
Malam itu Mbok Sam masih asyik menyulam ketiak dasternya yang bolong. Tampak di sampingnya duduk masih ada dua celana bolong yang minta dijahit. Kalau ga salah daster dan celana itu ia beli dua tahun yang lalu. Untuk sebagian orang, mungkin baju yang sudah bolong seringnya dibuang. Tapi kalau buat Mbok Sam, baju bolong seringnya dijahit lagi biar bisa dipakai lagi.
Bukan Mbok Sam tak mampu membeli baju untuk sehari-hari. Bahkan di lingkungan kontrakan kumuh Mbok Sam tinggal, banyak tukang kredit yang menawarkan kredit berbagai macam kebutuhan seperti baju, sandal, tas, barang-barang elektronik dengan cicilan dua ribu per hari. Namun sayang Mbok Sam hanya menjadi penonton. Baginya daripada untk kredit baju, lebih baik uangnya untuk kirim kampung dan biaya kuliah anaknya.
“Daster, daster, dua ribuan!” teriak si Mamang tukang kredit siang itu.
Ibu-ibu yang sedang asyik ngerumpi berhamburan menyerbu. Dengan sigap mereka memilih-milih daster, baju, celana.
“Ini berapa, Bang?” tanya seorang wanita menunjukkan daster lengan panjang.
“Sembilan puluh ribu rupiah.”
“Y sudah catet ya, Bang! Nih saya angsur dua ribu.” Wanita itu merogoh saku celananya.
“Saya juga catet, Bang!” jawan seorang ibu berbadan gempal sambil menyodorkan uang dua ribuan.
“Saya juga ya,” lanjut ibu berbadan kerempeng.
“Mbok Sam, ga ngambil daster atau baju?” tawar si Mamang kredit. “Murah lho Mbok, cuma dua ribuan saja.”
“Ayo Mbok Sam, beli! Daripada jahitin baju mlulu. Yang udah bolong mah buang saja!” seru si pemilik daster panjang.
“Ga ah Mbak, sayang uangnya,” jawab Mbok Sam menahan diri. Sebenarnya ia naksir salah satu daster tapi ia tahan.
“Jangan pelit-pelit jadi orang Mbok Sam. Duit ga dibawa mati kok, Mbok!” seru ibu yang lain membuat Mbok Sam sedikit sewot.
Mbok Sam hanya bisa menghembuskan napas kasar. Rezeki kecil sepertinya harus membuatnya pintar-pintar menyimpan uang.
Kuliah Arjuna masih panjang. Belum lagi biaya sekolah Mentari. Bersyukur ia punya mertua yang nrimo berapa saja saat ia kirim kampung.
Kadang Mbok Sam harus bermuka tembok di depan Ratmi dan anak-anak Ratmi. Dianggap pembantu oleh adik sendiri itu sungguh menyiksa. Tapi apa mau dikata. Dari belas kasihan adiknya itu pula ia bisa menghemat beberapa kebutuhan pokok.
“Mi, ini daster buat aku saja ya! Aku sudah ga punya daster buat sehari-hari,” ucap Mbok Sam sesudah melipat jemuran kering satu keluarga itu.
“Ah bude, minta mlulu kerjaannya,” tukas anak bungsu Ratmi.
“Jangan Yu, itu masih baru.” Ratmi menyamber dasternya. “Lagian kalau pingin baju ya beli sendirilah.”
“Mana aku punya duit Rat. Kuliah Arjuna saja sudah nguras kantong,” keluh Mbok Sam.
“Lagian, orang susah kok dipaksain kuliah tho?” sambung suami Ratmi.
__ADS_1
“Ya, namanya cita-cita anak, ya harus didukung,” jawab Mbok Sam.
“Cuciin piringku itu dulu di dapur! Nanti aku kasih daster bekas,” perintah Ratmi yang langsung diiyakan Mbok Sam.
**********
Mbok Sam baru saja selesai membungkus kacang goreng dan krupuk gendar untuk dijual besok. Selain jamu, Mbok Sam memang membawa cemilan untuk dijual. Untungnya lumayan karena hanya bermodal minyak goreng dan plastik saja. Maklum karak gendar itu ia bawa sendiri dari kampung. Sedang untuk kacang goreng, kacang tanahnya ia minta dari warung Ratmi sebagai upah dia bantuin di warung dan di rumah.
