HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
GENDAR PECEL


__ADS_3

Punya anak-anak sukses dan kaya bukan jaminan Biyung hidup kecukupan di usia senja. Saat raga tak berdaya, hanya terdampar di ranjang kayu usang, dua putrinya yang terbilang kaya, nyatanya hanya hitungan bulan saja membiayai hidup dan pengobatannya.


Enam bulan semenjak Biyung sakit, Mbok Sam dibuat ketari-ketir. Sudah pertengahan bulan Bu Mukidi dan Ratmi belum juga transfer uang. Sedang kiriman uang dari Bima sudah berkurang untuk kontrol dan nebus obat Biyung, makan sehari-hari dan uang buku Mentari.


“Nduk, coba telpon Budhe Mukidi! Kok belum kirim uang ya!” titah Mbok Sam sore itu.


“Iya Mbok!” Mentari menghubungi nomer budenya. Tak lama kemudian terdengar suara Bu Mukidi di ujung ponsel.


“Iya Sam?”


“Assalamualaikum Yu!” seru Mbok Sam. “Ini kok belum kirim uang untuk berobat dan beli pampers Biyung?” ujar Mbok Sam.


“Ga bisa kirim aku Sam. Dagangan pakaianku lagi sepi banget. Sudah ditambahi modal dari rentenir malah tambah sepi. Lagi pusing nih, dagang sepi, utang rentenir menumpuk.” Bu Mukidi malah curhat.


“Tapi Yu, pampers Biyung sudah habis,” keluh Mbok Sam.


“Pakai uangmu dulu nanti diganti kalau punya duit. Kamu kan dapat kiriman tho dari Bima tiap bulan?” jawab Bu Mukidi enteng lalu menutup obrolan.


Mbok Sam menghela napas panjang. Ditatapnya nanar wajah ayu Mentari.


“Coba telponin Lekmu Ratmi!” ujar Mbok Sam kemudian sembari menyodorkan ponsel ke putrinya.


Mentari menghubungi anak bungsu Biyung. Tak lama terdengar suara.


“Iya Yu, ada apa?” tanya Ratmi.


“Kok belum kirim untuk berobat Biyung, Rat?”


“Aduh Yu, aku lagi banyak kebutuhan ini. Anakku pertama baru masuk kuliah. Satunya masuk SMA, jadi keluar dapat banyak,” keluh Ratmi malah curhat.


“Tapi Rat, Biyung harus berobat dan pakai pampers.” Mbok Sam masih memaksa.

__ADS_1


“Lha, aku lagi ga ada duit, mau gimana, Yu?” sentak Ratmi. “Pakai uangmu dulu buat berobat dan beli pampers Biyung! Kamu kan selalu dikirim uang sama Bima!” ketus Ratmi sebelum menutup obrolan.


Wajah Mbok Sam makin sendu. Ia duduk perlahan di kursi kayu yang usang. Menuang air dari kendhi lalu meneguknya hingga habis. Air dingin dari kendhi cukup meluruhkan rasa kecewa kepada kedua iparnya.


Uang kiriman Bima tinggal dua ratus ribu dari keselurahan satu juta yang dikirim. Itupun nanti masih kepotong untuk beli pampers Biyung dan uang saku Mentari.


Mbok Sam memijit-mijit keningnya. Berpikir ia harus apa. Uang kiriman dari anak keduanya jelas tak bisa menutup semua pengeluaran. Meminta lebih kiriman pada Bimapun tak mungkin. Dari dulu, Mbok Sam sudah merasa banyak merepotkan putra keduanya itu.


“Mbok, bengong aja!” seru Marsih yang tiba-tiba masuk tanpa permisi dengan membawa bungkusan daun pisang.


“Bawa apa, Sih?” tanya Mbok Sam heran.


“Gendar pecel,” sahutnya. “Katanya Biyung lagi pingin gendar pecel.” Marsih membuka satu bungkus lalu menyuapi Biyung yang terbaring.


Dengan lahap wanita tujuh puluh tahun itu menyantap makanan kampung yang dibawa cucu tirinya. Tak terasa air mata berlinang di sudut mata tua itu.


“Lho, Yung, kok nangis?” tanya Marsih ketakutan. Mbok Sam dan Mentari mendekat.


“Aku bahagia,” jawab Biyung sendu. “Di saat, anak-anak kandungku tak sudi merawatku, ada mantu dan cucu tiriku yang begitu telaten menjagaku.” Suara tua itu mulai parau.


