
Kepergian Biyung memberi dampak baik untuk hubungan Arimbi dan Arjuna. Pasutri itu akhirnya memutuskan untuk memperbaiki rumah tangganya.
“Aku mau kembali padamu, Mas,” ujar Arimbi membuat binar bahagia.
“Benar, Dek?” Arjuna memastikan.
“Asal kamu tak berhubungan lagi denga wanita itu!” Arimbi mengajukan syarat yang langsung membuat wajahnya pias.
Satu sisi ia ingin rumah tangganya dengan Arimbi utuh. Namun di sisi lain ia tak ingin meninggalkan Nindi. Gadis itu sudah membuat warna-warni dalam hidupnya. Namun jika ia tak menyanggupi syarat Arimbi, bisa jadi pernikahan mereka karam.
“Baik, aku akan tinggalkan Nindi!” sahut Arjuna hanya untuk menyejukkan hari istrinya saja.
Sementara itu di lain sisi Nindi selalu minta untuk segera dinikahi. Bahkan kali ini orang tuanyapun turun tangan. Keluarga itu tak masalah jika anaknya menjadi istri yang kedua asal Arjuna bisa adil dalam nafkah lahir maupun batin.
“Jadi kapan Mas, mau nikahin aku?”
“Entahlah, Sayang. Ini saja istriku mau kembali tapi syaratnya aku harus ninggalin kamu.”
“Terus kamu mau?” Nindi mulai emosi.
“Mau gimana lagi. Aku iyakan permintaannya.”
“Kamu tega ya, Mas!” Nindi meninju pundak Arjuna. “Setelah semua yang aku beri. Perhatian, kasih sayang, kamu malah nggantung aku seperti ini. Ga jelas statusnya.” Nindi meluapkan emosi.
“Kita bisa jalani semuanya tanpa harus ikatan pernikahan, Sayang!” rayu Arjuna berusaha meredsm kemarahan sang pacar.
“Emang kamu anggap aku apa?” hardikmya. “Cewek murahan?”
“Bukan begitu, Sayang, bukan.” Arjuna serba salah dengan ucapannya.
“Aku ga terima kamu giniin, Mas!” tandasnya.
“Jika kamu ga nikahin aku, kupastikan rumah tanggamu akan hancur!” ancamnya.
“Maksud kamu apa?” Arjuna khawatir Nindi akan berbuat nekat.
“Lihat saja nanti!” tukasnya lalu menutup pintu dengan kasar.
Arjuna hanya bisa menghela napas. Tak habis pikir dengan hidup yang runyam.
***************
Amarah Arimbi sudah mereda kini beralih dengan kemarahan Nindi. Arjuna takut, gadis belia itu nekat melakukan aksinya. Hal ini justru mengganggu kinerja yang turun akhir-akhir ini. Meski belum ada surat peringatan namun Yanto sudah mewanti-wanti dirinya untuk lebih fokus dalam bekerja.
Satu urusan belum selesai timbul urusan baru lagi. Hari ini rumah Arjuna disambangi dua laki-laki kekar.
“Juna, Juna!” teriak kedua lelaki itu tanpa sopan dengan terus menggedor-gedor pintu dengan kasar. Arimbi ke luar dengan wajah kesal.
__ADS_1
“Bisa ga sih kalau bertamu ke rumah orang itu sopan?” hardik Arimbi merasa terganggu degan kehadiran mereka.
“Arjuna mana?” sentak salah satu pria.
“Suami saya masih kerja,” jawab Arimbi. “Kalian siapa?”
“Kami anak buah Bos Joker. Arjuna punya hutang sepuluh juta namun sampai tiga bulan belum juga dibayar beserta bunganya.”
“Apa? Suami saya punya hutang ke rentenir?” tanya Arimbi kaget. “Ga mungkin.” Wanita itu sangsi.
“Kalau ga percaya ini buktinya!” seorang pria menyerahkan sebuah dokumen hutang. Di sana tertera nama Arjuna sebagai pihak si penghutang.
“Ada apa ini?” tanya Arjuna yang kebetulan sudah pulang kerja.
“Mas, kamu punya hutang ke rentenir?” Arimbi mendekati suaminya dan meminta kepastian.
Wajah Arjuna langsung pias sedang tatapan anak buah Joker begitu tajam. Hutang yang ia sembunyikan kini terkuak.
“Iya, Dek,” ujarnya lirih.
Arimbi mendengus kesal. Bisa-bisanya sang suami punya hutang sebesar itu tanpa sepengetahuannya.
“Untuk apa Mas, uang sebesar itu?” tanyanya dengan nada tinggi. “Pasti untuk perempuan itu kan!” tuding Arimbi menghadirkan sang pelakor.