Banyak sih yang bilang kalau Mbok Sam itu clamitan. Ngemis-ngemis sama saudara sendiri. Jualan ga modal. Kalau ditanggepin mungkin makan hati. Tapi untung Mbok Sam slow saja menghadapinya. Yang penting ia tidak nyuri dan tidak merugikan orang lain. Toh, ia minta-minta kepada adiknya bukan asal minta tapi ia tukar dengan tenaga.
“Jamu…jamu..jamu…” Suara Mbok Sam nyaring menyusuri gang kecil di sudut ibu kota. Ibu kota yang megah itu tak lain kumpulan gang kelici dengan rumah berdempet tak beraturan.
Tak ada lagi lahan kosong atau tanah lapang untuk bermain sepak bola. Semua sudah dibangun rumah sepetak tanpa jarak.
“Mbok Sam jamu,” teriak Bu Haji.
Mbok Sam segera menghampiri rumah besar, juragan kontrakan itu. Menyeduh jamu galian singset. Dan dua anak bu haji selalu minum kunir asem biar tetap langsing.
Seusai mebayar Bu haji memberikan bungkusan plastik hitam ke Mbok Sam.
“Kemarin saya beli stelan atas bawah buat sehari-hari. Tahunya kesempitan Mbok Sam. Sepertinya buat Mbok Sam ini muat lho.”
“Masyaallah, makasih ya Bu Haji.” Mbok Sam membuka plastik. Tampak dua pasang stelan masih terbungkus plastik.
“Aaminn,” Bu Haji mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
********
Mbok Sam terlihat segar dengan stelan baju dari Bu Haji. Baju itu nyaman sekali dipakai meski tebal bahannya. Maklum baju mahal.
“Wah, Mbok Sam beli baju baru nih?” goda salah satu tetangga berbadan gempal membuat Mbok Sam senyam senyum.
“Katanya ga punya duit, tahu-tahu malah beli baju baru,” cibir tetangga kerempeng.
“Gayanya Mbok, Mbok ga mau kerdit-kredit,” ujar yang lain tak mau kalah.
“Ini dikasih ibu-ibu sama langganan saya,” jawab Mbok Sam.
“Baik bener langgananmmu, Mbok. Seumur-umur aku ga pernah dikasih sama langgananku meski daster bekas,” seru tetangga kerempeng.
“Lha ini dikasih baru,” ujar tetangga berbadan gempal iri.
__ADS_1
“Kalau rezeki ga ketukar kan, Bu,” gurau Mbok Sam membuat ketiga tetangganya keki.
*******
“Mie ayam satu ya Mas, pakai pangsit!” pesan si Mamang kredit baju.
Si Mamang ini langganan mie ayam buatan Abimanyu. Biasanya kalau ga ada Abimanyu ia akan pesan bakso.
Melihat gerobak Mamang di depan, beberapa karyawan bakso menghampiri dan memilih-milih baju. Ada daster, celana kolor, kemeja, stelan baju, pakaian dalam dan gamis juga. Gerobak Mamang asli sunda ini termasuk lemgkap daripada yang lainnya. Harganyapun lebih terjangkau.
“Catet ya Bang!” ucap seorang karyawab mendekatinya.
Si Mamang segera mencatat biar tak terlupa.
“Dua ribuan ya per hari.”
“Sipp.”
Si Mamang melanjutkan makan hingga mie habis tak bersisa. Segera ia menghabiskan es tawarnya.
“Kamu ga ambil Bim?” tanya si Mamang.
“Bajunya masih ada, Mang.”
“Gamis buat ibumu mungkin,” tawar si Mamang langsung menarik perhatian Abimanyu.
“Iya ya. Simbok sepertinya ga punya baju.” Bergegas ia memilih-milih gamis. Dua gamis berbeda motif menarik perhatiannya.
“Ini berapa, Mang?”
“Buat kamu, dua gamis dua ratus ribu saja.
Biasanya kalau sama orang itu saya jual dua ratus lima puluh ribu,” jawab si Mamang.
“Dua ribuan juga kan?”
“Yupz,” jawab Mamang tersenyum.
“Catat ya Mang!” Abimanyu mengeluarkan dua ribuan dari saku celana.
“Siap.”
__ADS_1
**********