
🌺🌺🌺🌺🌺
Setelah berpamitan, Gus Nan Alipun menggeber kendaraannya. Ini adalah hal yang membuat ku dewasa akan cinta.
Bagaimana seharusnya bijak dalam menyikapi setiap permasalahan hidup.
Layukalifullohu nafsan illa wus'aha'pikirnya.. Ternyata senjakala telah merapat. Menjemput purnama bulan dalam gelap malam bersatir
sunyi.
Gus Nan Ali menepi dan mampir pada sebuah masjid untuk sholat ashar. Setelah sholat ashar, diapun beristirahat sejenak untuk melepas lelah sambil menunggu magrib.
Baru, sehabis magrib diapun meluncur lagi ke tempat pasamuan agung yang jaraknya tidak begitu jauh dari masjid tersebut.
Ternyata, abahnya sudah berada di pertigaan jalan bersama Kyai Abdulloh Jabbar al Maliki.
Gus Nan Ali berhenti, ketika hendak turun di cegah oleh Kyai Hasyim
Yai Hasyim \= "Sudah, nggak usah turun.kita langsung saja berangkat ke rumahnya Kyai Abdulloh Jabbar."
Gus Nan Ali \= "Injih bah."
Romo Kyai Hasyim Ali dan Romo Kyai Abdulloh Jabbar membuka pintu. setelah beliau beliau ini duduk.
Yai Hasyimpun menepuk pundak gus nan ali "tancap gas pak sopir."
"Ha ha ha...injih nderek aken kyai" jawab Gus Nan Ali.
Sekitar kurang lebih satu jam. Rombongan itu sudah nyampek di rumah romo kyai abdulloh jabbar. Bahkan kopi dan singkong goreng juga menyertai romantisme kedua kyai tersebut. Tak ketinggalan neng Nurifatul Afifah beserta ibundanya juga berada di ruang tamu.
Yai Hasyim \= "Bagaimana Yai Jabbar?"
Yai Jabbar \= "Bagaimana apanya?"
__ADS_1
Yai Hasyim \= "Yang pernah saya bilang dulu."
Yai Jabbar \= "Persyaratan jadi menantu ku tidak bisa di tawar Kyai. Minimal harus hafal al qur'an dan beberapa ratus hadits Bukhori Muslim beserta matannya."
Bu Nyai Jabbar \= "Mbok standartnya di turunkan tho bah. Kasian anak kita nanti.bisa
jadi perawan tua. Abah sudah berapa puluh kali menolak lamaran."
Gus Nan Ali hanya tertunduk. "Ini khan murid ku dulu. Kejadian dimana sarungku
keserimpet gear sepeda yang akhirnya aku jatuh di sawah" bathin Gus Nan Ali.
Ternyata, Neng Afifahpun juga mengalami hal yang sama "ini khan pak ustad Zidan. Guru ku dulu. Pangeran penyair dari gurun tak bernama. Kok tiba tiba bisa datang kesini bersama kyai hasyim. Sahabatnya abah."
Yai Jabbar \= "Tetapi, persyaratan ku semua itu ada pengecualiannya Kyai Hasyim."
Yai Hasyim \= "Apa itu Kyai Jabbar?"
Yai Jabbar \= "Akan aku berikan putri ku kepada dia yang sangat takdzim dan mencintai kyainya. Juga sangat besar kecintaannya kepada alim ulama. Karena dengan hal itu, dia telah membuka pintu gerbang ke-aliman untuk para cucu cucu kukelak. Aku merestuinya. Tetapi semua itu sekarang aku serahkan sama putri ku. Kira kira dia mau apa tidak?"
Neng Nurifatul Afifah hanya tertunduk dengan seulas senyum di bibirnya.
"Hayo, bilang sesuatu sama calon istrimu. Jangan sampai abah bilang sama dia. Bahwa kamu telah melukis wajahnya pada sebuah kertas kecil, lalu engkau selipkan di dalam kitab ihya' mu. Terus di bawah lukisan itu tertulis 'Neng Nurifatul Afifah, maukah engkau membangun ponpes tanfidzul qur'an bersama ku. Mengajar ngaji tanpa di gaji. Menjadi penyempurna agama ku dan menjadi penyambung tulang rusuk ku' Apa abah harus cerita itu semua sama dia ?"
Gus Nan Ali \= "Tidak perlu bah."
Yai Hasyim \= "Kenapa memangnya?"
Gus Nan Ali \= "Karena dia telah mendengar itu semua bah."
Yai Jabbar \= "Ha ha ha...Yai Hasyim Yai Hasyim."
Tak beberapa lama. Menikahlah neng Nurifatul Afifah dengan Gus Nan Ali. Siapapun yang melihat akan dibuat iri olehnya.
Karena cinta selalu menemukan jalannya untuk berjodoh. Mungkin itu sebuah takdir atau kita yang harus menjemput takdir yang lain.
__ADS_1
Terlihat setelah Ijab Qobul. Neng Afifah memeluk gus nan ali dengan erat. Lalu, membisikkan sesuatu di telinganya.
Membuat Gus Nan Ali tersenyum. Sambil berucap "tadi diajeng billang apa sama kangmas?"
Neng Afifah \= Kang mas. Apa cinta kang mas setinggi gunung himalaya. Seluas samudera, apa sesuci embun berderai kala pagi?"
Gus Nan Ali \= "Tidak diajeng."
Neng Afifah \= "Kok bisa begitu kang mas?"
Gus Nan Ali \= "Soalnya cinta kang mas sama diajeng cuma sedikit."
Neng Afifah \= "Ya sudah. Kalau cintanya cuma sedikit. Nanti malam kangmas nggak boleh nyangkul."
Gus Nan Ali \= "Lho, kok begitu diajeng?"
Neng Afifah \= "Khan cintanya cuma sedikit."
Bersambung..
ikuti karyaku lainnya.
▶Cinta Dalam Doa.
▶Kidung Cinta di Singgelopuro.
▶Balada Perjaka Tua.
▶Kang Jambul pemburu tuyul.
terima kasih****.
promo.
**Kidung Cinta di Shinggelopuro**
__ADS_1
“Nogo Sepasang,,, Sirno Ilang Kertaning Bumi..”
“Sakalir Sedha Bagaskoro Sirno,,, Merak Rawuh Jumeneng Nata.”