HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
LEMBAH HITAM


__ADS_3

Arjuna kira setelah ia sukses dan mapan, sikap ketus mertua akan berubah lebih menghargainya sebgai seorang mantu.


Ternyata ia salah. Mertuanya terus saja tak menganggapnya ada karena memang hidup di bawah bayang-bayang Desta. Mantu yang kaya raya selalu jadi kebanggaan.


Dulu Arjuna juga mengira jika dirinya sudah bergelimang harta, sang istri akan menghargainya sebagai seorang suami. Nurut dan mematuhi setiap ucapannya. Tapi ternyata salah. Di mata Arimbi, ia selalu salah dan kalah dari seorang Desta. Hal yang ia lakukan selalu salah di mata wanita cantik itu. Padahal apapun yang dia minta selalu dikabulkan termasuk skincare yang mahal dan hobi perawatan di salon terkenal.


“Mas, bulan besok, kita kasih bulanan sama ibu ya sebesar dua juta,” pinta Arimbi setelah menidurkan Nabila. “Malu jika terus-terusan dipojokan.”


“Boleh,” jawab Arjuna setelah menyesap kopi hitamnya. “Jatah buat Simbok juga dua juta ya!” lanjutnya.


“Buat Simbok ga usah banyak-banyak! Cukup lima ratus ribu saja,” jawab Arimbi dipaksakan tersenyum.


“Kalau buat Simbok cuma lima ratus, buat ibumu juga lima ratus.” Arjuna menimpali.


“Ya ga bisa githu dong!” tukas Arimbi galak.


“Kalau ngasih ibu cuma lima ratus ribu sampai kiamatpun kita ga bakal bisa menang dari Mas Desta.”


“Menafkahi orang tua itu bukan masalah kalah menang tapi sesuai kemampuan kita. Kalau kita mampunya cuma sejuta jangan dipaksain dua juta,” terang Arjuna bijak berharap istrinya mengerti.


“Alah, bilang saja kamu memang tak suka dengan orang tuaku,” cibir Arimbi.


“Bukankah sama denganmu?” tatap Arjuna tajam. “Yang tidak suka dengan keluargaku.”


Perkataan yang menohok namun tak bisa ditepis oleh Arimbi. Faktanya ia memang tak suka dengan keluarga Arjuna. Apalagi dengan kebiasaan Mbok Sam yang suka minta uang suaminya. Mertuanya itu tak ubahnya sebuah parasit.


***************


Dibenci mertua, istri yang tak suka dengan Mbok Sam dan juga perseteruan antara Yu Marni dengan Arimbi membuat kepala Arjuna cenat cenut. Meskipun ga dipikirin namun tetap kepikiran. Apalagi lambat laun perhatian Arimbi mulai memudar. Ia kembali menjadi suami rasa duda. Apa-apa sendiri, tak pernah diperhatikan. Bikin kopipun sendiri.


Lalu Arimbi ke mana? Istrinya sibuk dengan kegitan macan alias mama cantik di sekolah TK Nabila. Arisan keluarga besar Pak Tejo. Lalu sibuk shoping dan perawatan ke salon. Senam aerobik antar ibu-ibu komplek. Hampir waktu Arimbi tersita di luar rumah. Dan pulang, saat badan sudah lelah.


“Dek, bikinin aku kopi , ya!” pinta Arjuna saat Arimbi lewat di depannya.


“Bikin saja sendiri, Mas. Badanku capek banget, habis senam,” tolak sang istri enteng.


“Kamu mulai tak menghargai aku lagi ya, Dek?”


“Aku capek Mas dan lagi males berantem,” tukas Arimbi sebelum berlalu ke kamar.


Arjuna mendengus kesal. Istrinya selalu menguji kesabaran hingga enam tahun pernikahannya. Sikap diam dan kesabarannya tak berarti sama sekali.


********


“Kenapa loe Jun? Kusut banget,” seru Tedi saat pulang kantor.

__ADS_1


“Iya nih gue lagi pusing mikirin mertua dan istri gue nih,” keluh Arjuba.


“Belum berubah juga mertua ma istri loe?”


“Malah tambah parah!” tukas Arjuna. “Makanya gue males pulang.”


“Ikut gue aja yuk!” ajak Tedi. “Biar otak fresh.”


“Ke mana?”


“Ada deh.” Tedi berteka-teki.


Daripada jenuh di rumah, akhirnya Arjuna memilih ikut Tedi ke tempat yang dirahasiakan. Di sebuah tempat bilyard, Tedi menghentikan mobil Arjuna.


