
“Dek, kaos putihku di mana?” tanya Arjuna seusai mandi.
“Tuh, masih di keranjang,” jawab Arimbi masih asyik bermain gawai sembari memberi bayinya ASI.
“Kok belum dilipetin?”
“Capek Mas, ga ada waktu. Seharian Nabila rewel, tak bisa ditinggal,” kilah Arimbi masih asyik dengan gawai. “Tolong lipetin ya, aku mau tidur!” Arimbi meletakkan gawai lalu ikut tidur dengan anaknya yang usdah terlelap.
“Tapi aku kan capek Dek, habis kerja,” kilah Arjuna.
“Emangnya aku ga capek? Seharian ngurusin Nabila. Ga bisa tidur siang. Harus masih nyuci bajumu dan Nabila,” cerocos Arimbi ga terima dengan jawaban sang suami.
“Emang yang nyuci bukan Bibi?”
“Bukan!” sentak Arimbi. “Emang Mas ikut bayar Bibi apa?”
Arjuna menghela napas panjang. Mengakhiri perdebatan ini jika tak ingin urusan menjadi panjang. Entah mengapa semenjak punya anak, emosi istrinya meledak-ledak. Di tengah letih seusai kerja, Arjuna merapikan cucian kering itu.
Keesokan harinya…
“Dek, seragamku kok belum digosok?” ujar Arjuna bersiap kerja.
“Ga sempet, Mas. Nabilanya ga bisa ditinggal!” teriak Arimbi dari luar kamar.
“Gosokin dulu dong! Mas mau berangkat kerja.”
“Gosok saja sendiri!” tukas Arimbi yang asyik sarapan.
Arjuna membuang napas kasar. Sudah diburu waktu, ia harus gosok seragam biar terlihat rapi saat dipakai.
Malam hari menjelang tidur….
“Dek, bikinin mie telor dong!” pinta Arjuna saat mata ngantuk namun perut keroncongan minta diisi.
“Bikin saja sendiri sih, Mas. Aku udah ngantuk,” kilah Arimbi melanjutkan tidur.
Dengan gontai Arjuna ke luar kamar. Dirogohnya saku kolor yang berisi uang lima puluh ribu. Bergegas ia ke luar rumah.
“Mau ke mana, Mas?” tanya Paijo yang masih asyik ngopi sambil merokok di teras rumah.
“Cari makan! Ikut, yuk!” ajaknya kemudian.
“Wah, udah gajian ya?”
“Kalau cuma nraktir nasi goreng mah ga harus nunggu gajian, Jo.”
“Siplah. Ikut aku!”
__ADS_1
Dua lelaki itu beriringan ke tenda nasi goreng di perempatan jalan. Tak lama kemudian dua porsi nasi goreng dan es teh manis terhidang di meja.
“Kusut amat Mas, mukanya?” tanya Paijo membuka obrolan.
“Capek kerja, Jo.”
“Capek mikirin Mbak Arimbi yang ga perhatian ya?” pertanyaan Paijo membuat Arjuna tersentak.
“Ya enggaklah,” elak Arjuna.
“Mbak Arimbi bersikap seperti ini karena tiap hari Pak Bos dan Bu Bos selalu membanding-bandingkan sampeyan dengan mantu si A, mantu si B yang duitnya banyak.”
“Masa, Jo?” Arjuna mulai tertarik dengan obrolan sopir mertuanya itu.
“Iya Mas, ngapain aku bohong!” Paijo mengangkat telunjuk dan jari tengahnya.
“Akhir-akhir ini sampeya dibanding-bandingkan dengan Robi, calon suaminya Nita yang bos gilingan bakso itu lho, Mas."
“Robi yang bandar judi itu?” tanya Arjuna memastikan.
“Ya, betul. Katanya Nita beruntung punya suami yang sukses meski hartanya dicari dengan haram.”
“Daripada lulusan sarjana tapi kerjanya kaya pembantu.”
“Bener-bener sableng tuh mertua sampeyan.”
***********
Minggu yang cerah. Rumah terasa sepi. Rupanya sang mertua dan Paijo sudah sibuk di toko sedari pagi. Hanya ada Bibi, Arimbi, Nabila dan dirinya.
“Dek, bikinin kopi dong!” tanya Arjuna saat tak ada apapun tersaji di meja makan.
“Bikin saja sendiri!” tukas Arimbi masih asyik dengan gawainya.
“Dek, aku ini suamimu lho. Kok dicuekin terus?” protes Arjuna yang mulai muak dengan perilaku istrinya.
“Emangnya kalau jadi suami itu, apa-apa harus dilayani githu?” sentak Arimbi tak mau kalah.
