HATI TANPA NURANI

HATI TANPA NURANI
TERBONGKAR


__ADS_3

Sepandai-pandaninya menyimpan bangkai pasti suatu saat akan terbongkar. Itulah yang terjadi pada Arjuna. Lengah dengan sikap cuek Arimbi membuat anak Mbok Sam itu optimis hubungan gelapnya denagn Nindi tak akan ketahuan.


Awalnya Arimbi tak menggubris laporan dari para tetangga yang melihat Arjuna sedang jalan di mall, atau sedang makan dengan seorang cewek di café. Namun nyatanya, bisik-bisik tetangga itu makin santer terdengar dan membuat kupingnya panas.


Sehingga beberapa waktu Arimbi terpaksa menjadi detektif Conan untuk mengumpulkan bukti perselingkuhan suaminya.


Panas dan tak terima, di hari ketujuh penyelidikan, Arimbi menangkap basah Arjuna yang sedang mesra-mesraan di café.


“Bagus ya, Mas!” sentak Arimbi mengejutkan Arjuna dan selingkuhannya seketika. “Jadi bener selama ini omongan orang-orang jika kamu itu selingkuh di belakangku?”


“Dengarkan dulu, Sayang!” Arjuna berusaha meredam emosi sang istri.


Malang tak bisa ditentang. Kemarahan Arimbi sudah sampai di puncak. Dengan kasar, istri Arjuna itu melempar air ke wajah selingkuhan itu hingga wajah dan bajunya basah. Lalu sisa makanan itupun ia lempar ke wajah itu hingga kecantikkan berubah jadi menu makanan.


Berpasang-pasang mata tertawa sambil kasak kusuk mengomentari perang gratis itu. Puas dengan pelakor yang kena karma. Sedang si Nindi tak bisa berkata apa-apa. Malu dan kesal bercampur jadi satu.


“Kamu apa-apaan sih?” sentak Arjuna dengan kelakuan Arimbi.


“Ini belum seberapa, Mas! Dibanding sakit hatiku karena kalian selingkuh!” sentaknya.


“Tapi bisa kita bicarakan baik-baik!” pinta Arjuna. “Kalau begini malu jadi tontonan orang-orang.”


“Kamu selingkuh saja ga malu kok!” tukas Arimbi tegas. “Ayo pulang!” Dengan kasar Arjuna menyeret suamninya.


“Tapi aku anterin Nindi dulu!” Arjuna meronta.


“Dia sudah gede, bisa pulang sendiri.” Arimbi terus menyeret suaminya tak peduli dengan orang-orang yang jadi penonton.


“Duh, cantik-cantik ternyata pelakor ya?”


“Malu kali pingin cepat kaya tapi jadi simpanan om-om.”


“Bisa tuh nanti kita booking.”


Celetukan-celetukan itu membuat Nindi panas. Hatinya geram dan dendam dengan perlakuan Arimbi. Tak terima ia dipermalukan seperti ini.


Bukan salahnya jika ia jadi pelakor. Lha Arjuna sendiri yang datang dan menyatakan cinta. Ada tambang emas di depan mata, kenapa tidak dimanfaatkan.


“Kalau sudah selesai dengan laki-laki itu, hubungi aku ya!” Seorang cowok berbadan tambun, berkumis tebal memberinya kartu nama. “Aku juga setajir dia lho!” senyum genit ditinggalkan oleh laki-laki hidung belang itu sebelum berlalu membuat Nindi bergidik.


“Mbak, ini bonnya!” seorang karyawan menyodorkan tagihan makan.


Nindi mendengus kesal. Sudah jatuh ketimpa tangga pula. Dibuat malu oleh Arimbi, disindir oleh orang-orang, dapat senyum nakal dari lelaki hidung belang, eh sekarang suruh bayar makanan yang masih di perut.


************

__ADS_1


“Dari kapan Mas, kamu selingkuh sama perempuan itu?” cecar Arimbi sesampainya di rumah.


Arjuna hanya diam, tak menyahut. Justru hal itu membuat Arimbi makin melonjak emosi.


