HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
HIDUP SESUDAH MENIKAH


__ADS_3

Tengah malam Arjuna dan Arimbi turun di gang yang bisa dilewati satu mobil. Dalam remang, mereka menyusuri jalanan gang yang mulai sepi. Bertemu tiang listrik, mereka belok kanan ke gang kecil, melewati sumur pompa dengan penerangan yang tak begitu terang. Beberapa langkah di depan, kontrakan Mbok Sam sudah terlihat.


“Tok…tok..tok..assalamualaikum.” Arjuna beberapa kali mengetuk pintu dan mengucap salam.


Mbok Sam membuka pintu dengan masih setengah mengantuk. Matanya menyipit melihat kedatangan anaknya di tengah malam


.


“Juna, Arimbi?” Mbok Sam membuka pintu lebar-lebar.


Tak berapa lama pintu tertutup lagi. Mbok Sam menyalakan lampu yang lebih terang.


“Kok malam-malam ke sini?” Mbok Sam mengamati tas baju yang dibawa oleh anak dan menantunya.


“Kita rencananya mau tinggal di sini, Mbok,” jawab Arjuna membuat Mbok Sam lega.


“Alhamdulillah, akhirnya kalian mau tinggal di sini. Sejelek-jeleknya tempat sendiri lebih nyaman daripada tinggal di tempat bagus tapi tempat orang lain.” Nasihat Mbok Sam tak didengar oleh mantunya.


Arimbi sibuk mengedarkan pandangan. Menatap setiap sudut ruangan sempit ini yang menurutnya kotor. Sarang laba-laba tampak di sudut depan. Lalu di sudut kompor terlihat seekor kecoa mengintai membuat Arimbi bergidik geli. Belum lagi baju, celana kolor, daster, mukena lusuh, plastik-plastik bergelantungan di centelan paku.


“Ya sudah, tidur saja kalian! Simbok bangunkan Bima dulu biar kasurnya buat tidur Arimbi.” Mbok Sam mulai membangunkan anak keduanya.


“Bim, bangun Lhe! Kamu tidur di tikar ya sama Masmu Juna!”


Dengan setengah mengantuk, Bima berdiri lalu mengambil tikar lusuh dan menggelarnya di depan TV.


Semua sudah tertidur. Sedang Arimbi masih tampak risih tidur di kasur bekas adik iparnya. Sprei yang kotor dan berdebu. Belum lagi bantal yang sedikit bau iler makin membuat putri Bu Tejo itu pingin muntah.


*********


Seperti biasa sebelum azan subuh berkumandang, Mbok Sam sudah disibukkan dengan rutinitas membuat jamu. Selesai berdandan Mbok Sam bergegas membeli tiga bungkus nasi uduk dan tiga sachet kopi lalu menyeduhnya untuk sarapan kedua anak dan mantunya.


Tampak Arjuna dan Abimanyu sedang ngantri di sumur pompa saat Mbok Sam berangkat jualan.


Sesudah selesai sarapan, Abimanyu berangkat duluan ke warung. Pengantin baru masih asyik menikmati sarapannya.


“Mas, jam berapa nanti pulang?”


“Biasa, paling magrib nyampe rumah.” Bima membuang bungkus nasi ke plastis tempat sampah yang tergantung di samping pintu.


“Aku berangkat dulu!”


Arimbi mencium punggung tangan suaminya.


“Assalamualaikum.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” balas Arimbi yang terus memandang kepergian Arjuna.


Sumur pompa masih ramai dengan penghuni kontrakan yang antri mandi. Warga penghuni kontrakan memang rata-rata sudah berumah tangga. Jadi mereka tidak sungkan berkelakar tentang hal-hal vulgar.


Arimbi mengurungkan niatnya untuk mandi. Gadis itu masuk kembali ke kontrakan sempit milik mertuanya. Menyapu lantai semen yang tak pernah bersih meski sudah beberapa kali disapu.


Setelah dirasa sumur sepi, cewek belia itu bergegas mengambil ember hitam untuk mengangkut air ke kamar mandi. Dengan gontai ia memompa air lalu mengangkatnya ke belakang. Kebetulan kamar mandi ada di belakang, bersebelahan dengan toilet.


Rasa lelah mendera. Karena seumur-umur dia belum pernah memompa air. Kalau pingin mandi, ia tinggal nyalakan sanyo, air ngalir sendiri tanpa dipompa dan diangkut.


Arimbi bergidik melihat kamar mandi umum yang terbuat dari seng itu. Ada celah yang cukup lebar di atas. Jadi bisa saja ada mata iseng yang sengaja mengintip saat orang sedang mandi. Belum lagi bak mandi yang lumutan dan lantai kamar mandi yang hanya polesan semen.


