
Kyai Idrispun membuka matanya. Seulas senyumnya yang lemah menghias keriput
keriput wajahnya yang mulai menua di makan usia.
"Gus Nan Ali." ucap Kyai Idris.
Gus Nan Ali \= "Injih kyai, wonten menopo kyai?"
Yai Idris \= "Aku ingin makan lontong kikil gus."
Gus Nan Ali \= "Injih kyai, dalem pados aken."
Gus Nan Ali keluar dari kamar kyai idris.dia pergi untuk membeli lontong kikil. Tak seberapa lama. Kira kira setengah jam. Gus Nan Ali sudah kembali dengan membawa satu bungkus lontong kikil. Setelah di taruh di piring.
Neng humaidahpun berucap, ''biar Humaidah saja yang suapin bah."
Kyai idris menggeleng gelengkan kepalanya.
"Iya sudah, biar ibuk saja yang suapin kalau begitu bah'' ucap bu nyai Idris Ghozali.
Tetapi, Kyai Idris juga menggelang gelengkan kepalanya.dengan sangat lirih, romo Kyai Idrispun berucap; ''Gus Nan Ali."
Gus Nan Ali \= "Injih kyai, dalem ikang nyuapin."
Gus Nan Ali pun menyuapi Romo Kyai Idris sesuap demi sesuap.
"Nyuwun sewu kyai, dalem bersihkan dulu" ucap Gus Nan Ali sambil membersihkan dengan sangat lembut sisa sisa makanan di pinggiran mulut Kyai Idris yang tidak ikut tertelan.
Neng Humaidah yang tak sanggup melihat itu semua. Meminta izin keluar,diapun berlari menuju kamarnya. Menghempaskan diri di atas ranjangnya.
"Kang Zidan atau Gus Nan Ali atau siapapun kamu. Tidakkah kamu melihat, betapa abah lebih menyayangi mu di banding aku. Putrinya sendiri. Betapa abah hanya mau makan dari tangan mu. Betapa Abah sangat mencintai mu. Lalu, bagaimana dengan aku? bisakah aku tidak jatuh cinta sama kamu? bisakah aku tidak berharap untuk tidak memilih mu menjadi imam hidup ku?"
Sedangkan, di kamar Romo Kyai Idris. Nampak Kyai Idris, sudah tertidur pulas. Terlihat Bu nyai keluar dari kamar dan di ikuti oleh Gus Nan Ali. Mereka berbincang bincang sebentar di ruang tamu. Sampai akhirnya, Gus Nan Ali berpamitan untuk sholat dzuhur terlebih dahulu.
Ibu Nyai Idris Ghozali berjalan menuju kamar Neng Humaidah. Dengan perlahan bu nyaipun membuka kamar Neng Humaidah.
Perempuan tua itu menitikkan air mata saat melihat putrinya tengah menangis sesenggukan. Bu Nyai pun duduk di pinggiran ranjang, mengelus kepala putrinya sambil berucap.
Bu Nyai \= "Maafkan ibuk Humaidah. Ibuk terlalu egois tanpa memperdulikan perasaan mu. Maafkan ibuk nduk."
Humaidah \= ( masih menagis dengan memeluk bantal gulingnya dengan erat).
Bu Nyai \= "Tadi ibu juga sudah meminta kang zidan untuk mencabut sumpah. Tetapi dia juga tidak mau nduk. Maafkan ibuk njih nduk?ibuk yang salah."
Neng Humaidahpun bangkit dari tidurnya dan memeluk ibundanya. "Ini sudah takdir buk. Mungkin memang kang zidan tidak di takdirkan untuk ku."
Sedangkan Gus Nan Ali, yang sehabis sholat dzuhur. Duduk duduk di teras depan Rumah Romo Kyai.
"Bukannya aku menolak mu neng humaidah. Tetapi, ini adalah sumpah ku. Aku tak ingin menjadi munafik dengan mengingkari apa yang pernah aku ucapkan. Bukan kamu saja yang sakit. Tetapi, aku juga merasakan sakitnya. Mungkin kita cuma berjodoh sebagai kakak dan adik."
Tak seberapa lama. Keluarlah bu Nyai
Idris Ghozali.
Bu Nyai \= "Kok di luar tho gus?"
