HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
ARJUNA


__ADS_3

Pagi buta Arjuna sudah rapi mengenakan baju rapi, jaket dan menggendong tas ransel. Butuh sekitar dua puluh menit jalan kaki dari desanya ke tepi jalan raya. Letak desa Arjuna memang di bawah kaki gunung. Hamparan sawah masih terbentang luas. Tak ada angkutan umum yang masuk ke desanya. Maklum tidak laku karena rata-rata penduduk kampung sudah mempunyai motor sebagai kendaraan.


Arjuna langsung berlari sekuat tenaga saat dari kejauhan bus Wahyu, jurusan Kelir-Solo sudah tampak. Ia tak ingin ketinggalan bus tersebut karena butuh waktu sekitar setengah jam sampai satu jam untuk menunggu jadwal bus selanjutnya datang.


Dengan napas ngos-ngosan, ia terlihat senang saat bisa ikut dalam bus itu. Pagi-pagi bus memang selalu penuh dengan anak-anak sekolah. Maklum bus Wahyu adalah bus satu-satunya yang mengangkut penumpang dari desa pelosok seperti Bulu, Tawangsari, Kelir.


“Kenapa kamu ga kost saja daripada bolak balik Solo ke rumah? Buang-buang waktu saja!” ujar Satria saat mereka sedang menikmati soto di kantin kampus.


“Memang berapa biaya kost sebulan?” tanya Arjuna penasaran.


“Tiga ratus ribu tapi itu belum makan ya! Kalau makan tergantung masing-masing.” Tutur Satria. “Biasanya sehari aku makan habis tiga puluh ribu.”


“Total sejuta dua ratus ribu sebulan untuk biaya kost dan makan,” ucap Arjuna dalam hati. "Sedang kalau pulang ke rumah hanya dua puluh ribu per hari ia habiskan untuk ongkos dan jajan.”


“Masih murahan kalau aku pulang pergi Solo – rumah, Sat,” jawab Arjuna setelah berhitung tentang banyaknya rupiah yang dikeluarkan jika harus ngekost.


“Daripada waktu kamu habis di jalan dan buang tenaga,” ujar Satria enteng.


“Aku kan bukan anak orang kaya. Sudah bersyukur ibuku mau biayain aku kuliah,” sanggah Arjuna menghabiskan soto pedasnya.


“Gimana kalau kamu kredit motor saja?” usul Satria kemudian. “Lagi ada promo nih, DP lima ratus ribu bisa bawa pulang motor.”


“Angsurannya?” Arjuna tertarik dengan ide temannya.


“Bisa diangsur sampai tiga puluh enam kali. Biasanya angsurannya sekitar enam ratus ribuan tuh.”


“Iya ya? Kalau aku punya motor, uang ongkos bus bisa buat nyicil motor. Paling jajan aku cuma sepuluh ribu buat beli soto dan es.”


“Tuh pinter!” jawab Satria sambil bertepuk tangan dan tertawa.


*******


Arjuna terus menimbang-nimbag usul temannya. Menghitung lagi jumlah rupiah yang harus dikeluarkan agar saat meminta pada ibunya dia bisa menjelaskan dengan detail.


Lagipula ia meminta motor bukan untuk gaya-gayaan tapi untuk memudahkan kuliahnya.


Siang itu, sebelum pulang kuliah, Arjuna mampir ke wartel untuk menghubungi nomer Ratmi, adik simbok di Jakarta. Arjuna kembali menutup teleponnya saat Ratmi memanggil simbok.


Setelah menunggu lima belas menit, ia menghubungi kembali nomor yang sama.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Lhe,” jawab Simbok dari seberang.


“Waalaikumsalam Mbok. Mbok, aku mau kredit motor buat kuliah,” ujar Arjuna langsung ke pokok masalah agar biaya telepon membengkak.


“Ngapain harus pakai motor kalau bisa naik bus, Lhe?”


“Capek Mbok kalau harus naik bus. Sudah sumpek, ga pernah dapat tempat duduk, lama dan jauh lagi dari rumah ke Solo.”


Mbok Sam dan Arjuna terus berdebat di telepon meski Arjuna seudah menjelaskan detail rupiah yang harus keluar saat dia ngekost atau kredit motor. Tapi Mbok Sam tak bergeming untuk mengabulkan permohonan anaknya. Biaya kuliah saja sudah membuatnya harus banting tulang ditambah ini harus nyicil motor.