“Ngapain kita ke sini?” Arjuna penasaran.


“Main bilyard.”


“Tapi aku ga bisa,” elak Arjuna.


“Judi dadu dan kartu juga ada kok!” Tedi memaksa Arjuna ikut masuk.


Ruangan yang remang-remang itu dipenuhi laki-laki dan beberapa perempuan. Kepulan asap rokok menghiasi tempat yang beraroma alcohol itu.


“Siapa Ted?” tanya seorang berbadan kekar dan hitam. Kumisnya tebal setebal dosanya sebagai bandar judi.


“Perkenalkan saya Indra, pemilik tempat bilyard ini!” sang bandar judi mengulurkan tangan.


“Arjuna.” Tangan itu membalas jabat tangan Indra.


“Ayo, silahkan bersenang-senang! Mereka ini adalah langganan saya sudah bertahun-tahun.”


“Iya, Bos,” jawab Arjuna gugup.


“Semoga beruntung malam!” bisiknya kemudian berlalu.


“Ayo, main!” Tedi merangkul pundak temannya dan menggiring ke meja yang masih kosong dua kursi.


Arjuna deg-degan. Pasalnya ini pertama kalinya ia main judi meski dulu waktu di rumah sering main gaple bersama teman-temannya di pos kamling. Tapi itu pakai uang juga cuma seribu, dua ribu rupiah.


Permainan makin seru. Para pemain sibuk berpikir untuk menang taruhan. Membawa uangnya kembali dengan jumlah besar.


Senyum kembali mengembang di bibir Arjuna. Sudah kelima kalinya ia menang dan meraup untung malam ini.


“Keren lho, Na! Sekalinya main menang terus,” puji Tedi.

__ADS_1


“Iya nih.”


“Ayo sekali lagi main, siapa tahu gue yang beruntung.”


“Habis, habis deh duit gue!” seru para pemain yang lainnya.


Taruhan dimulai. Setiap pemain punya strategi agar menang. Namun rupanya dewi fortuna sedang menghinggapi Arjuna. Permainan keemanpun dimenangkan olehnya dan duitnya tambah tebal.


“Udah deh, gue pulang!”


“Duit gue udah habis.”


“Hebat kali Arjuna ini.”


“Tapi ingat besok gue akan kalahin loe, Jun!” satu per satu para pemain pulang membawa kekalahan.


“Wah, keren loe Jun. Bisa menang mutlak malam ini padahal baru pertama kali main.” Tedi menepuk-nepuk bangga pada langganan barunya.


“Pulang dulu ya, Bos!” teriak Tedi meski terdengar lemas.


“Besok balik lagi ya!” pesan Indra pada Tedi Arjuna.


Gara-gara keasyikan judi, Arjuna pulang hingga larut malam. Tak ada tanya dari sang istri. Arimbi hanya membukakan pintu dan kembali ke kamar untuk tidur.


Arjuna mengelus dada. Sedih rasanya tak diperhatikan. Padahal ia ingin sekali istrinya bertanya kenapa pulang sampai selarut ini. Atau menawarinya untuk dibikinin kopi. Ah, dengan kesal ia melempar tas kerjanya ke sofa lalu merebahkan tubuh ke sofa panjang. Perlahan matanya terpejam.


**************


Sikap cuek Arimmbi menjadi pemicu Arjuna tak betah di rumah. Selepas pulang kerja, ia selalu mampir ke tempat bilyard milik Indra.


Kemenangan-kemenangan yang terus ia dapat menjadikannya candu untuk selalu datang ke tempat maksiat itu.


Mendadak dompet Arjuna selalu tebal meski di tanggal tua. Sikap royalnya ke sesama pemain dan karyawan di kantor juga makin kelihatan. Ditambah Arimbi makin boros dan selalu minta uang. Semua terbantu dari hasil judi.


“Mas, bagi uang dong untuk tour Nabila nanti ke Trans Studi Bandung!” pinta Arimbi di minggu yang pagi.


“Berapa?”


“Satu juta.”


Tanpa menunggu lama, Arjuna langsung merogoh dompetnya dan mengeluarkan uang sesuai yang diminta sang istri.


“Mas Juna dapat bonus ya? Duitnya banyak terus,” komentar Arimbi berseri melihat uang.


“Iya,” jawab Arjuna datar.

__ADS_1


Andai Arimbi tahu jika uang yang ia dapat hasil judi, tentu istrinya akan marah besar.


*****


__ADS_2