HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
PANTAI PARANGTRITIS


__ADS_3

Lebaran tahun ini Arjuna dibuat bangga oleh karir dan kehidupannya. Pulang kampung dengan mengendarai Livina keluaran terbaru tentu saja akan menghadirkan decak kagum warga kampung. Penampilannya yang dulu sedehana kini terlihat berkelas dengan baju-baju bermerk.


“Wah, mobilmu bagus, Lhe,” puji Mbok Sam saat Arjuna dan anak serta istrinya bersilahturahmi di hari lebaran kedua.


Meski mereka sekampung namun hari pertama lebaran, dihabiskan dengan silahturahmi di keluarga besar Arimbi hingga malam menjelang. Otomatis baru hari kedua Arjuna bisa sungkem kepadan Mbok Sam dan biyung.


Dengan lahap Arjuna dan Nabila makan opor ayam kampung masakan Mbok Sam. Dan mencicipi kue-kue sederhana di meja bersama secangkir kopi. Tapi tidak dengan Arimbi. Ia tak bergeming saat melihat suami dan anaknya lahap makan. Ia tak menyetuh sama sekali masakan yang dihidangkan mertuanya meski cuma seteguk teh.


Entahlah, dari awal menikah, Arimbi memang sudah tak nyaman dengan rumah sederhana ini. Juga dengan kelakuan sang mertua yang di matanya terkesan jorok dan miskin. Kalau bukan menghargai Arjuna sebagai suami yang sukses, mungkin ia enggan diajak sungkem.


Di sela-sela obrolan, Arjuna menyerahkan uang semacam THR kepada Mbok Sam dan biyung. Raut wajah Arimbi tampak tak suka dengan pemandangan itu.


“Lhe, banyak banget?” ujar biyung tak enak hati menerima uang sebesar satu juta dari cucunya.


“Itu ga seberapa Yung, jika dibanding dengan gelang biyung yang sudah direlakan untuk kuliah Juna,” sahut Arjuna menghibur membuat mata tua biyung mulai berkaca-kaca.


“Terima kasih ya, Lhe. Semoga kamu sehat selalu, rezeki lancar. Anak, istri dan dirimu sehat dan selalu dalam lindungan Gusti sing gawe urip ( Tuhan pemberi hidup).” Doa tulus ke luar dari mulut orang sepuh itu.


“Aamiin.” Arjuna mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“Mas, pulang yuk!” ujar Arimbi menyela obrolan.


“Mau ke mana tho, Nduk? Kok buru-buru pulang?” tanya Mbok Sam heran, kenapa menantunya tak pernah betah di sini.


“Tadi banyak baju kotor, belum dicuci,” jawab Arimbi mencari alasan.


“Besok saja nyucinya!” cegah Arjuna. “Aku mau tidur dulu! Tuh, liat Nabila juga masih asyik main ma teman-temannya!” tunjuk Arjuna yang melihat anaknya langsung akrab dengan anak tetangga.


“Tidurnya bisa di rumah saja!” tukas Arimbi namun tak digubris suaminya.


*******


Pagi yang cerah. Seusai sarapan keluarga berkumpul di ruang tamu rumah besar Pak Tejo yang di kampung.


“Ini buat ibu!” Arjuna menyerahkan amplop yang segera dihitung isinya oleh Bu Tejo.


“Yaelah, sudah ga pernah ngasih uang bulanan. Ngasih THR ke mertua cuma satu juta,” sindir Bu Tejo. “Desta saja yang tiap bulan ngasih bulanan dua juta, ngasih THR tiga juta.” Bu Tejo mulai membandingkan.


Tampak Desta dan Hana tersenyum puas, Arjuna dan Arimbi selalu kalah dalam mengambil hati mertuanya.


“Jalan-jalan yuk!” tukas Wawan mengalihkan pembicaraan.


“Ke mana?” tanya Hana antusias.


“Parangtritis,” jawab Wawan.

__ADS_1


“Setuju,” sambung Arimbi.


“Bapak, ibu ikut ya?” tawar Hana.


“Ikut dong!” jawab mereka semangat. “Ayo, siap-siap sekarang! Mumpung masih pagi.”


“Tapi pakai mobil Arjuna ya! Mobil baru,” goda Desta.


“Sipp.” Arimbi mengiyakan.


“Simbok dan Mentari diajak ya!” pinta Arjuna.


“Ga usah,” jawab Arimbi ketus. “Ga muat.”


***********


Penuh suka cita Arjuna menghabiskan liburan lebaran dengan keluarga sang istri. Pesona Pantai Parangtritis dan keseruan mereka di sana diabadikan oleh Arimbi dan diposting di facebook dengan captain ‘Menyenangkan hati orang tua'.


Tak ketinggalan acara borong baju dan oleh-oleh di Maliobro pun tak luput diupload di sosial media. Serta keceriaan mereka saat menikmati sajian makan dengan menu beragam di salah satu restoran yang yang terkenal di Jogjakarta.


Postingan itu banjir komen yang membuat Arimbi tersanjung sebagai anak. Di dunia maya, ia mampu menghidupkan image anak yang berbakti kepada orang tua.


“Bayar ya, Jun!” titah Bu Tejo. “Desta kan sudah ngasih THR tiga juta sedang kamu hanya sejuta.” Timpal mertua bikin kantong ngenes.


Dalam perjalanan, hampir semua penumpang tertidur. Tinggal Arimbi dan Arjuna yang masih terjaga. Arjuna sibuk menyetir mobil. Sedang Arimbi sibuk menjawab komen yang bejibun di facebook dan WA.