__ADS_1
Gus Nan Ali \= "Injih buk, lagi ngisis Bu."
Bu nyai \= "Terus, habis ini jadi balik ke pasamuan agung?"
Gus Nan Ali \= "Injih Buk, Insya Alloh."
Bu Nyai \= "Iya sudah , kamu hati hati di jalan. Kalau capek. Istirahat dulu.jangan terlalu di paksakan."
Gus Nan Ali \= "Injih buk. Dalem minta tolong kalau ada apa apa cepat kasih kabar sama saya buk. Gus Rozi juga bisa telpon. Gus Rozi sudah tak kasih nomer telpon rumah kok buk."
Bu Nyai \= "Maaf ya gus. Sudah ngrepoti."
Gus Nan Ali \= "Injih buk. Mboten nopo nopo kok buk. Ya sudah, dalem pamit dulu. Salam buat romo kyai lan keluarga sedoyone."
**bersambung.
ikuti karyaku lainnya.
▶Cinta Dalam Doa.
▶Kidung Cinta di Singgelopuro.
▶Balada Perjaka Tua.
▶Kang Jambul pemburu tuyul.
terima kasih****.
promo.
**Kidung Cinta di Shinggelopuro.
Hingkang Welas Hasih, Hingkang Handeg Wikan lan Waskita, hingkang hanitahake tinggewikan jeng salir wose. Lan kiye kang dadi wahananing GUSTI sawara sakabehe, kang ngutus hulun maringi warta marang tumitah Djowo.
Para dewa mengabarkan kepada para insan marcapada, bahwa telah ada Mahkota yang diberi nama Sri Batara Rama. Barangsiapa memiliki mahkota itu, akan menjadi sakti, dan kelak akan menurunkan raja-raja yang memerintah di marcapada. Karena berkhasiat menurunkan raja-raja, kemudian sering disebut sebagai “Wahyu Makutarama”.
Wahyu Makutha Rama yang dikenal dengan nama ajaran HASTABRATA yang artinya HASTA adalah 8 dan BRATA adalah tingkah laku atau watak. Jadi HASTABRATA adalah merupakan 8 guidance (pedoman) ilmu standard perilaku manusia dalam kepemimpinan & tata kelola.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Prabu Ranggawuni adalah raja ke-24 Shinggelopuro. Satu dari lima Kerajaan kecil di Jawadwipa. Dia mengikuti Raja Prabangkara dan diikuti Raja Rawikara. Ranggawuni adalah cucu Prabu Prabangkara.
Prabu Ranggawuni adalah salah satu Raja terbesar Shinggelopuro dan bertanggung jawab memperluas wilayah Shinggelopuro. Dia dan Prabu Paramananda, Raja ke-26 dari Gilingwesi, bertempur diatas lembah sungai Kalipitu.
Prabu Ranggawuni memenangkan pertempuran dan berhasil memperluas wilayah Shinggelopuro. Dia dikenang oleh rakyat Shinggelopuro sebagai salah satu penguasa terbesar Shinggelopuro.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Tanpa pengawalan Prabu Ranggawuni melakukan pemeriksaan wilayah. Prabu Ranggawuni menunggang kuda, menjelajahi wilayah kerajaan Shinggelopuro. Beliau berkuda dengan gagahnya.
Melewati padang rumput dan juga hutan belantara. Tanpa terasa beliau sudah sampai di perbatasan. Ini adalah perbatasan keraton Shinggelopuro dengan keraton Gilingwesi.
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Dhang Achariya Begawan Paramartana sedang melakukan persembahan 'sesaji labuh negari' di gunung Lawu. Dhang Achariya Begawan Paramartana ditemani dua abdi pendeta wanita dan beberapa pendeta pria.
Dhang Achariya Begawan Paramartana duduk menghadap diagram Rajah Kolomongso yang tergambar di dinding bukit.
Disaat Paramartana mulai membuka serat purba wisesa, belum lama Paramartana membaca mantra tiba - tiba diagram Rajah Kolomongso di dinding bukit itu retak.
🌺🌺🌺🌺
Tiba - tiba Sinuwun Prabu Ranggawuni dari Shinggelopuro, mendapat serangan. Dua anak panah melesat kearahnya. Prabu Ranggawuni menarik tali kekang kudanya, sepasang kaki depan kuda tersebut terangkat ke atas.
