HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
CERAI


__ADS_3

Hampir seminggu Arimbi tak pulang. Sebenarnya Arjuna enjoy saja dengan ada atau tidak adanya Arimbi. Toh setiap hari, dia melakukan apa-apa juga sendiri, tak pernah dilayani. Mungkin bedanya, ia rindu dengan si cerewet Nabila dan si lucu Fildan, buah hati mereka.


Ruang tamu sang mertua itu begitu panas untuk Arjuna. Tatapan sinis dan dingin dari sang mertua serta istri membuat hati anak Mbok Sam itu ketar-ketir jika diusir.


“Aku minta cerai!” tandas Arimbi memecah sunyi. Mengejutkan orang tua dan suaminya.


“Jangan sembarangan kamu ngomong, Nduk!” Bu Tejo mengingatkan.


“Terus apalagi yang mau dipertahankan dengan pernikahan ini, Bu?” Arimbi minta penjelasan. “Mas Juna sudah selingkuh, mengkhianati anak dan istrinya.” Mata itu mulai berkaca-kaca.


“Aku minta maaf, Dek!” pinta Arjuna yang trenyuh dengan istrinya yang bersedih karena pengkhianatannya.


“Maaf, maaf!” sentak Arimbi bercucuran air mata. “Tak ada maaf untukmu, Mas. Hati ini sudah hancur berkeping-keping karena pengkhianatanmu.”


“Kita mulai dari awal!” pinta Arjuna.


“Tidak!” tolak Arimbi kasar. “Tak sudi aku punya suami tukang selingkuh.”


“Kalau ga mau, ga usah dipaksa!” Pak Tejo membuka suara.


“Tapi aku tak ingin anak-anakku hidup tanpa keluarga yang utuh,” kilah Arjuna menentang mertua.


“Salah kamu sendiri, macam-macam jadi lelaki.” Pak Tejo menyudutkan. “Sudah punya istri cantik, pinter dandan, pinter ngurus anak, malah selingkuh.”


“Iya Arimbi memang pinter ngurus diri dan ngurus anak tap ga becus ngurus suami,” tandas Arjuna muak disalahkan terus.


“Maksud kamu apa?” hardik Bu Tejo tak terima.


“Anak ibu ini kerjaannya cuma shoping, perawatan, mainan ponsel sama ngurus anak. Suaminya boro-boro diperhatikan. Tak pernah masak, tak pernah bikinin kopi atau cemilan. Makan suruh beli sendiri di luar. Terus kalau disuruh melayani kebutuhan biologis suaminya selalu menolak.” Tanpa sadar Arjuna maembuka kesalahan sang istri di depan mertuanya. Biar sang mertua melek mata jika perselingkuhan itu bukan seratus persen mutlak kesalahannya.


“Bicara kasar pada suami. Kalaupun bicara lemah lembut pada suaminya, saat gajian saja buat beli ini itu. Setelah dikasih duit, cuek bebek hingga gajian tiba. Emangnya aku mesin ATM yang ga punya hati?” imbuh Arjuna meluapkan semua isi hati.


Pak Tejo tertegun. Malu hati dengan kelakuan sang anak. Ia kira Arimbi itu mirip ibunya. Yang selalu patuh dan nrimo setiap pemberian darinya. Memang Pak Tejo dan Bu Tejo merintis usaha dari bawah. Saat susah dan senang, Bu Tejo selalu nurut dan lemah lembut kepadanya.


“Ya wajar aku Mas bersikap begitu. Perawatan biar aku selalu cantik demi kamu dan di depan teman-teman kamu biar ga malu-maluin kalau diajak ke luar. Terus kalau aku suka shoping dan main ponsel, ya itu hiburan karena aku capek seharian ngurus Nabila dan Fildan.” Arimbi membela diri.


“Sebaiknya kamu pikir lagi, rencanamu minta cerai pada Arjuna!” tukas Pak Tejo dengan suara datar jelas mengejutkan Arimbi.


