
Arimbi melahirkan anak keduanya dengan normal di rumah sakit. Kelas VIP ia pilih karena asuransi dari pihak kantor. Senyum bahagia menghiasi Arjuna dan Arimbi yang sudah mempunya sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Putra kesayangan mereka itu diberi nama Muhammad Fildan.
Seminggu kemudian, Arjuna menggelar aqiqah untuk Nabila dan Fildan. Rencananya esok hari, tiga kambing akan dipotong langsung. Oleh sebab itu keluarga Arimbi maupun keluarga Arjuna sedang menginap di rumahnya.
Malam menjelang. Setiap ruangan dan kamar penuh orang-orang tertidur. Mbok Sam numpang tidur di kamar Arjuna yang nyaman. Karena tak terbiasa dengan AC, tubuh Mbok Sam menggigil kedinginan. Dia celingak-celinguk mencari selimut. Namun tak ada satupun yang terlihat menganggur. Semua sudah dipakai oleh anak, mantu dan cucunya.
Netra tua Mbok Sam menatap sebuah sprei di tumpukan baju yang sudah dilipat. Segera ia mengambil dan membalutkan ke tubuhnya sebagai selimut. Alhasil, Mbok Sam langsung tertidur nyenyak.
“Simbok!” pekik Arimbi subuh-subuh langsung membuat Mbok Sam tergagap bangun.
“Ada apa Arimbi?” tanya Mbok Sam setengah sadar. Tampak Arjuna juga terbangun mendengar teriakan istrinya.
“Bangun!”sentaknya. “Siapa suruh pakai seprei ini!” Arimbi menarik sprei yang membalut tubuh Mbok Sam dengan kasar.
“Semalam Simbok kedinginan dan nyari selimut atau sarung tapi ga ketemu. Terus, aku lihat sprei ini di tumpukan baju kering,” cerita Mbok Sam gemetar.
“Ngapain sih cuma gara-gara sprei kamu semarah ini?” tukas Arjuna dengan sikap istrinya.
“Ini masih baru, Mas! Baru dicuci belum dipakai,” sanggah Arimbi.
“Terus apa masalahnya kalau masih baru? Cuma dipakai Simbok buat selimut kok!”
“Pokoknya aku ga suka ya sama orang yang suka clamitan di rumahku!” tukas Arimbi sambil membanting sprei ke keranjang.
“Maafin Arimbi ya, Mbok!” pinta Arjuna yang melihat ibunya tersedu sembari menunduk.
“Iya, gapapa Lhe,” jawab Simbok sembari tersenyum.
****************
Suara riuh menggema di rumah dan dapur Arimbi. Aroma kambing membius para kerabat dan tetangga yang bahu membahu masak untuk aqiqah kedua anak Arjuna. Tampak Mbok Sam ikut bersama mereka. Memotong wortel yang akan digunakan untuk membuat bakwan.
“Motongnya jangan begitu, Mbok!” sentak Arimbi mengejutkan semua orang yang berada di ruangan itu termasuk mertuanya.
“Motongnya yang bagus, sesuai aturan, jangan sembarang!” tambahnya lagi tambah ketus.
__ADS_1
“Emangnya kenapa sih, Mbi? Cuma buat bakwan ini,” serang Hana membela mertua adiknya itu.
“Kalau ga becus bantuin ga usah bantu-bantu! Bikin repot saja ini jadinya!” tambah Arimbi lagi tanpa memperdulikan kata-kata Hana.
Mbok Sam menunduk. Hatinya remuk redam di rumah anak yang sudah ia perjuangkan masa depannya. Untuk kedua kalinya, sang mantu membentaknya tanpa menghargainya sebagai mertua. Mbok Sam mengusap buliran bening yang terus turun dari kelopak mata dengan menggunakan ujung bajunya.
Marni yang kebetulan juga ikut membantu di tempat Arimbi hanya bisa mengelus dada dengan kelakuan Arimbi yang tak menghargai mertuanya sama sekali.
Tiga kambing sudah selesai dimasak menjadi sate dan sop kambing. Nasi, sambel kentang, acar ketimun, kerupuk, bihun goreng, jeruk sudah siap dimasukkan ke box. Kue-kue dan buah untuk pengajian aqiqah sudah siap. Tampak para keluarga pihak Arimbi dan yang membantu acara itu lahap menikmati sate dan makanan lainnya.
Mbok Sam tergiur dengan makanan enak itu. Bergegas ia ikut mengambil piring dan nasi. Baru ingin mengambil sate kambing, mata Arimbi menatapnya begitu tajam yang langsung membuat Mbok Sam mengurungkan niatnya. Wanita yang sudah banyak uban itu akhirnya hanya mengambil tumis kangkung dan mendoan untuk makan.
