
Setiap pagi Arjuna selalu bersemangat mencari pekerjaan. Meski belum mendapatkan hasil, pemuda itu tak putus asa. Berbekal uang seratus ribu, sisa dari uang popok pemberian Mbok Sam, ia mencari peruntungan. Selalu pulang dengan tangan kosong dan kegagalan, membuatnya lebih suka pulang ke kontrakan Mbok Sam untuk makan dan istirahat sejenak. Karena ia tahu, di rumah besar mertuanya dia sama sekali tak dapat jatah makan.
“Belum dapat kerjaan juga, Lhe?” tanya Mbok Sam sesudah anaknya makan. Secangkir kopi hitam dan pisang goreng yang baru diangkat dari penggorengan, ia suguhkan untuk teman ngobrol.
“Belum, Mbok,” jawab Arjuna mulai menikmati hidangan itu.
“Sabar ya! Nanti juga dapet,” hibur Mbok Sam.
Mbok Sam tak mempersalahkan jika setiap hari Arjuna makan di tempatnya. Dia juga tak bertanya mengapa Arjuna begitu. Baginya memberi makan pada anak adalah kewajiban orang tua.
Menantu Biyung itu juga tak pernah bertanya soal rumah tangga anaknya serta perlakuan mertua Arjuna. Karena menurutnya, itu masalah pribadi yang tak perlu ia ketahui jika anaknya sendiri enggan bicara.
**********
Malam ini Arimbi merasakan sakit perut seperti biasa. Perutnya terasa diremas-remas tak karuan. Rasa ingin buang air besar tak tertahankan.
“Mas, mas!” teriaknya sambil senderan di ranjang.
“Ada apa, Dek?” tanya Arjuna yang baru masuk ke kamar.
“Perutku sakit sekali.” Tampak cairan bening mulai merembes dari jalan lahir.
“Jangan-jangan kamu mau lahiran, Dek!” Arjuna panik. “Ayo, kita ke bidan!”
“Ada apa ini?” tanya Bu Tejo yang melihat Arimbi kesakitan ke luar kamar. Wajahnya pucat pasi.
“Arimbi mau lahiran, Bu!”jawab Arjuna segera.
“Ya sudah, ayo kita ke Bu Bidan! Paijo!” teriak bos besar itu.
Tampak Paijo datang tergesa-gesa.
“Siapkan mobil. Antar kita ke Bu Bidan!” perintahnya.
Sesampainya di klinik bersalin, dengan sigap Bu Bidan langsung menangani Arimbi. Dengan sabar dan telaten, beliau membimbing Arimbi untuk kuat mengeluarkan anaknya.
Sedikit gemetar, Arjuna mememani sang istri tercinta. Cengkeraman Arimbi yang begitu kuat di lengannya karena menahan sakit, tak sedikitpun membuat pemuda itu berkeluh kesah.
“Ayo Sayang, sedikit lagi!” teriak Arjuna gemas saat rambut si dede sudah menyembul di jalan lahir.
Arimbi kehabisan tenaga membuat sang bayi masuk lagi. Napas gadis itu ngos-ngosan. Segera Bu Tejo memberika teh manis hangat untuk memulihkan tenaga.
“Kita mulai lagi, Mbak!” titah Bu Bidan sesudah istirahat beberapa menit.
Bidan tua yang masih kelihatan cantik itu membimbing Arimbi kembali. Dengan telaten dan sabar dia mendampingi saat Arimbi kehabisan tenaga. Baru tiga puluh ment kemudian, seorang bayi mungil lahir ke dunia dengan tangisan luar biasa.
“Oek..oek..oek..”
Suara tangis itu membuat Arimbi dan Arjuna mengharu biru.Dada mereka berdebar-debar. Tangis mengucur dari kelopak mata Mereka tak menyangka jika kini sudah menyandang status orang tua. Tangis Arimbi pecah, saat bayi mungil itu diletakkan di atas dadanya dan mencari-cari sesuatu sebagai sumber pertama kehidupan.
__ADS_1
Dengan nikmat bayi tak berdosa itu menghisap colostrum dari ASI sang ibu. Setelah rapi dibedong, Bu Bidan menyerahkan bayi mungil itu untuk diadzani.
Rasa haru menyelimuti hati Arjuna saat mengadzani sang anak. Bayi mungil berkelamin perempuan itu sungguh cantik mirip sang ibu.
“Mbak, Arimbi nginap semalam ya di sini! Besok pagi sudah boleh pulang kok!” ucap Bu Bidan sebelum berlalu.
“Kalau begitu, Ibu pulang ya! Besok baru jemput kalian!” pamit Bu Tejo elmah lembut.
Juragan toko itu mencium cucunya yang sedang tertidur di box bayi. Pintu tertutup lagi.
“Kamu istirahat ya, Dek!” Arjuna mengelus rambut sang istri yang tampak kelelahan sesudah melahirkan.
Setelah Arimbi dan anaknya terlelap, Arjuna tidur di bawah tanpa alas. Ia menatap langit-langit kamar. Sesuatu melintas di pikirannya.
“Bagaimana aku bayar biaya persalinan? Uang saja aku tak pegang?” pikirnya bingung tentang esok hari.
