Good Husband?

Good Husband?
Tiga Puluh Sembilan (Dalang Penculikan 2)


__ADS_3

Handyan menuju lantai paling atas perusahaan. Lantai dimana ruangan presdir berada. Seumur-umur selama dia bekerja disana, Handyan belum pernah menampakkan kaki ke lantai itu.


Sebenarnya rasanya cukup aneh dan ada sedikit rasa takut saat berada di lantai yang diduduki oleh Bima ini.


Sekretaris Bima mempersilahkan Handyan untuk masuk ke dalam. "Pak Bima sudah menunggu di dalam."


Setelah beberapa ketukan pintu dan dipersilahkan masuk oleh Bima, Handyan dengan perasaan berat melangkah masuk ke dalam ruangan paling besar di perusahaan ini.


"Silahkan duduk." Ucap Bima ramah.


Dengan sangat hati-hati, Handyan duduk di sofa yang berada di tengah ruangan. Baru beberapa saat dia duduk, seseorang mengetuk pintu ruangan.


Sekretaris Bima datang membawakan segelas menimun untuknya. Handyan cukup senang mendapat perlakuan yang baik. Hanya saja dia bukan tamu agung yang perlu untuk diperlakukan seperti itu.


"Aku baru tahu tentangmu yang bekerja disini. Seharusnya aku datang menyapamu lebih awal." Ucap Bima mengawali pembicaraan sambil duduk santai di depan Handyan.


Handyan hanya bisa menaikkan alisnya tak mengerti dengan maksud atasannya.


"Kamu adalah kakak tingkat Sheila di kampus, kan? Dunia begitu kecil, sehingga kita dipertemukan kembali dalam satu perusahaan."


"Perusahaan Anda masuk dalam jajaran top 3 perusahaan besar. Tentu banyak masiswa yang ingin bergabung bersama dengan perusahaan ini."


"Benar. Karena banyaknya pesaing, tentu untuk bekerja disini bukan hal yang mudah. Apalagi kamu langsung menempati posisimu sekarang. Pasti perusahaan ini melihat potensimu yang luar biasa, bukan?"


Handyan hanya bisa tersenyum kikuk mendengar pujian dari Bima. Masalahnya semua kalimat pujian itu tidak terdengar sedang memuji sama sekali.


"Siapa?"


Handyan menatap Bima tak mengerti. "Maaf?"


"Siapa yang membantumu?"


"Apa maksud Pak Bima, saya tidak mengerti."


"Siapa orang yang membuatmu naik sebagai imbalan telah menjebak Sheila. Katakan siapa orangnya?!!"


Bima berdiri sambil mengangkat kerah baju Handyan hingga sedikit mencekik lehernya. Beberapa kali Handyan berusaha menepuk tangan Bima agar melepaskan cengkeramannya, tapi gagal. Emosi Bima sudah tak terbendung untuk mendengar permintaannya.


"Katakan atau aku patahkan lehermu sekarang juga."


"De-wa... Pa-k.. Pak Dewa." Ucap Handyan dengan susah payah.


Ada rasa tak percaya saat Handyan menyebutkan nama Dewa sebagai dalang penculikan ini. Apalagi setelah apa yang telah Dewa lakukan selama ini. Mana mungkin adiknya setega itu.


"Apa kamu punya bukti?! Jangan harap kamu bisa mempermainkanku."


"Tentu.. tentu saya mempunyai buktinya."


Susah payah Handyan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Kemudian dia memutarkan pesan suara pada Bima.

__ADS_1


'Aku sudah melakukan yang kau minta. Jangan lupa dengan janjimu.'


'Jangan khawatir. Kau pikir sedang berurusan dengan siapa.'


'Tentu saja. Aku tak pernah meragukanmu.' Kemudian terdengar suara mobil yang melaju pergi.


Tidak mungkin Bima lupa dengan suara Dewa. Jadi dalang dari semuanya adalah adiknya sendiri?


Bima langsung memerintahkan Juwan untuk memeriksa keaslian dari rekaman yang dimiliki Handyan. Sebelum itu Bima juga menyuruh Handyan untuk tutup mulut untuk sementara.


#


Sheila merasakan sebuah pelukan saat dirinya tengah berada di gudang stok dapur. Sudah bertahun-tahun lamanya dan Sheila masih bisa mengenali bau dari tubuh suaminya.


"Maafkan aku..." Lirih Bima yang masih mengunci Sheila dalam pelukannya.


"Apa yang kamu lakukan. Lepaskan aku..." Sheila mencoba melepaskan pelukan Bima.


"Maafkan aku..." Ulang Bima lagi.


"Ada apa dengan kalian? Kemarin Listy dan sekarang kamu yang meminta maaf."


"Maafkan aku, maaf karena kamu harus melalui semuanya sendirian, maaf karena aku begitu bodoh dan tak tahu apa-apa selama ini."


