HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
TERPAKSA MENIKAH


__ADS_3

Bus Gunung Mulya memasuki daerah Subang. Mulai menjauhi kota Solo. Sepanjang duduk di bus, tangan mereka saling menggenggam, seakan tak ingin dipisahkan. Arjuna melihat wajah lelah kekasihnya yang terlelap tidur.


“Aku akan berjuang untuk kebahagiaanmu,” janjinya dalam hati.


Sayup-sayup terdengar azan subuh. Bus memasuki terminal Senen yang sudah ramai dipadati angkutan umum. Dengan sabar Arjuna menggandeng kekasihnya turun. Ajuna terus menggandeng kekasihnya ke luar terminal. Mengabaikan para calo mencari penumpang.


Arjuna mendatangi bajaj yang berderet di sepanjang bibir jalan. Menawar satu per satu hingga menemukan harga termurah.


“Kemayoran, Bang!” ucap Arjuna pada bajaj yang ketiga.


“Tiga puluh ribu.” Sopir bajaj memberi harga.


“Lima belas ya!” tawar Arjuna.


“Kemurahan harga segithu mah.”


“Dua puluh.”


“Dua lima deh, pelaris.”


“Dua puluh Bang kalau boleh.” Arjuna bersiap pergi.


“Ya sudah, pelaris.” Akhirnya sopir bajaj menyerah.


Dengan senyum, Arjuna membuka pintu bajaj dan mempersilahkan kekasihnya masuk terlebih dulu.


Suara bajaj memekakan telinga Arimbi. Maklum ini untuk pertama kalinya ia naik kendaraan roda tiga ini. Hari masih subuh namun aktivtas ibu kota sudah mulai terasa. Jalanan sudah dipenuhi kendaraan dan ojek serta orang-orang yang mengais rezeki di pasar.


Di tepi bendungan bajaj berhenti. Sesudah membayar, Arjuna menggandeng mesra kekasihnya masuk ke gang utama. Tampak rumah budenya berdiri megah.


“Assalamualaikum,” ucap Arjuna beberapa kali sembari memencet bel.


Lima menit kemudian seorang wanita paruh baya yang wajahnya mirip Mbok Sam keluar.


“Juna,” ucapnya kaget melihat ponakannya datang bersama putri Pak Tejo.


Wanita yang masih mengenakan mukena itu membuka gerbang dan mempersilahkan tamunya masuk. Arimbi dan Arjuna bergantian mencium tangannya.


“Ke Jakarta kok ga bilang-bilang?” sambut Pak Mukidi ketika dua sejoli itu masuk.


“Iya Pakde, dadakan,” jawab Arjuna sesudah duduk.


Bu Mukidi ke luar dari dapur sembari membawa teh panas dan sepiring gorengan.


“Ayo diminum!” tawarnya.

__ADS_1


Arimbi, Arjuna dan Pak Mukidi menyeruput minuman dan menyantap cemilan yang disajikan.


“Ada apa ini, kok datang ke Jakarta berdua?” tanya Bu Mukidi. “Bukannya Arimbi masih sekolah?”


Arjuna dan Arimbi saling berpandangan.


“Kami minta dinikahkan, Bude,” permintaan Arjuna mengejutkan pakde dan budenya Arjuna. Sontak suami istri yang sudah menikah puluhan tahun tapi belum dikarunia anak itu saling pandang.


“Menikah?” tanya Bu Mukidi memastikan. “Apa aku ga salah dengar?”


“Ga Bude, kami serius mau menikah,” jawab Arjuna menyakinkan pemilik rumah.


Pak Mukidi menghela napas lalu menyulut rokok Dji Djam Soe favoritnya.


“Kita ini kan masih saudara dengan keluarga Mas Tejo. Dalam silsilah keluarga, Arimbi itu lebih tua dari kamu, Juna. Dalam adat itu tidak boleh,” nasihat Pak Mukidi.


“Kalau dipaksakan menikah malah ga baik ke depannya,” imbuh Bu Mukidi.


“Insyaallah kami bisa melaluinya,” sahut Arjuna optimis sembari menggenggam erat jemari kekasihnya.


“Rumah tangga itu tak semanis yang dibayangkan lho.” Bu Mukidi memberi gambaran.


“Dengan cinta semua bisa diatasi,” sahut Arjuna membuat sepasang suami istri itu menyerah.


“Tak perlu Pakde!” tolak Arjuna. “Mereka bakal tak merestui pernikahan ini.


“Pernikahan itu bukan main-main. Orang tua harus datang agar pernikahan berkah dan barokah,” tukas Bu Mukidi mengakhiri perdebatan.


********


Esok harinya orang tua Arimbi dan Arjuna memenuhi undangan Pak Mukidi. Mereka langsung berangkat setelah ditelpon.


