HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
KAWIN LARI


__ADS_3

Hari wisudapun tiba. Arjuna tampak gagah dengan seragam wisuda memegang toga. Senyum Mbok Sam sumringah saat menghadiri wisuda sang anak. Usaha bertahun-tahun tak sia-sia. Kini anaknya sudah menjadi sarjana dan siap menyongsong masa depan.


Wajah Mbok Sam berseri-seri saat berfoto berdua dengan anaknya. Ini yang pertama dan terakhir kalinya Mbok Sam menginjak sebuah kampus.


“Alhamdulillah Lhe, kamu sudah lulus.”


“Iya Mbok,” jawab Arjuna bangga.


“Semoga cepet dapat kerja dan cepet sukses,” harap Mbok Sam.


“Aamiin.”


*********


Arjuna sudah lulus kuliah. Ini waktu yang tepat bagi Arimbi untuk memutuskan tali asmara bersama pemuhda yang begitu ia cintai. Meski berat dan menyisakan luka, tapi ia harus melakukannya.


“Mas, ada yang ingin aku sampaikan padamu,” ujarnya saat ia mampu mencuri waktu dari pengawasan sang kakak.


“Apa?” tanya Arjuna dengan wajah berbinar.


Sekian lama tak bersua dengan pujaan hati, akhirnya hari ini mereka bisa melepas rindu.


“Aku ingin putus,” jawab Arimbi yang tak hanya menyakiti hati Arjuna namun juga menyakiti hatinya sendiri.


Binar bahagia di wajah Arjuna seketika redup. Pemuda miskin itu mengamati wajah kekasihnya lekat-lekat.


“Kenapa? Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?” tanya Arjuna meminta kepastian.


“Bukan itu,” kilah Arimbi. “Tapi orang tuaku tak setuju karena kita masih saudara.”


“Hanya itu kamu menyerah memperjuangkan cinta kita?” tukas Arjuna tak terima dengan alasan Arimbi yang terkesan klise.


“Aku tak ingin menentang orang tuaku.” Arimbi mulai terisak.


Arjuna meraih jemari kekasihnya lalu menempelkan di dadanya. Matanya penuh cinta menatap kekasih yang mulai menyerah.


“Jika kita terus memperjuangkan cinta kita, lambat laun orang tua akan meangerti jika cinta kita tak kan bisa dipisahkan. Dan pearcayalah, restu itu akan turun!” ucap Arjuna optimis cinta mereka nanti akan direstui orang tua Arimbi.


Arimbi menatap mata kekasihnya. Ada kesungguhan dan cinta yang teramat dalam dari tatapan itu. Yang akhirnya mampu meluluhkan hati gadis belia itu untuk tetap memperjuangkan cintanya.


Arjuan tersenyum. Direngkuhnya sang kekasih dalam pelukan. “Seumur hidupku aku akan selalu membahagiakanmu.”


*********


Kisah cinta antara Arimbi dan Arjuna yang terus berlanjut makin membuat murka orang tua Arimbi. Ternyata demi cinta, anak gadisnya tega mengingkari janji.


Tanpa pikir panjang, Pak Tejo dan Bi Tejo langsung pulang kampung dengan membawa jodoh yang lebih segalanya dari Arjuna. Lebih kaya, lebih tajir, lebih mapan. Kecuali satu, wajahnya tak setampan Arjuna.


“Sam , keluar kamu!” teriak Pak Tejo di depan rumah Biyung tanpa permisi.


Kemarahannya sudah membuncak sehingga tak memperdulikan lagi tata karma berkunjung ke rumah yang lebih tua yaitu rumah biyung.


Dari dalam Biyung dan Mbok Sam tergopoh-gopoh menyambut tamunya.


“Eh, Kang Tejo dan Yu Tejo,” sapa Mbok Sam halus. “Ayo, masuk dulu!”


“Tidak perlu!” tolak Bu Tejo ketus.


“Bilang sama anakmu untuk jauhin Arimbi.


Masih bau kencur saja sudah syok-syokan macarin anak orang!” sentak Pak Tejo.


“Ingat ya kalian itu miskin, jadi tak mampu menafkahi anak saya,” sambung Bu Tejo.


“Tapi Arjuna kan sudah lulus kuliah dan cari kerja. Insyaallah nanti kalau sudah kerja, pasti mampu membahagiakan Arimbi,” jawab Mbok Sam membela anaknya.


“Alah teori darimana?” sanggah Pak Tejo. “Sarjana itu belum jaminan hidup anakmu Juna, sukses.”