Dengan kesal Arjuna menutup telepon saat harga argo sudah mencapai dua puluh ribu. Maklum dia nelpon ke luar kota saat jam-jam sibuk. Jelas tarifnya bikin bengkak tagihan.


“Gimana Simbokmu ngizinin untuk kredit motor?” tanya Satria setelah Arjuna keluar dari wartel.


“Boro-boro yang ada aku diceramahin ga jelas,” umpat Arjuna kesal dengan respon simboknya.


“Mending nekad saja.”


“Maksudmu?” tanya Arjuna tak mengerti dengan usul temannya.


“Kamu kredit motor tanpa sepengetahuan Mbokmu,” jawab Satria membuat mata Arjuna terbelalak.


“Kiriman tiap bulanlah,” jawab Satria enteng.


“Itu kan uang buat ongkos dan bayar kuliah,” kilah Arjuna tak setuju denga usulan temannya.


“Sekali-kali korupsi duit kuliah ga masalah, Bro. Toh korupsinya buat DP motor bukan buat hura-hura.” Semangat Satria berapi-api.


“Tapi…”


“Kredit motor kan lama-lama jadi milik sendiri. Mbokmu pasti juga akan bayarin angsuran motor kalau kamu sudah ambil. Mana ada sih ibu yang tega ma anaknya di dunia ini?” potong Satria panjang lebar.


********


Kalimat-kalimat Satria terus mengusik pikiran Arjuna. Cowok tampan itu membenarkan setiap ucapan temannya


“Benar juga ya yang dibilang Satria. Kalau aku ga nekat, ga bakalan kebeli motor sampai kapanpun,” ujarnya di depan cermin.


Anak pertama Mbok Sam itu tak sabar menunggu awal bulan. Transferan dari simboknya begitu ia harap segera untuk DP motor. Perkara simbok marah, ia pikir belakangan.

__ADS_1


Benar saja setelah dapat transferan, ia segera ke dealer, memilih motor ditemani temannya Satria. Uang yang sejatinya untuk bayar buku ia tukarkan dengan Fiz R warna orange.


Dengan motor itu, ia tak harus berangkat pagi-pagi buta dan berdesak-desakan di bus.


Arjuna tampak keren dengan motor barunya. Wajahnya yang ganteng, kulit kuning langsat, bibir kemerahan dan rambut lurus belah tengah sudah mencirikan kalau ia anak orang kaya.


Namun siapa disangka, dia hanya anak orang miskin yang punya cita-cita setinggi langit.


“Motor siapa ini, Jun?” tanya Biyung ketika cucunya pulang dari kuliah dengan mengendarai motor.


“Motorkulah, Yung,” jawab Arjuna memamerkan motor barunya kepada adik dan neneknya.


“Wah, keren baget.” Mentari berdecak kagum.


“Duit dari mana kamu?” tanya Biyung panik. Was-was kalau cucunya mencuri atau merampok demi memiliki benda mewah itu.


“Dari kiriman Simbok. Uang yang buat bayar buku aku buat DP motor.”


“Astagfirulloh, Lhe.” Biyung mengelus dada. “Simbokmu itu sudah kewalahan sama uang kuliah kamu, eh sekarang malah kamu tambahin kreditan motor.”


“Habis gimana lagi? Jarak Solo ke rumah itu jauh. Aku capek kalau harus bolak balik naik bus.” Nada bicara Arjuna mulai meninggi.


“Sedang mau ngekost ga diizinin.”


“Ya itu resiko memaksakan kuliah sedang kamu anak orang tak mampu. Ya harus prihatin,” nasihat Biyung dengan nada tegas.


“Ah, percuma ngomong sama Biyung.” Dengan kesal Arjuna mengendarai motornya entah pergi ke mana.


Biyung hanya mampu menatap sedih punggung cucunya yang lambat laun menghilang dari pandangan.


**********


Di pertengahan bulan, Arjuna terpaksa menelpon Mbok Sam. Uang buku sudah ditagih terus menerus oleh pihak kampus. Semburan kemarahan simbok harus diterima Arjuna bertubi-tubi via telepon. Arjuna hanya bisa pasrah tak bisa membela diri.


“Kemarin kan sudah Simbok bilang jangan ambil kredit motor? Kamunya ngeyel jadi Simbok juga kan yang pusing mikirin setorannya.”


“Jualan lagi sepi, kamu malah aneh-aneh kredit motor. Emang kamu pikir nyari duit itu ga susah tinggal metik githu?”


“Tahu begini kamu ga usah kuliah kalau akhirnya aneh-aneh kelakuan kamu.”

__ADS_1


***********


__ADS_2