
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Jalal \= ( menghela nafas panjang ) sebelum menjawab pertanyaan mu. Bolehkah aku tanya satu hal sama jenengan tho neng Nabila ?
Nabila \= angsal kok gus.. emangnya mau tanya apa sih gus ?
Jalal \= apa alasan kamu kok lebih memilih aku ketimbang gus Umam ?
Nabila \= jenengan khan tahu sendiri tho gus. Gus Umam itu siapa. Putra nipun romo kyai Ridwan Ahmad. Terus, kira2 apa ada alasan aku untuk menolak tho gus. Kalau aku menolak tanpa alasan yg jelas. Apa nanti malah gak menyebabkan retaknya hubungan antara abah sama romo kyai Ridwan Ahmad ?
Jalal \= oooowwwwhhhh , jadi aku cuma buat alasan saja.
Nabila \= mboten kok gus, saestu mboten.
Jalal \= terus.
Nabila \= mergi nabila sampun yaqin.
Jalal \= lho ..... terus yg membuat kamu yaqin niku nopo tho neng nabila ?
Nabila \= aku memang manja gus, tetapi Nabila itu gak bodoh.
Jalal \= maksudnya ?
Nabila \= ketika jenengan bicara memperkenalkan diri. Nabila perhatikan cara bicara jenengan. Gerak gerik jenengan, semuanya nabila perhatikan. Bahkan, bagaimana sikap gus Umam yg begitu segan dan sangat menaruh hormat dumateng
panjenengan. Dari sini nabila bisa menarik kesimpulan. Seperti qoidah la ya'riful wali ilal wali. Hanya wali yg bisa mengetahui wali.
Jalal \= maksud ipun neng nabila ?
Nabila \= arrrrggghhhh, mosok gak ngerti ... maksudnya, hanya gus yg bisa mengetahui gus. Jadi, nabila yaqin bahwa jenengan setidak e punya tingkatan yg sama dengan gus Umam. Bahkan bisa lebih dari itu.
Jalal \= ( hanya terdiam )
Nabila \= gus...gus Jalal.
Jalal \= daleeeeem.
Nabila \= kok nabila di diemin tho.
__ADS_1
Jalal \= mboten kok neng Nabila.
Nabila \= terus, kenapa dulu gak ngasih jawaban ?
Jalal \= ( cuma diem )
Nabila \= ooooowwwwhhhh... sekarang Nabila tahu. Ternyata, seorang gus Jalal. Seorang Bagus Cilik, tidak punya nyali. Tidak punya keberanian untuk menjawab pertanyaan ku. Nabila kecewa dumateng panjenengan gus.
Jalal \= ( hanya terdiam, dan hanya bisa berkata dalam hati. Nabila. Jika dulu aku terima. Maka jatuhlah martabat Abah mu dan ummi mu sebagai orang tua. Tetapi. Jika aku menolak. Maka hancurlah kehomatan mu sebagai perempuan. Aku diam bukan karena aku benci. Aku diam bukan karena aku tak punya nyali. Tetapi aku diam. Karena akuTak ingin menyakiti orang- orang yg aku sayang )
Malam itu, kira2 jam 01: dini hari, gus Jalal keluar dari kamarnya. Menuju dapur untuk membuat kopi.
Setelah membuat kopi, gus Jalalpun membawa kopi itu menuju tangga yg dekat kamar mandi ndalem. Lalu menaiki tangga itu sampai ujung tangga.
Di situ ada pintu yg di bukanya secara perlahan2. Terus keluar, dan itu ternyata adalah dek atap rumahnya yg masih cor coran.
Dari situ ada tangga lagi yg menghubungkan dengan asrama santri putra. tetapi juga terdapat tangga lagi yg menghubungkan dengan loteng bagian atas sendiri.
Yg biasanya kalau siang buat jemuran baju, tetapi kalau malam biasanya buat cecangkrukkan para santri.
Gus jalalpun menaiki tangga demi tangga sampai akhirnya sampai di dek atas asrama santri putra itu.
Tinggal kang ilham yg berada di situ, itupun juga sudah mau melipat karpet yg tadi di buat alas duduknya.
Lalu di tahan sama gus Jalal.
Jalal \= kajenge kang, mangke tak ringkesane kang !
Ilham \= injih gus ..pangapunten2.. ( lalu menyalami gus Jalal dan mencium tangan gus Jalal ) dalem nyuwun pamit riyen gus. Assalammualaikum.
Jalal \= alaikumussalam warohmah lalu, duduklah gus Jalal di situ.
Dengan di temani secangkir kopi. matanya jauh menerawang kelangit bertabur bintang. semilir angin malam itu benar2 menyergap sunyi.
Mungkin hanya suara jangkrik yg bersautan melantunkan tembang2 puji keilahiaan.
Lalu, gus Jalalpun mulai berucap Mata ini enggan terpejam. Sekali engkau mengintai dari jendela embun.
Apa sebenarnya yg ingin engkau lihat. Apa sebenarnya yg ingin engkau dengar. Kata indah yg engkau nanti tak jua menyapa diri.
Tak lelahkah engkau berharap. Bukalah mata mu wahai hati. Dan menangislah. Tumpahkan sesenggukan kesedihan mu.
__ADS_1
Selingan mimpi memanjanya telah habis tersesap waktu. Bilakah purnama tetutup tirai malam. Cahaya fikir ini redup memancar secercah biasnya.
Tak tertangkap cinta di ujung kuncup kembang kasmaran. Layu tak terpetik meski rayu mu menyemat jiwa. Rintihan hati mulai
mengurai di genggam halimun dingin.
Terbawa angin entah ke rimba belantara kata.
Sedangkan aku , bagai orang buangan bersenandung candaan lama menoreh luka.
Kisah cinta ku di tertawakan kunang kunang. Reranting meranti itupun juga bahagia melihat derita ku.
Hanya bumi. Dan hanya bumi. Menaruh iba serasa ingin meredam isak tangis ku di pelukannya.
Nila, aku sangat merindukan mu. Meski raga mu terbujur kaku. Suara mu tercekat bibir memucat. Apa itu akhir cerita cinta kita. Dan perlukah ku bawakan karangan bunga di batu nisan mu.
Seroja putih telah menaburi wangikan gundukan tanah merah yg menyelimuti mu. Dan di atas tanah merah itu. Ku coba tulis kisah cinta kita.
Tapi sayang,saat langit menghapusnya dengan air mata awan. Karena dia juga tak
rela jika aku mengingat secuil mimpi untuk bersama mu.
Telah terbuyar badai semusim padang jiwa. Dan sekarang... Tersenyumlah wahai bidadari.
Engkau telah tenang bermanja dengan TUHAN mu. Tak usahlah engkau bersedih. Untuk aku sang musafir kelabu.
Wewangi kasturi masih terpoles di seluruh jasad mu. Tak bisa ku peluk diri mu lagi
meski sekedar bayang. Kenangan silam dulu masih ku dekap erat sehangat bintang.
Semilir angin malam itu benar2 menyergap
sunyi. Mungkin hanya suara jangkrik yg bersautan melantunkan tembang2 puji
keilahiaan.
bersambung.
*****************************************
ikuti balada perjaka tua dan legenda ponorogo.
__ADS_1