
Waktu terus berjalan. Tahun demi tahun berganti. Namun, kehidupan Arjuna belum juga membaik. Masih miskin sebagai penjual cilok. Hal ini membuat Arimbi makin gerah. Tak ada lagi rasa hormatnya kepada sang suami. Rumah tangga merekapun makin hari makin hambar.
“Mas, gimana sih kamu ga becus cari uang!” hardik Arimbi kasar. “Sudah tiga tahun berlalu, hidup kita masih gini-gini saja.”
“Bersyukur Dek,” sahut Arjuna berusaha sabar menghadapi sikap istrinya. “Yang penting cukup buat hidup, makan dan biaya sekolah Nabila.”
“Bersyukur bagaimana?” bentak Arimbi dengan mata melotot. “Hidup kekurangan, tinggal di kontrakan sempit kok disuruh bersyukur?” cecarnya. “Mana bentar lagi Fildan masuk TK?”
“Nanti juga ada rezekinya,’ hibur Arjuna. “Tiap anak itu membawa rezeki masing-masing.”
“Halah ceramah mlulu kerjaannya,” tepis Arimbi sengit. “Jadi orang kok pasrah banget ma keadaan, Mas. Percuma ijasah sarjanamu,” umpatnya kemudian berlalu.
Arjuna hanya bisa mengelus dada. Sudah biasa ia dimaki-maki oleh istrimya semenjak ia jatuh miskin. Sebenarnya sudah tak kuat. Tapi demi anak-anak ia bertahan. Berharap, suatu saat istrinya berubah.
Tapi sayang, bukannya berubah, Arimbi justru berulah. Dengan gamblang ia membuka aib suaminya kepada kakak dan keluargaya yang notabeme orang kaya.
“Sebel banget aku, Bu sama Mas Juna,” curhat Arimbi. “ Lulusan sarjana kok hidupnya mlarat.”
“Lha, ibu dan bapak kan dulu sudah bilang, jangan nikah sama dia,” ucap Bu Tejo menyudutkan anaknya. “Ijasah sarjana itu bukan jaminan hidup enak.”
“Wong garis hidup Arjuna itu ya miskin akhirnya blangsak.” Pak Tejo ikut menimpali sesudah mengisap rokoknya dan membuat lukisan di udara dengan asap.
“Bukannya nyari kerja, ini malah terus jualan cilok yang hasilnya ga seberapa?”lanjut Arimbi mengadu. “Mana Fildan bentar lagi mau sekolah. Nabila juga butuh biaya.”
“Kasihan banget sih hidupmu?” imbuh Hana yang prihatin dengan nasib adiknya.
“Iya, sengsara banget Mbak, aku rumah tangga dengan Mas Juna.” Arimbi makin memelas. “Hidup enaknya cuma beberapa tahun saja. Selepas itu hidup pahit terus.”
“Ya sudah suruh saja Arjuna kerja di toko Bapak!” Pak Tejo menawarkan bantuan.
“Mas Juna ga mau, Pak,” sahut Arimbi, “Mending mandiri daripada tiap hari makan hati dengan ocehan mertua.”
“Belagu banget suamimu,” sahut Pak Tejo uang langsung emosi mendengar jawaban anaknya.
“Sudah miskin tapi ga tahu dikasihani,” umpat Bu Tejo.
“Padahal sering susu Fildan tak terbeli.” Arimbi mulai menitikkan air mata.
“Udah, ga usah nangis!” hardik Bu Tejo. “Nih, uang setengah juta buat kamu pegangan dan beli susu anakmu.” Bu Tejo menyodorkan uang yang langsung membuat wajah Arimbi berbinar.
__ADS_1
“Nanti, Paijo yang akan kirim beras sekarung, gula, teh, minyak dan mie ke kontrakan,” imbuh Bu Tejo.
“Makasih ya, Bu,” sahut Arimbi. “Kalau susu anak-anak sudah kebeli kan tenang akunya.”
“Biar suamimu itu ngaca jika ia tak berguna,” ujar Pak Tejo. “Sudah berkeluarga kok masih dibantu sama mertua.”
********
Sepulang jualan, Arjuna dibikin bingung dengan kehadiran Paijo yang mengantarkan berbagai sembako.
“Kok, bawa beras, minyak dan mie, Jo?” tanya Arjuna untuk menghilangkan rasa penasaran.
“Ibu dan Bapak yang nyuruh, Mas,” sahut Paijo sejenak kemudian mengangkut semua isian bak terbuka ke dalam kontrakan Arjuna.
“Saya permisi ya, Mas!” pamit Paijo sesudah tugasnya selesai.
