
................\= "Nggak apa apa kok nak. Ngomong ngomong kamu pinaringan asmo sinten
nak ?"
Gus Nan Ali \= "Zidnan Ali kek, kalau kakek sendiri asmo nipun sinten ?"
......... \= "Aku Abdulloh Jabbar."
Gus Nan Ali \= "Monggo kek."
Abdulloh Jabbar \= "Sebentar dulu tho nak. itu yang di undang adalah para alim ulama. Terus, kamu
itu kok bisa masuk ke situ. Apa kamu juga dapat undangan dari Ndoro Habib ?"
Gus Nan Ali \= Mboten kek. Saya sopirnya Kyai Hasyim. Saya cuma mengantarkan beliau. Hayo kek masuk." (mempersilahkan orang tua itu untuk berjalan duluan)
orang tua itupun berjalan memasuki rumah Ndoro Habib. Baru beberapa langkah saja. Beberapa Para Kyai dan para Mursyid Thoriqoh diam dan memandangi beliau. Sampai, sebuah suara memecah kebisuan itu.
Assalammu 'Alaikum Yai Jabbar'' ucap kyai Hasyim Ali menghampiri dan merangkul romo Kyai Abdulloh Jabbar.
"Dos pundi kabaripun calon besan?"
Gus Nan Ali \= (Besan? abah lak ngawur wae, belum belum sudah manggil calon besan)
Yai Jabbar \= "Wa'Alaikum Salam. Alhamdulillah sae, berkat pandonga nipun panjenengan Yai Hasyim."
Yai Hasyim \= "Mbok iya jangan begitu tho calon besan."
Yai Jabbar \= "Besan? jangan bilang begitu yai Hasyim. Lamaran mu masih belum aku
terima."
Yai Hasyim \= "Sudah tho kyai. Di trima saja lamaran aku."
Yai Jabbar \= "Ooowwwhhhh entar dulu kyai. Aku juga belum tahu putra kamu seperti
apa?"
__ADS_1
Yai Hasyim \= "Putra ku guanteng, pinter dan insya alloh bisa jadi menantu yang baik.
Ketika Gus Nan Ali lagi asyik mendengarkan pembicaraan Kyai Hasyim dan kyai
Abdulloh Jabbar. Tiba tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang dari belakang. Diapun
menoleh, ketika menoleh di lihatlah sebuah senyuman menyapanya;"
Gus Nan Ali \= "Gus Zamrozi Baqir?"
Gus Rozi \= "Sama siapa gus?"
Gus Nan Ali \= "Nderekne abah gus. terus jenengan kaliyan sinten niki?"
Gus Rozi \= "Sami gus. nderekne abah njihan."
"kyai," ucap Gus Rozi sambil menyalami dan mencium tangan Romo Kyai Hasyim Ali dan
romo Kyai Abdulloh Jabbar.
Kyai Hasyim Ali \= "Kamu ini khan ?"
Gus Rozi \= "Injih kyai, dalem menantunya kyai Idris Ghozali. Putra nipun Kyai Ahmadi Baqir."
Gus Rozi \= "Lagi nandang gerah kyai."
Gus Nan Ali \= "Apa? romo kyai lagi sakit (Matanya menatap tajam ke arah Gus Rozi
sambil tangannya mengepal dengan sangat erat).
Yai Hasyim \= "Sabar sabar gus ....."(Sambil mengelus elus pundak gus nan ali).
Gus Nan Ali \= "Nyuwun pangapunten sakderenge bah. Mbok bilih di izinkan. Aku mau menjenguk romo kyai dulu bah."
Yai Hasyim \= "Apa kamu gak kecapekan nantinya. Rumah Kyai Idris masih sangat jauh dari sini. Sekitar kurang lebih masih 2 jam perjalanan. Apa kamu yaqin?"
Gus Nan Ali \= "Yaqin bah. Pangestunipun ikang dalem suwun."
Kyai Hasyim tersenyum melihat putranya sambil mengelus pundak Gus Nan Ali
__ADS_1
sembari berucap ''hati hati njih nak."
"Injih bah'' jawab Gus Nan Ali.
setelah berpamitan, Gus Nan Alipun keluar dan menaiki kendaraannya. Menggebernya
menerobos ruas ruas jalan. Melesak lepas bagai anak panah yang terlepas dari
gendewanya.
Kira kira 2 jam. Dia sudah sampai di pondoknya Romo Kyai Idris
Ghozali. Gus Nan Ali langsung turun dan berjalan menuju rumah.
"Assalammu'Alaikum''ucap Gus Nan Ali.
"Wa'Alaikum Salam'' jawab seorang perempuan dari dalam rumah yang tak lain adalah Ibu Nyai Idris Ghozali.
setelah berbincang bincang agak lama. Gus Nan Alipun di suruh masuk untuk menjenguk keadaan Romo Kyai Idris Ghozali yang tergolek lemah di kamarnya.
Sedangkan di situ ada neng Humaidah dan beberapa putri romo Kyai Idris Ghozali. Gus Nan Ali melihat keadaan Romo Kyai Idris tergolek lemah tak berdaya.
Tak kuasa membendung kesedihannya. Gus Nan Alipun sungkem sambil mencium tangan romo kyai.
"Ini siapa
injih?" ucap Kyai Idris.
Gus Nan Ali \= "Dalem Kang Zidan Kyai."
bersambung.
ikuti karyaku lainnya.
▶Cinta Dalam Doa.
▶Kidung Cinta di Singgelopuro.
▶Balada Perjaka Tua.
__ADS_1
▶Kang Jambul pemburu tuyul.
terima kasih**.