Good Husband?

Good Husband?
Lima Belas (Mendaki)


__ADS_3

Bima tersenyum kecil menatap Sheila yang tertidur lelap di pangkuannya. Dia rapikan anak-anak rambut Sheila agar tak menghalangi wajahnya.


"Bisa-bisanya kamu tidur selelap ini setelah membuatku khawatir? Kamu harus aku apakan, huh?"


Sheila melenguh dalam tidurnya seakan membalas pertanyaan dari Bima. Membuat Bima tak bisa menyembunyikan senyum gelinya.


"Kita langsung ke Fila."


"Baik, Tuan."


Juwan langsung melajukan mobilnya ke tempat Fila keluarga Rahadi.


#


Sheila menguap lebar. Dia menarik selimutnya lebih tinggi. Entah kenapa dia merasa pagi ini terasa begitu dingin.


Dia mengerjabkan beberapa kali matanya. Menatap aneh ke sekeliling kamar. Seingatnya kos Gia tidak semewah ini. Mungkinkah dia sedang bermimpi atau apa?


Sheila terpekik kaget saat mendapati bahwa orang yang tidur di sebelahnya bukanlah Gia, melainkan Bima.


"Kamu sudah bangun?" Bima tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Sheila sayang.


"..."


"Oh, kemarin aku menjemputmu dari kos Gia." Jelas Bima saat melihat wajah Sheila yang kebingungan.


"Kita dimana, Mas?" tanya Sheila karena jelas ini bukan kamar mereka di rumah.


"Kita di puncak. Ingat kan ini weekend minggu terakhir. Kita sedang liburan."


Sheila mengangguk. Dia kembali mengingat isi perjanjian pranikah mereka yang diminta oleh Sheila.


"Maaf, lain kali kita akan pergi ke tempat yang ingin kamu kunjungi."


Sheila langsung turun dari tempat tidur untuk berjalan ke arah beranda. "Boleh kubuka?" tanya Sheila menatap ke arah Bima.


Bima tersenyum kecil. Bagaimana bisa dia berkata tidak saat kedua tangan Sheila bahkan sudah memegang handle jendela.


"Buka aja."


Sheila tersenyum. Kemudian dia membuka jendela besar di beranda. Berjalan riang keluar menikmati hawa dingin puncak.


Dia mengamati sekeliling. Sepertinya ini masih sangat pagi untuk melihat pemandangan, karena pohon-pohon tinggi masih tertutup kabut pagi.


"Suka?"


Bima tiba-tiba memeluk Sheila dari belakang. Membuat hawa dingin sekitar terhalang oleh hangat dari tubuhnya.


Bima meraih tangan Sheila dan kemudian mengecup telapak tangannya. "Lain kali, kalau mau nginep di rumah temen ngomong ya. Jangan buat khawatir lagi."


Sheila baru kembali teringat bahwa kemarin dia masih uring-uringan dan menginap di rumah Gia tanpa memberi tahu Bima.


Sheila melepas pelukan Bima dan berbalik menatap Bima, merasa bersalah. "Maaf."

__ADS_1


Bima membenarkan helaian rambut Sheila yang sedikit menghalangi wajahnya. "Kamu seharusnya dihukum karena nakal." Sheila mengerjabkan mata tak mengerti dengan ucapan suaminya.


Bima hanya tersenyum kecil dan kembali memeluk Sheila. "Ayo sarapan. Habis itu kita mendaki."


Sheila menatap Bima penuh minat. "Serius?"


Bima mengangguk yang semakin membuat Sheila tersenyum girang. Sudah lama dia ingin mendaki gunung, tapi Papanya tak pernah memberinya izin.


#


Setelah sarapan dan menyapa beberapa pekerja di fila, akhirnya mereka mulai mendaki.


Walaupun matahari sudah mulai naik, tapi Sheila masih merasakan sedikit sisa dingin dari embun pagi.


"Lewat sini." Sheila langsung mengganti arah jalannya ke tempat yang ditunjuk Bima.


"Apa tidak apa-apa kita mendaki tanpa pemandu?" tanya Sheila dengan nada khawatir. Entah sudah keberapa kalinya dia menanyakan hal yang sama pada Bima.


"Kenapa? Kamu takut dimakan harimau?"


"Hah?! Disini beneran ada harimau? Serius?"


Bima tertawa kencang setelah berhasil menjahili Sheila dan membuat istri kecilnya itu bergidik ketakutan.


"Mas Bima bohong ya?" tanya Sheila yang merasa kesal karena dijahili.


"Walaupun di pegunungan, tapi sudah banyak pemukiman penduduk di sini. Aku bisa memastikan tidak akan ada binatang buas yang akan menyerangmu."


