
Meskipun sering didesak untuk rujuk oleh Mbok Sam, Arjuna masih membisu. Padahal Arimbi makin perhatian padanya dan Mbok Sam. Jelas saja hal itu membuat Arimbi gregetan. Upayanya mencari simpati Arjuna tak membuahkan hasil.
Akhirnya Arimbi hilang kesabaran. Wanita cantik itu memberanikan diri meminta rujuk meski ia harus merendahkan harga dirinya sebagai wanita.
“Mas, apa yang dikatakan Simbok itu benar,” ucapnya membuka obrolan. “Ada baiknya kita rujuk untuk anak-anak.”
“Tanpa rujukpun aku akan menanggung semua biaya hidup dan sekolah anak-anak,”sahut Arjuna mengelak.
“Tapi aku khawatir dengan tumbuh kembang mereka,” tukas Arimbi cepat. “Perceraian tak bagus untuk tumbuh kembang anak-anak, Mas.”
Untuk beberapa saat Arjuna tak bersuara. Ia menatap lekat wanita cantik di depannya. Tampak Arimbi kikuk dengan suasana itu.
“Aku mau rujuk dengan syarat,” ucapnya kemudian melegakan Arimbi.
“Aku setuju dengan syaratmu, Mas, yang penting kita rujuk demi anak-anak.”
“Baik,” senyum Arjuna. “Gajiku sekarang bukan hanya untuk kamu dan anak-anak tapi juga untuk menafkahi Simbok dan kuliah Mentari,” lanjutnya membuat Arimbi tak setuju.
“Simbok kan sudah tinggal dengan kita, kenapa masih dikasih nafkah?” protes Arimbi. “Biaya kuliah itu mahal, bagaimana dengan sekolah anak-anak.”
“Lagian masih ada Abimanyu, jadi Mentari masih bisa minta uang kuliah sama Abimanyu,” imbuhnya dengan nada kesal.
“Jika kamu ga bisa aku tak memaksa kita untuk rujuk,” tandas Arjuna membuat Arimbi geram.
“Tapi Mas,aku begini untuk anak-anak,” Arimbi membela diri.
“Aku tak mau menjadi anak durhaka untuk kedua kali,” jawab Arjuna mengunci mulut manis Arimbi.
***********
Arimbi dibuat kesal dengan syarat rujuk yang diajukan Arjuna. Dia tak rela jika harus berbagi uang dengan mertua dan iparnya. Baginya gaji Arjuna hanya untuk anak dan istrinya.
“Kamu kenapa, Mbi?” tanya Hana yang baru saja masuk ke rumah. “Ada yang sedang dipikirin?” selidiknya.
“Aku lagi mikirin syarat rujuk dari Mas Juna,” sahut Arimbi membuat Hana penasaran.
“Arjuna ngajuin syarat?” Hana mengernyitkan kening.
“Iya dan syaratnya bikin aku kesal.”
“Emang apa syaratnya?”
“Gaji Mas Juna dibagi-bagi untuk nafkah Simbok dan biaya kuliah Mentari,” cerita Arimbi kesal.
__ADS_1
“Ya gapapa kali berbagi,” sahut Hana membuat mata adiknya membeliak.
“Aku tuh ga ikhlas kalau uang Mas Juna itu buat ibu dan adiknya,” tukas Arimbi. “Uang Mas Juna itu hanya untuk anak dan istrinya.”
“Jangan jadi mantu durhaka lagi!” tukas Hana pahit.
“Maksudnya?” Mata Arimbi mendelik.
“Ingat Arimbi, yang membiayai Arjuna kuliah itu Mbok Sam. Sudah sewajarnya Arjuna berbakti pada ibunya.”
“Mbak Hana kok malah belain Simbok?” tukasnya ga teima.
“Biar kamu sadar kalau kamu selama ini sudah durhaka sama Mbok Sam,” jawaban Hana makin menyakiti hati.
“Daripada kamu menikah dengan Tristan dan terpisah dengan anak-anak, mending kamu terima syarat rujuk dari Arjuna!” imbuh Hana.
“Atau kamu mau selamanya jadi janda?” pungkas Hana sedikit menakuti.
*******
Arimbi terus menimbang syarat rujuk Arjuna dan ucapan kakaknya. Memang benar yang dikatakan kakaknya, daripada ia membuka lembaran baru dengan orang lain, mending dia membuka lembaran baru dengan suami yang lama yang sudah dia tahu sifatnya. Tapi syarat yang diajukan Arjuna sungguh berat. Sungguh dia tak ikhlas jika harus berbagi rezeki.
