
Arjuna dimabuk cinta. Hari-hari bersama Nindi sungguh membuat lupa diri jka dia sudah punya anak dan istri. Setiap pulang kerja hampir dihabiskna bersama Nindi entah di luar ataupun di rumah Nindi.
Gadis remaja itupun mulai terbiasa dengan kehadiran laki-laki yang umurnya lebih tua tujuh belas tahun dengannya. Tak malu-malu bermanja ria dan tak segan meminta ini itu termasuk minta jatah uang untuknya dan keluarga.
“Mas, minta uang dong buat berobat Bapak!” mintanya di minggu pertama saat gajian.
“Mas, bagi uang dong buat bayar sekolah!” pintanya di pertengahan bulan.
“Mas, minta duit dong buat beli skin care Nindi!” pintanya di minggu ketiga.
“Mas, uang sakuku habis, Bapak lagi ga bisa cari duit!” pintanya di tanggal tua.
Apapun yang diminta Nindi semua dikabulkan Arjuna. Dia tak ingin pacarnya kekurangan uang. Seperti sore ini, sepulang kerja.
“Kok cemberut sih?” tanya Arjuna lembut. “Ga enak ya makananya?”
Nindi tak bergeming. Dia hanya mengaduk-ngaduk spageti di depan mata.
“Kenapa, Yang? Cerita dong!” bujuk Arjuna.
“Sedih aku selalu diledekin teman-teman, gara-gara aku ga punya motor sendiri. Selalu naik angkot ke sekolah,” cerita Nindi sambeil menggerutu.
“Ya gapapa dong Sayang. Dulu Mas kalau sekolah ya naik sepeda onthel.” Hibur Juna.
“Dulu sama sekarang kan beda!” tukas Nindi ketus membuat Arjuna menelan saliva. Suami Arimbi itu terdiam, baru menyadari perbedaan usia mereka yang cukup jauh.
“Mas, kamu beliin aku motor dong!” rajuk Nindi membuat Arjuna tersedak. Spageti yang baru saja masuk mulut nyangkut di tenggorokan. Buru-buru ia meneguk lemon tea.
“Mas, kok diam sih?” gerutu Nindi, Arjuna tak meladeni ucapannya.
“Motor itu kan mahal, ga murah,” kilah Arjuna.
“Uang segithu mah ga masalah untukmu, Mas!” tegas Nindi. “Ayolah Mas, jangan pelit-pelit sama pacar,” lanjutnya membuat Arjuna malu.
“Oke, nanti aku beliin,” ujar Arjuna jaga gengsi.
“Beneran, Mas?” tanya Nindi dengan mata berbinar. Dan Arjuna hanya mengangguk menyakinkan sang pacar.
Dua hari kemudian, motor matic baru menghiasi rumah Nindi. Dengan gembira, gadis belia itu mengamati motornya dengan seksama dan suka cita. Membelai jok motor dan bodi motor.
“Kamu suka?” tanya Arjuna.
“Suka banget, Mas,” seru Nindi masih mengelus-elus motornya. “Makasih ya!”
ucapnya lalu memeluk sang kekasih.
“Bapak, ibu ke mana?” tanya Arjuna saat rumah sepi.
“Lagi ke Subang. Saudara ada hajatan.”
“Berarti bisa dong kita.” Arjuna mencolek dagu pacarnya sembari mengedipkan mata. Tampak Nindi tersipu malu.
__ADS_1
“Ayo!” Pintu rumah tertutup.
***************
“Mas, mau kirim buat Simbok dan Biyung ga?” Baru gajian kan?” terdengar suara Abimanyu dari seberang ponsel.
“Maaf, ga bisa kirim, aku lagi banyak keperluan,” tolak Arjuna.
“Seratus, dua ratus saja Mas! Buat beli sarapan dan pempers!” Abimanyu masih memaksa.
“Ga ada, Bim. Maaf!” Arjuna memutuskan hubungan.
Arjuna menghela napas panjang. Jangankan untuk ngirim Mbok Sam, untuk keperluan sehari-hari saja gajinya tidak cukup. Uang sekolah, susu, diapers, cicilan mobil, cicilan rumah, uang makan yang berlipat-lipat karena Arimbi tak mau masak. Belum lagi ini cicilan motor Nindi, uang untuk orang tua Nindi dan uang saku pacarnya. Benar-benar bikin pusing tujuh keliling.
Gajinya benar-benar ga culup. Di samping ia masih punya hutang di koperasi kantor, Arjuna juga terpaksa berhutang di tiga rentenir. Dan semua tanpa sepengetahuan Arimbi.
