HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
HAMIL KEDUA


__ADS_3

Badan Arimbi terasa tak enak pagi ini. Kepalanya pusing. Perut mual-mual dan rasanya pingin muntah. Bawaannya hanya ingin tiduran.


“Kenapa kamu, Dek?” tanya Arjuna yang kebetulan hari ini sedang cuti.


“Ga tahu Mas, badanku ga enak banget,” sahut Arimbi.


“Wajah kamu juga pucat.” Arjuna panik. Ia mengecek suhu tubuh istrinya dan normal-normal saja.


“Bagaimana kalau kita ke dokter saja,” ajak Arjuna yang diiyakan sang istri.


Satu jam kemudian saat di rumah sakit.


“Bagaimana Dok, istri saya sakit apa?”


Sang dokter yang masih berumur tiga puluh tahunan tersenyum.


“Selamat ya, Pak! Istri Bapak hamil dua minggu,” ujarnya kemudian menghadirkan binary bahagia di mata pasutri itu.


“Dek, kamu hamil lagi.”


“Iya, Mas,” sambut Arimbi.


“Ini resep vitamin yang harus ditebus ya, Pak, Bu.”


************


Kehamilan yang kedua ini membuat Arimbi tak bisa bergerak leluasa. Di awal kehamilan, mual muntah selalu menjadi rutinitas sehari-hari.


Tak bisa sembarangan makanan bisa masuk. Hanya makanan restoran yang bisa masuk ke perut Arimbi tanpa dimuntahin lagi.


Jelas ini menguras kantong Arjuna. Belum kebiasaan Nabila selalu jajan jika ada yang lewat depan rumah. Sering pergi ke warung.


“Nduk, kamu kok jajan terus sih?” protes Arjuna dengan kebiasaan sang anak.


“Mama saja ga pelit. Kok papa pelit?” Nabila membalikan kata.


“Ya, bukan begitu,” tukas Arjuna tak bisa menjawab ucapan anaknya.


*********


Mbok Sam memijit keningnya yang berkerut. Telepan dari Mentari membuatnya berpikir ekstra keras. Dari mana ia mendapat uang satu juta dalam waktu satu minggu?


“Kenapa Mbok?” tanya Abimanyu sepulang dari warung bakso.


“Kamu sudah pulang, Lhe?” sambut Mbok Sam sambil mengulurkan tangannya. “Ini. Mentari minggu depan mau tour ke Bali. Butuh uang satu juta.


“Ya sudah pakai uang Bima saja. Tapi cuma lima ratus ribu yang Bima punya, Mbok.”


“Jangan Lhe!” tolak Mbok Sam halus. “Kemarin kan kamu sudah bayar kontrakan dan kirim Biyung?”


“Gapapa Mbok. Mentari kan adikku,” kilah Abimanyu dengan tersenyum dan menyodorkan uang yang dimaksud.


Sedikit ragu Mbok Sam menerima rezeki dari anak keduanya. “Makasih ya Lhe. Semoga kamu sehat selalu dan dapat jodoh yang baik dan cantik.”

__ADS_1


“Aamin,” sambut Abimanyu sambil cengar cengir karena mendengar doa tentang jodoh dari Simbok.


Demi Mentari, akhirnya Mbok Sam menginjakan kaki di rumah bagus milik Arjuna. Gerbang tinggi itu tertutup rapat. Sedikit ragu ia mondar mandir di depan gerbang.


“Ada apa Mbok?” Pertanyaan Arjuna mengagetkan dan membuat Mbok Sam gelagapan.


“Eh Juna, mau ketemu kamu.”


“Masuk saja kali Mbok. Gerbangnya ga digembok kok!” Arjuna membuka gerbang lalu diekor masuk oleh Mbok Sam.


“Arimbi mana Jun?”


“Arimbi tiduran di kamar. Lagi mabok.”


“Arimbi hamil lagi?” Dengan wajah berbinar, Mbok Sam memastikan.


“Iya, lagi hamil muda Mbok.”


“Wah, simbok mau dapet cucu lagi.”puji syukur Mbok Sam.


“Simbok, ke sini ada apa ya?”tanya Arjuna.


Mbok Sam sedikit gusar. Wanita paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya.


“Simbok ke sini mau minta bantuan untuk Mentari.”


“Mentari?”


“Iya Mentari butuh uang sejuta untuk study tour ke Bali. Sudah dikasih lima ratus ribu sama Bima. Masih kurang lima ratus ribu lagi,” cerita Mbok Sam. “Bisa bantuin lima ratus ribu, Lhe?”


“Bentar ya, aku ambilin dulu!” Arjuna melangkah ke kamar.


Tampak Arimbi sedang asyik dengan ponselnya. Tapi matanya beralih saat sang suami mengambil uang dari dompet yang tergeletak di atas meja rias.


“Siapa yang datang, Mas?”


“Simbok.”