“Pertamax Yu, dua liter!” ujar Arjuna pada Yu Yani_ pemilik POM mini yang masih saudara itu.


“Dari mana, Jun?” tanya Yani sesudah melongok ke dalam mobil Arjuna melalui jendela mobil.


“Parangtritis Yu, jalan-jalan,” jawab Arimbi denga suka cita.


“Kok Mbok Sam dan Mentari ga diajak?” Pertanyaan Yani langsung menohok pasangan suami itu.


Wajah Arimbi yang tadinya berseri-seri berubah pias.


“Mobilnya ga muat, Yu,” jawab Arjuna mencairkan suasana.


“Pak Tejo dan suaminya Hana kan punya mobil, kenapa ga bawa mobil mereka juga,” protes Yani.


“Pada capek, ga ada yang nyetir,” kilah Arjuna.


“Kalau ga mau nyetir harusnya Hana dan suami serta anaknya ga usah ikut. Biar digantikan Mbok Sam dan Mentari.”


“Mereka kan bisa sendiri ke Parangtritis, kalau Mbok Sam dan Mentari kan nunggu ada yang ngajakin,” cecar Yani membuat Arimbi dan Arjuna bungkam.

__ADS_1


“Kamu itu bisa sukses karena bakul jamu Mbok Sam. Eh, sekarang giliran enaknya malah nyenengin mertua dan istri. Orang tua diabaikan.”


“Meski sudah menikah, lelaki itu tetap milik ibunya. Wajib nyenengin hati orang tuanya bukan cuma istri. Malah mertua itu ga ada hak atas uang mantu lelakinya.”


Ucapan Yani yang ceplas ceplos membuat hati Arimbi panas. Mukanya benar-benar kelihatan marah tapi tak berani menjawab.


“Mas, pulang yuk!” teriak Arimbi pada Arjuna yang menunduk malu.


“Arimbi, ajarin suamimu untuk berbakti sama orang tua! Bukan cuma mau anaknya saja tapi orang tuanya dibuang!” tukas Yani makin membuat Arimbi mati kutu.


“Iya, Yu,” jawabnya tanpa berani menatap Yani yang memang marah dengan sikap mereka.


Sepanjang di mobil, Arimbi terus mengutuk sikap Yani yang menurutnya berlebihan.


“Maksud Yu Yani itu apa coba? Cuma masalah sepele saja digede-gedein,” umpat Arimbi kesal.


“Yang dibilang Yu Yani itu betul. Kamu sih ga mau ngajak Simbok dan Mentari,” jawab Arjuna.


“Oh, kamu nyalahin aku?” ujar Arimbi tak terima. Sudah sakit hati dimaki-maki ma Yani ditambah Arjuna menyalahkannya.


*******


Ternyata imbas dari jalan-jalan ke Parangtritis tak berhenti di situ saja. Yani yang notabene cucu tiri biyung yang terkenal kaya di kampung, mengajak Mentari, Simbok dan Abimanyu jalan-jalan ke Parangtritis dengan mobil yang dibelinya cash. Biyung tak mau ikut karena sudah tua dan tak mampu perjalanan jauh.


Tak lupa Yani juga mengupload foto-foto itu ke facebook dengan captain ‘Mbok Sam juga bisa jalan-jalan ke Parangtritis pakai mobil cash’. Tak ketinggalan ia tag facebook milik Arjuna dan Arimbi.


Tak heran setelah itu banyak WA masuk yang menayakan perihal mobil Arjuna cash atau kredit.


Arimbi tampak tersinggung dengan postingan Yani yang menyudutkannya. Dia tak terima dipermalukan seperti itu hanya gara-gara tak mengajak sang mertua jalan-jalan. Dengan amarah, Arimbi melabrak Yani di rumahnya.


“Maksud kamu apa, Yu? Bikin aku malu sekampung?” bentaknya dengan napas naik turun.


“Ayo pulang saja, Dek!” bujuk Arjuna.


“Ga!” Arimbi mengibaskan tangan Arjuna dari pundaknya.


“Cuma ngasih tahu jika kamu itu mantu yang tak tahu diri,” jawab Yani tanpa basa basi.


“Maksudnya?” Arimbi tambah geram.


“Kamu itu nikah sama Arjuna cuma mau anaknya saja tapi ga mau sama keluarganya karena miskin.” Sebuah jawaban yang tak bisa dibantah Arimbi karena keadaannya memang begitu.


“Dan kamu Juna, jika kamu terus memuliakan istrimu tapi lupa dengan ibumu. Dijamin kesuksesanmu tak akan lama!” Yani mengingatkan.


“Jangan sok tahu!” seru Arimbi sebelum menghentakkan kaki ke luar dari rumah besar Yani.

__ADS_1


Mengapa Yani sebegitu marah dengan Arjuna dan Arimbi? Itu tak lain karena ia tahu betul bagaimana Mbok Sam berjuang untuk kuliah Arjuna dan memaksa Mentari harus hidup prihatin di masa sekolah. Semua hasil jualan Mbok Sam hanya cukup untuk biaya kuliah dan angsuran motor. Selebihnya makan dan uang jajan Arimbi didapat dari hasil biyung jualan tempe.


Emosi juga turut mendera Yani saat tahu Arimbi dan Arjuna malah kawin lari dengan menjual motor yang baru saja lunas. Padahal Arjuna belum sempat membalas kebaikan Mbok Sam meski ia tak meminta.


__ADS_2