HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
HAJI MUKIDI


__ADS_3

Sah sudah Arimbi menjadi istri Arjuna. Lelaki yang begitu ia cintai itu memang memperlakukannya begitu lemah lembut.


“Jun, ikut pulang simbok ke Jatinegara ya!” pinta Mbok Sam sehari sesudah menginap di rumah Pak Mukidi.


Arjuna menatap sejenak wajah Arimbi yang tidak suka dengan tawaran itu.


“Aku di sini saja, Mbok,” jawab Arjuna kemudian. “Sekalian mau nyari kerja.”


“Iya Sam, kebetulan ada lowongan di kantor Pak Udin. Orang yang suka minta doa ke sini.” Bu Mukidi menimpali.


Mbok Sam menghela napas panjang. Sebenarnya wanita dengan penuh keriputan itu tak enak hati dengan Pak Mukidi, sang ipar. Pasalnya semua biaya pernikahan Arjuna dan Arimbi, semua memakai uang iparnya itu meski diselenggarakan dengan sederhana. Lalu sekarang, anaknya menolak tinggal bersamanya.


“Ya sudah, kamu hati-hati nyari kerjanya. Semoga cepat dapat kerjaan .” Doa Mbok Sam.


“Dan untuk Arimbi, jangan lupa bantuin Bude masak dan beres-beres rumah ya! Numpang di rumah itu harus tahu diri,” pesan Mbok Sam hanya ditanggapain anggukan kepala oleh menantunya.


Bersama Abimanyu, Mbok Sam pulang ke Jatinegara menggunakan bajaj biru.


********


Rumah Pak Mukidi lumayan besar. Rumah dua lantai mempunyai dua kamar di atas. Lantai bawah ada dapur, kamar mandi, ruang makan dan ruang tamu yang sekaligus merangkap menjadi ruang TV. Sedang di depan ada teras yang cukup untuk sepuluh motor.


Kamar tamu yang sekarang dihuni oleh pengantin baru itu terdiri dari ranjang springbed, lemari pakaian, kaca besar.


Terdapat juga kipas angin di langit-langit kamar. Kamar yang cukup luas dan nyaman jika hanya dihuni dua orang saja.


Selama belum mendapat pekerjaan, Arjuna dan Arimbi banyak menghabiskan waktu di kamar. Maklum Bu Mukidi sibuk berjualan baju di pasar Impres. Sedang Pak Mukidi sesekali ada tamu yang minta didoakan agar usahanya lancar atau pegawai yang ingin cepat naik pangkat.


“Wah, ini nilai Bahasa Inggris dan Akuntansinya bagus ya!” puji Roni, tamu Pak Mukidi yang dititipin lamaran kerja milik Arjuna.


“Bisa diterima kerja kan?” tanya Pak Mukidi memastikan.


“Gampang, itu bisa diatur,” ucap Roni dengan menjentikan jemari.


Seminggu kemudian Arjuna diterima di perusahaan ekspor dan impor. Nilai Bahasa Inggris membantu anak pertama Mbok Sam itu mendapatkan pekerjaan.


Kesibukan kerja Arjuna dari jam delapan pagi hingga magrib membuat Arimbi kesepian dan bosan. Maklum dari pagi hingga jam dua siang, Bu Mukidi sibuk di pasar. Sedang kehadiran Pak Mukidi malah membuat Arimbi ketakutan.


Pasalnya Pak Mukidi yang biasa dipanggil Pak Haji itu matanya suka jelalatan, memandangnya dari ujung rumbut hingga ujung kaki. Meskipun ia seorang haji, namun wajar jika jiwa kelelakiannya langsung tergoda saat melihat gadis cantik.


“Mas, pulang dong! Aku takut sendirian di rumah.” Telpon Arimbi siang itu dengan menggunakan gawai baru yang dibeli dari gaji pertama Arjuna.


“Tapi aku lagi sibuk, Dek.”


“Buruan pulang, aku takut!” Arimbi mulai histeris.


