HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
ARJUNA JATUH CINTA


__ADS_3

Perjanan kuliah Arjuna lancar jaya hingga mendekati semester akhir. Namun empat bulan mendekati kelulusan, hatinya terpikat pada sosok ayu Arimbi_si bungsu Pak Tejo dan Bu Tejo. Wajah ayu gadis yang duduk di bangku SMA ini mengalihkan dunia seorang Arjuna.


Sekarang hari-hari anak sulung Mbok Sam itu tidak hanya dihabiskan belajar sembari mendengarkan lagu-lagu pop dan lagu Malaysia di radio. Namun tiap hari pikirannya dipenuhi wajah ayu Arimbi.


Tanpa janjian, siang ini Arjuna menjemput pujaan hatinya di SMA swasta. Segera Arjuna menghampiri Arimbi ketika gadis itu keluar gerbang bersama teman-temannya.


“Pulang bareng, yuk!” ajak Arjuna tanpa basa-basi seketika membuat wajah Arimbi merona merah.


“Duh, sekarang ada yang jemput ya!”


“Ada ojek gratisan,” goda teman-temannya dengan tawa renyah.


“Aku duluan ya! Da.” Arimbi melambaikan tangan lalu mensejajari langkah Arjuna yang menghampiri motor.


“Sudah makan belum?”


Arimbi hanya menggeleng.


“Kita makan dulu ya di pasar Sukoharjo!” Ajakan Arjuna diiyakan Arimbi.


Dengan malu-malu Arimbi naik di jok belakang. Tampak Arjuna belum melajukan motor. Tangan pemuda itu meraih tangan kanan Arimbi lalu menaruhnya di pinggang.


“Pegangan, takut jatuh!” ucapnya makin membuat pipi Arimbi merona merah.


Tak butuh lama untuk sampai ke pasar karena jarak dari sekolah Arimbi ke pasar tak begitu jauh. Di sebuah warung soto daging, Arjuna memarkir motornya.


“Soto dan es teh manis dua, Bu!” pesan Arjuna sebelum kembali menatap sang pujaan hati.


“Boleh aku sering-sering jemput kamu?” Arjuna menatap mesra pada wanita yang melihatnya dengan malu-malu kucing.


“Emang ga ngrepotin?”


“Untuk cewek secantik kamu mah, ga ada repotnya,” sahut Arjuna dengan gombalan.


***********


Semenjak hari itu, hubungan Arjuna dan Arimbi makin dekat. Hampir setiap hari Arjuna bertandang ke rumah Bu Tejo tanpa tangan kosong. Selalu ada makanan yang dibawa untuk gadis pujaan hati. Kadang coklat, es krim, jus, bakso, mie ayam atau pecel ayam.


Hingga suatu hari, Arjuna memberanikan diri untuk menembak Arimbi melalui surat dan setangkai bunga mawar merah.


Dear Cantik


Aku berharap kamu selalu sehat dan tersenyum manis sepanjang waktu. Karena bagiku senyummu makin membuat hari-hariku cerah secerah pancaran mentari yang setia menyinari bumi.


Melihat tawamu adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki. Menggenggam jemarimu adalah hal yang ingin aku lakukan sepanjang waktu. Menghabiskan waktu bersamamu adalah mimpi yang ingin kuwujudkan di masa yang akan datang.


Andai engkau tahu betapa aku begitu mencintaimu. Cintaku padamu seluas langit biru, sedalam samudra dan tak kan terpisahkan walau apapun yang terjadi.

__ADS_1


Cantikku…maukah kamu menjadi pacarku? Merangkai hari indah bersama untuk selamanya?”


Kalau iya…tolong keluar…aku menunggumu di teras…


TTD


Arjuna


Surat cinta itu membuat hati Arimbi berbunga-bunga. Tubuhnya melambung tinggi bagai ke langit ketujuh. Tanpa sadar tubuhnya ambruk ke ranjang kasur sembari mendekap surat cinta itu erat-erat. Matanya menatap lamgit-langit kamar. Senyum merekah terhias di bibir merahnya.


Sayup-sayup terdengar alunan gitar dari teras. Suara merdu melantunkan lagu Vagetoz “Betapa Aku Mencintaimu”


Betapa aku mencintaimu


Dengan sepenuh hatiku


Betapa aku menyayangimu


Lebih dari yang kau tahu


Ingin ku bahagiakan dirimu


Setiap saat bersamamu


Seperti janjiku kepadamu


Aku kan selalu ada di dekatmu


Aku kan selalu menemani harimu


Kau harus tahu betapa aku mencintaimu


Romantisme lagu itu menggerakkan langkah Arimbi ke teras untuk menemui pujaan hati.