Dengan tercekat ia mencoba menelan nasi yang begitu berat nyangkut di tenggorokan. Satu per satu butiran embun di kelopak matanya turut menhujani piringnya yang berisi nasi dan kangkung. Tak mampu ia menelan makanan yang biasanya begitu nikmat untuk orang keci macam dia. Perlakuan menantunya benar-benar sudah membuatnya sakit hati.
Satu demi satu acara berjalan lancar. Setelah pemotongan rambut si bayi Fildan, Mbok Sam sudah tak kuat berada di sini. Tak dihargai dan tak dianggap. Tapi untuk pulang sendiri, ia tak berani. Pasalnya rumahnya dari rumah Arjuna harus memakai angkot. Mau minta antar Arjuna, jelas tak mungkin karena anaknya masih sibuk dengan tamu-tamunya.
Sedang Abimanyu tak bisa datang karena pesanan di warung bakso butuh tenaganya. Mbok Sam celingak-celinguk mencari orang yang bisa dimintai tolong. Beruntung ia menemukan Marni sedang ngobrol dengan suaminya. Buru-buru, Mbok Sam menghampiri mereka.
“Mbak Marni!” Panggil Mbok Sam membuat pasutri itu menoleh.
“Iya Mbok, ada apa?” tanya Marni.
“Kenapa Mbok? Acaranya kan belum selesai?” tanya Yadi.
“Kepala Simbok pusing, Mas,” jawab Mbok Sam pura-pura memijit keningnya.
“Ya sudah, ayo pulang sekarang!” Marni menyanggupi. “Kita pamit dulu ya sama Arimbi dan Arjuna!”
Ketiga orang itu menghampiri Arimbi yang sedang bercengkerama dengan keluarganya.
“Arimbi, kita pulang dulu ya!” pamit Marni.
“Makasih ya, Mbak!” sambut Arimbi dengan senyum.
“Simbok pulang juga ya, Nduk!” pamit Mbok Sam hanya ditanggapi dengan senyum masam menantunya.
__ADS_1
Sepanjang jalan Mbok Sam banyak terdiam. Tak seperti biasanya yang suka ngobrol ngalor ngidul. Sesekali Yadi meirik wajah langganan jamunya dari kaca mobil.
“Mas Yadi, berhenti di sini saja ya!”
“Kenapa, Mbok?”
“Mau beli makan di warteg,” jawab Mbok Sam membuat Marni tercekat.
Wanita yang sudah lima tahun nikah itu mengingat saat Mbok Sam hanya makan dengan tumis kangkung di rumah anaknya sendiri. Padahal makanan lezat terhidang di sana.
“Mas, kita ke sate Solo yang terkenal itu yuk!” ajak Marni mendadak. “Kangen nih sama sate kambingnya.”
“Ayo!” Yadi melajukan mobil ke kawasan kuliner. Di sebuah rumah makan sate Solo, mobil berhenti.
Tak butuh waktu lama sate kambing, sate ayam, tengkleng, gulai kambing tersedia di meja makan bersama nasi dan teh manis panas.
“Ayo Mbok dimakan!” tutur Yadi.
Makanan yang menggugah selera. Segera Mbok Sam menikmati hidangan yang tersaji. Setelah kenyang pasutri itu mengantarkan Mbok Sam pulang.
“Makasih ya Mas Yadi, Mbak Marni, sudah diantar pulang dan ditraktir,” ucap Mbok Sam terharu.
“Sama-sama Mbok!” jawab Yadi dengan senyum.
“O iya Mbak Marni! Kejadian di rumah Arjuna jangan diceritain sama Bima ya!” pinta Mbok Sam langsung diiyakan oleh Marni tapi mengundang tanya Yadi.
Setelah mobil melaju.
“Emang apa yang terjadi di rumah Juna?” tanya Yadi penasaran.
“Mbok Sam tadi dibentak-bentak sama Arimbi karena salah potong wortel,” jawab Marni ikut kesal. “Terus pas makan tadi, Mbok Sam cuma makan pakai kangkung dan mendoan.”
“Ya, Allah keterlaluan banget sih Arimbi?” Yadi ikut geram setelah mendengar cerita istrinya.
“Andai ia tahu perjuangan Mbok Sam untuk masa depan Juna,” imbuh Marni.
__ADS_1
“Dia belum ngrasain kehilangan orang tua,” rutuk Yadi benar-benar menyesalkan kelakuan si gadis desa. Cantik sih tapi hak punya hati.
*************