
Wanita mandiri itu ditinggal suaminya saat ketiga anaknya masih kecil. Untuk bertahan hidup, biyung berjualan tempe. Tempe buatannya adalah tempe terenak di kampungnya. Hingga sekarang, saat usianya sudah tujuh puluh tahunpun, biyung masih setia jualan tempe. ,meski kedua anaknya, Ratmi dan Bu Mukidi sudah jadi orang sukses di Jakarta. Sedang Karno, anak ketiganya, sampai sekarang tak terdengar kabar beritanya semenjak merantau ke luar pulau Jawa. Karno adalah suami dari Mbok Sam.
Pagi ini biyung libur jualan. Pohon singkong yang sudah siap panen lebih menggoda daripada pergi ke pasar kecil di samping masjid.
Dengan dibantu cucunya¬_Mentari, biyung siap memanen.
Biyung menggali tanah dengan wangkil. Setelah singkong sedikit terlihat, biyung bersiap mencabut. Dengan sekuat tenaga, wanita tujuh puluh tahun itu berusaha. Namun sayang, pohon itu masih kuat menancap di tanah. Sekali lagi biyung mencoba. Lagi-lagi belum juga berhasil tercabut, pinggang biyung malah terkilir.
“Aduh, duh, duh!” pekik biyung sembari memegangi pinggang. Sontak Mentari kaget dan memapah biyung duduk di lincak.
“Kenapa, Yung?” tanya Mentari panik.
“Pinggang biyung sakit banget,” rintih biyung menahan sakit.
“Aku harus bagaimana ini, Yung?” Mentari bingung harus berbuat apa.
Belum sempat mencari bantuan, biyung sudah tak sadarkan diri.
Satu jam kemudian biyung sudah mendapatkan perawatan di RSUD Wonogiri. Selang infus dan oksigen terpasang di tubuh tua itu.
“Biyung, sakit apa, Dok?” tanya Marsih, cucu tiri biyung yang mengantar ke rumah sakit.
“Biyung terkena stroke,” jawab dokter membuat Marsih Dan Mentari terperanjat.
“Tapi bisa kembali normal kan, Dok?” tanya Marsih.
“Kalau dilihat dari usia biyung sih kemungkinannya kecil kecuali ada keajaiban.” Sebuah jawaban yang membuat kedua cucu biyung itu kecewa.
“Tari, hubungi anak-anak Biyung!” perintah Marsih yang langsung diiyakan Mentari.
Tampak gadis yang masih duduk di bangku SMP itu segera menghubungi nomor seseorang.
“Halo, Lek!” ucapnya mengawali obrolan. “Biyung kena stroke, Lek. Sekarang dirawat di RSUD Wonogiri.” Berlinang air mata, Mentari memberi kabar.
*************
Esok harinya Bu Mukidi, Pak Mukidi, Mbok Sam, Abimanyu, Ratmi dan suaminya sampai RSUD dengan menggunakan mobil milik Ratmi.
“Bagaiman keadaan biyung, Nduk.” tanya Mbok Sam sesampainya di rumah sakit.
Semua anak dan mantu biyung mengelilingi biyung yang tertidur tak berdaya di ranjang. Wajah sedih menghiasi orang-orang sukses itu.
__ADS_1
“Biyung kena stroke, Mbok!” cerita Mentari mulai dengan berlinang air mata.
“Kok bisa sih, Tar?” tanya Bu Mukidi. “Emang awalnya biyung ngapain bisa sampai stroke begini?”
“Nyabut singkong, pinggangnya sakit lalu pingsan.”
“Aneh-aneh sih biyung ini,” gerutu Ratmi.
Setelah seminggu dirawat, akhirnya biyung bisa dibawa pulang. Keadaan biyung langsung berubah tiga ratus enam puluh derajat.
Tubuh tuanya tak bisa digerakan lagi. Semua kegiatan dilakukan di tempat tidur. Bahkan wanita tua itu harus memakai pampes seperti bayi. Bersyukur biyung masih bisa bicara.
“Aku sudah ditelponin anakku ini,” cerita Ratmi.
“Aku juga ditelponi karyawanku,” sambung Bu Mukidi. “Toko rame dan stok gamis sudah ga lengkap.”
“Lha, biyung kan keadaan begini Yu, Rat,” ujar Mbok Sam mengingatkan kedua anak biyung.
“Kalau aku suruh nungguin biyung ya jelas ga bisa. Warungku lagi rame dan anak-anakku masih butuh biaya buat sekolah,” curhat Ratmi.
