
Mbok Sam memasukan pakaian yang sudah dilipat ke lemari usang. Wanita empat puluh tahun itu terlihat lebih tua dari usianya. Uban mulai mendominasi warna rambut. Keriput mulai memenuhi dahi. Matanya makin sayu karena beban hidup.
Sudah setahun ini Mbok Sam memikul tanggung jawab menafkahi keluarga. Memastikan anak-anaknya bisa menyenyam bangku sekolahan. Suaminya setahun lalu berangkat ke Kalimantan untuk mencari peruntungan, merubah nasib keluarga biar lebih baik. Namun sayang, setahun berlalu, suami tak kunjung pulang dan tak ada kabar berita.
Awalnya Mbok Sam terpuruk. Hari-hari diratapi dengan tangis. Namun sayang semua tak mengembalikan suaminya padanya. Sedang dia dan anak-anak harus terus melanjutkan hidup yang tak gratis. Hanya lewat doa, ia titipkan keselamatan suami kepada Sang Pencipta. Berharap suatu saat imam hidupnya itu kembali ke tengah keluarga.
“Mbok, besok Bima ikut Simbok ke Jakarta ya?” pinta Abimanyu, anak keduanya.
“Mending di rumah saja Lhe, ngurus kambing dan ayam-ayam Biyung.”
“Aku pingin nyari kerja, Mbok.”
“Kerja apa Lhe kamu di Jakarta? Kamu kan cuma lulusan SMP,” sahut ibu tiga anak itu ragu.
“Kerja apa saja Mbok, asal halal.”
Mbok Sam menatap anaknya lekat. Kelopak matanya mulai berembun. Anak keduanya ini memang tidak neko-neko meski pecicilan orangnya. Anaknya nurut dan paling mengerti keadaan ibunya.
“Iya, besok kita ke Jakarta,” ujarnya tersenyum melihat semangat sang anak untuk mengadu nasib di ibu kota.
*******
“Ini uang lima belas juta untuk biaya masuk kuliah. Dibayarin langsung ya! Ini yang enam juta hasil jual gelang Biyung,” jelas Mbok Sam panjang lebar kepada Arjuna.
Kenapa ia melakukan itu? Iya berharap setelah anaknya tahu dari mana duit itu berasal, Arjuna akan lebih menghargai pengorbanan ibu dan neneknya.
“Iya Mbok, aku tahu,” sahut Arjuna tersenyum. “Tapi jangan lupa cepat kirim uang untuk beli buku-buku dan ongkos kuliah.”
Mbok Sam beralih menghampiri mertuanya untuk pamit.
“Yung, titip Arjuna dan Mentari ya!” ucapnya.
“Iya, tenang saja! Kamu yang ati-ati jualan di Jakarta. Jangan lupa solat lima waktu,” nasihat Biyung.
“Iya Yung,” jawab Mbok Sam lirih.
“Yung, Bima pamit dulu ya! Mau cari kerja di Jakarta. Doain cepat dapat kerja,” pamit Abimanyu, cucu petakilan.
“Ati-ati ya Lhe. Insyaallah nanti kamu jadi orang sukses karena hidup prihatin.” Biyung mengambil selembar uang merah dari gembolan tagennya.
“Ga usah, Yung!” tolak Abimanyu.
“Gapapa. Anggap ini modal dari Biyung,” jawab Biyung sambil terkekeh.
“Simbok,” rengek Mentari memeluk ibunya. Anak kelas lima SD ini sedih harus berpisah dengan sang ibu meski hanya sementara waktu.
Mbok Sam membelai rambut putrinya dengan lembut. Lalu menciumnya berulang kali.
“Kamu yang nurut ma Biyung, ya! Rajin bantuin beres-beres rumah dan masak,” nasihatnya lembut.
“Udah siap belum?” teriak pemilik mobil omprengan membelah haru di keluarga Mbok Sam. Mobil itu yang akan mengatarkan Mbok Sam dan Abimanyu ke terminal.
“Yuk, berangkat!” ujar Abimanyu.
Cowok tanggung itu membawa barang-barang ke mobil omprengan dibantu pemilik mobil. Ada tas berisi baju, beberapa kardus empon-emponan untuk modal membuat jamu gendong.
__ADS_1
********
“Pulogadung…Pulogadung…!” teriak kondektur.
Mbok Sam langsung membangunkan Abimanyu yang masih terlelap. Pemuda itu tergagap namun langsung mengikuti ibunya yang mulai mendekati pintu depan.
“Yang mana Mbok, barang bawaannya?” teriak kondektur membuka bagasi.
Tampak beberapa tukang ojek dan calo kendaraan menawari Mbok Sam jasa. Tanpa menghiraukan mereka Mbok Sam berlalu terburu-buru mendekati Mikrolet 02 yang sedang ngetem.
“Gading Raya, Bang?” tanya Mbok Sam dari kaca mobil.
“Siap, Bu!” jawab sopir lantang.
Dengan sigap Abimanyu memasukkan semua barang bawaan ke belakang biar tak mengganggu penumpang lain. Jam menunjukkan pukul enam pagi, saat mereka tiba di terminal.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah lelah Abimanyu yang menyembul dari kaca jendela angkot. Nertanya tak henti memandang kota metropolitan yang sibuk. Gedung-gedung dan mall berdiri megah. Pasar-pasar yang kumuh diselimuti sampah-sampah tak terawat, membuat Abimanyu menutup hidung saat lewat.
“Kiri,” teriak Mbok Sam menghentikan angkot.