__ADS_1


“Tolong, beri waktu untuk Juna membuktikan kalau dia bisa sukses,” pinta Mbok Sam menukar harga dirinya.


“Kami ga punya waktu. Arimbi sudah saya jodohkan dengan anak Mbah Marto yang sudah sukses di Jakarta,” jawab Bu Tejo dengan senyuman sinis.


“Wo, dasar keluarga matre,” sembur Biyung yang akhirnya hilang kesabaran dengan tamunya.


“Matre itu perlu Yung, karena kebutuhan hidup makin hari makin mahal,” tukas Bu Tejo sengit.


*********


Mata Arimbi memicing melihat sebuah mobil yang masuk ke pekarangan rumah besarnya.


Seorang lelaki hitam keluar membawa sebuket bunga. Penampilannya tampak parlente dengan dompet tebal di saku belakang. Lelaki itu melempar senyum yang langsung disambut hangat oleh kedua orang tua Arimbi.


“Eh, Nak Doris.”


“Ini buat Dek Arimbi.” Doris menyerahkan buket bunga itu. Dengan kikuk dan tatapan tak suka, Arimbi menerima pemberian sang tamu.


“Ayo masuk!” Pak Tejo membawa tamunya ke ruang tamu yang diiikuti oleh yang lainnya.


“Dek Arimbi makin cantik saja,” puji Doris disambut Arimbi tanpa ekspresi.


Wajah gadis belia itu kaku. Tak ada senyum bahagia terpancar menyambut tamu kehormatan orang tuanya itu.


“Jadi kapan nih, Nak Doris mau bawa orang tua ke sini untuk melamar anak bapak?”


Bagai disambar petir di siang bolong, Arimbi seperti tersengat aliran listri mendengar pertanyaan itu. Rupanya tanpa sepengetahuannya, dia sudah dijodohkan dengan lelaki yang tak dicintainya.


“Saya terserah Dek Arimbi saja. Kapan mau menerima lamaran saya,” jawab Doris terus memandang wajah calon pengantinnya.


Sejenak Bu Tejo menatap wajah Arimbi yang tak suka dan kaget dengan perjodohan ini.


“Kalau Arimbi kapan saja juga siap dilamar,” jawab Bu Tejo makin membuat lara hati anaknya.


“Baik. Secepatnya saya akan bawa orang tuanya ke sini,” jawab calon suami Arimbi itu mantap.


“Ibu sama bapak, kenapa tak bilang-bilang Arimbi dulu tentang perjodohan ini?” tanya Arimbi yang tak terima dengan keputusan orang tuanya yang sepihak.


“Untuk apa? Kalai kamu tahu perjodohan ini, kamu juga akan menolak,” jawab Pak Tejo.


“Kalau tahu Arimbi menolak, kenapa bapak dan ibu masih memaksakan ini?”


“Ya, agar kamu tak diganggu lagi sama Juna,” jawaban Bu Tejo menghadirkan hujan air mata di wajah cantik Arimbi.


“Tapi Bu, aku masih ingin sekolah. Masih ingin kuliah,” debat Arimbi.


“Sudah terlambat,” tukas Bu Tejo. “Karena kamu ngeyel tetap pacaran dengan Juna, tak bisa dibilangin, yow is mending kamu nikah saja sama orang kaya. Sudah ketahuan mapan, hidupnya enak. Jadi kamu ga usah susah-susah cari duit lagi.”


“Bapak dan ibu jahat!” tukas Arimbi berlalu ke kamar. Terdengar pintu dibanting.


**********


“Lhe, sebaiknya kamu fokus cari kerja dan jangan mikirin Arimbi lagi,” ujar Mbok Sam memberi wejangan pada anak sulungnya.


“Memang kenapa, Mbok?” tanya Arjuna curiga. Tak seperti biasanya Mbok Sam bicara dengan wajah sedih.


“Arimbi sudah dijodohkan dengan anaknya Mbah Marto yang sudah sukses dan hidup mapan di Jakarta,” jawab Biyung mendahului Mbok Sam.


Wajah Arjuna seketika panik. Jika ia tidak bertindak cepat bisa-bisa cintanya direbut orang.


Malam itu Arjuna tak bisa memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi rasa takut kehilangan Arimbi. Jika ia meminta restu orang tua Arimbi jelas ia akan ditolak mentah-mentah. Secara saingan cintanya orang berduit.


Arjuna memutar otak. Mencari jalan untuk menyelesaikan masalahnya. Keinginannya cuma satu, bisa hidup selamanya dengan Arimbi meski itu harus menentang orang tua dan adat istiadat.


