
Sheila bangun dari tidur nyenyaknya dan lagi-lagi mendapati Bima yang sudah tak lagi berada di tempatnya.
"Dia berangkat duluan lagi?" tanya Sheila pada dirinya sendiri.
Sepertinya Sheila harus bangun sedikit lebih pagi lagi, walaupun Bima tak pernah komplain pada hal itu.
Sheila menghembuskan nafas berat. Padahal semalam Bima sudah lembur dan Sheila tak sempat bertemu dengannya sama sekali.
Sebenarnya Sheila menunggu Bima pulang kerja. Tapi sepertinya dia ketiduran di sofa lantai bawah. Melihat sekarang dia sudah berada di tempat tidur, sudah pasti Bima yang lagi-lagi memindahkannya dan Sheila tak terbangun sama sekali. Luar Biasa.
Sheila merasa dirinya memang benar-benar bodoh. Sheila mengacak rambutnya kesal lalu turun dari tempat tidur untuk segera mandi dan bersiap pergi ke kampus.
Hangatnya air yang mengguyur tubuhnya membuat pikiran Sheila tenang sejenak. Sekarang dia sedikit merindukan rumahnya. Di rumah ini Sheila merasa terlalu hening untuk ditinggali.
Bahkan Tiwi saja seperti tak terlihat saat bekerja, padahal dia dan Tiwi berada di lantai yang sama. Apakah karena rumah ini terlalu luas? Berbeda dengan rumah kedua orangtuanya yang masih memiliki ukuran normal rumah-rumah pada umumnya.
Sheila mematikan keran shower-nya dan melilitkan handuk pada tubuhnya. Sepertinya dia akan meminta izin kepada Bima untuk berkunjung ke rumah kedua orangtuanya. Tapi apakah bahkan hari ini mereka bisa bertemu? Sheila sudah menikah, tapi dia tak merasakan perbedaan saat dirinya belum menikah.
Bahkan untuk bertemu dengan suaminya sendiri Sheila merasa sangat sulit. Apakah ini kekurangan yang dimiliki Bima? Jelas manusia tidak ada yang sempurna.
Saat keluar dari kamar mandi Sheila mendengar suara tirai dibuka. Ah, dia lupa membukanya tadi. Tapi tumben Tiwi membersihkan kamar dijam segini. Biasanya dia akan mulai membersihkan lantai atas jika Sheila sudah keluar dari kamar.
"Tiwi, kamu su- aggggghhhh..."
Bima terlonjak kaget saat Sheila tiba-tiba saja berteriak histeris. Dia langsung bergegas mendatangi Sheila. Memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bima khawatir. Mengecek Sheila jika saja dia terluka di bagian tertentu.
Sheila masih menatap Bima kaget dan perlahan mundur saat Bima semakin mendekat ke arahnya.
Melihat gelagat Sheila yang seperti ketakutan terhadapnya. Bima mencoba mencari penyebabnya sendiri. Bodohnya dia yang baru paham saat melihat Sheila hanya terlilit handuk di badannya.
__ADS_1
Sepertinya istrinya ini terkejut saat mendapati pria di dalam kamar dengan keadaan hampir telanjang. Tentu saja Bima sangat paham jika Sheila pasti belum terbiasa dengan adanya sosok pria berada di dalam kamarnya.
Akhirnya Bima tersenyum mengerti dan mundur beberapa langkah, kemudian membalikkan badannya.
"Maaf, aku pikir terjadi sesuatu yang salah denganmu. Aku hanya mendekatimu karena khawatir dan ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja," jelasnya sambil memunggungi Sheila.
Sheila menepuk jidatnya merasa bodoh, ternyata pria itu adalah Bima. Dia pikir Bima sudah berangkat kerja. Dia tak berpikir bahwa pria itu masih berada di rumah. Meskipun begitu sejujurnya Sheila tetap saja akan berteriak jika sadar bahwa itu Bima. Dia hanya belum terbiasa dengan keadaan semacam ini.
"Ah, seharusnya aku yang minta maaf. Aku jadi membuat keributan. Aku pikir Mas Bima sudah berangkat kerja tadi."
Kini laju jantung Sheila sedikit bisa teratasi. Sheila sangat bersyukur Bima paham situasinya dan langsung berbalik.
"Kamu berpikir aku orang lain?" tanya Bima penasaran.
