
Arjuna terus berjuang mencari pekerjaan meski hingga saat ini belum menemukan rezekinya. Hingga uang amplop dari Mbok Sam dan Abimanyu habis untuk ongkos dan beli sarapan tiap pagi.
“Hay, Jun!” teriak Damar.
Arjuna menyambut gembira teman masa kecilnya itu.
“Gimana kabarnya?” tanya Arjuna setelah sekian purnama tak bertemu dengan Damar.
“Begini –begini saja kabarku. Maklum cuma lulusan SMP,” jawab Damar merendah. “Beda yang sudah sarjana.”
“Mending kamulah sekarang jadi bos bakso.” Arjuna balik memuji. “Lha, aku pengangguran.”
“Moso Sarjana nganggur? Ra percoyo aku?”
“Serius, aku sudah empat bulan nganggur.”
“Wealah. Emang nyari kerja itu susah ya zaman sekarang meski punya gelar sarjana.”
“Ya itu. Ku kira aku akan gampang sukses kalau aku kuliah. Tahunya ngangur juga,” jawab Arjuna sedikit menyesali kenekatannya kuliah di tengah kondisi Mbok Sam yang pas-pasan.
“Sudah jangan sedih. Belum waktunya mungkin kamu untuk sukses.” Damar mengeluarkan dompet dan mengambil sebuah kartu nama.
“Nih, alamat kantor temanku kerja. Namanya Yanto. Kemarin dia bilang sedang nyari tenaga Akuntan di kantornya. Moga saja ini rezeki kamu!” Damar menyodorkan kartu itu.
“Wah, makasih banget ya infonya!” Gembira Arjuna meraih kartu itu. “Moga jadi rezeki anakku!”
“Aamiin.” Damar mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
*************
Yanto memeriksa dengan seksama CV. Lamaran Arjuna. Tampak laki-laki yang mungkin sebaya dengan anak Mbok Sam itu manggut-manggut.
“Nilai akuntansi, matematika dan Bahasa inggrisnya bagus ya!” pujinya kemudian.
“Gimana Pak, saya bisa gabung di kantor ini?” tanya Arjuna memastikan.
Yanto memasukan kembali berkas-berkas itu ke amplop coklat.
“Maaf Pak, Anda telat sehari. Posisi ini sudah ada yang ngisi,” jawab Yanto membuat raut wajah Arjuna yang awalnya bersemangat menjadi muram.
“Mungkin, ada lowongan yang lain, Pak?” tawar Arjuna.
“Ada sih tapi…,” ucapan pria berdasi itu menggantung.
__ADS_1
“Saya mau kerja apa saja, Pak. Asal halal,” sambung Arjuna antusias.
“Beneran kamu mau kerja di posisi ini?” Yanto menyenderkan punggung di kursi. “Kamu lulusan sarjana, lho.”
“Apa saja Pak, saya mau!” Arjuna menyakinkan lagi.
“Baiklah, kalau kamu mau jadi OB,” jawabnya sedikit membuat Arjuna kecewa.
Tapi segera pria itu menyanggupi pekerjaan itu karena ia tak punya pilihan lain. Ini lebih baik daripada menganggur.
“Baik Pak, saya mau!”
“Oke, mulai besok kamu boleh kerja!” Yanto memberikan sebuah seragam.
*********
“Gimana Mas, kamu dapat kerjanya?” tanya Arimbi saat sedang kumpul di ruang tamu bersama orang tuanya.
“Alhamdulillah dapat. Dan besok sudah mulai kerja.”
“Beneran Mas?” tanya Arimbi kegirangan. Bersyukur akhirnya suaminya kerja juga. “Jadi apa? Manager, akuntan, staf kantor?”
“OB,” jawab Arjuna menunduk.
“Kuliah tinggi-tinggi kerjanya OB,” sindir Pak Tejo.
“Daripada kamu kerja jadi OB, mending kamu bantuin bapak ibu di toko. Tak gaji tiga juta per bulan,” cecar Bu Tejo.
“Engga Bu, terima kasih,” tolak Arjuna halus.
“Emang kamu digaji berapa jadi OB?” Bu Tejo tersulut emosi.
“Dua setengah juta.”
“Kamu itu sarjana tapi goblok ya!” tukas Pak Tejo geram. “Lebih suka gaji dua setengah juta daripada tiga juta.”
“Iya Mas, mending kamu bantuin bapak, ibu di toko saja. Gajinya lebih gede daripada jadi OB,” bujuk Arimbi.