Sebuah ide nekat muncul di benak. Meski akan melukai banyak orang, tapi ia tetap melakukannya. Karena ini jalan satu-satunya untuk memperjuangkan cinta mereka.


************

__ADS_1


Keesokan harinya, ia bertandang ke rumah Satria_teman kampusnya di daerah Selogiri. Kebetulan ayah Satria ini punya usaha pegadaian yang tak resmi. Arjuna berniat menggadaikan motornya yang baru saja lunas untuk modal melancarkan aksi nekatnya.


Setelah tawar menawar yang cukup alot dan dibantu oleh Satria, akhirnya motor Arjuna digadai seharga lima juta rupiah. Dengan bahagia, Arjuna menerima uang yang dianggapnya cukup.


“Aku pinjem dulu ya motornya, buat jemput Arimbi!” pinta Arjuna yang diiyakan Satria.


“Sukses ya Bro!” Satria ikut menyemangati sahabatnya. Pemuda itu salut dengan pengorbanan cinta sahabatnya yang luar biasa.


*******


Sesampainya di rumah Arimbi, rumah tampak sepi. Tetangga kanan kiri juga tak kelihatan. Maklum warga sedang disibukkan dengan hajatan anak Pak Lurah yang digelar besar-besaran dengan mendatangkan wayang dan sinden.


Dengan mengendap-endap, Arjuna menghampiri jendela kamar kekasihnya. Lalu mengetuk-ngetuknya.


“Arimbi, Arimbi,” ucap Arjuna setengah berbisik.


Tak berapa lama Arimbi membuka jaendela. Binar kebahagiaan terlihat jelas di wajah.


“Mas Juna.” Arimbi melebarkan jendela agar kekasihnya bisa masuk ke kamar.


“Kemasin barang-barangmu sekarang!” titah Arjuna yang membuat Arimbi bingung.


“Mau kemana kita?”


“Pergi dari sini!”


“Tapi kalau ketahuan bagaimana?” Arimbi diselimuti rasa takut.


“Kalau mereka menemukan kita, kita pastinya sudah menikah.”


“Maksud kamu, kita kawin lari?" Arimbi terperanjat.


Kumbang meraih jemari kekasihnya lalu menatapnya erat-erat. “Kita terpaksa melakukan ini agar tidak ada yang memisahkan kita lagi.”


“Tapi kita mau kemana Mas?” tanya Arimbi mulai terbujuk ajakan Arjuna.


“Ke Jakarta. Kita minta dinikahkan sama Pakde Mukidi.”


Arimbi segera memasukan baju-baju ke dalam tas. Tak lupa memasukan barang-barang yang diperlukan. Gadis itu manut saja dengan ajakan kekasihnya. Bayangan selalu hidup bahagia bersama sang kekasih, membuatnya berani meninggalkan rumah.


**********


Arjuna mengembalikan motornya kepada Satria. Dengan setia pemuda itu mengantar temannya ke terminal bus Selogiri. Tampak bus yang ditunggu datang. Segera Arjuna pamit.


“Makasih ya, atas semua bantuannya,” ucap Arjuna.


“Salut aku sama cinta kalian. Tak terpatahkan dengan segala cobaan yang menghadang,” ucap Satria terharu dengan perjuangan cinta sahabatnya.


Bus Gunung Mulya itu membawa Arjuna dan Arimbi menjauh dari orang-orang yang menghalangi cinta mereka. Genggaman tangan Arjuna terasa hangat oleh Arimbi. Mereka tersenyum bahagia, masih bisa bersama melewati ujian cinta ini.


***********


Pak Tejo marah besar mendapati kabar jika Arimbi kabur dengan Arjuna. Dengan amarah ia mendatangi rumah Biyung dan memaki-maki Mbok Sam sesuka hatinya.


“Sam, dimana Arjuna menyembunyikan Arimbi.”


Biyung dan Mbok Sam serta warga sekita terkejut dengan kehadiran Pak Tejo. Kerumunan warga tampak di rumah sederhana itu.


“Maksud kakang apa?” tanya Mbok Sam tak mengerti.


“Anakmu sudah bawa kabur anakku!” Dada Pak Tejo naik turun menahan amarah.


“Ya ampun Gusti. Nekat banget Arjuna itu!” pekik Mbok Sam histeris.


“Anakmu itu memang kurang ajar,” umpat Pak Tejo geram.


“Jangan salahin cucuku. Anakmu itu juga kegatelan,” sanggah Biyung yang tak terima dengan umpatan Pak Tejo.

__ADS_1


*************


__ADS_2