*************
Arjuna mengemasi barang-barang. Tampak Arimbi sedang menyusui sang buah hati. Sang bidan masuk ke dalam dan menyodorkan secarik kertas.
“Bayarnya ke kasir ya, Mas!” ucap Bu Bidan sopan sebelum berlalu.
Seketika wajah Arjuna pucat pasi. Ke mana ia harus mencari uang satu juta lima ratus ribu untuk biaya persalinan. Hanya dua puluh ribu, uang yang di saku celana.
“Kenapa, Mas?” pertanyaan Arimbi membuyarkan lamunan Arjuna.
“Ya sudah bayar, Mas!” perintahnya gampang.
“Masalahnya, Mas ga punya duit, Dek.”
“Mas, ga bisa diandelin banget sih jadi suami?” umpat Arimbi kesal.
Bayangan bayi ga bisa dibawa pulang kalau belum ditebus seperti yang bersliweran di televise memenuhi ruang imajinasi.
“Mau gimana lagi Dek, mas kan belum kerja.”
“Ya sudah usaha! Jangan diam saja!” bentak Arumbi kalut.
“Ya, sudah, Mas pinjam dulu ke Simbok atau Bima ya!” hibur Arjuna menenangkan Arimbi yang mulai menangis.
“Ada apa ini?” tanya Bu Tejo yeng sudah berada di antara mereka. “Kok Arimbi nangis?”
selidiknya pada mantu dan anaknya.
Arimbi memberikan secarik kertas itu kepada Bu Tejo.
“Ya sudah tinggal bayar,” ucap Bu Tejo gampang.
“Masalahnya, Mas Juna ga punya uang, Bu!” jawab Arimbi malu-malu.
__ADS_1
Bu Tejo membuang napas kasar. “Kamu punyanya apa sih, Juna? Modal dengkul doang kamu itu!”
“Ini mau pulang dulu! Minta uang Simbok.” Arjuna mencoba membela diri.
“Udah ga usah!” tepis Bu Tejo. “Belum tentu Mbokmu punya duit!” ejeknya lalu melenggang dengan membawa secarik kertas itu.
“Kamu itu ya, Mas, bisanya cuma bikin aku malu saja di depan bapak dan ibu.” Umpat Arimbi kesal.
“Orang yang aku perjuangkan habis-habisan di depan mereka malah sekarang seperti mayat hidup yang ga berguna.”
“Aku nyesel nikah sama kamu.”
“Kalau aku tahu bakal begini jadinya rumah tangga kita, aku mending nurut sama bapak dan ibu untuk ninggalin kamu.”
Arjuna terdiam. Kata-kata itu betul-betul menghunus hatinya. Di saat ia sedang terpuruk, berjuang mencari pekerjaan ke sana kemari, tak dihargai di mata mertua, dibiarkan kelaparan di rumah mertua, kini istrinya dengan gampang menyesali pernikahan ini. Pernikahan yang didasari cinta tapi tanpa harta.
*************
Kelahiran Nabila memberi rezeki tersendiri untuk orang tuanya. Para kerabat Arimbi yang notabene orang kaya memberikan hadiah berupa kado. Ada juga yang memberikan amplop untuk membeli susu dan pampers Nabila.
Siang itu Mbok Sam dan Arjuna juga menjenguk Nabila. Mata wanita tua itu berbinar mendapati wajah ayu sang cucu.
“Cantik banget cucuku. Putih.” Mbok Sam gemas pada cucu pertamanya sehingga ia menciumi bayi mungil itu berulang-ulang.
Terlihat Arimbi tak suka dengan perlakuan mertuanya itu. Dia berprangsangka sang mertua hanya membawa virus karena berasal dari tempat kumuh.
“Arimbi, kamu harus banyak makan. Pakai sayur, makan buah, banyak minum air putih.” Nasihat Mbok Sam panjang lebar.
“Iya,” jawab Arimbi datar.
Di rumah besar itu Mbok Sam diacuhkan oleh besan dan menantunya. Tapi rasa kangen pada sang anak membuatnya betah ngobrol hingga ashar. Bergegas Arjuna mengantar ibu dan adiknya ke depan.
“Ini, Nak buat beli bedak Nabila!” Mbok Sam memberikan amplop ke tangan Arjuna.
“Ini juga dari aku, Mas untuk beli baju Nabila!” Abimanyupun menyisipkan amplop di telapak tangan kakaknya.
“Makasih ya Mbok, Bim.” Ucapnya kemudian.
Arjuna kembali masuk ketika tubuh ibu dan adiknya sudah tak tampak. Terlihat Arimbi sedang menghitung amplop sumbangan para tamu.
“Tuh Mas, semua kado dan uang ini dari saudara-saudaraku,’ ucap Arimbi bangga.
“Simbok dan Bima datang ke sini masa iya cuma bawa pisang dan jeruk doang!” cibirnya menyisakan perih di hati Arjuna.
Sejatinya amplop dari Simbok dan Abimanyu itu akan ia kasih ke sitrinya. Namun karena istrinya tak menghargai kehadiran keluarganya, niat itu ia urungkan. Lebih baik uang yang diberi itu ia simpan untuk ongkos mencari kerja.
“Maafkan aku, Mbok, Bim,” ucap Arjuna lirih dalam hati.
*****
__ADS_1