Good Husband?

Good Husband?
Dua Puluh Tiga (Mengambil Kembali)


__ADS_3

Sheila menyapa beberapa sekretaris Bima sebelum masuk ke dalam ruangan. Tak lupa juga dia memberikan beberapa kukis yang sebenarnya sangat ingin Jessica dan yang lainnya tolak. Mereka merasa tak enak untuk menerimanya.


Sebenarnya badan ideal mereka tidak lebihnya dari hasil diet ketat yang mereka jalani. Memakan makanan manis tentu saja akan membuat diet mereka tak berguna.


"Maaf Bu Sheila, untuk saat ini Pak Bima sedang ada tamu." Ucap Clara, salah satu asisten sekretaris Jessica.


"Di jam segini? Siapa orang yang bertamu di waktu jam makan siang seperti ini?"


"Tamu Pak Bima saat ini, Ibu Keyra owner dari Pure Skin & Beauty, Bu."


"Oh.. Kak Keyra. Tidak masalah, itu kakak kandungku. Dia tidak akan keberatan jika aku mengganggu sedikit." Balas Sheila tersenyum sambil mengedipkan mata ke Clara.


Dengan senyum mengembang Sheila membuka pintu kantor. Pasti menyenangkan jika mereka makan bersama nanti. Sheila juga ingin orang lain untuk menilai masakannya.


Sheila tak begitu puas dengan bagaimana Bima memujinya. Sedangkan Dewa, Sheila belum memiliki waktu untuk bertanya langsung kepadanya.


"Kak Key.. ra.."


Sheila membeku di ambang pintu. Melihat bagaimana suami dan kakak kandungnya tengah berciuman di depan matanya.


Bima mendorong Keyra menjauh saat mendengar suara dari istrinya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?!"


"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya."


Mata geram Sheila yang awalnya ditujukan pada Bima, beralih menatap Keyra marah. Bahkan rasanya Sheila ingin melempar kotak bekal makan siang di tangannya ke wajah kakaknya sendiri, tapi mati-matian Sheila menahan untuk tidak melakukannya.

__ADS_1


"Sayang..."


"Kak Bima pergi dulu, aku mau ngomong sama Kak Keyra."


Melihat Sheila yang sepertinya tak bisa ditawar, akhirnya Bima mengalah dan mengabulkan keinginannya.


"Aku akan menunggu di luar."


Sheila tak menjawab kalimat Bima dan lebih memilih menjauh dari pintu untuk mempersempit jarak dengan kakaknya.


"Apa maksud ciuman tadi?" Tanya Sheila setelah Bima sudah keluar dari ruangan.


"Kenapa kamu marah? Itu hanya ciuman biasa. Jangan bilang kalian belum pernah melakukannya?"


Sheila menatap Keyra tak percaya. "Kak, Mas Bima itu suamiku. Bagaimana bisa Kak Keyra mencium suami dari adik kandung sendiri?"


"Sebelumnya dia adalah tunanganku."


"Ya, dan disinilah aku datang untuk bertanggung jawab. Sekarang aku akan menebus semua kesalahanku karena membuat Bima harus menikahimu."


"Apa Mas Bima yang menginginkannya?"


"Dia akan menginginkannya."


Sheila menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya.


"Kenapa Kak Keyra selalu seperti ini. Kenapa kakak selalu egois? Bukannya Kak Keyra selalu mendapatkan yang kakak mau? Semua kasih sayang mama-papa, semua perhatian penuh orang-orang. Apa semua itu belum cukup?"

__ADS_1


Keyra tersenyum simpul dan mencibil ke arah Sheila. "Kasih sayang mana yang kamu maksud? Bukannya kamu mendapatkan lebih dari yang aku dapatkan dari papa-mama?


Sheila mengerutkan dahi tak mengerti dengan ucapan Keyra.


"Bukannya kamu yang selalu tak dapat kekangan dari papa dan mama? Kamu selalu bisa bermain tanpa les kesana kemari sepertiku. Aku bahkan tak pernah memiliki teman sekolah karena papa selalu membuatku kursus piano dan membawaku menemui para relasi bisnis seperti produk yang ditawarkan untuk dijodohkan kepada anak mereka. Kamu tak akan pernah mengerti bagaimana muaknya aku dengan semua itu!!"


"..."


"Bukan aku, tapi kamu yang selalu menjadi anak kesayangan papa dan mama! Kamu yang selalu mereka bela, bahkan mereka tak pernah mempermasalahkan nilaimu yang selalu turun, tapi bagaimana denganku?! Mereka selalu tak pernah puas jika aku belum mendapatkan nilai sempurna."


"Aku..."


"Kamu apa? Kamu tak tahu kan?! Kamu tak akan pernah tahu, Shel. Dan sekarang aku hanya ingin mendapatkan kembali apa yang seharusnya milikku."


Sheila menggeleng tak terima. "Aku tidak akan membiarkan Mas Bima menceraikanku."


"Siapa peduli kamu tetap menjadi istrinya atau tidak? Aku hanya peduli untuk menjadi istri. Lagipula kami sudah pernah melakukan hal yang biasa dilakukan oleh suami istri. Jadi, apa bedanya kami menikah atau tidak? Dan kamu kembalilah ke tempatmu semula."


Kemudian Keyra berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Sheila hanya diam terpaku tak percaya mendengar ucapan Keyra barusan.


Bima masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri Sheila.


Sebelum Bima bisa berbicara Sheila sudah lebih dulu menyuruhnya diam. "Tolong Mas, jangan dulu. Aku ingin menenangkan diri dulu agar aku bisa mendengar penjelasan dari Mas Bima disaat aku tenang. Sebaiknya aku pergi dulu. Jangan mengikutiku."


"Tapi Shel..." Bima berjalan menghampiri Sheila sampai pintu.


"Jangan! Please.. please.. "

__ADS_1


Kemudian Bima mengalah saat Sheila sudah mulai mengeluarkan air mata. Bima melepaskan Sheila untuk pergi tanpa berhasil menjelaskan apapun.


#


__ADS_2