
Hari ini Sheila memaksakan diri untuk masuk kampus. Dia juga berangkat jauh lebih awal agar bisa bertemu dengan Gia.
Bagaimanapun juga Gia harus tahu bahwa sekarang Sheila dan Bima sudah baik-baik saja dan tak perlu ada yang dikhawatirkan.
Sheila jadi merasa menyesal membuat sahabatnya terlalu banyak ikut andil dalam pertengkaran rumah tangganya.
"Gue kangen banget," ucap Gia berakting sedih dan manja di depan Sheila yang telah ada di depannya.
Tadi sebenarnya Sheila sudah memberitahu Gia lewat chat bahwa Sheila dan Bima sudah berbaikan. Tentu Gia ikut senang. Bahkan banyak hal yang harusnya disensor pun tak luput dari cerita Sheila.
Melihat bagaimana sekarang Sheila bahagia jadi membuat Gia ingin segera menikah juga.
"Kenapa sih harus ambil jam sore, balik ambil jam pagi aja lagi." Rengek Gia.
"Mana bisa gonta ganti jam seenaknya."
"Iya juga ya. Nanti deh kalau ada lowongan kerja pagi aku pindah jadwal sore."
"Tapi kelas sore nggak enak loh. Lebih fresh ikut kelas pagi."
"Oya ya, kalau siang udah capek. Apalagi nanti kalau gue kelasnya sepulang kerja."
"Nggak usah dipaksain. Kan weekend kita juga bisa ketemu. Tapi buat sekarang masih susah deh kayaknya."
Gia mengangguk mengerti. Mungkin karena sudah dua kali kabur, Bima jadi trauma dan memerintahkan Juwan untuk tetap berada di kampus.
"Eh, tapi sopir lo ganteng juga tahu. Udah punya pacar belum?" Tanya Gia menyenggol bahu Sheila iseng.
"Nggak tahu. Coba nanti gue tanya. Mau sekalian nomernya nggak?"
"Boleh sih." Kemudian keduanya cekikikan bersama.
"Loh, Shel. Masuk kelas pagi lagi?" Tanya Handyan heran saat berpapasan di kantin.
"Enggak kak, tadi berangkat lebih awal aja. Kak Handyan ada rapat lagi?"
"Iya nih, mau ganti jabatan. Agak ribet." Sheila mengangguk mengerti.
Melihat Handyan terlihat masih mencari kursi untuk duduk, Sheila menawarinya untuk bergabung.
"Duduk sini aja, Kak. Udah mulai rame juga."
Gia menatap keduanya aneh. Sejak kapan keduanya jadi akrab begini. Apa mereka sudah berteman tanpa sepengetahuan Gia?
"Serius boleh?"
Sheila mengangguk mengiyakan. Sedangkan Gia berusaha berkontak mata dengan Sheila untuk diberi penjelasan.
"Oh, ini. Gue kan belum kenal sama siapapun di kelas sore. Untungnya Kak Handyan sering ada rapat sampai malem, jadi akhir-akhir ini kita sering ngobrol bareng."
__ADS_1
Handyan tersenyum ramah ke arah Gia seperti biasa. Begitupun juga Gia yang membalas senyum ramah tamahnya.
"Sorry, kayaknya gue udah harus pergi. Nanti gue telat." Pamit Gia. "Kak, gue duluan ya."
"Iya, hati-hati." Balas Handyan membalas lambaian tangan Gia begitu juga Sheila.
"Gia masih ambil part time, Shel?"
"Iya, Kak. Lumayan buat ngurangin biaya kuliah sama nambah uang jajan."
"Kerja di mana Gia?"
"Di cafe deket terminal kak."
"Oh.. oiya, lo sekarang berangkat kampus sendiri? Kok tadi gue lihat mobil yang biasa anter lo ada di parkiran?"
"Enggak, itu sopirnya nunggu sampai nanti aku balik kampus."
"Oh, berarti harus langsung pulang ya? Padahal gue mau minta tolong."
"Minta tolong apa, Kak?"
"Ini, nanti rapatnya ternyata banyak yang nggak bisa dateng. Jadi kita kurang orang buat ngerapiin proyektor dan lainnya."
Mengingat Handyan pernah menolongnya, Sheila jadi sungkan untuk menolak.
"Nggak masalah sih, Kak. Nanti aku bantu."
Sheila mengangguk. "Kak, sorry kayaknya gue juga harus pergi deh. Mau mampir perpus dulu soalnya. Balikin buku."