Temaram sinar rembulan makin membuat syahdu dua hati yang sedang mabuk kasmaran. Saling menatap tanpa peduli jika ada yang melihat.


“Iya, aku mau jadi pacar kamu,” jawab Arimbi dengan rona wajah malu-malu tapi mau.


Senyum mengembang di bibir Arjuna. Binar bahagia terlukis indah di wajahnya. Statusnya kini berubah dari cowok jomblo menjadi berpacaran dengan cewek cantik.


*********


Status berubah dari jomblo ke punya pacar ternyata membutuhkan modal yang tak sedikit untuk kantong mahasiswa. Teman-teman Arimbi dan Arjuna yang mengetahui mereka jadian langsung nodong minta ditraktir.


“PJ kapan nih?”


“Kan sudah jadian seminggu?” todong teman-temannya membuat pasangan yang baru pacaran itu cengar cengir.

__ADS_1


“Oke. Bakso Mutiara ya!” janji Arjuna.


Babak awal pacaran, Arjuna harus mentraktir sepuluh temannya di Bakso Mutiara sebagai pajak karena ia dan Arimbi jadian.


Babak berikutnya saat Arimbi ulang tahun, mau tidak mau Arjuna harus memberikannya kado special. Gengsi dong saat nanti ditanya “Kamu ngado apa ke Arimbi?”, masa iya jawabnya cuma “Kado doa.”


Sebuah boneka beruang besar berwarna pink ia hadiahkan special di hari ulang tahun kekasihnya yang ke tujuh belas.


Lalu pengeluaran-pengeluaran tak penting lainnya makin tak terhindari. Saat hari libur, kekasihnya mengajak jalan-jalan ke Waduk Gajah Mungkur lalu mampir ke Swalayan Baru atau Luwes di sekitar Pasar Wonogiri. Mau tak mau Arjuna harus merogoh dompetnya untuk membayar semua itu.


Belum lagi jika menjemput sekolah pasti selalu makan di luar baik Cuma makan bakso atau makan sate.


Saat tanggal empat belas Februaripun ia harus rela membeli coklat dan sebuket bunga sebagai hadiah di hari valentine. Hari kasih sayang itu memang momen yang sangat ditunggu oleh anak-anak sekolah yang punya pacar.


Ternyata manisnya pacaran berdampak dengan isi dompet Arjuna yang langsung tipis dalam hitungan hari. Duit kiriman Mbok Sam yang sejatinya untuk beli buku, bayar kuliah dan setoran motor, harus ludes untuk memanjakan pacar.


Mau tidak mau, ia harus ke wartel dan meminta kiriman uang lagi dari Mbok Sam.


“Iya, ada apa Lhe?” Suara Mbok Sam terdengar nyaring dari seberang.


“Mbok, minta kiriman uang lagi.”


“Lho, kemarin kan sudah Simbok kirim untuk biaya kuliah, setoran motor dan uang saku kamu.”


“Iya Mbok, sudah habis.”


“Buat apa?” bentak simbok geram membuat Arjuna gelagapan.


“Un..untuk servis motor, Mbok,” jawab Arjuna menemukan alasan.


“Masa, servis motor sampai jutaan?” tanya Mbok Sam ga percaya.


“Rusak parah, Mbok. Kemarin habis nabrak pohon tetangga sampai kaca depan pecah dan kaca spion retak.” Arjuna tak hilang akal.


“Terus kurang berapa?” Mbok Sam akhirnya percaya.


“Banyak Mbok. Untuk beli buku, bayar kuliah, setoran motor dan uang saku selama dua puluh hari.”


“Ya sudah, aku kirim sekarang ya! Kebetulan sore ini Yu Tuti pulang kampung.”


“Makasih ya, Mbok,” jawab Arjuna kegirangan.


Pemuda tampan itu menutup saluran telepon lalu membayar ongkos wartel. Bersiul-siul saat keluar dari ruangan itu. Gampang sekali membuat ibunya percaya dengan semua kebohongannya.


Andai Mbok Sam tahu kelakuan anaknya yang sedang dimabuk cinta, pastinya ia akan marah besar. Di Jakarta, ia kerja banting tulang pagi, sore. Belum lagi dibelain makan dari sisaan sayur jualan Ratmi. Eh, ini di kampung, anaknya malah enak-enakan manjain anak orang lain dengan dalih pacaran.


*****

__ADS_1


__ADS_2