"Aku sudah menjelajahi area ini dari umur 10 tahun dan tak pernah absen sekalipun dalam setahun untuk mendaki disini. Apa itu belum cukup layak untuk menjadi pemandumu?"


Sheila mengangguk mengerti. Sepertinya dia terlalu banyak khawatir.


"Sudah merasa lebih lega sekarang?"


"Hehehe, iya. Mas... Lihat!" Sheila berlari kecil menuju pohon besar di depannya.


"Pelan-pelan aja. Jangan lari-lari," ucap Bima khawatir sambil mengikuti langkah Sheila di belakang.


Sheila menatap takjub rumah pohon di depannya. Sudah lama Sheila ingin memiliki rumah pohon karena menonton ulang film Heart di TV saat dia masih kecil.


"Apa ini bisa dinaiki?" tanya Sheila menunjuk rumah pohon di depannya.


"Tentu saja bisa. Para pekerja disini selalu merawat dan akan mengganti kayu yang mungkin sudah tak layak."


"Aku boleh naik ya? ya? ya?" rengek Sheila pada Bima layaknya anak kecil.


"Apa aku bisa melarangmu?"


Sheila menggeleng sambil tersenyum. "Aku akan terus ngebujuk Mas Bima sampai bilang iya."


"Kalau begitu aku menyerah. Kamu bisa naik sekarang."


"Yes!" Sheila langsung bergegas menaiki anak tangga di depannya.

__ADS_1


"Hati-hati, tangganya mungkin basah karena embun," ucap Bima yang juga mulai menaiki tangga.


"Iya," balas Sheila dengan senyum yang tak hilang sejak tadi.


Sheila menatap takjub rumah pohon yang benar-benar seperti rumah mini di atas pohon ini. Sheila tak mengira bahwa di dalamnya lebih dari yang dia bayangkan.


Ada kursi dan meja kayu untuk istirahat. Bahkan ada single bed dan juga dapur mini disini. Sheila tak akan terkejut jika ada orang yang tinggal disini.


"Kamu menyukainya?"


Sheila menatap tak percaya Bima menanyakan hal itu padanya. Bukankah jawabannya sudah terlihat sangat jelas dari wajahnya.


"Ini luar biasa. Bahkan mungkin aku bisa tinggal disini."


"Tapi sayangnya aku tidak akan mengizinkannya."


Sheila menatap Bima tak suka. "Kenapa?"


"Kalau kamu bermalam disini, bisa-bisa aku menemukanmu membeku di pagi harinya."


Sheila mengangguk mengerti. Benar juga. Saat siang saja terasa sangat dingin, apa jadinya jika dia tidur malam di tempat yang hampir terbuka seperti ini.


"Benar. Itu pilihan yang buruk," ucap Sheila setuju.


Sheila tertawa kecil saat melihat Bima harus menunduk di dalam sini. Sepertinya jadi orang tinggi tak selamanya menyenangkan.


"Apanya yang lucu, hem?" tanya Bima menatap Sheila sambil tersenyum.


"Sepertinya kita harus segera keluar dari sini," ucap Sheila sambil menunjuk Bima yang menunduk.


"Aku setuju," balas Bima. Dia merasa akan sakit leher jika berada di dalam lebih lama lagi.


Bima melangkah lebar untuk bergegas keluar. Tapi tiba-tiba saja dia tersandung oleh kaki kursi dan menubruk Sheila yang berusaha menangkapnya.


Sheila hampir saja terjatuh ke belakang karena beban tubuh Bima, tapi beruntungnya Bima sigap dan langsung menahan tubuh Sheila supaya tidak jatuh.


Suasana yang awalnya tegang terpecah oleh tawa Sheila. Dia menertawakan hal yang baru saja terjadi. Sekarang jadi siapa yang diselamatkan siapa.


Tawa Sheila berhenti saat menyadari Bima menatapnya serius. Bima menggunakan sebelah tangannya untuk menelusuri wajah Sheila perlahan.


"Apa boleh aku melakukannya?"


Seperti terhipnotis, Sheila tak mendengar apa yang Bima tanyakan dan hanya berdiam menatap Bima.


Diamnya sang istri, Bima artikan sebagai persetujuan. Dan akhirnya dia mulai mencium bibir kecil Sheila yang terasa dingin tapi hangat di dalamnya.


Tak berlangsung lama hingga akhirnya Bima menghentikan ciuman mereka. Dia tak bisa berlama-lama berciuman dalam posisi yang tak nyaman ini. Bima takut mungkin Sheila akan benar-benar jatuh nantinya.


"Ayo, kita kembali ke Fila," bisik Bima akhirnya yang berhasil mengembalikan kesadaran Sheila.


Sheila mengangguk kecil dan kemudian digandeng Bima pergi dari sana.


#

__ADS_1


__ADS_2