HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
HUTANG BANK


__ADS_3

Arjuna gagal membujuk Mbok Sam dan Mentari utnuk menjual rumah atau sawah warisan Biyung. Pemuda itu tampak kusut dan bermuram durja saat kembali ke rumah sang mertua.


“Gimana, Simbok mau menjual rumahnya?” todong Arimbi setibanya sang suami.


Arjuna menggeleng. Arimbi mendengus kesal dengan melipat tangan ke dada.


“Sudah kuduga, keluargamu tak mau bantu,” tuding Arimbi dengan marah. “Anaknya punya hutang kok Simbok itu ga punya empati untuk bantu lunasin.”


“Belum lagi Mentari, anak kecil tapi mulutnya kayak ga pernah disekolahin,” umpatnya lagi.


“Sekarang kamu tahu kan Mas, keluargaku lebih peduli sama hidup kita,” puji Arimbi.


“Tidak seperti keluargamu yang ga punya hati sama sekali,” tandasnya makin bikin pusing Arjuna.


“Ya, sudah sekarang kalau begitu mintain sama bapak ibu kamu uang lima belas juta buat bayar utang!” tantang Arjuna dengan ucapan istrinta.


Seketika Arimbi gelagapan. Mukanya terlihat bingung.


“Ya, ga bisa githu dong, Mas!” sanggah Arimbi.


“Kemarin kan kita sudah dibantu sepuluh juta, masa iya sekarang minta lagi. Mau ditaruh si mana mukaku?”


“Lho, katanya keluargamu peduli ma kita?” sindir Arjuna. “Ya sudah, sono minta bantuan sama mereka.”


“Lha, yang punya hutang kamu kok aku yang repot nyari bantuan?” gerutu Arimbi.


**************


Arjuna terus membujuk Mbok Sam untuk mau menjual rumahnya. Namun wanita single parents itu terus menolak. Bukan tak kasihan dengan kesusahan sang anak. Namun jika menjual rumah, ia mau tinggal di mana. Rumah sederhana ini satu-satunya tempat berteduh dari panas dan hujan.


“Mbok, kalau begitu aku pijam sertifikat rumah ini untuk jaminan bank!” pinta Arjuna.


“Kamu mau pinjam bank, Lhe?” Mbok Sam memastikan.


“Mau gimana lagi, Mbok,” keluh Arjuna. “Cari pinjaman ke mana-mana ga dapat. Sedang hutang harus segera dibayar.”


“Terus nanti bayarnya gimana?” Mbok Sam khawatir.


“Aku kan masih kerja, Mbok. Masih punya gaji untuk bayar angsuran.” Arjuna menyakinkan Mbok Sam yang begitu takut ia ingkar janji.


“Tapi beneran ya Lhe, nanti diangsur tepat waktu. Jangan sampai telat bayarnya apalagi rumah ini disita bank!” Mbok Sam wanti-wanti.


“Iya, Mbok,” janji Arjuna.


Akhirnya pinjaman bank sebesar lima belas juta cair dengan angsurang satu juta lima ratus ribu selama setahun. Arjuna bernapas lega karena hutangnya ke rentenir dan bandar judi sudah lunas tak bersisa.


*****************


Enam bulan berlalu. Perusahaan tempatnya Arjuna dinyatakan bangkrut hingga tak mampu memberi pesangon kepada karyawannya.

__ADS_1


Semua pekerja marah termasuk Arjuna. Namun apa daya sumpah serapah mereka tak membuahkan hasil. Pesangon tetap saja tak terbayarkan.


“Kok, sudah pulang, Mas?” tanya Arimbi saat tengah hari sang suami sudah di rumah.


“Perusahaan bangkrut. Semua karyawan dipecat,” keluhnya membuat Arimbi syok.


“Hah?!” teriaknya histeris. “Tapi masih dapat pesangon kan, Mas?”


“Boro-boro pesangon,” gerutu Arjuna. “Ini dapat gaji saja sudah untung.”


“Bagaimana nasib kita kalau kamu dipecat?” keluh Arimbi sembari menepuk-nepuk jidat.


“Pengeluaran kita banyak. Bayar sekolah Nabila, angsuran rumah, beli susu, belum angsuran bank.”


Arimbi benar-benar gusar dengan hidupnya sekarang. Pekerjaan ga punya. Tabungan ga ada. Namun hutangnya ada di mana-mana.


********************


Hitungan bulan Arjuna mencari pekerjaan ke sana ke mari. Namun nasib baik belum menaunginya. Sedang keuangan terus menipis. Selama tiga bulan ia tak mampu bayar cicilan hutang bank sehingga menimbulkan masalah baru. Pihak bank mendatangi rumah Mbok Sam dan mengancam akan menyita rumah jika tunggakan tidak segera dibayar beserta bunganya.


“Mas, kenapa ini cicilan bank belum dibayar?” tanya Abimanyu yang sengaja bertandang ke rumah kakaknya.


“Gimana aku mau bayar, pekerjaan saja aku ga punya,” keluh Arjuna.


“Tapi kalau Mas ga bayar, bisa-bisa rumah Simbok di kampung disita bank.”


Abimanyu terbelalak. Dia tak menikmati uangnya kenapa harus yang bayar.


“Iya, Bim, tolongin Mas kali ini saja. Kamu kan punya gaji, sedang ekonomi Masmu ini sedang morat marit.” Arjuna berusaha membesarkan hati Abimanyu.


