Good Husband?

Good Husband?
Empat Puluh (Dalang Penculikan 3)


__ADS_3

Walaupun masih bingung dengan semuanya. Jasmine tetap selalu mengatakan pada sang mama agar berkunjung ke rumah Arjuna untuk bermain.


Bahkan Listy tak keberatan jika Jasmine ingin berhenti untuk berada di daycare. Asalkan putrinya ini tak lagi bertanya perihal Arjuna dan Daddynya.


"Mama, kan Jasmine bilang mau ke rumah Arjuna."


"Iya sayang.. kita sedang dalam perjalanan kesana."


"Tapi ini bukan jalan yang benar."


"Oh.. Mama lupa bilang kalau Arjuna sekarang tidak tinggal di rumah Thalia lagi."


"Kenapa begitu? Apa Arjuna pindah rumah lagi?"


"Benar. Untuk sekarang Arjuna sudah tinggal di rumah Daddy, tapi untuk sementara Arjuna tinggal di rumah kakek dan neneknya. Sekarang kita sedang menuju rumah kakek dan neneknya Arjuna."


"Mama kenapa Arjuna selalu pindah rumah? Apa Arjuna seperti keong?"


Sekuat tenaga Listy menahan agar tidak tertawa dengan ucapan polos anaknya. Bagaimana juga ini bukan hal yang baik untuk ditertawakan.


"Bukan begitu sayang. Arjuna punya alasan lain untuk pindah rumah. Sama seperti saat kita berada di Amerika." Jelas Listy berharap anaknya mengerti.


"Tapi kita tidak berpindah sebanyak yang Arjuna lakukan."


"Benar. Itu karena banyak hal telah terjadi pada Arjuna."


Wajah Jasmine jadi berubah murung. Dia ingat alasan mereka pindah adalah kepergian papanya dan itu merupakan hal paling menyedihkan baginya.


Bagaimana bisa Arjuna mengalami hal seperti dirinya berkali-kali.


"Pasti Arjuna sangat sedih sekali."


"Bsnar. Jadi untuk sekarang Jasmine jangan ungkit masalah pindah rumah dulu ya."


"Iya, Ma. Tenang aja.. Jasmine juga akan menghibur Arjuna agar tidak sedih pagi."


Listy mengusap kepala anaknya sayang. "Anak pintar."


#


"Maaf, Bu. Untuk saat ini saudara Dewa tidak ingin menerima kunjungan dari siapapun."


"Tapi saya istrinya, Pak."


"Mohon maaf."

__ADS_1


Keyra membuang nafas panjang. Kenapa suaminya begitu keras kepala hingga sampai seperti ini.


"Nyonya Keyra..."


Keyra berbalik dan mendapati pria yang dia tahu berperan sebagai kuasa hukum Dewa tengah berdiri di depannya.


"Bisa kita bicara sebentar? Ada pesan yang ingin saya sampaikan dari Tuan Dewa."


Sheila mengangguk dan membiarkan kuasa hukum Dewa membawanya ke tempat makan terdekat dari sana.


"Kenapa dia sangat keras kepala dan tak ingin menemuiku." Ucap Keyra akhirnya.


Bukannya menjawab, pria itu hanya menyerahkan amplop coklat besar kepada Keyra.


Dengan wajah bingung Keyra membuka isi dari amplop yang ternyata adalah berkas perceraian. Rasanya Keyra ingin berteriak murka pada Dewa sekarang, tapi nyatanya dia hanya bisa tersenyum getir.


"Tuan Dewa menginginkan Anda untuk menandatangani dokumen ini segera."


Karena amarah yang sepertinya tak bisa dia sampaikan kepada suaminya. Keyra kemudian melampiaskan dengan menyobek berkas itu dalam beberapa bagian


"Dasar bajingan gila! Katakan kepadanya aku tidak akan mau bercerai. Katakan aku tidak akan pernah membiarkannya untuk menjadikanku janda."


"Tapi Nyonya.. ini semua juga demi kebaikan Nyonya Keyra."


"Haha.. siapa kamu yang mengatakan mana yang baik dan yang buruk untukku."