"Iya, ini gue juga udah selesai kok makanannya. Barengan aja keluar kantinnya."
"Oke."
#
Sheila merasa kebingungan saat di ruang teater. Pasalnya di ruangan itu tampak sangat sepi. Tidak terlihat seperti sedang digunakan untuk kegiatan apapun. Apa dia sudah terlambat datang atau bagaimana?
Saat Sheila mengambil ponsel untuk memanggil Handyan, tiba-tiba saja ada seseorang yang tengah membekapnya.
"Emmm.. emmm.."
Sheila berusaha memberontak, tapi rasanya sia-sia. Tak berselang lama Sheila sudah hilang kesadaran akibat obat bius yang mereka berikan pada sapu tangan pembekap.
"Cepat pakaikan ini." Perintah seseorang memberikan scarf untuk menutup kepala Sheila.
Mereka yang bertotalkan empat orang pria ini saling bekerjasama untuk mengganti dan menutup pakaian yang Sheila kenakan, bahkan mereka juga mengganti sepatu yang Sheila pakai. Setelah itu mereka langsung mengangkat Sheila ke atas kursi roda.
Mereka tak ingin membuat orang curiga jika harus menggendong Sheila sampai ke tempat parkir.
__ADS_1
Kedua orang lain keluar dari sana lebih dulu untuk menyiapkan mobil dan dua yang lainnya mendorong kursi roda itu keluar dari kampus.
Semuanya berjalan lancar dan tak ada yang curiga pada mereka sama sekali. Bahkan mereka bisa melewati mobil Juwan dengan mudah.
Karena Sheila tidak kunjung keluar dan mengangkat panggilan teleponnya, akhirnya Juwan memutuskan untuk masuk ke gedung untuk mencari Sheila.
Juwan langsung melapor pada Bima saat hanya mendapati ponsel Sheila yang tergeletak berdering tanpa pemiliknya.
Juwan juga langsung pergi ke ruang CCTV untuk memeriksa langsung apa yang terjadi dengan Sheila.
#
"Waktu kita tidak banyak, cepat buat wanita itu bangun sebelum mereka menemukan kita!" Perintah seorang pria pada tiga orang suruhannya.
Sebenarnya efek obat bius itu hampir mencapai batasnya, tapi pria itu tak ingin mengambil resiko. Tanpa mereka duga Sheila jsudah dalam kondisi setengah sadar sekarang.
"Dia sudah sadar." Ucap salah seorang dari mereka.
"Bagus, cepat lakukan yang harus kalian lakukan. Jangan lupa buat tontonan yang menarik. Jangan sampai membuatku bosan." Ucap pria itu sebelum pergi meninggalkan ketiganya.
Sheila merasa pusing pada kepalanya. Namun belum sempat dia mencerna apa yang terjadi, salah seorang dari mereka menjambak rambut Sheila.
Seseorang mencoba meminumkan sesuatu pada Sheila, tapi Sheila tak tinggal diam dan memuntahkan air itu.
"Akh! Kalian siapa?!" Teriak Sheila diikuti rasa sakit dari tarikan mereka.
Sayangnya mereka tak tinggal diam dengan memasukkan air lagi dengan mulut salah seorang dari mereka.
Sheila tak tinggal diam. Dia terus meronta dan berusaha melepaskan diri dari ikatan pada kedua tangan dan kakinya.
"Jangan banyak bicara. Nikmati saja apa yang akan kamu terima." Mereka bertiga mulai melucuti pakaian Sheila.
"Jangan! Mau apa kalian?! Cepat lepaskan aku!"
Satu dari yang lain menampar Sheila kasar agar dia terdiam, tapi bukannya diam, Sheila semakin meneriaki mereka dan berteriak minta tolong.
Akhirnya mereka memutuskan untuk membukam mulut Sheila dengan kaos kaki.
"Kamera video sudah siap, kan?" Tanya seseorang dari mereka.
"Kamera siap."
Tangan-tangan mereka mulai menjamah setiap kulit Sheila. Membuat Sheila terus meronta sambil menangis.
Tapi semakin dia meronta maka semakin mereka melukainya dengan kasar. Bahkan mereka tampak menikmati saat melihat wajah sengsara Sheila.
Perlahan Sheila merasa seluruh badannya terasa aneh dan sedikit panas. Sheila bahkan meresa jijik saat tubuhnya mulai merespon apa yang tengah mereka lakukan padanya.
Dia merasa kotor sekarang. Kenapa mereka melakukan semua ini padanya. Apa salah Sheila hingga harus menerima ini semua?
__ADS_1
#