“Kan di rumah ada Pakde.”


“Iya, gara-gara dia aku jadi takut di rumah,” jawab Arimbi kesal. “Matanya itu lho jelalatan,”


“Ya sudah, aku pulang ya!”


Setengah jam kemudian Arjuna sudah sampai di rumah.


“Lho, kok sudah pulang, Jun?” tanya Bu Mukidi yang baru pulang dari pasar.


“Iya Bude. Arimbi telpon katanya lagi tak enak badan,” jawab Arjuna berbohong.


“Lho, kok ga bilang?” tanya Pak Mukidi kemudian. “Tahu begitu tadi Pakde kerokin.”

__ADS_1


“Ganjen,” sambar Bu Mukidi ketus.


Pemuda yang baru sebulan lebih bekerja itu langsung naik ke atas. Menemui sang istri yang sedang rebahan sambil berselancar di dunia maya.


“Lama banget sih?” tukas Arimbi kesal.


“Aku harus menyelesaikan laporan sebelum pulang.” Arjuna langsung duduk di kasur dan mulai memijit kaki sang istri.


“Kenapa sih, Dek?” tanya Arjuna yang sedih melihat raut masam sang istri.


“Pakdemu itu ganjen. Kalau bude ga ada suka duduk deket-deket. Tangannya juga suka jalan-jalan ke wajah, tangan, kakiku.


“Mungkin pingin lebih dekat dengan ponakannya kali, Dek.”


“Ya enggaklah,” tangkis Arimbi sewot.


“Tatapannya saja seperti tatapan pria hidung belang.”


“Itu perasaanmu saja!”


“Kok, Mas ga percaya sama aku sih?” rajuk Arimbi. “Aku ini ketakutan lho.”


“Terus aku harus bilang ini sama Pakde, Bude soal ini?” tanya Arjuna. “Bisa-bisa mereka marah dan ngusir kita dari sini.”


“Ya sudah gapapa kalau harus keluar dari sini,” jawab Arimbi enteng.


“Lalu kita mau tinggal di mana kalau ke luar dari rumah Bude?”


“Bisa ngontrak kita,” timpal Arimbi tak mau kalah.


“Duit dari mana? Gaji kita sudah habis buat beli dua gawai sekaligus.”


“Ya, kamu bisa kas bon di kantor,” jawab Arimbi terus membuat dada suaminya sesak.


“Aku sudah tak tahan tinggal di sini, Mas. Aku takut.” Arimbi mulai terisak.


Arjuna menatap sedih istrinya. Dengan sabar ia mengusap-usap punggung wanita yang paling ia cintai itu. Sudah lelah bekerja, di rumah ia dihadapkan dengan kelakuan sang istri yang tak dewasa.


“Sabar-sabarin ya, Dek tinggal di sini. Nanti kalau udah gajian kita cari kontrakan,” hiburnya.


Arimbi mengangguk. Disandarkannya kepala ke bahu suami tercinta. Dia tak punya pilihan. Tak ada salahnya bertahan di sini hingga gajian.


*******


Arimbi baru saja terlelap di kamar. Semilir kipas angin membuatnya mengantuk. Gadis itu langsung terbangun saat merasakan sebuah sentuhan di kakinya yang tak tertutup. Maklum, ia memakai stelan baju dan celana selutut.


“Pakde!” teriaknya histeris mendapati si pemilik rumah sudah ada di kamar.


Bergegas ia bangun dan meringsut menjauhi sosok tua itu.


“Tadi ada nyamuk, jadi Pakde usir,” kilah sosok yang sudah bergelar haji itu.


“Terima kasih,” jawab Arimbi takut.


Gadis itu berdiri dengan wajah ketakutan. Bayangan hal-hal aneh menari-nari di pelupuk mata. Baru memegang engsel pintu, tangan gadis itu sudah digenggam Pak Haji Mukidi.


“Mau ke mana?” tanya Pak Haji dengan sorot mata nakal.


