
Abimanyu_anak kedua Mbok Sam. Biasa dipanggil Bima. Kadang orang menjulukinya Hanoman Obong karena hobinya suka menirukan gaya tokoh pewayangan itu.
Sebutan itu juga tanpa alasan. Kebiasaan Abimanyu yang suka manjat pohon apapun di masa kecil dan makan buah yang dipetik di pohon membuatnya dipanggil Hanoman,
Kulitnya sawo matang nyaris kehitaman. Dari ketiga anak Mbok Sam, hanya dia yang memiliki warna kulit seperti kedua orang tuanya. Sedang Arjuna berkulit kuning langsat.
Sedang Mentari berkulit putih seperti orang Cina. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh meter.
Abimanyu mengunci kontrakan dengan gembok. Mbok Sam selalu berangkat lebih awal tiga puluh darinya. Dengan semangat Abimanyu mengayuh sepeda usang milik sang bapak. Udara Jakarta di saat pagi masih segar dan belum tercemar.
Hari ini Bakso Cinta banjir pesanan dadakan di tiga waktu yang berbeda. Nyaris Damar, Yadi dan para karyawan tak sempat berisitirahat. Semua sibuk menyiapkan pesanan. Damar dan Yadi bergegas mengantar pesanan terakhir mereka. Dering gawai mengganggu sejenak.
“Iya, Asma.” Damar menjawab telepon dari adiknya.
“Mas, kok aku belum dijemput?” protes Asma mengingatkan Damar jika ia lupa menjemput adiknya. Diliriknya jam di tangan. Hampir setengah tiga. Itu artinya Asmarani sudah menunggunya setengah jam.
“Iya, Mas jemput sekarang ya!” jawab Damar cepat menutup gawai.
“Bim!” teriak Damar sembari melambaikan tangan kea rah Abimanyu. Si pemilik nama mendekat.
“Iya, Mas.”
“Kamu jemput Asma ya di SMA 1!” perintah Damar sembari mengulurkan kunci motor.
Damar langsung tancap gas mobil sebelum Abimanyu mengucapkan apa-apa. Anak kedua Mbok Sam itu garuk-garuk kepala. Dia bingung mau bertanya tentang sosok yang mau dijempunya itu. Pasalnya ia belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Ingin bertanya ke teman-temannya, semua pada sibuk dengan urusan warung.
“Bismiilah.” Dengan niat baik Abimanyu menyalakan motor dan siap menjemput adik bosnya. Tampak sekolahan mulai sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang masih di sana.
“Mbak Asmarani?” tanya Abimanyu memastikan .
Asmarani memandang cowok di depannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bulu kuduknya berdiri saat cowok itu melempar senyum padanya. Pikiran negative mulai meracuninya.
“Jangan-jangan dia penculik?” gumanya dalam hati.
“Kamu siapa?” tanya Asmarani ketus.
“Aku Abimanyu.”
“Abimanyu siapa?” tanya Asmarani tambah ketus. Matanya mulai kelihatan was-was.
“Aku disuruh Mas Damar jemput kamu.”
“Bohong!” tukas Asmarani cepat. “Kamu mau culik aku kan?”
“Astagfirullah , Mbak!” teriak Abimanyu mengelus dada. “Kalau ga percaya telepon saja orangnya sendiri.”
__ADS_1
Asmarani mendengus kesal. Ada rasa sedikit percaya saat motor yang dipakai cowok itu adalah milik Mas Damar. Segera ia menghubungi seseorang. Wajah tegangnya memudar setelah obrolan itu.
“Percaya?” tanya Abimanyu dengan nada kocak.
“Ayo anterin aku pulang!” pintanya masih ketus.
Motor menjelajah jalanan. Sepanjang jalan tak ada percakapan antar mereka. Hanya sesekali Abimanyu mencuri pandang wajah ayu Asmarani dari kaca spion.
Dalam hening tiba-tiba motor berhenti.
“Ada apa ini?” tanya Asmarani cemas. Begitupun dengan Abimanyu yang pucat saat turun dari motor.
“Bannya bocor, Mbak,” jawab Abimanyu merasa bersalah.
“Aduh kok bisa sih?” gerutu Asmarani sambil menepuk jidatnya. “Apes banget hari ini.”
“Kita cari tambal ban dulu ya!”Abimanyu mulai menuntun motor. Sembari cemberut, Asmarani mengekor langkah orang yang sudah bikin harinya apes.
Tempat tambal ban itu hanya sebuah gubuk. Tak ada kipas angin padahal hari amat panas meski sudah menjelang sore. Adik bontot Yadi itu mengipas-ngipas dengan tangan. Rasa haus mulai menyapa.
