
"Ibu..." Arjuna berhambur memeluk Sheila dan meninggalkan kucingnya yang sedang dia beri makan.
"Lihat apa yang Ibu bawa." Sheila mengacungkan dua kantong mainan ditangannya pada Arjuna.
"Itu untuk Juna?" Tanya bocah itu tak percaya.
Sheila mengangguk sambil tersenyum dan memberikan kedua tas itu pada Arjuna. "Iya, Ibu dapat dari majikan Ibu. Maaf ya Ibu belum bisa membelikan mainan untuk Juna."
Arjuna menggeleng. "Juna tidak apa-apa kok, Bu. Juna bisa bermain dengan Molly dan juga nenek."
Arjuna sangat antusias dengan semua mainan yang Sheila bawa. Dia sangat senang melihat beberapa mainan yang belum dia tahu.
Sheila menatap Arjuna sambil tersenyum. Setidaknya sekarang anaknya tak hanya bisa bermain dengan kucing.
Apalagi di daerah sini tidak ada anak seusianya. Sheila benar-benar takut bahwa anaknya akan sangat kesepian. Apalagi dia sebagai ibu tidak bisa selalu ada untuk menemaninya.
"Benar.. tadi Juna sempat pergi ke jalan raya." Ucap Nek Isha yang duduk tak jauh dari keduanya.
"Juna main ke jalan raya?" Tanya Sheila khawatir pada anaknya.
Arjuna terlihat seperti mengingat dan merasa bersalah setelah mengingatnya. "Maaf..." Arjuna menurunkan mainannya dan mendekat ke arah Sheila, "tadi Molly lari ke tempat besar di depan. Jadi Juna cuma mau ambil Molly, Bu."
"Sayang, lain kali jangan pergi ke jalan raya sendiri, ya.. kan kasian nenek."
Arjuna mengangguk mengerti. "Tapi, Bu. Ternyata tempat di depan dalamnya bagus banget. Banyak mainan dan juga taman yang luas. Apa tidak apa-apa jika Juna main kesana?"
"Jangan ya sayang, nanti kalau yang punya marahin kamu bagaimana? Dan juga Juna jangan berbicara dengan orang yang tidak Juna kenal tanpa nenek atau ibu ya."
"Kenapa, Bu?"
"Karena Juna tidak tahu orang itu baik atau jahat."
"Kalau nenek bisa tahu mereka orang baik atau jahat?" Sheila mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, Juna tidak akan mengobrol dengan orang asing tanpa nenek dan ibu lagi."
Sheila mengusap kepala Arjuna sayang. "Anak Ibu pinter banget sih."
Arjuna tersenyum sambil memperlihatkan gigi putihnya saat dipuji oleh ibunya sendiri.
#
"Daddy beneran janji kan kalau bocah itu beri izin, kita benar-benar akan membawa kucingnya pergi ke dokter?"
Bima tersenyum mendengar pertanyaan Jasmine yang entah sudah terulang berapa kali sejak pagi tadi. Sepertinya Jasmine sangat tertarik dengan anak laki-laki ini.
Bima jadi penasaran apa yang membuat Jasmine tertarik dengan anak itu. Tentu saja tidak mungkin hanya karena seekor kucing.
"Iya, sayangnya Daddy... Jasmine tenang aja, nanti kalau dia tidak mengizinkan, Daddy bantu supaya dia mengizinkan."
"Yeay... I love you, Daddy." Jasmine bersorak gembira mendengar jawaban memuaskan dari Bima.
__ADS_1
"I love you my princess." Bima juga ikut bahagia saat Jasmine begitu bahagia.
Bima mengangkat Jasmine dan menurunkannya dari mobil. "Sekarang Jasmine harus menjadi anak baik dan bermain dengan yang lainnya di daycare. Seperti biasa Daddy akan menjemput Jasmine sore nanti."
"Siap, Jasmine mengerti." Ucap Jasmine ceria.
Bima melambaikan tangan ke arah Jasmine yang mulai berlari ke arah daycare.
#
Miss Iren melihat heran Jasmine yang sepanjang hari hanya tertarik melihat keluar jendela dan tidak tertarik pada permainan di daycare.
Lebih anehnya Jasmine bukannya terlihat murung, tapi seakan mencari sesuatu diluar sana.
"Jasmine.. apa yang kamu lakukan disini sendirian? Kenapa kamu tidak bermain dengan teman-temanmu?" Tanya Miss Iren penuh perhatian pada bocah itu.
Jasmine menggeleng keras. "Aku bosan bermain, Miss."
"Tunggu beberapa hari lagi ya, nanti akan ada mainan baru datang. Sementara Jasmine bermain permainan yang ada dulu dengan yang lain."
Jasmine menggeleng lagi dan masih setia melihat keluar jendela. "Miss, apa boleh orang luar masuk ke dalam sini?" Tanya Jasmine antusias.
