HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
KETUK PALU


__ADS_3

Arimbi terus berderai airmata. Wanita cantik itu tak pernah menyangka pernikahannya akan kandas di tengah jalan. Laki-laki yang ia perjuangankan kini melepasnya demi dalih kebahagiaan.


“Wis ga usah ditangisi!” hardik Pak Tejo dengan wajah dinginnya. “Arjuna pasti menyesal sudah berani menceraikan kamu.”


Arimbi tak menjawab. Ia masih sesenggukan dalam pelukan kakaknya. Bagaimanapun juga rencana perpisahan ini menyayat hati.


“Bagaimana Mbak, nanti nasib anak-anakku?” keluhnya dengan linangan airmata.


Hana hanya bisa mengusap lembut rambut adik kesayanganna. Wajahnya cantik tapi nasib hidupnya tak secantik wajahnya. Ia harus menjanda di usia muda.


“Kamu itu cantik, Mbi!” puji Bu Tejo. “Ibu yakin banyak laki-laki di luaran sana yang mau jadi suamimu.”


“Betul itu.” Pak Tejo mengiyakan. “Kamu pasti dapat jodoh lebih dari Arjuna dan laki-laki blangsak itu pasti meyesal sudah menceraikanmu.”


“Mbak.” Arimbi menatap wajah kakaknya lekat. Ia ingin meminta agar kakaknya itu menolak semua ucapan orang tua mereka.


“Yang dikatakan bapak dan ibu semua benar, Mbi,” sahut Hana dengan mengusap wajah adiknya yang sembab dengan air mata.


“Untuk apa rumah tangga dipertahankan jika hanya menyakiti,” lanjut Hana.


Arimbi tak bergeming. Meskipun ia gamang berpsah, tapi semua sudah terlanjur. Curhatannya ternyata malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Awalnya dia menceritakan semua masalahnya hanya untuk mrncari simpati dan menjatuhkan suaminya agar Arjuna lebih semangat mencari pekerjaan. Tapi hasil yang ia tuai sekarang, pernikahannya hancur di meja hijau.


********


Setelah berkali-kali menghadiri sidang perceraian, akhirnya Arimbi dan Arjuna terpisahkan oleh ketuk palu. Mereka dinyatakan sudah bukan pasangan suami istri lagi dan hak asuh amak-anak jatuh ke tangan Arimbi karena mereka masih anak-anak.


“Semoga setelah ini kamu bahagia dengan kehidupan barumu,” ucap Arjuna seusai sidang.


Mata anak pertama Mbok Sam itu berembun. Menatap lekat wanita yang bertahun-tahun dia muliakan melebihi memuliakan ibunya sendiri.


“Tega kamu, Mas!” hardik Arimbi dengan tatapan penuh dendam. “Sudah tak bisa membahagiakanku, sekarang kamu lepas aku begitu saja.”


“Aku melepasmu karena ingin melihatmu bahagia.” Arjuna membela diri.


“Ya setelah ini aku pasti akan bahagia.” Mata Arimbi yang tak bisa menyembunyikan kesedihan itu tiba-tiba menggenang. Sebelum ia terlanjur menangis di depan manyan suaminya, ia buru-buru meninggalkan ruangan sidang.


Dengan dada sesak, Arjuna hanya bisa memandangi punggung Arimbi yang kian menjauh dari pandangan mata.


**********


Arjuna melajutkan hidupnya sendiri. Lulusan sarjana itu terus mengayuh sepedanya, menjajakan cilok. Namun, sebuah warung bakso menarik perhatian.


“Warung Bakso dan Mie Ayam Mbok Sam.” Arjuna membaca plang itu.


Daripada penasaran, Arjuna menghentikan sepedanya di warung itu lalu masuk.

__ADS_1


“Mas, mie ayam dan es teh ya!” pesannya pada seseoramg yang sibuk melayani pembeli.


“Oke, Mas,” sahutnya sambil menoleh.


Netra Arjuna dan laki-laki itu saling beradu tatap. Ada keterkejutan di antara mereka.


“Bima,” ucap Arjuna tanpa sadar.


“Mas Juna,” sahut Bima. “Mas, bikinin mie ayam dan es teh ya!” pintanya kemudian pada karyawan.


Bima duduk di samping kakaknya. Mengamati laki-laki yang dulu parlente sekarang kucel dan begitu tak terawat.


“Sekarang sukses ya?” Arjuna mencairkan suasana. “Sudah punya karyawan lagi,”lanjutnya dengan senyum.


“Masih merintis, Mas,” jawab Bima merendah. “Mas, gimana kabar?” lanjutnya. “Arimbi dan anak-anak apa kabar?”


Pertanyaan Bima seketika membuat wajah Arjuna mendung. Kebahagiaannya dulu seketika sirna karena dia jatuh miskin.