Akhirnya dua anak panah yang melaju tersebut, melukai kedua kaki depan kuda Prabu Ranggawuni..
Prabu Ranggawuni terjatuh dari kuda, beliau terguling guling di tanah. Beliau bangkit mencabut pedangnya.
Satu pasukan berpakaian hitam, memakai cadar hitam datang dan mengepung Prabu Ranggawuni.
Prabu Ranggawuni bertanya sambil terus memperhatikan keadaan, "Kalian dari Gilingwesi?"
"Benar!" Jawab satu dari mereka.
"Kami datang untuk membalaskan dendam mantan Raja kami*" Jawabnya lagi.
📜[*Prabu Paramananda dari Gilingwesi, dikalahkan oleh Singgelopuro dalam peperangan beberapa tahun yang lalu.]📜
Kemudian, Satu dari pasukan itu memberi aba aba.
"Bunuh dia!" Teriak salah satu prajurit yang berpakaian ala ninja tersebut.
Prabu Ranggawuni dikeroyok, dan dikelilingi oleh pasukan berjubah hitam itu. Prabu Ranggawuni terdesak, Beliau terjatuh akibat tidak kuat menahan serangan pedang.
Tatkala pedang musuhnya kembali menyerang, beberapa anak panah melesat ke arah pasukan berjubah hitam tersebut.
Tiga orang prajurit bertopeng datang menyelamatkan Prabu Ranggawuni, pemimpin dari tiga prajurit bertopeng melompat menerjang ke arah pasukan berjubah hitam.
Prabu Ranggawuni hampir saja tertebas pedang, dengan cepat prajurit bertopeng itu menarik Prabu Ranggawuni ke belakang, sedangkan dia salto diatas kepala sang Prabu dan bersiaga dengan pedangnya.
Dua orang rekan prajurit bertopeng segera bertindak, mereka menyerang pasukan berjubah hitam. Prabu Ranggawuni lagi lagi dalam bahaya. Dengan bersenjatakan cambuk berpisau, prajurit bertopeng itu menghabisi seluruh pasukan berjubah hitam.
Prajurit bertopeng itu memandang, mayat pasukan berjubah hitam, dia membuka helem perangnya. Dia berbalik ke arah Prabu Ranggawuni, kemudian membuka topengnya. Ternyata dia adalah seorang perempuan. Dia adalah Nimas Ayu Ambarwati.
Si pejuang bertopeng Nimas Ayu Ambarwati meminta pengampunan pada Prabu Ranggawuni karena ketidakmampuan mereka menjaga sang Prabu.
Sang Prabu berkata dia tidak bersalah karena ini karena dia keras kepala dan tidak mendengarkan Nimas Ayu Ambarwati, seharusnya dia tidak memeriksa perbatasan sendirian.
Nimas Ayu Ambarwati ingin membawa sang Prabu kembali ke istana tapi sang Prabu menolak. Prabu Ranggawuni ingin cucunya Raden Samaratungga melihat gunung Agung diseberang Singgelopuro.
Dua orang rekan prajurit bertopeng berlutut di depan Prabu Ranggawuni. Disusul oleh Nimas Ayu Ambarwati berlutut di depan Prabu Ranggawuni.
"Sinuwun! Sinuwun!, Ini adalah kelalaian kami." Serentak mereka bertiga memohon ampun.
"Jangan begitu, Aku tidak menuruti kata-katamu dan hampir tewas." Prabu Ranggawuni berdiri dengan tenang di depan ketiga prajuritnya.
"Panjenengan ndiko seharusnya tidak berkuda sendirian di perbatasan, Sinuwun. Sudilah ndiko menghentikan perjalanan dan kembali ke istana." Sambil berlutut Nimas Ayu Ambarwati memohon.
"Tidak." Dengan tersenyum Prabu Ranggawuni menjawab.
"Tapi, Sinuwun!!" Nimas Ayu Ambarwati mendongakan kepala dalam keadaan berlutut.
__ADS_1
"Aku akan mengajak penerus takhta Raden Samaratungga menuju Gunung Agung, dan memperlihatkannya keagungan Shinggelopuro." Prabu Ranggawuni berkata dengan penuh wibawa**.