Sheila berbalik dan melihat Bima menangis. Wanita itu menggeleng pelan. Tidak mungkin Bima tahu tentang video itu?


Seperti tengah menjawab Sheila, Bima mengangguk kecil. Sheila hanya membatu dan tak tahu harus berkata apa. Tak terpikir sama sekali bahwa Bima akan bersikap seperti sekarang.


Bima menggeleng pelan. "Aku tak sanggup melihatnya."


Sheila mendorong Bima menjauh, membuat genggaman Bima di bahu Sheila terlepas. "Kamu tidak kecewa kepadaku?"


"Bagaimana bisa aku kecewa kepadamu? Aku bahkan sangat malu karena tak becus menjaga istriku dengan baik."


Sheila menggeleng pelan. "Tidak, ini bukan salahmu. Jangan salahkan dirimu atas semua yang terjadi."


"Ayo kita pulang."


Sheila menggeleng kencang. "Kamu mungkin bisa menerimaku, tapi bagaimana dengan keluarga kita? Oma? Papa dan mamaku."


"Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan menjagamu dan juga Arjuna. Aku akan selalu ada untukmu.. untuk anak kita."


Sheila mengangguk mengerti dan kemudian mereka berpelukan lebih erat dari sebelumnya.


#


Belum sampai Keyra turun dari mobil, tapi dia sudah dikejutkan oleh mobil polisi yang baru saja keluar dari halaman rumahnya.


Tampak kedua asisten rumah tangganya masih berada diluar, seperti sengaja menunggunya pulang.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Bi. Kenapa ada mobil polisi keluar dari rumah kita?"


"Nyonya.. Tuan Dewa.. Tuan Dewa ditangkap polisi."


"Bagaimana bisa?"


"Saya kurang tahu Nyonya. Tapi polisi bilang, Tuan Dewa ditangkap karena tuduhan penculikan Nyonya Sheila."


Keyra semakin tak mengerti. Siapa orang yang menjebloskan suaminya ke penjara dengan tuduhan yang tidak masuk akal seperti itu.


Siapapun tahu bagaimana Dewa ikut mencari Sheila selama bertahun-tahun. Lagipula bukannya Sheila kabur dari rumah? Bagaimana bisa tiba-tiba menjadi penculikan.


"Kak Bima.. aku harus menemui Kak Bima."


Keyra kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi menuju tempat Bima. Keyra tak bisa membayangkan orang lain yang melakukan hal ini.


Jika bukan Bima yang menjebloskan Dewa ke penjara, pasti dia bisa membantu mengeluarkan suaminya dari sana.


#


Beberapa kali bunyi nyaring bel berbunyi di seluruh ruangan. Tidak hanya mengetuk pintu, Keyra bahkan sudah mencoba menghubungi Bima, tapi tak kunjung ada balasan.


"Apa ini? Kenapa dia tidak ada di rumah?"


"Apa dia sedang berada di rumah oma? Apa aku harus menelepon papa? Tidak, papa tidak mungkin mau membantu."


"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Bima yang melihat Keyra berdiri di depan pintu rumahnya.


Mendengar suara Bima Keyra seperti mendapat harapan. Tapi apa yang dilihatnya sekarang? Sheila sudah ketemu?


"Sheila?" Ucap Keyra tak percaya. Spontan dia langsung memeluk adik perempuannya itu erat. Bagaimanapun dia juga ikut andil sebagai alasan kaburnya Sheila dari rumah.


"Kamu kemana saja? Dan... Apa ini keponakanku?" Tanya Sheila melepaskan pelukannya dari Sheila dan beralih menatap anak laki-laki yang berada dalam gendongan Bima.


Melihat kehadiran Sheila, Keyra jadi lupa sejenak apa tujuannya datang kemari.


"Kak, Mas Dewa.. Mas Dewa ditangkap polisi."


"Aku tahu."


Keyra menatap Bima tak percaya. "Kamu yang melaporkannya ke polisi?"


Keyra menggeleng tak percaya. "Bagaimana bisa? Mas Dewa tidak mungkin melakukan hal itu. Bukannya Sheila kabur dengan sendirinya. Katakan pada suamimu, Shel... Katakan yang sebenarnya."


"Tapi itu yang sebenarnya. Coba tanyakan sendiri pada suamimu. Hal buruk apa yang telah dia perbuat pada adik iparnya, adik kandungmu sendiri." Jelas Bima yang kemudian menggandeng Sheila untuk segera masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Jangan membelanya terlalu keras jika tidak ingin menyesali perbuatanmu sendiri." Ucap Bima lalu menutup pintu rumahnya.


Sebenarnya Sheila merasa kasihan kepada kakaknya, tapi suaminya seakan tak memberinya waktu untuk berbelas kasihan.

__ADS_1


#


__ADS_2