
Syukuran rumah baru Arjuna berlangsung meriah. Para kerabat dari pihak Arimbi merasa takjub dengan bangunan berlantai dua itu.
“Tuh kan Mas Juna, ucapanku benar kan? Kalau nantinya Mas Juna akan jadi orang sukses,” puji Paijo ikut senang dengan perubahan nasib mantu yang tak dianggap oleh majikannya.
“Iya Jo, makasih ya doanya!” ujar Arjuna tersenyum.
“Yang jelas masih kalah dengan Desta.” Dengan sinis Bu Tejo menimpali membuat orang-orang terkejut termasuk dengan Mbok Sam dan Abimanyu yang sedari tadi hanya diam.
“Rumah bagus tapi kemana-mana pakai motor, kepanasan,” sambung Pak Tejo.
“Iya atuh, beli mobil baru biar lengkap kebahagiaannya,” timpal Hana mengompori.
“Tenang, kalau ambil di tempatku, aku kasih murah dengan DP dan angsuran yang ringan,” jelas Desta sekalian promosi.
“Betul juga itu, Mas!” Arimbi langsung terbujuk.
“Kita ambil mobil ya! Biar kemana-mana ga kepanasan,” pintanya manja.
Arjuna hanya tersenyum tak menimpali permintaan istrinya. Rumah ini saja baru akad kredit, masa iya sudah mau ditambahi lagi dengan cicilan mobil.
Ashar berlalu. Keluarga dan kerabat dari pihak Arimbi semua pamit pulang. Tinggal Mbok Sam dan Abimanyu yang masih asyik ngobrol dengan Arjuna.
“Mas, aku ke kamar dulu!” ujar Arimbi.
“Duduk di sini dulu, Dek. Kita ngobrol dengan Simbok dan Bima,” ajak Arjuna.
“Aku capek, Mas!” tukas Arimbi langsung melenggang. Tak peduli dengan kehadiran mertua dan adik iparnya.
“Kalau begitu kita pulang juga ya, Jun!” pamit Mbok Sam akhirnya.
“Iya Mbok. Makasih ya, sudah datang.” Arjuna merogoh dompet dan memberikan Mbok Sam uang satu juta rupiah.
“Banyak amat, Lhe?” ujar Mbok Sam.
“Gapapa, Mbok simpan ya!”
“Terima kasih Lhe. Semoga kamu sehat selalu, rezekinya lancar.” Doa tulus simbok diaminkan kedua anaknya.
************
Semenjak obrolan tentang mobil kemarin, Arimbi tak henti merengek dibelikan mobil. Menurutnya kehidupan mereka sudah mapan, gaji suami gede, jadi ga ada salahnya kredit mobil. Biar kelihatan kalau suaminya sudah sukses dan mapan.
“Mas, ambil mobil, yuk!” pintanya seusai makan malam.
“Tapi Dek, angsuran mobil itu besar. Belum kita baru nyicil rumah,” jelas Arjuna.
“Ya gapa, Mas. Gajimu kan gede. Pasti sangguplah bayar,” jawab Arimbi enteng.
__ADS_1
Karena terus diteror dengan permintaan Arimbi, akhirnya Grand Livina terbaru mengisi garasi rumah. Barang lux yang menjadi kebanggaan Arimbi tapi membuat ketar ketir dompet Arjuna.
“Udah punya rumah bagus, kerjaan enak, punya mobil baru, kok ngasih nafkah ke mertuanya cuma satu juta?” sindir Bu Tejo siang itu.
“Masih kalah dong ma Desta yang ngasih dua juta.”
Arjuna terdiam. Tak berapa lama ia keluar, menghampiri Paijo yang sedang duduk santai di bawah pohon manga. Kelakuan sang mantu membuat sang mertua mendengus kesal.
“Tuh, kelakuan suami kamu. Mertua lagi ngomong, kok malah pergi tanpa persmisi,” semprot Bu Tejo kesal.
“Lha, ibu banding-bandingin terus mas Juna ma mas Desta, jadinya dia lama-lama kesel juga,” sahut Arimbi, tumben membela suaminya.
“Ya, wajar tho, Nduk. Suamimu kan sudah mapan. Gajinya gede. Masa kalah sama mantu ibu yang satunya,” sahut Bu Tejo ga mau kalah.
“Jangan-jangan duit suami kamu itu diplorotin sama ibunya.”
Langsung Arimbi terprovokasi dengan ucapan ibunya.
“Bisa jadi Bu.” Arimbi setuju. “Tiap bulan Mas Juna selalu ngasih uang jatah yang sama pada Mbok Sam.”
“Nah itu! Suami kalau sudah menikah, wajib memuliakan istri dan wajib menafkahi mertuanya. Ga perlu itu nafkahi orang tua lagi.”
