
Waktu terasa lambat berjalan. Seminggu menanti akhir bulan rasanya seperti setahun. Muka Arimbi sudah ditekuk seperti lipatan kue lapis. Tak ada senyum di tempat mertua.
Bagai rollcoster saat Arimbi harus dihadapkan pada kenyataan tinggal di tempat yang kumuh. Privasinya merasa terganggu saat semuanya serba rame-rame. Padahal sewaktu gadis orang tuanya menyediakan fasilitas serba wah, serba sendiri.
Belum lagi tidur di tempat sempit yang harus dihuni empat kepala. Kontrakan mertuanya ini saja hanya seperempat dari kamarnya yang luas dan dihuni dirinya sendiri. Rasa sungkan saat harus tidur sepetak bersama Arjuna juga membuatnya tak betah tinggal di sini.
Akhir bulanpun datang. Dengan suka cita Arimbi mengemasi baju-baju saat tak seorangpun di rumah. Hari ini hatinya bahagia karena akan menempati kontrakan baru. Dan tak lagi was-was diintip orang saat sedang mandi. Ia ingin, setelah suaminya pulang, ia bisa segera bergegas pergi dari kontrakan kumuh yang membuatnya menahan napas sehabis orang buang hajat.
“Mas, pulang jam berapa?” tanya Arimbi melalui ponsel.
“Iya, sebentar lagi,” jawab Arjuna di ujung sana.
“Cepetan pulang! Aku udah kemasin baju-baju, siap pindah!”
“Oke.”
Arimbi makin tak sabar. Sebentar-sebentar ia melirik jam usang di atas televisi. Bahkan saat Mbok Sam pulang jualan, dirinyapun tak peduli. Pokoknya gadis itu sudah eneg banget dengan tempat kumuh ini dan ingin cepat-cepat pindah.
Setelah magrib, Arjuna pulang. Dengan gembira Arimbi menyambut suaminya.
“Ayo sekarang!” Arimbi siap mengangkat tas baju mereka.
“Kan belum mandi?” tanya heran Arjuna yang belum sempat duduk.
“Nanti saja, di sana mandinya!” sahut Arimbi buru-buru.
“Lho, kalian mau ke mana?” tanya Mbok Sam yang baru kembali dari kamar mandi. Tas baju milik Arimbi menarik perhantiannya.
Arimbi menyenggol lengan suaminya, untuk segera menjawab pertannyaan Mbok Sam.
“Kita mau ngontrak sendiri, Mbok.” Jawaban Arjuna meredupkan mata sayu Mbok Sam.
“Lho, baru juga seminggu di sini? Kok sudah mau pindah?”
Arjuna menghela napas panjang. Ia tahu betul jika ibunya kecewa. Tapi kalau lama-lama tinggal di sini, bisa-bisa Arimbi tua sebelum waktunya karena tiap hari marah-marah.
“Kita mau mandiri Mbok. Ga mau nyusahin orang tua.” Arjuna beralasan.
Mbok Sam menyeka air matanya. Sikap seminggu yang ditunjukan Arimbi saja sudah menyinggung perasaannya. Selama di sini, tak pernah sekalipun menantunya itu makan masakannya. Padahal demi menantunya betah tinggal di sini, hampir setiap hari Mbok Sam belanja ayam, ikan atau daging.
Belum lagi sikap sang menantu yang merasa jijik kalau di dalam kontrakan dan sering mengamati setiap sudut kontrakan dengan pandangan tak suka.
“Ya sudah, kamu dan Arimbi yang hati-hati di tempat yang baru,” nasihat Mbok Sam sembari tersenyum.
__ADS_1
Arjuna mengeluarkan uang dua ratus ribu dari dompetnya lalu memberikannya pada Mbok Sam.
“Ini buat Simbok,” ucap Arjuna membuat Mbok Sam gembira.
“Makasih ya Lhe. Semoga rezekinya makin lancar dan barokah.” Doa tulus Mbok Sam untuk anaknya.
“Aamiin.” Arjuna mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Kami pamit dulu ya!”
Arimbi dan Arjuna bergantian mencium punggung tangan Mbok Sam kemudian berlalu.
***********
Arimbi bahagia menjemput hari yang baru. Kontrakan baru dengan kamar mandi di dalam. Perabot baru yang dibeli dari pasar Jatinegara. Meski cuma kontrakan tiga petak tapi tempat ini terasa nyaman untuknya dan suami.