“Keluar, beli minum,” jawab Arimbi dengan suara tercekat.

__ADS_1


“Sudah di sini saja, temani Pakde.” Tangan tua itu mulai membelai rambut Arimbi sehingga gadis itu merasa bulu kuduknya berdiri.


Bergegas ia ke luar kamar dan menuruni anak tangga setengah berlari. Dengan rasa takut ia terus berlari tak tentu arah. Langkahnya terhenti saat raga mulai letih. Ia masuk ke dalam sebuah masjid untuk berteduh.


Dengan gemetar, ia menelpon sang suami.


“Iya Dek, ada apa?” tanya Arjuna dari ujung telpon.


“Mas, pulang sekarang! Aku takut,” jawab Arimbi dengan isak tangis.


“Takut kenapa?” Suara Arjuna tampak panik.


“Pakde masuk kamar pas aku sedang tidur.”


“Ya sudah, Mas pulang sekarang!”


“Aku ga di rumah, Mas. Aku tungguin di masjid besar tepi jalan raya.”


*******


“Dek, kamu yakin mau pindah sekarang?” tanya Arjuna memastikan lagi keputusan istrinya.


“Jika terus tinggal di sini, bisa-bisa aku benar-benar dilecehkan,” jawab Arimbi ketus sambil terus mengemasi pakaiannya.


“Tapi kita mau ke mana? Uang Mas tinggal lima puluh ribu,” keluh Arjuna.


Arimbi terduduk lesu di pinggir ranjang. Raut wajah kacau yang ditunjukkan Arjuna makin membuatnya stress. Begini rupanya, rasa rumah tangga saat kita belum siap menikah.


“Ke mana saja, Mas. Asal tak di sini,” jawab Arimbi pasrah.


“Bagaimana kalau tinggal bersama Simbok?” tawaran Arjuna tak segera diiyakan Arimbi.


Tampak gadis itu berpikir sejenak.


“Tinggal sama mertua? Pasti gak enak dan terkekang? Di rumh pakde saja sudah terkekang dengan acara beres-beres rumah dan masak.”


“Tapi kalau tetap di sini, entah apa yang akan dilakukan pakde esok hari?”


“Maunya sih ngontrak tapi duit ga punya.”


Arimbi menghela napas panjang. Adu argument di hati semua berawal karena ia tak punya duit. Sengsara banget sih hidup di awal rumah tangga. Ia kira hidup berumah tangga itu seindah masa-masa pacaran. Hati berbunga-bunga dan rindu menggebu. Ternyata oh ternyata, berbalik tiga ratus enam puluh derajat.


“Ya sudah kita tinggal sama Simbok,” jawab Arimbi tak ada pilihan.


********


“Pakde, Bude, kami pamit mau pulang ke rumah Simbok,” pamit Arjuna membuat Pakde dan Budenya terperanjat.


“Kenapa?” tanya Bu Mukidi menatap pengantin baru itu. “Kan tempat kerjamu lebih dkeat dari sini?”


“Kalau siang Arimbi kesepian, ga ada teman dan kegiatan,” jawab Arjuna.


“Kan ada Pakde di rumah,” sahut Pak Mukidi membuat bulu kuduk Arimbi berdiri.


Gadis itu meringsut tak berani menatap sorot mata sinis lelaki tua itu. Mata yang selalu menatapnya seolah ia gadis yang gampang digoda.


“Pakde, Bude, kami permisi!”


Pengantin baru itu menyalami pemilik rumah pergantian. Ada rasa lega di dada Arimbi saat ke luar dari rumah yang beberapa hari ini terasa mencekam untuknya.

__ADS_1


Dari kejauhan, tampak sepasang mata Pak Mukidi menahan geram melepas kepergian gadis cantik yang mulai ada di genggaman. Padahal tinggal sedikit lagi, ia memetik bunga itu. Namun semuanya kandas saat gadis itu memilih pergi.


*******


__ADS_2