HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
HARI KELULUSAN


__ADS_3

Mbok Sam mematut diri di depan cermin lemari pakaian yang sudah usang. Baju muslim bekas dari langganannya pas sekali di tubuhnya yang kurus. Kerudung yang dia pinta paksa dari adiknya yang berkecukupan juga cocok dengan warna baju.


“Mbok, siap belum?” teriak Darsi dengan klakson motornya berkali-kali.


Pagi ini Mbok Sam nebeng motor Darsi untuk ambil raport kelulusan di sekolah Arjuna. Kebetulan Arjuna dan Ari satu sekolah dan satu kelas juga.


Lapangan sekolah yang dibuat tenda tampak rame para orang tua. Mbok Sam dan Darsi mengambil duduk di kursi deretan nomor tiga.


Seorang guru wanita naik ke mimbar memberikan kata pembuka. Membacakan runtutan acara. Kata sambutan dari kepala sekolah sedikit membuat Mbok Sam mengantuk. Sampai riuh renyah dan tepuk tangan membahana ketika nama-nama murid terbaik dibacakan.


“Arjuna Wibisono.” Sebut guru wanita itu.


“Mbok, anakmu masuk siswa teladan,” seru Darsi turut bangga, tetangganya ikut dalam barisan murid berprestasi.


Mata Mbok Sam berkaca-kaca. Anak sulungnya berdiri di depan bersama anak-anak terpilih yang lain. Menerima piala dan juga bingkisan hadiah Tepuk bangga untuk anak kebanggaannya.


Selesai acara pelepasan kelulusan, para orang tua bergegas masuk ke kelas anaknya masing-masing. Mbok Sam dan Darsi menunggu giliran.


“Arjuna Wibisono,” panggil sang wali kelas.


Segera Mbok Sam dan Arjuna duduk di depan guru Bahasa Indonesia itu. ‘ Martanto, Spd’, plang nama itu tersemat di dada kanannya.


“Juna itu anaknya pintar lho, Bu. Unggul di pelajaran Matematika, Fisika dan Bahasa Inggris. Selalu rangking pertama dari kelas satu sampai lulus,” puji Pak Martanto makin membuat Mbok Sam bangga memiliki anak sepandai Arjuna.


“Iya Pak,” jawab Mbok Sam sambil tersenyum.


“Sayang banget Bu, kalau Juna sampai ga kuliah. Masa depannya cerah. Insyaallah di hari depan dia akan menjadi orang sukses,” lanjut wali kelas itu mendoakan.


“Aamiin,” ucap Mbok Sam dan Arjuna bersamaan sembari membasuh wajah mereka dengan kedua tangan.


“Terima kasih Pak.”


*********


Sehabis ashar, Darsi sudah sibuk membantu Biyung membungkus tempe. Gadis yang masih lajang itu sudah cukup lama membantu Biyung meski cuma diupah sepuluh bungkus tempe per hari. Atau kadang-kadang dikasih uang sepuluh ribu kalau Biyung lagi banyak uang.


Tampak Arjuna lagi asyik nonton Moto GP favoritnya. Sedang Mentari yang masih duduk di kelas lima SD, asyik bermain dengan teman-temannya di luar.


Mbok Sam masuk rumah dengan membawa cucian kering. Begegas ia duduk di tikar samping Biyung. Lalu melipat rapi baju-baju itu.


“Gimana nilai Arjuna?” tanya Biyung penasaran dengan hasil belajar cucunya.


“Juna masuk sepuluh besar anak berprestasi, Yung,” sambar Darsi antusias memberi kabar.

__ADS_1


“Iya tho, Jun?” tanya Biyung memastikan langsung.


“Iya, Yung. Malah aku disuruh kuliah sama Pak Martanto,” jawab Arjuna tak lepas dari televisi.


“Lah kalau kuliah itu ‘kan mahal?” keluh Biyung.


“Ya, gapopo tho, Yung. Yang penting nanti Juna jadi orang sukses,” cerocos Darsi.


“Tapi banyak orang sukses tanpa harus kuliah tho, Dar,” sahut Mbok Sam.


“Mbok Sam ga ingat, kata-kata gurunya Juna? Sayang kalau Juna ga kuliah karena dia itu pintar,” lanjut Darsi.


“Emang kalau kuliah itu butuh duit berapa?” Biyung ikut-ikutan penasaran dengan kata kuliah.


“Ya banyak, Yung. Juta-jutaan,” sahut Mbok Sam.


“Sok tahu kamu, Mbok,”sembur Darsi.