“Tapi setidaknya kamu hargai aku. Bikinin kek aku kopi. Selama tinggal di sini, kamu belum pernah lho bikinin aku kopi.”
“Ngaca Mas kalau mau dihargai?”ultimatum Arimbi dengan menunjuk hidung suaminya.
“Kalau duitmu banyak kaya Mas Desta dan Roni sih aku layani dengan sepenuh hati. “Lha ini, jadi OB saja lagaknya seperti raja.”
Arimbi mendengus kesal. Kebahagiaannya berselancar di dunia maya terganggu dengan mulut usil suaminya. Dengan kesal ia mengambil Nabila dan masuk ke dalam kamar. Terdengar pintu dibanting.
Anak tertua Mbok Sam itu hanya bisa mengelus dada. Pengorbanan dan cintanya tak dihargai oleh sang istri. Ia seolah kehilangan sosok lembut Arimbi yang ia kenal saat pacaran.
__ADS_1
*******
Gajian pertama, Arjuna langsung DP motor untuk pulang pergi kerja. Lalu membayar hutang kepada Mbok Sam. Lalu memberi nafkah kepada sang mertua.
“Ini, buat ibu!” Arjuna mengulurkan enam lembar uang biru.
“Emang, kamu sudah gajian, Mas?” tanya Arimbi girang.
“Sudah,” jawab Arjuna tersenyum.
“Kalau begitu besok kita jalan-jalan ya, Mas ke mall. Beli baju dan makan di luar,” rengek Arimbi manja hanya ditanggapi dengan senyum masam oleh Arjuna.
“Tiga ratus ribu paling habis sehari buat makan sekeluarga,” ujar Bu Tejo sinis sambil memasukkan uang dari Arjuna ke saku baju.
Arjuna menunduk. Ia berharap setelah ia dapat kerja dan bisa memberi kepada mertuanya, sikap mereka akan berubah sedikit lebih ramah padanya. Tapi nyatanya, tak ada bedanya. Hanya sakit hati yang diterima.
Pemuda lulusan sarjana itu masuk ke kamar yang langsung diekor oleh istrinya.
“Jatahku mana, Mas?” Arimbi mengulurkan tangan sambil tersenyum manja.
Dengan malas, Arjuna mengeluarkan sisa gajinya. Dengan semangat sang istri menghitung gaji suaminya itu. Seketika cemberut menghias wajahnya.
“Kok cuma segini? Gajimu kan dua juta setengah?” protesnya dengan wajah jutek.
“Lima ratus ribu untuk DP motor. Lima ratus ribu untuk pegangan aku. Empat ratus ribu bayar utang ke Simbok. Tiga ratus ribu untuk mertua. Sisanya ya ini,” jawab Arjuna simple dengan kegelisahan sang istri.
“Kamu punya hutang ma Simbok?” jawab Arimbi terkejut.
“Iya. Emang kamu pikir, uang buat beli perlengkapan bayi itu dari mana?”
“Tapi delapan ratus ribu mana cukup untuk sebulan? Belum beli pampers, minyak telom, bedak untuk Nabila,” cecar Arimbi lagi belum bisa terima.
“Cukup-cukupinlah, Dek. Lagian kamu masih dapat makan dari orang tuamu.”
“Tapi aku malu Mas, numpang hidup sama orang tua. Kamu cari kerja lagi kek biar kita dapat duit.”
“Kerja jadi OB itu sudah menguras tenaga, Dek. Hampir dua belas jam kerjanya,” kilah Arjuna.
“Bilang saja kamu itu males,” umpat Arimbi kesal. “Kalau begini jadinya, aku benar-benar nyesel nikah sama kamu!”
“Terus saja Dek, kamu sesalin pernikahan kita!”Tukas Arjuna berani menjawab pernyataan istrinya.
“Emang aku nyesel, Mas!’ Arimbi makin tersulut emosi. “Kalau saja bukan karena Nabila, mungkin aku sudah minta pisah dari kamu! Aku tuh malu punya suami yang ga bisa diandalin, bisanya cuma numpang di rumah mertua!”
Arimbi melempar bantal ke wajah suaminya yang mematung. Ia merebahkan tubuhnya, membelakangi sang suami. Napasnya naik turun, menahan sesak. Tak terasa air matanya berlinang.
Pernikahan yang dia bayangkan membawa kebahagian tak ubahnya menjadi lahan sindiran untuk orang tuanya. Saat sedang kumpul dengan keluarga besar atau kumpul dengan teman-temannya, kedua orang tua Arimbi selalu mengumbar keburukan Arjuna. Tentu saja membuatnya makin terpojok dan malu jika sedang kumpul-kumpul.
__ADS_1
**********