Wanita dua anak itu memandang sang ibu yang hanya menunduk dengan keputusan Pak Tejo. Ia sangka, ayahnya akan setuju saja jika ia pisah dengan laki-laki yang sudah megkhianati cintanya.


*************


Gagal mengajak Arimbi pulang menyisakan gurat kecewa di wajah Arjuna. Laki-laki itu langsung ke rumah Nindi untuk mencari hiburan. Biasanya jika sedang galau, sang pacar itu pandai membuat hatinya terhibur.


“Kopinya, Mas!” Nindi meletakkan kopi hitam di meja.


“Trima kasih.” Arjuna langsung menikmati kopinya. Berharap kopi penuh cinta itu akan mengobati lara hatinya.


“Lesu banget?” tanya Nindi penuh perhatian.


“Mau aku pijitin?” tawarnya.

__ADS_1


“Boleh.”


Dengan sepenuh cinta, Nindi dengan lembut memijit pundak pacarnya. Berharap sentuhannya itu mampu mengurangi rasa lelah yang melanda dan membuat Arjuna makin mencintainya.


“Sudah, Yang!” ujar Arjuna yang terbangun dari tidur sejenak. Pijitan Nindi benar-benar melenakan.


“Udah enakan?” Nindi perhatian.


“Coba Arimbi selembut dan seperhatian seperti Nindi, pasti aku tak kan selingkuh,” bisik hati Arjuna tanpa lepas memandang sang pacar.


“Kok bengong?” Nindi menepuk paha Arjuna.


“Habisnya kamu cantik banget,” gombal Arjuna.


“Ah, Mas bisa saja!”Nindi tersipu. “Mas lagi mikirin apa? Mukanya tuh kusut banget?”


“Arimbi minta cerai,” ujar Arjuna lesu tapi menerbitkan mentari di wajah Nindi.


“Ya sudah Mas, ceraiin saja,” sahutnya cepat.


“Kan dia yang minta, jadi bukan salahmu.”


“Tapi aku ga ingin anakku hidup tanpa keluarga yang utuh,” jelas Arjuna.


“Ya, seiring waktu mereka juga nanti akan paham. Meski sudah pisah, Mas kan masih bisa menengok anak-anak setiap pulang kerja atau weekend,” nasihat Nindi makin membuat Arjuna terpesona.


“Makasih ya, Yang. Kamu memang paling bisa menentramkan hatiku.” Puji Arjuna sembari membelai jemari kekasihnya.


Suara motor butut bapaknya Nindi mengalihkan pandangan mereka. Tak berapa lama ayah dan ibu Nindi masuk ke dalam.


“Udah dari tadi, Pak,” jawab Arjuna sesudah bersalaman dengan mereka. “Kalau begitu saya pamit pulang dulu, ya!”


“Lho, ga makan dulu sama kita?” tawar ibu Nindi.


“Masih kenyang, Bu, terima kasih,” tolak Arjuna halus dan kemudian berlalu. Nindi mengantar Arjuna sampai ke depan dan mobil hilang dalam pandangan.


“Kapan Arjuna nglamar kamu?” tanya si bapak ketika anaknya sudah duduk bersama mereka lagi.


“Gau tahu, Pak,” jawab Nindi asal.


“Kok ga tahu?” cecar si ibu. “Kamu sudah ngomong belum kalau minta dinikahin?”


“Sudah tapi Mas Junanya ga bilang apa-apa.”


“Kamu tuh gimana sih, Nin?” umpat si bapak.


“Ngrayu satu laki-laki saja ga bisa. Kalau kamu nikah sama Arjuna hidupmu dan hidup orang tuamu itu terjamin. Hutang-hutang bapak, ibu akan lunas tanpa perlu kerja keras, banting tulang jadi buruh tani di sawah orang.”


“Tapi sabar dong, Pak!” hardik Nindi kesal disudutkan terus. “Nunggu Mas Juna cerai dulu sama istrinya, ntar juga nglamar aku.”