***********
Setahun berlalu. Kisah kasih Arjuna dan Nindi masih awet hingga sang gadis lulus SMA. Di sebuah café, mereka menghabiskan waktu malam mingguan.
“Setelah lulus kamu mau ke mana, Dek?” tanya Arjuna sambil membelai rambut panjang sang pacar.
“Aku mau jadi TKW, Mas,” jawaban Nindi membuat Arjuna terperanjat.
“Kenapa harus jadi TKW? Kenapa ga cari kerja di sini saja?”
“Lulusan SMA, jadi apa sih, Mas? Paling mentok jadi SPG,” keluh Nindi.
“Mau gimana lagi, Mas?” sahut Nindi pasrah.
“Aku anak satu-satunya. Hutang bapak banyak sedang beliau sudah tak bisa nyari duit lagi buat bayar utang.”
Arjuna terdiam.Kalau sudah urusan uang memang susah.
“Kalau jadi TKW kan duitnya gede. Bisa untuk bayar utang bapak,” lanjut Nindi dengan wajah memelas.
“Memang utang Bapak berapa?” tanya Arjuna ragu.
“Banyak Mas,” jawab Nindi seperti tak enak hati.
“Berapa?” desak Arjuna.
“Sepuluh juta.” Sebuah angka yang membuat Arjuna kaget. Laki-laki itu menghela napas panjang.
“Kalau Mas Juna mau bayarin, aku ga jadi kerja di luar negeri,” ujar Nindi kemudian membuat Arjuna bingung.
********
Pikiran Arjuna kacau. Antara tak ingin ditinggal Nindi pergi dan tak punya uang untuk membayar utang ayah Nindi.
“Kalau Nindi pergi nanti ga ada yang menghibur hatinya,” pikir Arjuna.
__ADS_1
“Tapi kalau harus bayarin utang sepuluh juta ya ga sanggup,” tentang sisi baik Arjuna.
“Arrgggg, pusing!” Arjuna mengacak rambutnya kasar.
“Kenapa Mas?” tanya Arimbi yang baru masuk ke kamar.
Arjuna kaget lalu menatap wajah istrinya yang terlihat cantik itu. Meski ia capek mengurus anak-anak dan malas masak namun tak dipungkiri, ia selalu merawat diri.
Rambut Arimbi yang terurai dan gaun tidur di atas lutut membuat jiwa kelelakiannya bangun. Ia mulai memeluk dan membelai rambut sang istri. Tampak Arimbi risih dengan perlakuan suaminya.
“Dek, udah sebulan nih ga dikasih jatah,” bisik lembut Arjuna.
“Apaan sih, Mas! Aku capek!” gerutu Arimbi sambil mendorong Arjuna. Selepas itu ia terbaring di tempat tidur sembari memainkan layar sentuh. Sibuk menulis di atas layar.
Arjuna mendengus kesal. Hasratnya tak tersalurkan. Padahal semua kewajibannya sebagai suami sudah ia tunaikan dengan baik tanpa protes.
**********
Uang sepuluh juta sudah di tangan. Arjuna mendapatkannya dari rentenir perempuan. Penolakan Arimbi kemarin menjadi pemicu Arjuna berhutang guna membayar utang bapaknya Nindi.
“Makasih ya Mas, kamu sudah bantuin aku!” Nindi sumringah mendapati uang sepuluh juta di depan mata.
“Ini, aku lakukan karena aku begitu mencintai kamu dan tak ingin kamu perg jauh,” ujar Arjuna sambil merangkul pinggang pacarnya lalu mencium kening.
“Aku ga akan pergi jauh-jauh darimu,” janji Nindi membuat perasaan Arjuna menggila.
“Benarkah?” Arjuna memastikan.
“Janji, Mas!” ucap Nindi bergelayut manja di pelukan sang pangeran cinta.
************
“Wah, banyak baget duitnya, Nin?” mata oramg tua Nindi berkilauan mendapati uang sepuluh juta di angan.
“Iya Pak dari Mas Arjuna untuk bayar hutang,” sahut Nindi turut bahagia dengan kebahagiaan mereka.
“Kalaiu begini mah, pepet terus itu Nak Juna!” titah sang bapak.
“Kalau perlu jadi istri keduapun ga masalah,” sambung sang ibu.
“Iya, dia kaya dan tajir ini,” pungkas bapak.
“Emang hutang bapak berapa?” tanya Nindi.
“Cuma tujuh juta.”
“Asyik dong ada sisa tiga juta buat belanja, shoping!” seru Nindi sumringah.
Arjuna adalah ATM bagi Nindi dan keluarganya. Maka gadis itu akan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya selama Arjuna masih mencintainya.
**************
__ADS_1