#


"Dasar bedebah sialan!!!" Keyra memukul kemudi mobilnya penuh amarah. Setelah itu dia mulai terisak kecil di dalam mobil.


"Dasar bedebah gila!!! Berengsek!! Hiks..." Keyra terus menangis di tengah sunyinya area parkir.


Bagaimana bisa Dewa memiliki ide untuk mengajukan cerai. Kenapa dia harus menyerahkan secepat ini?


Padahal dia sudah berusaha berbagai cara agar suaminya itu dapat bebas. Bahkan Keyra menutup kliniknya untuk sementara waktu agar bisa mencari bantuan, tapi yang telah dia dapat.


"Kenapa kamu tak memanfaatkanku seperti biasanya? Kenapa kamu menyerah disaat aku masih ingin memperjuangkanmu. Dasar berengsek!!!"


Lalu apa sekarang? Keyra tak berani mengunjungi adik dan orang tuanya karena malu. Dia tak berani memperlihatkan wajah di depan kedua orangtuanya dan suaminya seperti membuangnya.


Keyra mengambil ponsel dari dalam tasnya. Mencari kontak seseorang di ponselnya.


"Kak, kita harus bicara."


#

__ADS_1


"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Bima cukup tegas kepada Keyra.


"..."


"Jangan pernah memintaku untuk membebaskan Dewa, itu tidak akan pernah terjadi."


"Aku tahu. Aku hanya ingin mengatakan satu hal yang mungkin kamu harus tahu dan mungkin bisa membuatmu berpikir ulang untuk membenci Dewa."


"..."


"Aku hanya berpikir mungkin semua ini bukan sepenuhnya salah Dewa. Aku hanya ingin memintamu untuk menyelidiki Papa Dewa juga."


"Apa maksudmu? Kamu ingin menuduh Om Hendra bersekongkol dengan Dewa? Apa kamu punya buktinya?"


Keyra menggeleng pelan. "Aku tidak punya bukti, tapi aku sangat yakin dengan apa yang aku katakan saat ini."


"Jangan membawa-bawa Om Hendra dalam masalah suamimu."


"Tapi bagaimana jika aku benar? Tidakkah kamu pasti pernah melihat Dewa memiliki memar di wajahnya? Itu semua ulah papanya sendiri. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."


"..."


"Walaupun tak ingin, tapi Dewa selalu ditekan oleh papanya untuk merebut semua yang kamu miliki dengan cara apapun. Kamu harus percaya padaku."


Bima terdiam sejenak. Bagaimana bisa dia percaya pada ucapan tanpa bukti dari Keyra, tapi bagaimana jika semua yang Keyra ucapa benar. Bagaimana jika benar Bima salah menangkap orang?


"Kamu tahu kan Sheila adalah adikku. Aku tidak mungkin mengambil keputusan secara gegabah. Aku mohon.. pertimbangkan ini."


Akhirnya Bima mengangguk kecil. Membuat Keyra cukup bersyukur walaupun dia sendiri tak tahu bagaimana akhirnya.


#


"Ada yang ungin kamu katakan?" Tanya Listy yang tiba-tiba saja dipanggil Bima keruangannya. Padahal baru beberapa saat yang lalu mereka bertemu saat makan siang.


"Keyra baru saja datang menemuiku. Dia mengatakan Om Hendra ikut andil dalam penculikan Sheila."


Tentu Listy cukup terkejut dengan pernyataan ini. Sebenarnya saat tahu apa yang telah Dewa lakukan saja Listy hampir tak percaya dan sekarang bahkan Om Hendra juga ikut menjadi tersangka?


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku masih memerintahkan Juwan untuk menyelidikinya. Jadi aku minta tolong padamu untuk menjaga oma."


"Kamu tenang saja. Aku takkan membiarkan oma tahu tentang hal ini. Kamu hanya perlu mengurus media."


"Tenang. Jessica sudah menanganinya dengan baik. Bahkan untuk sementara orang tua Sheila juga belum tahu tentang hal ini. Sheila belum ingin mereka tahu."

__ADS_1


Listy mengangguk setuju.


#


__ADS_2