“Uangnya tinggal satu juta?” tanya Arimbi saat Arjuna menyerahkan sisa uang gaji untuk makan satu bulan.
“Iya,” jawab Arjuna santai.
“Emang gaji Mas, berapa?”
“Tiga juta.”
“Tiga juta kok tinggal segini? Ini baru tanggal lima lho, Mas?” Arimbi mulai emosi.
“Banyak amat ongkos kerjanya?”
“Aku kan kerja di Kelapa Gading. Harus tiga kali ganti angkutan umum,” jelas Arjuna mencoba sabar.
“Satu juta mana bisa nyampe sebulan. Ini aku juga belum beli skincare? Baju-baju yang kubawa juga bisa dihitung,” keluh Arimbi.
“Ya, beli baju dan skincare bulan depan saja,” hibur Arjuna.
“Lagian, ngapain sih harus ngasih Simbok? Dua ratus ribu itu kan bisa buat beli skincare dan beberapa baju,” protes Arimbi. Rupanya dia tidak suka jika suaminya memberi nafkah pada ibunya.
“Wajar kali ngasih orang tua. Karena Simbok aku bisa kuliah.” Arjuna membela diri.
“Iya tahu. Tapi masalahnya Mas itu belum mapan. Hidupnya masih pas-pasan. Ini pakai acara ngasih ortu segala.” Arimbi tak mau kalah.
“Insyaallah, dengan memberi nafkah orang tua, rezeki kita makin melimpah.”
“Tau,” umpat Arimbi kesal sambil menutup telinganya dengan bantal.
********
__ADS_1
Arimbi dipaksa memutar otak untuk mencukupkan uang sejuta hingga akhir bulan. Maklum selama ini ia tak pernah kekurangan uang. Kiriman orang tua selalu cukup untuknya berfoya-foya. Kebiasaan tiap bulan beli baju hingga lima atau enam buahpun tak masalah untuknya.
Tapi kini, untuk beli satu buah baju saja susahnya minta ampun. Jangankan kebeli skincare, untuk beli bakso atau mie ayam saja dia harus mikir seribu kali.
******
Hari ini Arimbi membeli bahan sayur asem, sambel, ikan keranjang untuk masak. Sengaja dia tidak membeli ayam atau ikan karena hari ini dia ingin sekali jajan bakso yang pedes.
“Tumben, mbak Arimbi belanjanya ngirit?” tanya Bu Retno pemilik warung sehingga mengundang perhatian orang-orang yang sedang belanja.
“Iya Bu, pingin banget makan sayur asem,” jawab Arimbi sekenanya.
“Wah, jangan-jangan, Mbak Arimbi hamil?” celetuk salah satu ibu.
“Iya, bisa jadi,” sambung yang lainnya.
Seketika Arimbi langsung melongo. Apa iya dia sedang hamil? Sedang dia tak merasakan apa-apa. Mual, muntah juga enggak. Tapi memang sih dia sudah telat haid seminggu.
Belum lagi rasa suka sama rujak dan bakso yang ga bisa ditahan.
Selesai masak dan menikmati semangkok bakso pedas dan rujak, Arimbi baru teringat kembali kata-kata ibu-ibu di warung. Segera ia telpon Arjuna untuk membelikan tespek. Memang, apotek jauh dari kontrakan.
********
“Tumben Dek, suruh beliin tespek?” tanya Arjuna sesudah makan malam dengan sayur asem buatan istri.
“Tadi di warung ibu-ibu nyeletuk kalau aku hamil. Jadi deh kepikiran.”
“Emang sudah telat haidnya?”
“Sudah telat seminggu.”
“Semoga beneran hamil ya, Dek,” harap Arjuna sembari mengelus-ngelus perut istrinya yang masih rata.
*******
“Gimana, Dek?” tanya Arjuna sebelum berangkat kerja.
Arimbi menyodorkan benda pipih yang sedari tadi membuatnya terharu. Senyum bahagia mengembang di bibir Arjuna setelah matanya menangkap dua garis merah.
“Alhamdulillah, kamu hamil Dek,” ucapnya penuh haru. Arjuna memeluk erat istri tercinta. Rona bahagia tampak menghiasi wajah anak pertama Mbok Sam itu.
“Aku akan jadi ayah.”
__ADS_1
****