HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
BERATNYA HIDUP


__ADS_3

Mbok Sam memijit-mijit keningnya yang berkerut. Wanita itu menghitung kembali tabungan jualannya selama sebulan. Sewa kontrakan, ngirim kampung, uang kuliah Arjuna menari-nari di mata sayunya.


Rezeki yang kecil sedang pengeluaran yang besar, memaksa Mbok Sam harus pandai-pandai mengatur uang dagangan.


Setiap hari Mbok Sam membeli minyak goreng seperempat yang dibeli dari tukang kredit yang biasa jadi langganan saos dan minyak para penjual bakso dan mie ayam di sekitar kontrakan. Dari minyak seperempat itu ia masukkan ke botol aqua bekas yang besar.


Dari sedikit tanpa terasa bisa terkumpul beberapa botol untuk dibawa pulang saat pulang kampung untuk oleh-oleh.


Setiap sore Mbok Sam pergi ke toko kelontong adiknya untuk bantu-bantu beberes warung dan rumah meski tidak digaji dengan uang.


Warung Ratmi memang rame karena menjual bahan-bahan jamu dan pelengkap untuk bakso dan mie ayam. Di samping itu, Ratmi dan suaminya juga berjualan sayuran, kelapa parut.


Mereka juga membuka servis kompor gas.


Dari bantu-bantu adiknya itu, kadang Mbok Sam diberi upah bahan jamu gratis. Kadang dapat beberapa liter beras untuk makan. Atau seperempat gula dan beberapa bungkus kopi dan teh. Sering juga ia mendapat sisa sayur dan beberapa potong ayam yang bisa diolah untuk bikin sayur sop dan ayam goreng. Meski orang-orang melihatnya seperti pembantu di rumah adik sendiri, namun ia tak masalah. Baginya sudah diberi gratisan dari sang adik, sudah membuatnya bersyukur.


Kehidupan Mbok Sam memang paling miskin dari saudara-saudaranya. Kakaknya, Bu Haji Mukidi juga orang kaya karena Pak Haji Mukidi terkenal sebagai orang pinter. Suka diundang ke pengajian dengan upah besar. Banyak orang-orang atau pedagang yang datang minta doa pelaris agar usahanya lancar dan diangkat menjadi kartawan.


“Assalamualaikum.” Abimanyu langsung masuk dan menyalami ibunya.


“Warung sudah tutup Lhe?” tanya Mbok Sam menyambut kedatangan anaknya.


“Sudah Mbok. Hari ini rame jadi bakso ma mie ayam cepat habis.” Abimanyu berlalu mengambil dua piring dan sendok.


“Efek tanggal muda, jadi banyak yang jajan.”


“Simbok mau mie atau nasi goreng?” tawar Abimanyu membuka bungkusan yang dibawanya.


“Simbok pingin mie goreng, Lhe.”

__ADS_1


Abimanyu menyodorkan mie goreng ke simboknya. Dengan lahap ia menyantap nasi goreng hingga habis. Tak banyak obrolan saat makan antara anak dan ibunya ini. Setelah selesai makan, Abimanyu mengeluarkan uang dari saku dan memberikannya kepada Mbok Sam.


“Ini buat bayar kontrakan dan beli sayur selama sebulan, Mbok!” Abimanyu memberikan gaji pertamanya.


Meski bingung Mbok Sam menghitung uang yang diberikan anakknya. Semua sebesar satu juta.


“Memang digaji Mas Yadi berapa kamu, Lhe?”


“Satu juta Mbok.”


“Lho, kamu berarti ga dapat apa-apa kalau semua kamu kasih ke Simbok?” tanya Mbok Sam terkejut. “Uang jajan dan untuk keperluan lainnya dari mana?”


“Tenang Mbok. Tiap hari aku dikasih lima puluh ribu sama Mas Yadi.”


“Cukup ga Lhe, uang segithu untuk semua keperluanmu?” tanya Mbok Sam lagi.


“Insyaallah cukup, Mbok,” jawab Abimanyu sambil tersenyum. “Ya sudah Mbok, aku tidur dulu ya!”