“Coba tanya Juna saja biar jelas.” Mbok Sam melempar pertanyaan.


“Banyak Mbak Darsi. Uang masuk sekitar lima belas jutaan. Belum biaya semester, buku-buku juga beli sendiri.” Arjuna menjelaskan.


“Wo, mahal juga ya kuliah itu,” seloroh Darsi.


“Makanya aku ga kuat kalau Juna kuliah. Bima dan Mentari kan juga masih butuh sekolah.” Ucapan Mbok Sam membuat wajah Arjuna murung. Di lubuk hatinya yang paling dalam, pemuda itu ingin sekali makan bangku kuliahan.


******


Arjuna dan Mbok Sam asyik nonton televisi. Tangan Mbok Sam sibuk menyulam celana Mentari dan Abimanyu yang bolong. Sesekali matanya menatap televisi, mengikuti sinetron favoritnya.


“Mbok, aku ingin kuliah.” Meski sedikit ragu tapi kalimat itu bisa keluar juga dari mulut Arjuna.


“Tapi kuliah itu butuh duit banyak.” Sekilas Mbok Sam menatap wajah anaknya lalu melanjutkan kembali kerjaannya.


“Tapi aku ini pinter, Mbok. Masa depanku cerah kalau aku nanti lulus kuliah.”


“Banyak orang sukses juga tanpa kuliah,” tegas Mbok Sam. “Lihat Mas Giman yang sukses jadi bos bakso. Mbak Yuni yang sukses jadi juragan ayam?”


“Tapi mereka itu semua kuli. Harus bangun pagi, pakai otot kerjanya,” elak Arjuna. “Aku ini dikasih otak yang pinter, aku yakin bisa sukses dengan itu.”


“Tapi Lhe, simbok ini rezekinya kecil. Nyari rezeki sendirian, Belum lagi adik-adikmu juga butuh sekolah.” Selembut mungkin Mbok Sam menasihati anak sulungnya.


“Ah, simbok ini!” gertaknya geram. “Ga bisa lihat anaknya maju.”

__ADS_1


Dengan kesal Arjuna meninggalkan sang ibu yang hanya mengurut dada melihat kelakuannya. Tampak di pos kamling Ari dan beberapa pemuda desa sedang asyik main gaple sembari merokok.


“Kenapa mukamu, Jun?” tanya Ari penasaran dengan muka temannya yang ditekuk kaya roti lapis.


“Aku sebel sama Simbok,” jawabnya datar.


“Kenapa?”


“Aku minta kuliah malah banyak alasan inilah itulah,” jawab Arjuna meluapkan isi hati.


“Ya maklumlah Jun, Simbokmu begitu. Secara dia cari uang sendiri untuk makan dan sekolah kalian,” nasihat salah satu pemuda.


“Tapi,aku ini pinter. Sayang kalau aku tak kuliah.” Arjuna masih membela diri, merasa benar ia meminta hak untuk kuliah.


“Ya, sudah kamu nanti bilang lagi sama Simbokmu. Siapa tahu lama-lama hati Mbok Ssm luluh. Mbok Ssm itu meski cerewet tapi hatinya penyayang,” timpal Ari menghibur sahabatnya.


“Yo wis, sekarang kita gaple sampai pagi,” ajak salah satu pemuda.


“Ga ada kopi pa ini?” komen Arjuna.


“Emang kamu punya duit?”celetuk Ari.


“Ada dong. Jangan sembarangan kamu ngomong,” tukas Arjuna mengeluarkan uang sepuluh ribu dari saku celana.


“Jon, beli kopi susu empat. Sisanya kacang garing!” titah Ari sambil mengulurkan uang kepada Joni yang kebetulan warungnya di seberang pos kamling.


“Nah, asyik kan kalau main gaple sambil ngopi,” seloroh Arjuna.


“Tapi sayang ga pakai duit,” sesal Ari.


“Huss, kalau main kartu pakai duit itu namanya judi. Dosa hukumnya,” celetuk salah satu pemuda.


“Ngomong apa tho kamu. Sok suci. Kaya ga pernah bikin dosa saja.”


Keempat pemuda itu saling tertawa lepas. Menikmati permainan sambil ngopi dan ngemil. Tak peduli kalau malam makin larut. Hawa dingin mulai menusuk tulang.


*****


Simbok : ibu


Biyung : nenek


Genduk/nduk : panggilan anak perempuan

__ADS_1


Thole/ Lhe : panggilan anak laki-laki


Gaple : main kartu


__ADS_2