
Yai Zidnan Ali \= "ehem ehem."
Jalal \= "ada apa tho bah ?"
Yai Zidnan \= "ampun manis2 njih ay. Khan kamunya sudah manis. ha ha ha. Bagus Cilik Bagus Cilik."
Jalal \= "kapan bagus bilang "khan kamu nya sudah manis".
Yai Zidnan Ali \= "Bagus Bagus. Abah itu tahu kalau kamu juga suka sama Ayu Ningrum gus."
Jalal \= "dapat referensi dari mana itu bah ? Kok bisa bisa bisanya menyimpulkan seperti itu ?"
Yai Zidnan \= "Ketika seorang laki laki mencintai seorang perempun. Dia akan berkata dengan lemah lembut. Semakin besar cintanya, maka akan semakin lembut sikapnya."
Jalal \= "kok bisa bah ?"
Yai Zidnan \= "karena, yg dia jaga bukan hatinya. Tetapi hati orang yg dia cinta. Yg dia jaga bukan sekedar perasaannya. Tetapi perasaan orang yg dia sayang. Maka, jika semakin besar cinta seorang laki laki. Maka akan semakin halus tutur katanya. Akan lembut sikapnya. Dan akan semakin kecil ke egoisannya."
Bu Nyai \= "kalau soal cinta, tanya abah mu Bagus Cilik. Abah mu itu penyair cinta dari padang tak bernama. Itu julukan Abah mu pas waktu masih di pondok."
Jalal \= "wah, Abah itu dulu jangan jangan ... ha ha ha"
__ADS_1
Bu Nyai \= "Abah mu dulu. Sering di mintai tolong kang2 santri buat bikin surat cinta untuk santri putri."
Jalal \= "Ada yg berhasil tidak buk ?
Yai Zidnan Ali \= "lha itu. Kyai Hamam Kriwul itu dulu khan abah juga yg buatkan surat. Itu dulu istrinya santri kalong di tempatnya romo Kyai Ahmadi Baqir .
Bu Nyai \= "abaaaaaaah. Ya sudah, ini piring - piring yg kotor sama wadah2 yg kotor tak bawak e ke dapur. Sambil lihat Ayu Ningrum bikin kopi. Ibu kwatir, nanti Bagus Cilik minum kopinya juga di pantai."
Jalal \= "ha ha ha. Injih buk."
Lalu bergegaslah bu nyai Arifatul Afifah meninggalkan ruang makan itu.
Yai Zidnan Ali \= "tak kasih tahu Bagus Cilik. Orang seperti Ayu Ningrum itu nangisan lho gus".
Romo Yai \= "kelihatannya seperti itu gus. Cuma, kamu tak kasih tahu cara ngadepin istri yg lagi nangis. Istri lho gus, bukan pacar."
Jalal \= "yg pacaran siapa tho baaaah ?"
Yai Zidnan Ali \= "makanya jangan pacaran. Pacaran itu biayanya pasti, Ruginya pasti, dosanya pasti. Tetapi ora iso ibik ibik gus. Opo ora rugi gus ?"
Jalal \= "ibik ibik. Ha ha ha"
Yai Zidnan \= "jika istri mu menangis. Jangan coba coba menasehatinya. Atau memarahi nya supaya dia berhenti dari isak tangisnya."
__ADS_1
Jalal \= ( mendengarkan tutur kata romo yai zidnan ali )
Yai Zidnan Ali \= "tetapi, langsung peluk dirinya dengan erat. Jika dia meronta tetap pertahan kan memeluknya. Lalu katakan;
(" menangislah semau mu , biar dada ini akan menampung deraian air mata mu . Menangislah biarkanlah hati ini juga mendengar jeritan kesedihan mu ").
Lalu cium keningnya, lalu katakan. ("Aku mungkin tak bisa membahagiakan mu. Tetapi, aku tak akan membiarkan diri mu sendirian dalam kesedihan mu").
Perempuan suka di perlakukan seperti itu Bagus Cilik."
Jalal \= "suit suiiiiiit ..."
Yai Zidnan Ali \= "sssssttttt, nanti ibuk mu dengar."
Jalal \= "he he he.....kalau menghadapi yg suka purikan bagaimana bah caranya ?"
Yai Zidnan Ali \= "ah itu kapan2 saja abah kasih tau. Oh ya Bagus Cilik. Itu buku catatan mu (" taman cinta para pendosa "). Itu Abah taruh di atas meja di ruang tengah. Di dalam buku itu ada amplop, sepertinya surat . Tetapi abah enggak baca kok Bagus Cilik. Ya sudah, Abah tak mandi dulu gus.'
Jalal \= "injih2 bah nderek aken."
bersambung.
__ADS_1