Tanpa diundang Nindi sudah berada di tengah-tengah mereka dengan tatapan heran melihat dua lelaki kekar di rumah pacarnya.
“Kamu, ngapain ke sini?” hardik Arimbi menyambut kehadiran perusak rumah tangganya.
“Gimana Juna! Kapan mau bayar hutangnya?” pertanyaan kasar salah satu anak buah Joker mengalihkan pandangan mereka.
“Iya, Bang secepatnya akan saya bayar hutang saya!” Arjuna mengiba.
“Benar ya, bayar hutang kamu beserta bunganya sebesar tiga puluh juta!” tukas pria itu membuat Arimbi dan Nindi terperanjat sedang Arjuna syok.
Hutang sepuluh juta beranak pinak menjadi tiga puluh juta dalam jangka tiga bulan saja. Kedua lelaki itu pergi.
Baru saja Arimbi hendak meluapkan kemarahan, datang rentenir baru menyambangi rumahnya.
“Eh Juna, kemana saja kamu?” sapa Bang Judika dengan gaya santai.
“Ada di rumah, Bang,” jawab Arjuna gugup, rahasia hutangnya akan terbongkar lagi.
“Gimana ini kau punya hutang. Sudah enam bulan tak kau bayar-bayar. Hutangmu yang sepuluh juta itu sekarang sudah jadi lima puluh juta,” jelas Bang Judika.
“Iya Bang, nanti kubayar,” janjinya.
“Kau ini janji-janji doang tapi tak kau tepati. Cemana urusannya ini?”Bang Judika geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Beri saya waktu, Bang!” pinta Arjuna memelas.
“Oke, saya beri waktu sebulan. Kalau kamu ga bisa bayar, terpaksa rumah ini akan saya sita!” ancamnya kemudian pergi.
“Untuk apa Mas, kamu hutang sebanyak itu?” hardik Arimbi. “Pasti untuk wanita itu kan!” tunjuknya geram ke arah Nindi.”
“Kamu punya utang Mas?” tanya Nindi tak percaya. “Kukira kamu tajir beneran ternyata…” ucapan Nindi menggantung.
“Mas Juna punya hutang semenjak pacaran sama kamu!” sentak Arimbi sembari mendorong kasar tubuh Nindi. Hampir saja gadis belia itu jatuh tersungkur.
“Dasar wanita murahan, matre!” umpatnya.
“Cantik, cantik bisanya cuma mlorotin duit suami orang.”
“Salah kamu sendiri kenapa ga perhatian!” lawan Nindi. “Mas Arjuna itu hanya butuh kasih sayang dan belaian. Dan kamu sebagai istri ga becus ngasih hal sederhana ini,” tunjuknya makin membuat Arimbi geram.
“Kamu ya!” baru saja Arimbi mau melayangkan tamparan namun tangan Arjuna sigap meraihnya.
“Jangan, Dek! Malu dilihat tetangga!” Arjuna mengingatkan dan memeluk sang istri yang terus meronta ingin mencabik-cabik mangsa di depannya.
“Lepaskan aku, Mas! Aku ingin ngasih pelajaran sama wanita murahan itu!” Arimbi terus meronta.
“Nindi, kamu pulang saja!” usir Arjuna yang langsung membuat Nindi tancap gas meninggalkan rumah pacarnya itu.
****************
Suasana rumah makin kacau. Tiada detik terlewat tanpa Arimbi mengeluarkan amarah dan sumpah serapah. Hal ini membuat Arjuna makin buntu memikirkan hidup. Akhirnya ia ke rumah Nindi, berharap gadis itu bisa menghibur hatinya.
“Ngapain lagi kamu ke sini, Mas!”
Arjuna terkejut. Tak seperti biasanya Nindi menyambutnya. Sambutannya kali ini begitu dingin dan tak bersahabat.
“Ya, ngapel dong ke rumah pacarku yang cantik,” rayu Arjuna.
“Mulai sekarang kita putus!” Nindi
mengeluarkan keputusan sepihak. “Aku ga sudi punya pacar yang banyak hutang.”
“Tapi aku berhutang kan demi nyenengin kamu. Buat bayar hutang bapakmu, beliin kamu motor, belanjain kamu ini itu, ngasih uang bulanan untuk kamu.” Arjuna tak terima dicampakkan.
“Tetap aku tak bisa balik sama kamu!” tegas Nindi. “Aku ga mau hidup susah!”
"Jadi selama ini kamu cinta sama aku karena duit?"
"Ya iyalah, mana ada cewek muda yang suka sama om-om kalau bukan mau mlorotin duitnya doang," ucap Nindi sebelum menutup pintu.
Tinggal Arjuna yang meratapi nasib. Wanita yang ia bela-belain kebahagiaannya kini pergi.
__ADS_1
**************