Dari dulu Arimbi memang tidak setuju jika tiap bulan Arjuna memberi nafkah pada ibunya. Ditambah dengan ucapan Bu Tejo makin membuatnya yakin jika Mbok Sam tak punya hak atas uang suaminya.
*************
“Lho, Mas kok cuma segini terus sih ngasihnya?” protes Arimbi.
“Lha memang setiap bulan juga segithu.”
“Tapi ini terlalu mepet, Mas.”
“Kan gajinya juga sudah dibagi-bagi, Dek. Rumah, dua juta. Mobil, dua juta. Bensin dan pulsa, satu juta. Ibumu, satu juta. Ibuku, satu juta.” Arjuna selalu transparan tentang gaji.
“Kok ibu cuma satu juta?” tukas Arimbi kesal.
“Harusnya dua juta, biar seimbang dengan Mas Desta.”
“Kalau ngasih dua juta, ga cukup gaji kita, Dek.”
“Kalau Mas, ngasih cuma segithu, sampai kapanpun ibuku akan menyepelekanmu, Mas!” bentak Arimbi. “Aku tuh malu, suamiku tak lebih baik dari suami Mbak Hana.”
“Terus, mau nombokinnya, duit darimana?” tanya Arjuna pasrah.
“Simbok ga usah dikasih saja,” tukas Arimbi cepat. “Lagian, Simbok sudah dapat dari Bima kan?”
“Enak saja!” bantah Arjuna emosi. “Mentari di kampung masih butuh biaya sekolah.”
__ADS_1
“Ya, itu masih tercukupi dari jualan jamu Mbok Sam dan pemberian Bima,” Arimbi tak mau kalah.
“Memang hidup ibumu ga tercukupi dari hasil toko dan nafkah yang diberi dari mantu kesayangannya?” Arjuna habis kesabaran.
“Ya tercukupi, Mas. Tapi aku lakukan semua ini, agar kamu ga dianggap sebelah mata oleh orang tuaku!”
“Oke!” tandas Arjuna. “Jika Simbok ga dikasih nafkah, ibumu juga tidak dapat jatah!”
“Ya ga bisa githu dong, Mas!” bantah Arimbi.
“Ingat ya Mas, kita tiga tahun numpang tinggal di rumah ibuku.”
“Ya, numpang tidur tapi tidak dikasih makan. Sedang dari bayi sampai aku lulus kuliah, aku hidup dari uang Simbok!” tukas Arjuna sambil membanting kursi.
Lelah bekerja, lelah ngurusin pemikiran istri yang ingin dipandang ibunya namun membuang mertuanya.
*******
Semenjak pertengkaran itu, Arjuna benar-benar menyetop nafkah untuk mertua dan simbok. Jelas saja, posisi Arimbi makin terpojok di keluarganya. Sindiran demi sindiran sering terlontar saat mereka sedang kumpul bersama.
“Sekarang sudah hidup enak, tapi lupa balas budi sama mertua. Padahal tiga tahun ini, sudah enak numpang hidup di rumah mertua,” sindir Bu Tejo sambil melirik mantunya.
Arimbi tertunduk menahan malu. Sedang Arjuna, santai saja sembari mainan gawai. Baginya sindiran itu sudah seperti makanan sehari-hari. Masuk kuping kanan ke luar kuping kiri. Tampak Hana dan Desta hanya
senyam-senyum, penuh kemenangan.
“Bu, aku pulang dulu ya! Sudah sore!” pamit Arjuna tanpa menimpali ucapan mertua atau senyum kemenangan iparnya.
“Lho, kok, buru-buru tho?” tanya Desta basa-basi.
“Panas kupingku, Mas. Kaya seperti ada yang lagi ngedumel,” jawab Arjuna sekenanya lalu pergi.
“Tuh, Arimbi. Suamimu itu benar-benar tak tahu terima kasih,” semprot Bu Tejo sebagai pelampiaskan.
“Harusnya kamu kasih tahu sama suamimu harus lebih mentingin mertuanya daripada ibunya,” imbuh Hana membuat Arimbi kesal sendiri.
Sesampainya di rumah….
“Puas kamu Mas, bikin malu aku di depan keluargaku?” Arimbi melempar tas ke sofa.
“Mereka itu menganggap kalau kamu ga tahu terima kasih. Sudah numpang tapi lupa balas budi.”
“Kalau bukan karena orang tuaku, mungkin kita sudah tidur di jalanan.”
Arjuna tak menimpali cercaan istrinya. Dia malah asyik nonton TV dan memperbesar volume. Sepertinya dia sudah cukup lelah mencari simpati sang mertua yang selalu menganggapnya tak ada. Jadi bahan gunjingan dan perbandingan.
****
__ADS_1