“Terus uang itu buat siapa?” Arimbi berubah posisi duduk di kasur.


“Simbok minta untuk study tour Mentari ke Bali,” jawaban Arjuna membuat istrinya cemberut.


“Kenapa ga minta Bima saja sih? Dia kan juga punya duit?”


“Ini patungan. Bima lima ratus, aku lima ratus.” Terang Arjuna tapi tetap saja Arimbi tak bisa terima.


Dengan cepat ia menyambar uang dari tangan suaminya.


“Ga bisa. Uang ini buat aku USG. Bulan ini kan aku belum USG,” tukas Arimbi ketus.


“Tapi Dek, itu Simbok sudah nunggu di depan.”


“Bodo amat,” jawab Arimbi tak peduli. “Saudara Simbok kan banyak di Jakarta. Ngapain sih dia harus minta Mas mlulu?”

__ADS_1


“Ya, karena aku anaknya.”


“Wajib githu, anak harus ngasih orang tua?” tukas Arimbi tak suka jika ucapannya selalu dijawab oleh suaminya.


“Aku ini lagi hamil Mas. Butuh biaya banyak untuk biaya lahiran, beli baju bayi. Belum lagi aqiqah Nabila dan anak ini kalau sudah lahir nanti.”


“Kita itu harus hemat! Jangan royal-royal kepada keluargamu.” Cerocos terus Arimbi tanpa titik koma.


Arjuna mendengus kesal. Percuma juga perdebatan itu dilanjutkan. Nanti malah mengundang tanya Mbok Sam. Dengan kesal ia mengambil dompet dan keluar dari kamar.


“Ini Mbok, buat Mentari.” Arjuna memberikan uang terakhir di dompetnya.


“Terima kasih, Lhe. Semoga kamu sehat selalu dan rezekinya makin lancar.” Doa Mbok Sam diaminkan anak sulungnya.


****************


Kantong kering melanda padahal baru tengah bulan. Kepala Arjuna dibuat cenat-cenut.


Gara-gara Arimbi dan anaknya yang terlewat boros, akhirnya bulan ini, ia kelimpungan cari pinjaman.


Untuk menyambung hidup sampai akhir bulan dan jaga-jaga biaya yang tak terduga, akhirnya ia pinjam di koperasi kantor dengan sistem potong gaji.


Sekali berhutang selanjutnya akan jadi kebiasaan. Itu terjadi pada Arjuna. Keborosan anak dan istri, hobi main judi membuat Arjuna menjadi seorang suami yang gali lubang tutup lubang. Hampir separuh gajinya habis untuk bayar utang koperasi kantor. Dan gaji itu tak cukup untuk menutup kebutuhan hidup keluarganya sebulan. Belum cicilan rumah dan cicilan mobil.


Jadi jangan heran jika setiap pertengah bulan Arjuna selalu mengajukan pinjaman ke koperasi dengan system potong gaji. Sejauh ini masih disetujui karena memang kinerja Arjuna bagus sebagai karyawan.


“Mas, kandunganku sudah masuk delapan bulan,” cerita Arimbi. “Kapan kita beli perlengkapan bayi.”


“Tunggu Mas gajian dulu ya!”


“Aku mau belanjanya di mall dan banyak. Jangan seperti waktu Nabila, cuma seuprit,” cecar Arimbi yang tak tahu keuangan suaminya.


“Iya,” jawab Arjuna datar padahal dia sedang pusing dengan gaji yang selalu nombok.


Benar saja, sisa gaji Arjuna setelah dipotong utang koperasi habis tak bersisa untuk membeli perlengkapan bayi milik Arimbi. Saat di mall, sang istri kalap membeli ini itu untuk calon dede bayi yang berjenis kelamin laki-laki.


Tinggal Arjuna pusing memikirkan uang untuk makan satu bulan ke depan. Sedang untuk pinjam lagi ke koperasi jelas tidak mungkin. Karena utangnya masih dua kali angsuran lagi.


“Mumet Mbok!” pekik Arjuna sembari memijit-mijit kepalanya saat di kantor.


“Kenapa loe Jun?” tanya Tedi.


“Gaji gue habis tak bersisa,” keluhnya membuat teman kerjanya terbahak.


“Ke mana emang duit loe?”


“Biasa, bayar utang koperasi dan sisanya buat beli perlengkapan bayi.”


“Sudah santai saja. Banyak kok di sini yang minjamin duit pakai bunga,” jelas Tedi sedikit berbisik.


“Itu kan dosa,” elak Arjuna.


“Kalau kepepet mah enggak,” bisik Tedi sambil tersenyum.

__ADS_1


Senyuman Tedi menggoda iman seorang Arjuna. Dengan rekomendasi teman kantornya itu akhirnya, Arjuna pinjam uang ke rentenir sebesar sepuluh juta dengan bunga lima puluh persen.


*****


__ADS_2