“Aku juga ga bisa. Kalau aku nungguin biyung, gimana nasib toko bajuku yang sudah aku rintis puluhan tahun.” Bu Mukidi tak mau ketinggalan.
“Kalau begitu Sam saja yang merawat biyung!” cetus Pak Mukidi langsung diiyakan oleh istri dan iparnya.
“Betul, Mbok Sam kan sudah ga ada tanggungan lagi,” sambung suami Ratmi mengentengkan hidup iparnya.
Ga punya tanggungan? Itu Mentari masih sekolah, jelas butuh biaya yang tak sedikit.
“Bagaimana kalau digilir saja nunggu biyung?” Abimanyu memberikan ide. “Sebulan Bude Mukidi, sebulan Lek Ratmi dan sebulan Simbok.”
“Ya, ga bisa githu dong!” sanggah Bu Mukidi yang merupakan anak tertua biyung. “Kalau aku sebulan nungguin biyung, ya rugi puluhan juta akunya.”
“Lek Ratmi?” Abimanyu mengalihkan pandangan.
“Aku juga ga bisa. Kedua anakku masih butuh biaya banyak untuk nanti masuk SMA dan kuliah,” jelas Ratmi.
Hening beberapa saat.
“Tenang saja Yu Sam. Nanti kami kirim kok buat biaya obat dan beli pampers biyung,” janji suami Ratmi.
Mbok Sam hanya diam terpaku. Menatap lekat-lekat mertuanya yang terbaring tanpa daya di ranjang kayu jati. Di saat anak-anak kandung biyung tak mau merawatnya, lalu siapa yang yang akan merawat perempuan yang sudah bersedia ia titipin anak-anak saat ia merantau di Jakarta.
__ADS_1
Dengan ikhlas, Mbok Sam bersedia merawat biyung. Dengan kata-kata bijak, Mbok Sam menasihati sang anak yang esok akan kembali merantau ke Jakarta.
“Simbok ga usah khawatir ya! Setiap bulan Bima akan kirim untuk sekolah Mentari dan uang makan.”
“Makasih ya, Lhe! Jangan lupa mintain kiriman juga ke Masmu Juna buat Simbok dan Mentari!” sahut Mbok Sam.
“Iya, Mbok.”
“Lhe, mending kamu tidur di warung bakso saja biar ga usah ngontrak!”
“Iya ya, Mbok. Daripada duitnya buat ngontrak mending dikirim,” Abimanyu menyetujui saran ibunya. “Besok aku bilang sama Mas Damar.”
“Lhe, kamu ati-ati ya di Jakarta! Jangan lupa solat. Jangan neko-neko jadi orang!” nasihat Mbok Sam untuk anak yang penyayang itu.
“Baik, Mbok!”
**************
Sebulan kemudian, Abimanyu mengunjungi rumah besar sang kakak. Tampak mereka sedang menikmati PIZZA HUT porsi jumbo saat dirinya datang.
“Ada apa Bim?” tanya Arjuna sesudah Arimbi menyediakan kopi untuk mereka.
“Gini Mas.” Abimanyu memperbaiki posisi duduknya. “Simbok kan ga bisa nyari duit lagi. Simbok bilang kita berdua patungan untuk sekolahnya Mentari dan biaya hidup simbok di kampung.”
“Lho, bukannya simbok sudah dapat kiriman dari Lek Ratmi dan Budhe Mukidi?” sela Arimbi dengan muka jutek.
“Itu kan untuk biaya berobat dan beli pampers Biyung, Mbak,” jelas Abimanyu.
“Pasti lebih dari cukuplah. Bisa untuk biaya sekolah Mentari dan makan sehari-hari Simbok,” sahut Arimbi.
“Gimana,Mas?” Abimanyu mengalihkan pandangan.
“Nabila kan bentar lagi masuk SD Islam Terpadu. Biaya masuknya ga murah lho Mas. Harus nabung dari sekarang.” Arimbi terus menimpali, tak memberi kesempatan pada Arjuna untuk menjawab pertannyaan iparnya.
“Maaf Bim, Mas ga bisa kirim Simbok,” jawab Arjuna kemudian membuat istrinya tersenyum penuh kemenangan.
“Seratus, dua ratus saja, Mas!” Abimanyu masih berusaha meminta.
“Gaji Masmu ga cukup Bim, buat bantuin biaya hidup Simbok,” tukas Arimbi membuat dada Abimanyu sesak. Ia hanya bisa menghela napas panjang.
*********
__ADS_1