“Mas pilih jadi OB saja!” kekeh Arjuna dengan pendiriannya lalu pergi ke kamar.
“Suamimu itu sombongnya ga ketulungan,” tukas Bu Tejo dengan mimik sewot membuat Arimbi serba salah.
Harusnya Arimbi senang suaminya mendapat pekerjaan. Tapi rasa malu pada keluarga lebih dominan sehingga membuat gadis itu meluapkan kekesalannya pada sang suami. Dia malu sudah menentang kedua orang tuanya sedang cinta yang diperjuangkan tak bisa dibanggakan.
__ADS_1
Setahun lebih pernikahan mereka, belum sekalipun Arjuna memberikan barang berharga untuknya. Dulu waktu masih single segala perhiasan emas menghiasi tubuhnya. Namun sesudah menikah, tak secuilpun perhiasan yang melekat kecuali cincin pernikahan.
“Mas, apa ga lebih baik bantuin bapak dan ibu di toko saja!” Esok harinya Arimbi masih membujuk suaminya untuk menerima tawaran orang tuanya.
“Maaf, Dek, Mas pilih jadi OB demi harga diri Mas sebagai suami,” tegas Arjuna.
“Singkirkan dululah harga dirimu! Kita lagi butuh uang untuk makan dan hidup!” tukas Arimbi sendit.
“Jika Mas ikut orang tuamu, selamanya mereka akan menginjak-injak harga diriku!” tukas Arjuna dengan kilatan mata tak suka membuat Arimbi tak berani bersuara lagi.
“Mas, semangat ya! Yakin suatu hari lagi bisa sukses!” teriak Paijo memberi semangat saat mereka berpapasan di halaman rumah.
“Halah sukses opo?” cibir Pak Tejo. “OB ya selamanya blangsak.”
Ucapan sang bapak mertua hanya ditanggapi dengan senyum manis oleh Arjuna.
************
Hari ini rumah Bu Tejo kedatangan tamu. Adiknya dengan anak semata wayangnya berkunjung ke rumah.Pak Setu dan Bu Setu memberi kabar jika anaknya, Nita akan menikah dengan bos penggilingan bakso.
“Wah, pinter ya, Nita cari jodoh,” puji Bu Tejo.
“Iya Bude, tapi Mas Robi ini hanya lulusan SD,” jawab Nita merendah.
“Gapapa walau cuma lulusan SD yang penting duitnya banyak. Daripada lulusan sarjana tapi jadi OB,” sanggah Pak Tejo membuat Arimbi malu.
Ia tahu orang tuanya sedang menyindir, karena tak bisa mencari jodoh yang mapan dan kaya.
“Tapi denger-denger, calonmu ini juga bandar judi ya,Nit?” tanya Arimbi sengaja ingin mempermalukan saudaranya itu. Dia kesal terus dibanding-bandingkan.
“Iya, Mbak, lumayan hasilnya buat bali tanah,” jawab Nita bangga makin membuat Arimbi sewot.
“Itu kan duit haram,” ceplosnya kemudian membuat Nita mati kutu.
“Sekarang mah duit haram atau duit halal ga ada bedanya!” tukas Bu Setu membela anaknya. “Lagi susah nyari duit zaman sekarang!”
Arimbi terdiam. Tak habis pikir dengan pemikiran bibinya. Dia santai saja anaknya diberi nafkah haram? Padahal semua itu aka nada pertanggungjawabannya kelak di akhirat.
“Lagian, haram halalnya rezeki itu urusan Tuhan. Pokoknya kalau bisa hidup enak, tak menyusahkan orang tua, bisa ngasih duit ke orang tua, itu juga diganjar pahala,” sambung Bu Tejo makin membuat putrinya tersudut.
“Mumpung masih muda, kejar duit semampunya. Tak usah mempersoalkan halal dan haram. Toh umur kita masih panjang. Tobatnya nanti saja kalau kita sudah tua. Banyakin sedekah dan solat,” ujar Pak Setu berapi-api.
Arimbi melepaskan napas perlahan, Meskipun tersudut dengan argument-argumen itu tapi Arimbi memaklumi semuanya. Pak Setu itu kan dari masa muda sampai sekarang pun masih gila judi. Berapa banyak uang hasil usaha terbuang sia-sia untuk taruhan. Sedang Bu Setu, ia hanya bisa menangis, mengadu pada Bu Tejo jika sang suami kalah judi.
__ADS_1
*****