***********


Perih rasanya, meminta belas kasihan dari orang itu. Meski meminta bukan buat diri sendiri tapi untuk seorang wanita yang sudah melahirkan mereka.


Menyadari hal itu, Mbok Sam tak ingin berpangku tangan. Ia harus putar otak mendapatkan uang di kampungnya yang terpencil. Ide jualan gendar pecel dan nasi pecel muncul saat Masrih mengirim Biyung makanan kampung itu.


Habis ashar, sesudah Mentari pulang sekolah, Mbok Sam jalan kaki menjajakan gendar pecel buatannya keliling kampung. Ditambah dengan gorengan bakwan, tempe dan lentho. Meski hasilnya tak seberapa namun cukup untuk menyambung hidup sehari-hari.


Sedang kiriman dari Bima cukup untuk berobat, beli pampers dan uang sekolah Mentari.


“Mbok, sudah transfer satu juta ya!” ujar Abimanyu dari Jakarta.

__ADS_1


“Iya Lhe, makasih,” jawab Mbok Sam yang baru pulang jualan.


“Masmu Juna ga kirim tho?”


“Emang kenapa, Mbok? Kurang kirimannya?” tanya Abimanyu. “Kalau kurang nanti aku tambahin!”


“Enggak Lhe, cukup kirimannya!” jawab Mbok Sam berbohong. “Sudah lama, Masmu Juna ga kirim uang.”


“Kebutuhannya kan banyak. Ditambah Nabila sekarang sudah sekolah, butuh biaya gede,” ujar Abimanyu membuat Mbok Sam mengerti.


“Yo wis, jaga kesehatan ya! Jangan lupa solat!” nasihat Mbok Sam.


“Iya Mbok,” jawab Abimanyu. “Sudah dulu ya, Mbok. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Mbok Sam terpaku. Rasa rindu ini tiba-tiba menyeruak di hati untuk anak sulung. Sudah sekian lama setelah anaknya itu sukses tak ada lagi kedekatan antara mereka. Putranya makin jauh oleh jarak dan waktu. Padahal sekedar mendengar suara saja sudah cukup untuk mengobati rindu Mbok Sam.


Beda waktu masih kuliah. Tiap seminggu sekali Mbok Sam pasti mendengar suara anaknya itu meski anaknya telepon hanya minta uang kiriman. Sungguh, Mbok Sam rindu masa-masa itu. Juga masa-masa saat Arjuna masih susah, belum dapat kerjaan, begitu lahap makan masakannya seperti setahun orang ga makan.


Namun semua berbeda saat kesuksesan di tangan. Anak yang diperjuangkan masa depannya itu berubah, tak lagi mengunjunginya di kontrakan meskipun dekat. Ditambah sikap sang menantu, Arimbi yang menyayat hati dan membuatnya menangis.


Oh, sungguh perih bila mengenangnya. Tapi kalau tak diingat semua terekam dalam memori dan menyakitkan. Menghadirkan sungai air mata yang tak kan pernah mengering.


***************


Bulan demi bulan tak ada lagi kiriman dari kedua anak Biyung yang sukses. Tak ada tanya juga dari mereka sekedar mengabarkan kesehatan sang ibu yang renta. Keberadaan Bu Mukidi dan Ratmi lenyap bagai ditelan bumi. Hanya tersisa kasih dari Mbok Sam dan Mentari.


Anak bungsu Mbok Sam itu tahu sekali caranya berbakti. Subuh ia bangun untuk masak sarapan, membuat teh dengan gula batu untuk biyung. Membatu Mbok Sam mengelap badan biyung dan mengganti pampers. Baru itu ia bersiap berangkat sekolah.


Sore hari, setelah Mbok Sam berangkat jualan, gadis remaja itu mengelap badan Biyung. Memberi minyak kayu putuih biar hangat. Lalu mengganti pampers dan mengganti baju dan jarik Biyung. Lalu merendamnya sejenak. Setelah menyuapi neneknya makan sore, baru ia mencuci pakaian seluruh keluarga.

__ADS_1


Mengeluh? Tak pernah sekalipun gadis itu mengeluh meski ia harus kehilangan waktu bermain. Ia selalu mengingat kata ustad setiap ikut pengajian ba’da isya di masjid. Jika Allah senang dengan anak yang merawat orang tua di hari tua.


****************


__ADS_2