"Apa itu seperti orang asing dewasa yang tidak Jasmine kenal?"
Jasmine menggeleng lagi. "Bukan, Miss. Hanya seorang anak kecil."
"Apa Jasmine melihat ada anak kecil lain masuk ke dalam sini?" Tanya Miss Iren penasaran.
"Tidak. Aku hanya bertanya, misalkan ada anak yang masuk kesini apa tidak apa-apa?"
"Tentu saja tidak boleh." Jawab Miss Iren.
"Apa dia akan dihukum jika masuk tanpa izin?"
"Kita lihat dulu apa yang dia lakukan disini. Jika hanya bermain mungkin kita akan membiarkannya beberapa saat dan kemudian memulangkannya. Tapi jika dia datang untuk hal yang buruk tentu akan ada hukuman kecil." Jelas Miss Iren.
"Bagaimana jika seperti datang untuk mengambil sesuatu? Seperti kucing misalnya?" Tanya Jasmine antusias.
"Apa kucingnya masuk kedalam tempat kita?"
Jasmine menjawab dengan mengangguk antusias.
"Dia mengambil kucing itu dan langsung pergi?"
Jasmin mengangguk sekali lagi. "Dia hanya sangat sebentar disini. Apa itu tidak apa-apa?"
"Tentu saja. Dia hanya mengambil kucingnya kembali. Itu bukan hal yang buruk."
"Jadi dia tidak akan dihukum?"
"Tentu saja tidak."
__ADS_1
Jasmine langsung tersenyum bersyukur mendengar jawaban dari Miss Iren.
"Kenapa Jasmine menanyakan hal ini? Apa Jasmine khawatir bahwa anak itu akan dihukum?"
Jasmine menggeleng pelan. "Bukan begitu. Tapi dia terlihat sangat ketakutan kemarin dan terus meminta maaf."
"Berarti dia anak yang baik. Mungkin dia tinggal tidak jauh dari sini. Apa Jasmine ingin berteman dengannya?"
Jasmine mengangguk semangat. "Apa boleh?"
Mengingat bahwa Jasmine anak dari pemilik daycare ini. Sepertinya Miss Iren akan membuat pengecualian. "Jika anak itu datang lagi beritahu Miss Iren ya. Nanti kita pikirkan kembali apa dia bisa bermain disini atau tidak."
Jasmine mengangguk semangat. "Terimakasih kasih, Miss."
"Untuk sementara Jasmine bisa beristirahat terlebih dahulu. Sekarang sudah waktunya untuk tidur siang."
"Tapi bagaimana jika anak itu datang dan aku tidak tahu?"
"Anak yang baik akan bertemu dengan anak yang baik juga. Miss Iren yang akan tinggal dan berjaga disini jika anak itu datang kembali. Sementara Jasmine harus menjadi anak yang baik untuk pergi tidur siang."
"Benarkah? Terimakasih, Miss. Jangan lupa bangunkan Jasmine jika anak itu datang kesini." Jasmine langsung turun dari kursinya dan pergi ke ruangan tempat beristirahat.
#
Bima memandang Jasmine yang terus murung. Bima bisa menebak apa yang terjadi melihat bagaimana Jasmine sangat berantusias tadi pagi.
"Apa yang terjadi? Kenapa princess Daddy murung seperti ini?"
Jasmine menatap Bima sedih. "Daddy.. dia tidak datang."
Sebenarnya Bima sudah menduga bahwa anak itu tidak mungkin datang. Lagipula dia masuk ke dalam daycare hanya karena mengambil kucing. Bukan seperti ingin bermain disana yang membuat alasan untuk datang kembali.
"Bagaimana kalau kita tunggu sampai besok?" Usul Bima mencoba membujuk Jasmine agar bergembira lagi.
"Bagaimana jika besok dia juga tidak datang?" Tanya Jasmine sedih.
"Kalau begitu, Daddy akan bantu Jasmine untuk mencari anak itu?"
"Benarkah?" Tanya Jasmine antusias. Bahkan dia terlihat hampir melompat saking senangnya. "Daddy tidak bohong, kan?"
"Kapan Daddy pernah berbohong pada Jasmine?"
"Kalau begitu pinky promise." Jasmine mengacungkan jari kelingkingnya pada Bima untuk membuat janji.
Bima tersenyum geli. Bagaimana Jasmine tahu cara membuat janji seperti ini.
"Baik, pinky promise." Bima menautkan jari kelingking besarnya pada tangan mungil Jasmine.
"Aku sudah mengunci janji Daddy, jadi Daddy tidak bisa berbohong."
Bima mengangguk mengerti. "Benar. Daddy akan mendapat masalah jika melanggar janji ini."
__ADS_1
Jasmine mengangguk setuju dan kemudian wajahnya berubah tersenyum bahagia.
#