Jika saja badannya tidak bau asem, putri Bu Tejo itu lebih memilih tidak mandi daripada mandi dalam keadaan was-was seperti ini.


*******


Jam sepuluh pagi, Mbok Sam sudah pulang jualan. Ia sangat senang mendapati rumah sudah disapu. Selesai mencuci botol, ibu tiga anak itu bergegas mencuci sayur asem yang ia dapat gratis dari warung adiknya. Lalu mencuci bahan sambel dan ayam satu kilo yang dia beli untuk makan anak dan mantunya.


Arimbi hanya melihat aktivitas mertuanya memasak. Tak ada niatan untuk membantu. Perkakas dapur Mbok Sam yang menurutnya kotor membuatnya bergidik melihat mertuanya memasak. Kompor yang kotor. Panci dan wajan yang penuh arang. Belum lagi mangkok dan piring yang masih licin meski sudah dicuci. Ditambah gelas-gelas buram karena mencucinya kurang bersih.


Lagi asyik mengamati mertuanya masak, aroma tak sedap hampir saja membuat Arimbi muntah.


“Pasti ada orang yang habis BAB nih,” ucap Mbok Sam sambil menutup hidung.


Tiga puluh menit kemudian, masakan Mbok Sam beres. Dia menyuruh menantunya untuk mencuci perabotan kotor di sumur. Dengan malas Arimbi menuruti perintah mertuanya.


“Nduk, ayo makan!” tawar Mbok Sam dengan mangkok berisi penuh nasi dan sayur asem.


“Makasih Mbok, nanti saja!”


Nafsu makan Arimbi hilang sudah bersama aroma tak sedap meski sudah hilang. Belum lagi kesan jorok yang ditunjukkan mertuanya jelas menghilangkan selera makan. Arimbi terpaksa harus menahan lapar hingga suaminya pulang.


“Assalamualaikum.”


Tepat azan magrib Arjuna pulang. Dengan suka cita Arimbi menyambut kedatangan suaminya.


“Aku mandi dulu ya!”


Arjuna mengambil handuk dan mengambil ember hitam. Tiga puluh menit kemudian Arjuna sudah rapi dan wangi.


Satu mangkok berisi nasi, sayur asem dan sambel serta ayam goreng siap disantap.


Arimbi hanya bisa menahan saliva melihat suaminya lahap menyantap masakan Mbok Sam. Sedang dia seharian menahan lapar.


“Mas, enak-enakan makan ya? Sedang aku kelaparan dari siang,” gerutu Arimbi.

__ADS_1


“Lho, emang kamu belum makan?”


“Belum.” Arimbi menggeleng.


“Kenapa ga makan? Masakan Simbok enak lho,” puji Arjuna makin membat wajah istrnya keki.


“Gimana mau doyan makan? Simbok itu jorok. Belum lagi aroma bau menyeruak setelah orang buang hajat,” jawab Arimbi kesal.


“Mas, kita pindah saja dari sini! Aku ga betah tinggal di sini!” rengek Arimbi. “Tempat ini terlalu kumuh apalagi kamar mandinya.”


“Mau pindah ke mana?”


“Cari kontrakan yang lebih bagus kek.”


“Duit darimana?”


“Minta Simbok atau utang dulu sama Bima,” jawab Arimbi ga mau tahu.


“Tahan-tahanin Dek, seminggu lagi Mas gajian.” Arjuna meletakkan mangkok kotor di samping kompor yang langsung mengundang seekor kecoa mendekat.


“Tapi Mas, aku udah ga tahan. Tempat ini kotor,” tukas Arimbi sengit tapi tak digubris suaminya.


“Krucuk..krucuk..krucuk”


Arimbi memegangi perutnya yang mulai perih.


“Mas, beliin aku makan dong!” pinta Arimbi kemudian.


“Bikin mie saja! Kita harus irit-irit sampai akhir bulan,” jawab Arjuna masih tetap asyik nonton TV.


“Makan mie sama saja bikin maagku kambuh,” sentak Arimbi marah.


“Assalamualaikum.” Suara Abimanyu menghentikan obrolan mereka.


Tampak Abimanyu membawa dua bungkus nasi goreng.


“Simbok mana, Mas?” tanya Abimanyu.


“Simbok ke rumah Lek Ratmi,” sahut Arimbi.


“O, ya sudah. Ini ada nasi goreng buat Mbak Arimbi dan Simbok.” Abimanyu menyambar handuk dan ember hitam.


Arimbi langsung mengambil piring dan sendok. Menyantap nasi goreng tanpa menawari suaminya. Rasa lapar membuat nasi goreng itu habis dalam sekejap.


*****

__ADS_1


__ADS_2