"He'emmm..." Sheila mengangguk sambil berdehem mengiyakan. Walaupun mungkin saja Bima tak bisa melihat anggukan kepalanya.
"Kalau begitu jika kamu tahu bahwa itu aku kamu tidak akan berteriak?" tanya Bima dengan nada berbeda. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Tapi sepertinya dia merasa sedikit senang mendengar fakta bahwa Sheila takut kepadanya karena mengira dirinya adalah orang lain.
Sheila kembali terkejut saat Bima tiba-tiba berbalik dan mendekat ke arahnya lagi. Sheila tak bisa bergerak hanya dengan melihat mata Bima menatapnya lurus.
Lagi-lagi Sheila mendapat tekanan oleh tatapan itu. Sheila mundur ke belakang perlahan sampai punggungnya membentur dinding kamar. Sheila tak berani membayangkan apa saja yang mungkin bisa terjadi padanya sekarang.
Dia menunduk takut, tak berani menatap balik mata tajam Bima. Sial, Sheila harus apa sekarang? Otaknya terus berteriak untuk menyuruhnya kabur, tapi bahkan dia tak sanggup menggerakkan ujung jarinya.
Sheila terpejam saat merasakan tangan besar dan kasar Bima perlahan menyentuh pipinya. Bagaimana ini? Apa yang akan Bima lakukan padanya?
"Jika kamu tidak suka, kamu bisa mendorongku pergi," bisik Bima dan setelah itu Bima membuat dagu Sheila terangkat sedikit.
Sheila tersentak dan langsung terbelalak membuka matanya saat merasakan benda basah di permukaan bibirnya.
Dia kembali menutup matanya saat melihat wajah Bima begitu dekat dengan wajahnya. Sial, ternyata Bima sedang menciumnya.
__ADS_1
Sheila merasakan tubuhnya bergetar saat tangan besar Bima yang lain meraih pinggangnya.
Bisa-bisanya pria ini menyuruhnya untuk mendorong tubuh besarnya di saat Sheila tak memiliki tenaga bahkan untuk menopang berat badannya sendiri.
Sheila merasa lega saat Bima menyudahi perbuatannya. Karena Sheila merasa sudah tidak bisa menerima semua ini lagi.
"Buka mulutmu..." bisik Bima lagi yang anehnya membuat Sheila patuh. Bima tersenyum simpul saat melihat Sheila dapat diajak kompromi dengan mudah.
Sheila terkejut saat mendapati ada benda lain yang masuk ke dalam mulutnya. Sheila merasa ini tidak benar, kenapa Bima tiba-tiba saja memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sheila. Apa dia tidak merasa jijik saat mereka harus saling berbagi air liur.
Bima sedikit mendorong tubuh Sheila ke dinding agar wanita itu tetap bisa menopang tubuhnya sendiri. Tapi mau bagaimanapun Sheila merasa persendian dan tulang tubuhnya tak lagi berfungsi dengan baik.
Semakin lama Sheila juga sudah mulai kehabisan nafas. Bima yang sadar dengan keadaan Sheila akhirnya menyudahi kegiatan mereka. Dia tersenyum bangga melihat bagaimana wajah Sheila akibat ulahnya sekarang.
"Aku tunggu di bawah. Kita sarapan bersama dan aku akan mengantarmu ke kampus," ucap Bima meninggalkan Sheila yang masih terdiam terpaku.
Dia tak percaya bahwa dia baru saja merasakan yang namanya ciuman untuk pertama kalinya.
Sheila menyentuh bibirnya perlahan dan kemudian seperti sihir tenaganya kembali dan tulangnya pun dapat dia gerakkan dengan normal.
Sheila langsung menjerit tertahan meratapi kebodohannya saat mengingat apa yang baru saja terjadi padanya.
"Bukannya ini melanggar isi surat perjanjian pranikah kita?" gumam Sheila pada dirinya sendiri.
Tapi Sheila baru ingat bahkan dia belum menandatangani surat itu karena adanya pembaharuan.
Terserah. Lagipula pula Sheila juga tidak merasa apa yang mereka lakukan tadi adalah hal yang buruk. Bukankah itu hal yang biasa dilakukan pasangan suami-istri.
"Tunggu. Apa gue suka sama ciumannya? Aghhhh... Sheila lo bener-bener udah gila!"
#
__ADS_1