Mbok Sam menatap wajah anaknya yang sudah tidur terlelap. Wajah yang mulai tampak terawat karena sekarang anaknya sudah bisa membeli sabun cuci muka sendiri. Kulitnya juga sudah mulai bersih karena setiap hari pakai hand body. Ditambah minyak wangi yang selalu disemprot ke tubuh, membuatnya jadi lirikam cewek-cewek sekitar kontrakan.


Mbok Sam bersyukur anaknya sudi berbagi rezeki dengannya. Uang sejuta itu sangat membantu untuk memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan anak-anaknya di kampung. Membayar kontrakan sepetak yang ia tempati.


******


Tiap pagi Mbok Sam hanya sempat menyediakan nasi uduk dan secangkir kopi susu untuk sarapan Abimanyu. Perempuan empat puluh tahun itu segera menjajakan dagangannya agar tak keduluan pedagang yang lain saat tiba di tempat langganan.


“Bima itu kerjanya bagus lho, Mbok,” puji Marni.


“Alhamdulillah kalau Mbak Marni dan Mas Yadi suka dengan kerjanya anak saya.”

__ADS_1


“Kata Damar, langganan warung tambah banyak karena Abimanyu,” lanjut Marni.


“Memang tuh bocah bawa rezeki,” sambung Yadi yang sudah ikut nimbrung obrolan.


“Saya sendiri bersyukur punya anak seperti Bima. Gajian pertama dikasih sejuta ke saya. Katanya buat bayar kontrakan dan makan sebulan,” ucap Mbok Sam berkaca-kaca.


“Masayaallah, Bima.” Marni ikut terharu dengan perhatian Bima ke ibunya.


“Padahal ia sudah ngalah tidak lanjut sekolah demi kakaknya kuliah,” lanjut Mbok Sam.


“Insyaallah, Bima bisa jadi orang sukses meski tak sekolah,” hibur Yadi membesarkan tukang jamu langganannya.


“Aamiin.”


**********


Tiap sore Mbok Sam menjajakan jamunya di sekitar masjid dan mushola, tempat anak-anak mengaji. Tak jarang juga Mbok Sam melayani jamu seharga seribu rupiah. Karena kemurahan hatinya ini, Mbok Sam disenangi oleh anak-anaknya. Bagi Mbok Sam ga masalah untung sedikit, asal anak-anak senang.


Mbok Sam menyambangi para pedagang kaki lima. Beberapa sudah menjadi langganan tetap Mbok Sam dari dahulu kala. Misal tukang chicken yang menjadi langganan tetap Mbok Sam. Bukan karena jamu Mbok Sam enak ya tapi karena kebaikan Mbok Sam waktu istrinya mau melahirkan dia sama sekali tak pegang uang. Ia sudah kesana kemari mencari pinjaman tapi tak ada yang bersimpati. Pas ia utarakan niatnya, Mbok Sam langsung memberinya pinjaman.


“Mas, jamunya dituker sama chicken ya! Buat makan malam anak saya.” pinta Mbok Sam setiap tukang chicken hendak membayar.


Dengan senang hati si abang-abang memberikan apa yang dipinta Mbok Sam. Kadang paha, kadang sayap tapi tak pernah dada. Kalau sayap dan paha habis biasanya akan diganti dengan usus crispy atau ceker crispy atau ati ampela crispy.


Mbok Sam tak pernah menolak karena ia sadar sama-sama penjual pasti nyari untung.


Semenjak Abimanyu ikut merantau ke Jakarta, ia sering menyediakan chicken hasil barter jamu untuk anaknya makan malam. Ia tak tega memberi makan anaknya tiap hari tahu tempe padahal anaknya itu sudah membantu meringankan beban hidupnya.


Bagi Mbok Sam tak mengapa ia tiap hari makan sayur dari sisa jualan di warung adiknya asal anak-anaknya bisa makan layak. Asal biaya kuliah Arjuna lancar jaya meski di Jakarta ia harus banting tulang dan serba irit.

__ADS_1


Jika tak dapat sisaan sayur, biasanya Mbok Sam beli dua macam lauk di warteg untuk makan siang dan makan sore. Baru chicken ia berikan untuk Abimanyu saat ia pulang kerja. Hampir selama di Jakarta, ia tak pernah makan daging atau ayam kecuali ada yang memberinya gratis. Semua ia lakukan demi ngirit untuk kuliah anaknya.


*********


__ADS_2