“Diminum dulu, Mbak!” Abimanyu menyodorkan sebotol minuman dingin. Sejenak Asmarani memandang Abimanyu sebelum akhirnya menerima minuman itu lalu meneguknya hingga setengah.
Kelakuan gadis cantik itu menghadirkan tawa di bibir Abimanyu.
“Ngapain ketawa?” sentak Asmarani.
Sudah perut lapar, haus, dijemput telat/ Eh sekarang ban motor pakai acara bocor.
Lengkap sudah penderitaannya hari ini.
Sekitar setengah enam mereka sampai juga di rumah Yadi yang ditinggali bersama kedua adiknya.
“Kok baru nyampe?” tanya Marni yang menyambut kedatangan mereka.
“Gara-gara dia tuh,” jawab Asmarani kesal langsung masuk tanpa mengucapkan terima kasih.
“Ada apa, Bim?” tanya Marni beralih ke anak lelaki di depannya.
“Ban motornya tadi bocor, Lek. Jadi jalan kaki nyari tukang tambal ban,” jawab Abimanyu polos.
“O, githu,” jawab Marni terkekeh.
“Ya sudah, aku pulang dulu ya, Lek.” Pamit Abimanyu menyerahkan kunci motor kemudian berlalu.
Marni menutup dan menghampiri keluarganya yang asyik nonton TV.
__ADS_1
“Kenapa itu?” Yadi mengarahkan dagu kea rah adiknya yang cemberut semenjak pulang.
“Ban motor bocor,” jawab Marni.
“Suruh dorong dong?” goda Damar mendapat hadiah lemparan bantal dari sang adik.
“Nyebelin banget sih kalian! Sudah telat jemput eh yang jemputnya si bocah petakilan,” cerocos Asmarani.
“Ya maaf, tadi warung rame banyak pesanan. Untung itu ada Bima mau jemput,” jawab Damar membela diri.
“Tapi kenapa harus tuh anak sih? Kan masih banyak karyawan yang lain,” tukas Asmarani makin kesal.
“Bima ganteng ini, apa masalahnya?” Damar terus menggoda. Senang lihat mimik lucu adiknya kalau sedang merajuk.
“Ganteng dari Hongkong?” tukas Asmarani bergidik mengingat Abimanyu yang hitam, dekil dalam pandangannya.
“Awas lho, jangan benci-benci sama cowok. Nanti kalian jodoh lho.” Yadi ikut menggoda membuat Asmarani makin kesal dibuatnya.
“Ga –le-vel” tegasnya membuat kakak dan iparnya tertawa terbahak-bahak.
***********
Abimanyu senyum-senyum sendiri mengingat kejadian ban bocor tadi sore. Wajah kesal Asmarani tampak cantik dinikmati. Mulutnya yang nyerocos tanpa henti. Muka cantiknya yang selalu ditekuk.
“Cewek itu memang ngeselin,” gumannya dengan senyum-senyum sendiri.
“Kamu kenapa, Lhe?” tanya Mbok Sam yang melihat sikap aneh anaknya. “Ayo diminum kopinya.”
“Asma itu nyebelin ya! Ga kaya kakaknya Mas Yadi dan Mas Damar,” jawab Abimanyu setelah mencicip kopi buatan Mbok Sam.
“O, kalian sudah ketemu?” tanya Mbok Sam.
“Iya, sore tadi.”
“Neng Asma memang manja. Maklum semua keinginannya dipenuhi oleh kakak-kakaknya. Apalagi Mbak Marni itu meski uma kakak ipar tapi sayang sungguh luar biasa,” cerita Mbok Sam.
“Memang orang tua mereka kemana Mbok?”
“Orang tua mereka meninggal karena kecelakaan kereta saat Asma masih kecil.
Dengan tekad kuat Yadi membesarkan warung bakso peninggalan orang tua mereka.”
Abimanyu manggut-manggut. Kini ia punya jawaban kenapa Mas Yadi dan Mas Damar begitu gigih dalam berjuang. Setiap pembeli selalu dilayani dengan ramah. Bahan-bajan bakso dan mie ayam dibuat dari bahan terbaik.
Meski harga bakso dan mie ayam maereka lebih mahal dari tempat lain namun selalu diburu oleh orang.
__ADS_1
Dari cerita orang-orang yang lama berlangganan di sana, rasa bakso dan mie ayam dari awal jualan hingga sekarang tak pernah berubah. Selalu enak dan nikmat.
🌹🌹🌹