
Mentari keluar dari peraduan menghadirkan keindahan padi yang menguning siap dipanen. Kicau burung dan kokok ayam serta hawa sejuk menyambut Arjuna setibanya di kampung halaman, di bawah kaki Gunung Gajah Mungkur. Aroma tanah basah menyeruak , menghadirkan kenangan masa lalu.
“Makasih ya, Pak!” ucap Arjuna membayar ojek yang mengantarkannya dari terminal. Tak lama ojek sudah berlalu.
Rumah masa kecil Arjuna masih tertutup. Arjuna menyelidik setiap sudut rumah tua itu. Rumah dimana ia tumbuh degan kasuh sayang dan keprihatinan. Bayangan almarhum biyung membuat tempe tersaji di hadapan Arjuna.
“Mas Juna.” Suara Mentari di depan pintu membuyarkan lamunan Arjuna dan juga membawa Mbok Sam keluar rumah.
“Juna,” ucap Mbok Sam lirih.
Netra ibu dan anak itu saling beradu tatap. Mbok Sam tak mampu menyembunyikan linangan air mata, menyambut anak yang sekian tahun ia rindu. Tak berbeda dengan Arjuna, mata laki-laki itu berembun.
Arjuna lalu berlari dan bersimpuh di kaki sang ibu sehingga membuat ibu dan adiknya termenung. Tanpa dihalau, air mata itu tumpah ruah.
“Ada apa, Jun?” Mbok Sam khawatir dengan keadaan anaknya.
“Maafin aku Mbok! Selama ini sudah menjadi anak durhaka. Lalai memuliakan Simbok padahal tanpa Simbok aku tak mungkin bisa bergelar sarjana.”
Mbok Sam trenyuh dengan permintaan maaf anaknya. Butiran bening menghujani wajah yang penuh kerutan itu.
“Simbok sudah maafkan semua kesalahan kamu, Lhe.” Mbok Sam membelai rambut anaknya.
“Sekarang bangun lalu masuk!” Mbok Sam membantu anak sulungnya berdiri. “Kebetulan Mentari sudah selesai masak dan ada singkong rebus.”
“Ayo Mas, masuk!” ajak Mentari.
“Lho, Arimbi dan anak-anakmu mana?” selidik Mbok Sam setelah celingak celinguk, tak ada sang mantu dan cucu.
Arjuna menghela napas. Ternyata perpisahannya masih meninggalkan luka dan rasa sakit.
“Aku dan Arimbi sudah bercerai, Mbok,” sahut Arjuna lesu.
“Apa?” pekik Mbok Sam. “Cerai?” selidiknya. “Kenapa? Ada masalah apa? Apa kamu selingkuh?” cecar Mbok Sam bertubi-tubi ditaggapi Arjuna dengan senyum masam.
“Perusahaan tempat aku kerja bangkrut sedang hutangku dimana-mana. Sudah cari kerja kesana kemari tapi ga ada hasil Mbok,” keluhnya. “Jadi beberapa tahun ini aku jualan cilok untuk menyambung hidup dan bayar kontrakan.”
“Kontrakan?” Mbok Sam masih bingung. “Lalu rumahmu?”
“Rumahku dijual untuk bayar hutang.”
“Lalu apa masalahnya kamu pisah dengan Arimbi?” Mata tua itu tak lepas memandang anaknya.
“Arimbi tak tahan hidup sengsara dan mengaduk pada orang tuanya. Dia bilang tak bahagia hidup denganku, makanya aku melepasnya demi kebahagiaannya.”
“Kenapa kamu lepas?” hardik Mbok Sam yang tak setuju dengan keputusannya. “Harusnya kamu pertahankan istri anak-anakmu.”
“Aku hanya ingin Arimbi bahagia, Mbok.” Arjuna membela diri. “Jika lepas dari aku bisa membuatnya bahagia, aku ikhlas.”
Mbok Sam tersenyum. Meski ikut perih dengan perpisahan anakanya tapi ia yakin ini sudah rangkaian dari takdir.Pasti ada hikmah dari semua cobaan hidup untuk Arjuna.
“Kamu yang sabar ya Lhe!” Mbok Sam menepuk pundak sang anak. “Pasti ada kebaikan atas semua ujian ini.”
__ADS_1
Arjuna meraih jemari Mbok Sam dan menciumnya berkali-kali. Sudur matanya masih tersisa tetasan air mata.
“Mbok, maafin semua kesalahanku!” Arjuna mengeratkan genggamannya. “Aku janji akan berusaha menjadi anak yang berbakti.”
“Iya Simbok percaya.” Mbok Sam bahagia dengan janji anaknya. “Doa simbok akan selalu menyertai langkahmu, Bima dan juga Mentari.”
***********
Arjuna menepati janjinya. Hampir setiap hari anak tertua Mbok Sam itu mengabari lewat ponsel. Setiap bulan memberi nafkah meski sedikit tapi itu sudah cukup membuat Mbok Sam bahagia.
“Bang cilok goceng ya!” pesan seorang cewek yang melintas saat Arjuna sedang berteduh di pohon rindang.