“Aku dan Arimbi sudah bercerai.” Jawaban Arjuna membuat adiknya terkejut.


“Apa?” pekik Bima. “Apa masalahya ,Mas?”


“Perusahaan tempatku bekerja bangkrut. Berbulan-bulan cari kerja tapi tak menghasilkan. Terpaksa aku jualan cilok untuk menyambung hidup.”


Arjuna menghela napas panjang. Rasanya begitu sesak bila mengigat perpisahan itu. Perpisahan yang harus terjadi karena ia jatuh miskin.


“Rumah, mobil semua dijual karena aku punya hutang ke rentenir,” jawab Arjuna seusai menguasai diri. “Dan Arimbi tak tahan diajak hidup susah.”


“Yang sabar ya, Mas!” Bima mengusap bahu sang kakak.


“Aku ga habis pikir, kenapa hidupku begitu apes bergini,” keluh Arjuna.


“Mungkin ini teguran, Mas.”


“Teguran?” Arjuna tak paham, dengan ucapakan adiknya.


“Iya teguran karena Mas sudah melupakan Simbok.” Bima memperjelas jawabannya.


“Ya Allah.” Arjuna mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Apa mungkin Simbok marah padaku sehimgga Allah mengambil semua yang aku punya?"


“Bisa jadi,” sahut Bima mantap makin membuat Arjuna merasa bersalah dengan perempuan yang sudah memperjuangkan masa depannya.


“Aku harus bagaimana ini, Bim?” Arjuna tampak gelisah.


“Pulanglah, Mas! Sungkem ma Simbok dan minta maaf.”

__ADS_1


“Aku tak punya nyali untuk pulang, Bim,” sahut Arjuna. “Aku malu selama ini sudah menyia-nyiakan Simbok.”


Bima menatap wajah kakaknya lekat-lekat. Senyum tipis tersungging untuk menghangatkan suasana.


“Ingat Mas, ridho Allah tergantung ridho orang tua,” nasihat Bima. “Apalagi doa seorang ibu itu pasti dikabulkan Allah.”


“Tapi Bim…” Arjuna masih mencoba menyanggah.


“Pulang selagi ada waktu!” potong Bima cepat.


**********


Ucapan Bima terus terngiang. Rasa gundah terus menelisik hati. Dia baru meyadari jika selama ini sudah melupakan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia. Perjuangan Mbok Sam untuk masa depannya belum sempat ia balas. Tapi ia malah sudah menikah dan memuliakan wanita lain sebelum membahagiakan ibunya. Parahnya setelah ia sukses, bukannya membalas kebaikan Mbok Sam, tapi malah sibuk membahagiakan istri dan mertuanya.


“Mbok, maafin aku!” tangis Arjuna dalam sesal.


“Ting.”


Sebuah pesan masuk membuyarkan penyesalan Arjuna. Diraihnya benda pipih itu.


[ Jangan lupa uang bulanan untuk anak-anak]


Sebuah pesan dari Arimbi terbaca. Sekilas ia menatap kalender yang sudah menunjukkan akhir bulan. Itu artinya besok sudah awal bulan. Waktunya menunaikan kewajiban sebagai seorang ayah.


Arjuna melangkah menhampiri lemari. Mengambil sebuah toples lalu duduk di kasur yang tipis. Menghitung berlembar-lembar uang yang sudah ia kumpulkan selama sebulan.


“Alhamdulillah, cukup untuk anak-anak dan bayar kontrakan,” ucapnya penuh syukur. “Tinggal nanti ngumpulin untuk pulang kampung.”


***********


Kewajiban sudah ditunaikan, tapi Arjuna harius kerja keras lagi untuk mengumpulkan uang. Ia bertekad secepatnya pulang kampung. Rasa rindu dan rasa bersalah terus menghantui. Ia berharap masih punya kesempatan menerima maaf dari Mbok Sam. Perempuan tua yang sudah ia sia-siakan.


Jerih payahnya tak sia-sia. Sepuluh hari kemudian ia mampu mengumpulkan uang utnuk membeli tiket. Sehari sebelum pulang, Arjuna menyempatkan bertemu dengan adiknya.


“Besok aku mau pulang, Bim,” ucapnya sesudah menghabiskan semangkuk mie ayam.


“Alhamdulillah.” Bima senang mendengarnya. “Jangan lupa minta maaf sama Simbok!”


“Pasti,” sahut Arjuna dengan senyum.


“Insyaallah jika hati Simbok bahagia, kebahagiaan hidup akan datang sendiri.”


“Aamiin.”


Banyak anak yang lupa kewajiban berbakti saat mereka sudah sukses dan berumah tangga. Mereka sibuk membahagiakan keluarga kecilnya tapi melupakan kenahagiaan orang tua. Mesti mereka tak meminta tapi berbakti pada orang tua adalah perbuatan mulia.

__ADS_1


__ADS_2