Wajah tak bersahabat ditunjukkan Pak Tejo dan Bu Tejo. Sedang Mbok Sam terlihat tenang.


“Gini, Mas Tejo, Bu Tejo dan Sam. Arjuna dan Arimbi minta dinikahkan. Jadi saya panggil semua ke sini karena mereka berdua ini masih punya orang tua.” Pak Mukidi memulai diskusi.


“Aku tak setuju mereka menikah karena mereka masih saudara,” sahut Pak Tejo dengan dingin.


“Tapi mereka itu seperti cinta sekali satu sama lain, tak bisa dipisahkan,” ucap Bu Mukidi.


“Rumah tangga bukan cuma makan cinta tapi butuh duit juga,” tandas Bu Tejo ketus. “Lagian Arimbi sudah saya jodohkan dengan Doris.”


“Tapi aku ga mau nikah dengan Doris, Bu,” tolak Arimbi.


“Terus kamu mau hidup dengan Arjuna yang belum jelas masa depannya?” sentak Bu Tejo mulai tak sabar.

__ADS_1


“Beri kesempatan Yu pada Juna untuk bisa sukses,” pinta Bu Mukidi.


“Kita kan ga tahu nasib orang ke depannya,” sambung Pak Mukidi.


“Saya sih sudah yakin kalau rezeki Arjuna itu seret meski dia sarjana.” Pak Tejo meremehkan. “Lihat saja Sam, dari dulu jualan jamu ga kaya-kaya cuma cukup buat makan saja.”


“Tolong restuin kami Pakde, Bude!” pinta Arjuna dengan sangat. “Saya janji akan kerja keras untuk membahagiakan Arimbi.”


“Tak sudi aku punya mantu kere!” hardik Bu Tejo melukai hati Mbok Sam.


“Lihat Arimbi, orang tuamu tak merestui kamu menikah dengan ponakanku, Juna.” Pak Mukidi beralih menatap gadis belia itu.


“Gimana saya mau merestui pernikahan mereka. Cari duit saja Juna belum bisa,” tangkis Pak Tejo.


Hening beberapa saat. Tak ada kalimat yang terlontar dari dua sejoli itu. Mereka hanya menunduk tak berani memperjuangkan cintanya di hadapan orang tua Arimbi.


Pergulatan batin mengisi hati Arimbi. Antara lanjut menikah atau mundur mencintai kekasihnya. Jika ia mundur itu artinya pelariannya dari Solo ke Jakarta sia-sia. Lalu ia akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Itu artinya, cintanya kandas di tengah jalan.


“Bagaimana Arimbi?” tanya Pak Mukidi membelah sunyi.


Arimbi mendongak. Berani menatap kedua orang tuanya yang tak ada senyum.


“Saya tetap mau menikah dengan Mas Juna,” jawabnya mantap, mengagetkan kedua orang tuanya.


“Kamu memilih menjadi anak durhaka demi lelaki gembel ini?” Pak Tejo mulai murka.


“Bapak yang meminta. Kalau aku tak jadi menikah dengan Mas Juna pastinya bapak dan ibu langsung menikahkanku dengan Mas Doris.” Tak disangka Arimbi berani menjawab perkataan Pak Tejo.


“Kami pilihkan Doris untuk kamu, selain ia sudah mapan dan kaya, budi pekertinya juga bagus. Menghormati orang tua.” Bu Tejo membanggakan calon pilihannya.


“Pokoknya aku hanya mau menikah dengan Mas Juna!” tandas Arimbi mempejuangkan cintanya.


“Baik, jika kamu tetap bersikukuh pada pendirianmu, jangan …” ucapan Pak Tejo menggantung. Matanya tajam menatap wajah ayu Arimbi.


"Jangan pernah temui Bapak dan Ibu lagi!” tandasnya menghadirkan hujan air mata di wajah gadis belia itu.


Tanpa pamit orang tua Arimbi meninggalkan rumah Pak Mukidi. Arimbi menangis tergugu memandang kepergian dua orang yang begitu ia cintai. Penuh cinta Arjuna merangkul kekasihnya, mencoba memberitahu jika dia tak sendirian menghadapi ujian cinta ini.


**********


Pernikahan Arjuna dan Arimbi digelar begitu sederhana di kediaman Pak Mukidi. Acara sakral yang hanya dihadiri pak penghulu, pihak lelaki dan dua orang dari pihak mempelai wanita. Ya, Pak Setu, adik Pak Tejo bersama istrinya tergerak untuk menghadiri pernikahan sang ponakan.


Tangis haru menyelimuti pernikahan sang kembang desa. Pernikahan yang sejatinya dipenuhi dengan kebahagiaan tapi ini diselimuti kesedihan karena tak ada restu dari Pak Tejo dan Bu Tejo.


*****

__ADS_1


__ADS_2