“Iya, Jo, makasih,” sahut Arjuna sembari melambaikan tangan saat mobil bak Paijo mulai menjauh dari pandangan. Berbegas ia masuk ke rumah.
“Ibu, ngirim sembako?” tanya Arjuna pada Arimbi yang sedang memberi susu pada Fildan.
“Iya, tahu anak perempuannya kurang gizi,” sahut Arimbi ketus.
“Ya iyalah,” sahut Arimbi sewot. “Nih, aku dikasih duit buat beli susunya Fildan.”
“Kenapa sih harus diceritain kesusahan kita?” hardik Arjuna yang tak suka dengan kelakuan istrinya.
“Ngandelin kamu ga bakalan kebeli susu, Mas!” sentak Arimbi lebih galak dengan berkacak pinggang.
“Sampai kapan kamu kekanak-kanakan terus?” Arjuna tak tinggal diam. “Dikit-dikit ngadu, dikit-dikit ngadu.”
“Sampai kamu bisa hidup kaya lagi seperti dulu.”
Arjuna menghela napas panjang. Matanya memerah menahan amarah. Bukan maunya hidup susah. Tapi ia sudah berusaha cari kerja kesana kemari tapi tak satupun yang berhasil. Jualan cilok satu-satunya harapan untuk menyambung hidup.
***********
Karena muluit lemes Arimbi yang terus mengeluh gidup dengan Arjuna dan menjelek-jelekkan di depan keluarganya, membuat Arjuna sudah tak dihargai lagi oleh mertua dan iparnya. Setiap Arjuna berpapasan di jalan dengan mertua dan iparnya, mereka selalu membuang muka.
Begitupun setiap bertandang ke rumah mertua dan iparya untuk silahturahmi, sindiran selalu ia dapat bertubi-tubi. Mungkin jika hanya sekali dua kali, ia tak kan sakit hati. Namun jika berkali-kali, tentu akan hilang kesabaran.
__ADS_1
“Juna, Juna, lulusan Sarjana kok hidupnya blangsak,” ujar Pak Tejo.
“Bikin susah hidup anak saya saja,” imbuh Bu Tejo dengan wajah judesnya. “Tahu ga, anak saya itu menderita lho jadi istri kamu.”
Arjuna menatap beberapa saat wajah istrimya yang terlihat santai saat ia terus-terusan dihina oleh keluarga sang istri.
“Makanya jadi suami itu seperti Mas Desta. Pinter cari duit dan setia pada anak istri,” imbuh Hana membangga-banggakan suaminya.
Arjuna tak menimpali ucapan-ucapan itu. Dadanya bergemuruh antara marah dan menahan diri. Rasa sakit karena harga dirinya terus diinjak-injak. Untuk beberapa saat ia terdiam, seolah sedang mengumpulkan kekuatan.
“Kalau memang Arimbi merasa menderita hidup dengan saya, mulai saat ini saya kembalikan Arimbi kepada ibu dan bapak,” ucap Arjuna dengan bergetar.
Bagai disambar petir di siang bolong, keluarga kaya itu sontak berdiri mendengar penuturan laki-laki yang sudah mereka caci maki.
“Maksud kamu, kamu menceraikan Arimbi?” hardik Pak Tejo.
Sementara tangis Arimbi langsung pecah mendengar kalimat itu meluncur dari laki-laki yang bertahun-tahun sudah menikahinya.
“Saya hanya ingin melepaskan Arimbi dari penderitaan, Pak.”
“Tega kamu, Mas?” jerit Arimbi bersimbah air mata.
“Keterlaluan kamu jadi laki-laki,” umpat Bu Tejo mengepal . “Sudah ga bisa bahagiakan anak saya, sekarang main lepas tanggung jawab.”
“Saya sudah bertanggung jawab sesuai kemampuan saya.” Arjuna membela diri. “Namun rupanya anak ibu ini tidak bisa diajak hidup susah. Saat saya susah, boro-boro saya dihargai sebagai suami.”
“Ya, dimana-mana ga ada perempuan yang mau diajak hidup susah,” tukas Arimbi tak terima dengan ucapan suaminya.
“Saat hidup kayapun kamu tak pernaha menghargai aku,” timpal Arjuna dengan geram. Berharap istrinya bisa berfikir tentang kesalahannya.
“Saya permisi.” Pamit Arjuna yang tak menghiraukan kemarahan mertua, ipar dan istrinya.
“Mbak, bagaimana ini?” rintih Arimbi di pelukan sang kakak.
“Yang sabar ya kamu.” Hana menghibur adiknya. “Mungkin itu cuma emosi sesaat Arjuna saja.”
“Iya, Mbak.”
*********
__ADS_1