Anak kedua Mbok Sam itu menghela napas. Dipaksakan juga pasti Arjuna tak kan bisa membayar cicilan itu. Biarlah dia yang mengalah membayar hutang itu agar rumah masa kecilnya tak jatuh ke pihak bank.


****************


Lambat laun karma yang diucapkan Marni saat Arjuna liburan ke Parangtritis tanpa Mbok Sam dan Mentari menjadi kenyataan. Kehidupan Arjuna yang serba mewah kini lenyap sudah.


Tagihan hutang bertubi-tubi membuat harta-harta yang ia miliki terjual tak bersisa. Hanya tinggal rumah tempatnya berteduh yang juga akan diambil pihak bank karena berbulan-bulan tidak bayar angsuran.


“Pak, tolong jangan lelang rumah ini!” pinta Arimbi mengiba pada dua perugas bank yang datang ke rumah.


“Saya janji, secepatnya akan bayar angusuran rumah!” janji Ajuna yang ikut memelas saat rumahnya sudah ditempel stiker ‘RUMAH INI DISITA BANK’.


“Masih ada batas waktu sampai akhir bulan Pak, untuk melunasi tunggakan selama enam bulan beserta bunganya!” Petugas menegaskan kemudian berlalu.


“Bagaimana ini Mas, kalau rumah beneran disita bank? Kita mau tinggal di mana?” keluh Arimbi terduduk lemas di sofa.


“Kita pinjam ke ibu dan Mas Desta,” usul Arjuna.


Dengan menanggalkan rasa malu, mereka megutarakan isi hati. Namun sayang bukan pinjaman yang mereka dapat tapi caci maki yang begitu pedih di hati.

__ADS_1


“Kalian mau pinjam uang?” cecar Pak Tejo.


“Mau bayar pakai apa? Kerjaan saja Arjuna ga punya?”


“Secepatnya kalau dapat kerja, aku ganti Pak!” janji Arjuna.


“Uang dua belas juta banyak lho, Jun. Takutnya kalau ibu pinjemin, uangnya ga kembali,” tukas Bu Tejo.


Gagal pada usaha pertama, Arjuna dan Arimbi mencoba meminjam kepada Desta, si ipar yang kaya.


“Wah, maaf ya Jun, uangku sudah habis buat beli tanah di samping jalan raya itu,” ucap Desta enteng.


“Mas, coba pinjam Abimanyu!” bujuk Arimbi.


“Pasti uangnya banyak.”


Meski ragu dengan usulan istrinya, namun kaki pasutri itu tetap melangkah ke ‘BAKSO CINTA’.


“Bim, tolong pinjamin uang dua belas juta untuk bayar angsuran rumah!” pinta Arjuna.


“Kalau sampai akhir bulan ini tak dibayar, rumah akan disita , Bim.” Ucap Arimbi memelas.


“Kalau uang segithu aku ga punya, Mas,” jawab Abimanyu.


“Kamu bisa kas bon dulu sama Mbak Marni dan Mas Yadi. Mereka itu kan baik. Pasti bolehlah kamu berhutang jika cuma uang segithu,” bujuk Arjuna.


Abimanyu sejenak berpikir. Baru kemarin ia selesai membayar cicilan hutang bank. Jika ia pinjam lalu potong gaji, ia tidak bisa kirim kampung untuk biaya sekolah Mentari dan makan Mbok Sam.


“Maaf Mas, aku ga bisa.” Abimanyu masih menolak.


“Masa kamu ga kasihan ma Masmu tho, Bim!” kali ini nada bicara Arimbi mulai menyudutkan.”Kalau sampai rumah itu disita bank, aku dan Masmu mau tinggal di mana?” curhat Arimbi yabg sebenarnya membuat pilu hati Abimanyu.


“Maaf Mbak, bukannya aku tak mau bantu. Kalau aku pinjam bisa saja sih potong gaji.”


“Nah itu kamu bisa,” potong Arimbi bersemangat. “Ayolah tolongin!” paksanya.


“Tapi kalau potong gaji, aku ga bisa kirim ke kampung utnuk biaya sekolah Mentari dan makan Mbok Sam.” Abimanyu mengutarakan alasan yang membuat Arimbi naik pitam.


“Simbok sama Mentari ga usah dikirim dulu. Bantuin kita dulu!” tukas Arimbi membuat Abimanyu terhenyak. Tak menyangka iparnya berani berkata sekasar itu.


“Bawa pulang Mbak Arimbi, Mas!” titahnya ketus. “Aku lebih mentingin keluargaku daripada orang lain.” Abimanyu berlalu. Rupanya anak Mbok Sam itu tersinggung dengan sikap dan ucapan iparnya.


Sebenarnya Abimanyu sudah lama memendam kecewa pada Arjuna dan Arimbi. Saat mereka di atas, mana pernah ingat dengan Mbok Sam. Caci maki akan sprei yang ia dengar dari Mentari saja sudah membuatnya sakit hati.


Belum hutang bank yang tidak bisa ia bayar dan kemudian menjadi bebannya. Eh, sekarang dengan mudahnya menyuruh menyetop memberi nafkah kepada orang tuanya sendiri.


Karma itu berlaku meski orang tua tak meminta. Karena Allah tidak menyukai anak-anak yang melupakan jasa orang tua dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2