaca kertas hasil yes DNA yang menunjukkan bahwa Arjuna memang anak kandung dari Bima.
Sheila semakin terisak bahagia. Sebenarnya selama ini dia bahkan tak tahu dan tak mau tahu siapa ayah Arjuna. Yang dia tahu Arjuna adalah anak kandungnya.
Sekarang dia semakin lega saat tahu Arjuna bukan anak dari salah satu bajingan yang menyerangnya.
Perlahan Bima memeluk Sheila yang masih terisak. Sheila terhanyut dan menerima pelukan hangat dari Bima.
__ADS_1
"Aku berjanji semuanya akan baik-baik saja. Tak akan ada yang bisa menyakiti keluarga kita. Kamu tidak perlu khawatir lagi."
#