“Aku harus paksa Mas Juna untuk menghilangkan syarat itu,” pikir Arimbi.
“Mas, apa di hatimu sudah tak ada cinta lagi untukku?” tanyanya di ujung senja.
Arjuna tersenyum dingin membuat Arimbi malu sudah melontarkan pertanyaan itu.
“Dalam rumah tangga tak hanya bermodal cinta,” sahut Arjuna menohok Arimbi. “Tapi juga butuh saling pengertian dan saling menghargai.”
“Aku bisa lakukan itu, Mas.” Arimbi menimpali cepat.
“Dan juga menerima ibuku dan berbagi rezeki,” imbuh Arjuna membuat mendung di wajah Arimbi.
“Apa ga bisa diubah syaratnya?” mohon Arimbi.
“Aku takutnya biaya sekolah anak-anak tak tebayar jika kamu harus membiayai kuliah Mentari,” imbuhnya mencari alasan.
“Oke kalau begitu,” sahut Arjuna lagi-lagi dengan senyum. “Mungkin hidup terpisah sepertinya jalan terbaik untuk kita.”
“Tapi pikirkan lagi dengan anak-anak!” paksa Arimbi dengan taneng anak-anak.
“Semua terserah padamu Arimbi.” Arjuna malah membuat Arimbi terpojok. “Jika kamu tak egois, kita bisa rujuk.”
__ADS_1
Arimbi berpikir. Kalau dia tak mengalah mugkin seumur hidup dia akan jadi janda. Tapi jika dituruti, syarat itu jelas merugikannya.
“Mungkin aku turutin saja kemauan Mas Juna,” pikir Arimbi dalam hati. “Seiring waktu aku bisa menguasai uangnya.”
“Baik aku setuju dengan syarat itu,” ucap Arimbi akhirnya.
Arjuna berdiri dan menatap lekat ibu dari ank-anaknya. Tak lama dia mendekati sebuah laci dan mengambil secarik kertas.
“Tolong kamu tanda tangan ini!” Arjuna menyorkan kertas itu.
Dengan seksama Arimbi membaca isinya. Sebuah perjanjian yang membuatnya dia tersinggung. Dia sudah tak setuju dengan syarat rujuk yang diajukan Arjuna. Sekarang dia harus menadantangani perjanjian bermaterai itu. Jika ia melanggar perjanjian itu maka jatuh talak dari Arjuna.
“Kamu ga percaya padaku, Mas?” tukas Arimbi marah. “Kenapa harus ada perjanjian semacam ini?”
“Aku tahu kamu yang tidak suka dengan Simbok dan Mentari,” sahut Arjuna santai.
“Lalu kenapa kamu ma rujuk denganku?”
“Demi anak-anak.”
Arimbi mati kutu dengan jawaban Arjuna. Daripada ia hidup menjanda seumur hidup, dengan kesal dia membubuhkan tanda tangan di atas materai.
“Biar kamu puas!” umpatnya mengembalikan kertas itu dengan kasar.
**************
Rujuknya Arjuna dan Arimbi menjadikan kebahagian untuk kedua keluarga dan tentu untuk kedua buah hati mereka. Tawa lepas Mbok Sam, Bu tejo dan yang lainnya dirasakan perih oleh Arimbi. Pernikahan kedua mereka membuat ruang gerak Arimbi sebagai istri tebatasi. Dia tak lagi bisa leluasa menggunakan uang suaminya karena uang Arjuna terbagi kemana-mana.
“Makasih ya, Lhe, sudah rujuk kembali,” ucap Mbok Sam berkaca-kaca.
“Ini karena permaintaan Simbok dan demi anak-anak,” sahut Arjuna melukai Arimbi.
“Semoga pernkahan kali ini langgeng hingga kakek nenek dan maut menjemput,” doa ikhlas Mbok Sam yang diaminkan semua orang.
“Aamiin.”
TAMAT
Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman yang sudah mempir mebaca ecritaku. Smoga pesan cerita kehidupan ini yang bisa kita petik. Di balik kesuksesan seorang anak ada kerja keras dari orang tua.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung dan kurang berkenan di hati. Mohon maaf juga jika masih banyak kesalahan dalam menulis. Ditunggu kritik dan sarannya ya.
Sampai bertemu di cerita baruku.
__ADS_1
Silahkan mampir ke cerita yang sudah tamat “PELAKOR TEKOR”