Mbok Sam turun dan membayar angkot. Di belakang dengan sigap Abimanyu menurunkan barang. Memanggul dan membawa hingga sampai ke kontrakkan kecil di dalam gang.
“Mbok Sam sama siapa?” tanya Mpok Atik, tetangga kontrakan yang berdarah Sunda.
“Abimanyu, Mpok, anak kedua saya,” jawab Mbok Sam antusias mengenalkan anaknya. Dengan senyum Abimanyu menyalami Mpok Atik.
“Emang sudah lulus sekolah?”
“Lulus SMP, Mak. Mau nyari kerja.”
********
Jam tiga pagi, mata Mbok Sam terjaga. Ia melihat anaknya Abimanyu yang masih terlelap. Pintu kontrakkan terbuka, ia bergegas ke sumur pompa di samping kontrakan. Mengambil air seember dan menggotongnya ke kamar mandi yang letaknya di pojok kontrakan.
Tak berapa lama wanita itu mengambil wudhu untuk solat tahajud. Di Jakarta Mbok Sam selalu mengawali hari dengan solat tahajud. Berharap kesehatan, berkah rezeki dan perlindungan Sang Pencipta.
Selepas solat ia mulai merebus air. Memarut kunir, jahe untuk dibikin jamu. Lalu meramu beberapa jamu. Setelah jamu mendidih, ia endapkan beberapa saat dan biar jamu agak hangat.
Bergegas ia ke sumur. Sudah antri rupanya. Pagi-pagi begini emang jam sibuk para penghuni kontrakan untuk mandi. Maklum rata-rata penghuni kontrakan ini adalah para pedagang.
Selesai mandi, Mbok Sam memasukan seduhan jamu ke dalam botol dengan torong yang dilapisi saringan. Botol-botol bulat dari kaca itu kini terisi penuh.
Pakaian khas orang jawa dengan balutan jarik adalah pakaian dinas Mbok Sam menjajakan jamu. Rambutnya masih disanggul. Polesan wajahnya hanya bedak Viva kemasan plastik dan gincu warna merah.
Sebelum berangkat, ia sempatkan membeli satu bungkus nasi uduk dan membuatkan secangkir kopi susu untuk Abimanyu. Kasihan nanti anaknya jika sampai pulang jualan belum sarapan.
Mbok Sam mengangkat dan menggendong bakul jamunya. Di tangan kiri, menenteng ember kecil yang berisi beberapa gelas kecil dan air. Dengan senyum khas ia mulai menyusuri gang-gang kecil sekitar Gading Raya.
“Jamu, jamu...jamu, jamu…..” seru Mbok Sam menjajakan dagangannya.
“Jamu!”
Seperti biasa anak-anak TK menyambut kedatangan Mbok Sam setiap pagi. Mereka berkerumunan menbeli jamu beras kencur atau buyung upik.
“Mbok Sam, tumben pulang kampungnya lama banget?” tanya salah satu orang tua murid.
__ADS_1
“Iya Bu, nungguin anak masuk kuliah,” jawab Mbok Sam masih sibuk melayani jamu.
“Hebat euy Mbok Sam. Mbok jamu bisa nguliahin anaknya,” puji orang tua yang lain.
“Orang anaknya ngotot minta sekolah, ya turutin sajalah, Bu.”
“Tapi biaya kuliah itu mahal lho Mbok Sam.”
“Bismillah saja, Bu. Semoga ada rezekinya.”
Mbok Sam melanjutkan langkah kakinya menjemput rezeki. Teriakannya yang sedkit dibuat kemayu sudah sangat khas di telinga para langganan.
“Jamu, jamu…jamu, jamu…”
Sepasang pasutri ke luar menyambut kedatangan Mbok Sam. Mereka adalah Yadi dan Marni, langganan jamu Mbok Sam yang asalnya sekampung dengannya.
“Lama amat sih Mbok di kampung?” protes Yadi sebelum menegak jamu pahitan hingga habis.
“Iya nih Mas, nungguin Arjuna nyari kampus.”
“Arjuna kuliah?” tanya Marni
“Iya, Mbak.”
“Mbok, aku mau kunir asem ya!” Asmarani yang baru ke luar dari rumah langsung memesan.
“Neng Asma sudah SMA ya sekarang?”
“Iya Mbok, sekarang lagi Ospek,” jawab Asmarani sumringah meski saat ini dandanannya seperti orang gila karena tuntutan Ospek.
“Mbak, aku berangkat sekolah dulu ya!” Asmarani menyalami Marni , Yadi dan Mbok Sam bergantian. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab mereka serempak.
“Bima, kalau lanjut ya sekarang SMA seperti Neng Asma,” cerita Mbok Sam.
“Emang Bima ga lanjut sekolah?” tanya Marni setelah meneguk jahe manis sebagai penawar pahit jamu.
“Dia ngalah ga sekolah untuk kakaknya, Mbak.”
“Di kampung nganggur dong?” tanya Marni lagi.
“Ikut ke Jakarta, mau nyari kerja,” jawab Mbok Sam merapikan botol dan gelas.
“Kerja sama saya saja Mbok. Kebetulan lagi nyari orang untuk bantu-bantu di warung.” Tawaran Yadi membuat wajah Mbok Sam berseri-seri.
“Beneran Mas Yadi? Tapi Bima belum pengalaman bikin bakso.”
“Gampang, nanti itu bisa diajarin,” jawab Yadi enteng.
“Alhamdulillah ya Allah,” ucap syukur Mbok Sam dalam hati.
****
Mampir yuk...
__ADS_1
Kisah ini kisah kehidupan yang syarat makna