“Apa? Juna mau cerai sama istrinya?” tanya si ibu histeris. “Kamu ga bercanda kan?” si ibu itu memastikan.

__ADS_1


“Mas Juna sendiri kok yang bilang kalau istrinya minta cerai,” jawab Nindi makin membuat kedua orang tuanya bahagia.


“Pokoknya kamu pepet terus Arjuna jangan sampai lepas!” titah si bapak. “Dia mah tambang uang yang ga boleh terlepas.”


“Betul itu,” sambut sang istri.


**************


Arimbi terus terisak saat bercerita isi hati kepada Hana. Menumpahkan segala rasa yang berkecamuk dalam jiwa. Termasuk meminta cerai dari Arjuna.


“Yakin, kamu minta cerai?” Hana memastikan.


“Yakin, Mbak! Untuk apa coba rumah tangga dipertaruhkan jika sudah ada pengkhianatan,” jawab Arimbi emosi.


“Tapi perselingkuhan ini bukan seratus persen salah Arjuna.”


“Maksudnya?” Mata Arimbi menyipit. Tak percaya jika sang kakak masih sempat membela kelakuan minus suaminya.


“Seorang lelaki itu jika sudah tak dihargai dan disayang oleh istrinya, dia akan mencari kesenangan di tempat lain.”


“Maksud Mbak apa?” Arimbi malah emosi.


“Waktu kamu masih menumpang di sini dan Juna dipojokkan bapak ibu, dibanding-bandingin sama suamiku, kamu diam saja malah ikut sewot sama suamimu.”


“Terus saat suamimu sudah kaya kamu malah ga suka kalau dia ngasih nafkah ke Mbok Sam padahal Mbok Sam punya hak atas gaji suamimu. Kamu malah berusaha minta uang uantuk bapak ibu kita,” ujar Hana.


“Itu karena aku bosan dibanding-bandingin terus sama Mas Desta,” tukas Arimbi.


“Boleh kalau memang mampu. Tapi Mas Desta itu kalau ngasih uang bulanan sama mertuaku lima juta, jadi lebih banyak daripada ngasih ke ibu kita,” jawab Hana membuat Arimbi syok.


‘Mas Desta itu selalu menomorsatukan orang tua jadi rezekinya ngalir terus. Dan sebagai istri itu aku patuh banget sama dia jadi menambah rezeki kami berdua. Ga pernah aku membantah ucapan Mas Desta sekalipun itu bertentangan denganku.”


Arimbi tertegun. Malu setengah mati dengan kelakuannya selama ini di depan sang kakak. Ternyata ia salah besar memperlakukan suaminya. Tapi rasa sakit dikhianati lebih kuat untuk memutuskan berpisah daripada memperaiki hubungan yang sudah retak.


“Pokoknya aku tetap mau cerai!”


“Yakin mau cerai?” Hana memastikan. “Ngurus anak seorang diri itu ga gampang lho.”.


‘Maksudnya?”


“Kian hari anak-anak makin besar. Butuh biaya untuk sekolah dan ini itu. Kamu sanggup?”


“Bisa minta bantuan bapak dan ibu,” jawab Arimbi cepat.


“Yakin, ga malu jadi benalu?”


Arimbi menghela napas. Kesal dengan ucapan kakaknya namun membenarkan kalimat itu.


“Ya sudah, nanti aku kerja,” sahut Arimbi optomis.


“Mau kerja apa? Kamu kan cuma lulusan SMA? Kalau kerja, nanti siapa yang jaga Fildan? Ibu itu kan ga suka dengan anak kecil.”

__ADS_1


Arimbi mendengkus kesal. Merutuki nasib buruk yang menimpanya. Andai dulu dia tidak menikah muda mungkin sekarang karirnya akan secemerlang kakaknya yang lulusan Sarjana. Kehidupan layak akan ia genggam.


*****


__ADS_2