“Oke,” ucap Arjuna langsung sigap melayani pembelinya. “Makasih, Mbak,” ucapnya saat mendapat uang dari pembeli.
Arjuna merogoh sakunya saat terasa getaran ponsel. Sebuah nomor tak dikenal memandang.
“Assalamualaikum.” Arjuna mengangkat panggilan.
“Dengan Pak Arjuna?” sahut suara laki-laki dari seberang.
“Iya saya sendiri.”
“Saya dari kantor Mulya Agung mengundang Pak Arjuna untuk interview besok.” Sebuah panggilan yang langsung membuat Arjuna tersenyum sumringah.
“Bisa Pak.”
“Baik, kami tunggu besok jam sepuluh pagi ya!”
“Iya, Pak.” Tak lama obrolan terputus.
Arjuna tersenyum. Tak sabar rasanya menunggu esok. Mencoba peruntungan hidup dengan gelar sarjananya. Segerombolan anak-anak yang pulang pengajian menarik perhatian.
“Anak-anak mau cilok ga?” tanya Arjuna pada mereka.
“Tapi kami ga bawa uang, Bang,” sahut salah satu dari mereka.
“Tenang hari ini Abang gratisin.” Jawaban Juna membuat wajah anak-anak it berseri.
“Beneran, Bang?” Salah satu mereka memastikan.
“Iya.” Arjuna mengangguk mantap. “Ayo sini, ambil sendiri!”
“Hore!” sorak mereka kompak.
************
Arjuna mematut diri di depan cermin. Tampak ganteng dan berkelas. Sebelum berangkat Arjuna meraih ponsel dan menhubungi nomor adiknya.
“Assalamualaikum, Mas,” sahut Mentari ujung sana.
“Waalaikumsalan Nduk,” sahut Arjuna. “Simbok mana?”
__ADS_1
“Mbok ada telepon dari Mas Juna,” terdengar suara Menatari.
“Ada apa, Lhe?”tanya Mbok Sam, tumben pagi-pagi anaknya sudah menelpon.
“Mbok doain aku ya!” pinta Arjuna. “Hari ini aku ada wawancara kerja.”
“Alhamdulillah,” ucap syukur Mbok Sam. “Simbok doakan moga lancar dan ketrima ya, Lhe!”
“Aamiin,” balas Arjuna.
Arjuna datang lima belas menit lebih awal dari waktu ditentukan. Tak lama pemilik perusahaan datang dan mengintrogasinya. Dengan tenang Juna menjawab semua pertanyaan.
“Selamat bergabung dengan perusahaan kami Pak Arjuna.” Pemilik perusahaan mengulurkan tangan yang masih disambut ragu oleh Arjuna.
“Maksud Bapak, saya diterima di sini?” Anak Mbok Sam itu memastikan.
“Iya,” sahut laki-laki setengah baya mantap. “Pak Arjuna masuk dengan syarat menjadi tenaga akuntan di perusahaan kami.”
“Makasih Pak.” Arjuna menjabat erat calon atasannya. “Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk perusahaan ini.”
“Saya yakin itu Pak Juna,” sahut pemilik perusahaan optimis. “Dan Pak Arjuna akan mendapat rumah dan mobil dinas.”
“Masyaallah, terima kasih.”
***********
Karir Arjuna makin bersinar. Dan kali ini ia tak lupa dengan janjinya. Bersama Bima, ia pulang menjemput Mbok Sam dan Mentari.
“Mbok, ikut aku ke Jakarta ya!” pinta Arjuna. “Kita tinggal bareng-bareng sama Bima dan Mentari di sana.”
“Iya, Mentari kan sudah lulus SMA,” imbuh Bima.
“Biar nanti Mentari kuliah di Jakarta,” ucap Arjuna.
“Tapi, kuliah kan mahal Jun,” sahut Mbok Sam. “Dan sekarang Simbok sudah ga jualan lagi.”
“Aku yang akan bayar kuliah Mentari sampai lunas,” janji Arjuna membuat Mentari terkejut campur bahagia.
“Beneran, Mas?” tanya Mentari dengan mata berbinar.
“Benar adikku.” Dengan lembut Arjuna mengusap rambut adiknya.
“Mbok, aku kuliah.” Kelopak mata Mentari mulai digenangi air mata bahagia.
“Rezeki kamu, Nduk,” ucap Mbok Sam.
Namun tiba-tiba wajah Mbok Sam berubah sendu tatkala memandang wajah Abimanyu. Anak keduanya itu hanya mampu mengenyam pendidikan sampai SMP.
“Maafin Simbok ya, Bim,” pinta Mbok Sam mengejutkan anak-anaknya. Semua pandangan tertuju pada Mbok Sam.
“Simbok hanya bisa nyekolahin kamu sampai SMP saja,” lanjutnya malah membuat Abimanyu tersenyum.
__ADS_1
“Gapapa Mbok,” jawab Abimanyu. “Anakmu ini tanpa sekolah juga bisa sukses,” lanjutnya sedikit sombong sehingga mengundang tawa semua.
************