
Sedangkan di dalam rumah romo Kyai Zidnan Ali. Tampak romo kyai sedang murung
di dalam kamarnya.
"Baaaahhhh. Ada apa tho bah ? kok murung seperti itu?" tanya bu nyai Nurifatul Afifah yang baru memasuki bilik kamarnya.
Yai Zidnan Ali \= "Apa aku terlalu keras sama Bagus Cilik tho buk?"
Bu Nyai Nurifatul Afifah duduk di sebelah romo Kyai Zidnan Ali. Bu nyai memegang tangan romo kyai. Menatap lembut penuh sayang sosok lelaki di dekatnya itu, wajahnya mulai keriput. Sisa-sisa ketampanannya mulai luntur termakan umur. Lelaki yang telah menemaninya puluhan tahun. Mengukir cerita cinta. Terkadang tertawa bersama, terkadang juga sedih bersama.
Bu Nyai \= "Ada apa tho bah?"
Yai Zidnan Ali \= "Apa abah terlalu keras sama Bagus Cilik. Dengan menjodohkannya sama Ayu Ningrum?"
Bu Nyai \= "Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk putranya kok bah."
Yai Zidnan Ali \= "Abah memang terlalu egois kok buk."
Bu Nyai \= "Semoga ini menjadi kebaikan untuk semuanya bah."
Yai Zidnan Ali \= "Amin Ya Robbal'Alamin."
Bu Nyai \= "Abah masih kepikiran dengan amanah dari al maghfurloh romo Kyai Idris
Ghozali beserta keluarganya, untuk mengasuh pondok pesantrennya?"
Yai Zidnan Ali \= "Iya buk."
Bu Nyai \= "Terus, maunya abah bagaimana?"
__ADS_1
Yai Zidnan Ali \= "Abah mau Bagus Cilik menikah dengan Ayu Ningrum. Setidaknya, jika kelak di karuniai anak. Maka, biar pondok itu kembali lagi kepada keluarganya romo
yai. Yaitu anaknya Bagus Cilik, yang merupakan cicit dari almaghfurloh romo kyai
Idris Ghozali."
Bu Nyai \= "Semoga alloh kasih jalan yang terbaik untuk kita semuanya."
******
Sedangkan di halaman rumah romo kyai Hamam. Nampaklah romo kyai Ridwan Ahmad lagi berbincang bincang dengan romo Kyai Hamam Muhammad di bawah pohon mangga di depan ndalem.
Yai Ridwan Ahmad \= "Yi, aku perhatikan. Putra ku Nashirul Umam, itu suka sama putri mu. Apa nggak sebaiknya hubungan persahabatan kita lebih di pererat lagi menjadi hubungan keluarga?"
Yai Hamam \= "Saya itu setuju-setuju saja kyai. Tetapi ada hal yang sangat mengganjal di hati saya kyai?"
Yai Hamam \= "Lho, Gus Umam nggak cerita apa-apa sama panjenengane?"
Yai Ridwan Ahmad \= "Mboten niku yi. Memangnya masalah apa itu yi?"
kyai hamam menghela nafas panjang.
Yai Hamam \= "Nabila suka sama guse yi."
Yai Ridwan Ahmad \= "Guse? gus siapa kyai?"
Yai Hamam \= "Gus Jalaludin Ahmad Husein Ali bin Ahmad Zidnan Ali, cucunya romo kyai Muhammad Hasyim Ali."
Yai Ridwan Ahmad \= "Allohu Akbar.Lahaula Wala Quwwata Illabillah. Beneran itu yi?"
__ADS_1
Yai Hamam \= "Injih kyai."
Yai Ridwan Ahmad \= "Masalahnya itu putri mu suka sama guse apa cuma sekedar kagum saja sama Bagus Cilik yang notabene cucu dari romo yai zidnan ali."
Yai Hamam \= "Nabila malah kenalnya sama guse itu cuma seorang tukang parkir yi?"
Yai Ridwan Ahmad \= "Masya Alloh, Lahaula Wala Quwwata Illa Billah. Terus, guse tanggapannya bagaimana kyai?"
Yai Hamam \= "Itu masalahnya, guse nggak kasih tanggapan sama sekali yi. Beliau cuma
diam saja."
Yai Ridwan Ahmad \= "Terus bagaimana yi?"
Yai Hamam \= "Panjenengan khan tahu sendiri yi.keluarga romo kyai hasyim ali itu masya Alloh. Saya, keluarga saya dan pondok ini tak terlepas dari kebaikan romo kyai Hasyim Ali. Pas waktu di pondok dulu, ketika aku berkeinginan mendirikan mushola kecil-kecilan buat mulang ngaji."
(Gus Nan Ali dengan lantang bilang ''jangan cuma ingin bangun mushola. Tetapi bangun pondok pesantren. Biar lebih banyak orang
merasakan manfaatnya".)
"Selain itu, ternyata biaya pondok ku dulu itu di tanggung oleh romo Kyai Hasyim, dan ketika aku ingin mendirikan pesantren ini. Di tanah warisan orang tua ku, romo kyai Hasyimlah yang sangat membantu dan bersemangat biar pesantren ini bisa berdiri. Ketika santri yang ngaji di sini masih sangat sedikit. Maka, para santri baru di ponpese romo kyai hasyim banyak yang di kirim kesini untuk belajar di sini, meskipun itu untuk sementara. Sebagai pancingan dan juga sebagai pembelajaran awal sistem pendidikan di pesantren ini. Belum lagi bantuan kitab kitab, alat tulis dan lain lain. Para Asatidz dan Asatidzah juga banyak yang di kirim kesini kyai. Mengajar di sini untuk sementara, biar sistem pendidikan di sini bisa stabil dan terorganisir dengan baik. dan sekarang, pesantren ini bisa sebesar ini kyai. Semuanya tidak terjadi secara kebetulan kyai."
Romo Kyai Ridwan Ahmad menatap sahabatnya dalam dalam. Dia sangat mengerti kekalutan hati yang di rasakan oleh sahabatnya itu.
**bersambung.
ikuti
Celana Nggak Muat Istri Sambat.
__ADS_1