“Jawab Mas, jangan diam saja!” bentakya.


“Semenjak Fildan lahir,” jawab Arjuna lirih.


“Apa?!” pekik Arimbi.


Anak Bu Tejo itu hilir mudik di depan Arjuna dengan tangan satu memegang dahi dan satu berkacak pinggang. Tak habis pikir, suaminya mengkhianatinya selama itu.


“Aku repot ngurusin Nabila ma Fildan malah kamu enak-enakan selingkuh sama wanita itu.”


“Ya, maaf! Aku khilaf,” ujar Arjuna menyesal.


“Kalau khilaf ga akan selama itu kalian berhubungan!” tangkis Arimbi. “Ngaku saja kalau kamu memang niat mengkhianati aku, Mas!”


“Awalnya aku sekedar iseng,” aku Arjuna. Tapi kesini-sini kamu makin cuek sama aku. Terlalu sibuk dengan anak, diri sendiri dan ponsel sampai melupakan kewajibanmu pada suami.”


“Maksud kamu apa?”


“Setelah kamu punya anak kamu lupa kalau punya suami.” Kali ini Arjuna tak mampu menahan rasa hati. “Tak ada sarapan, tak ada kopi tiap pagi. Jika pulang tak ada makanan. Tiap pulang ke rumah, kamu asyik berselancar dengan ponselmu.”


“Ditambah kamu selalu menolak jika malam aku minta jatah. Kamu cantik, kamu pandai mengurus diri dan anak tapi kamu tak bisa mengurus suamimu.”


“Mau baru menikah, sudah sepuluh tahun menikah atau sampai tua nanti kita berumah tangga, kebutuhan biologis itu wajib untuk seorang laki-laki,” tandas Arjuna tak mau mengalah dengan sang istri yang mulai bercucuran air mata.


“Pokoknya aku tak terima dengan perselingkuhanmu!” tandas Arimbi mulai mengemasi barang-barangnya dan kedua anaknya.


“Untuk sementara aku tinggal di rumah ibu sampai kamu meninggalkan wanita murahan itu.”


“Pergilah!” tukas Arjuna membuat Arimbi terperanjat. Bukannya melarang ia pergi, suaminya malah menyuruhnya ke luar.


“Memang dari dulu kamu tak menghargaiku sebagai suami,” keluhnya membuat Arimbi makin marah.


“Apa maksudmu?” tantang Arimbi.


“Kamu itu menganggapku tak ubahnya mesin ATM yang harus memenuhi semua kebutuhanmu, kebahagiaanmu. Sedang kamu tak pernah memikirkan kebahagiaanku.”


“Terserah!” Arimbi beranjak pergi.


Arjuna hanya terdiam. Tak menghalangi kepergian sang istri. Dirinya perlu suasana tenang untuk menenangkan diri. Meskipun pertengkaran ini salahnya, toh Arimbi punya andil.


*************

__ADS_1


Pak Tejo dan Bu Tejo dibuat kesal oleh cerita Arimbi tentang perselingkuhan sang mantu. Dari awal mereka sudah tak suka dengan Arjuna, eh sekarang malah ditambahi.


“Dasar Arjuna tak tahu diuntung!” umpat Pak Tejo. “Sudah dapat istri anak orang kaya, cantik, eh malah dicampakkan.”


“Sok kegantengan, dia berani-beraninya selingkuh.” Bu Tejo ikut mengumpat.


“Emang apa alasan Juna selingkuh?” tanya Pak Tejo.


“Sekedar iseng, Pak,” jawanb Arimbi berurai air mata.


“Wealah dari iseng jadi kebablasan,” cerocos Bu Tejo.


“Harus diberi pelajaran nih Juna! Enak saja mainin anak Pak Tejo, orang terkaya di kampung.” Lelaki berkumis itu mengepal tangan dengan gigi menggerutuk.


*******************


Nindi meletakkan kopi hitam di meja saat Arjuna bertandang ke rumah. Senyum manjanya selalu terhias saat kekasihnya datang.


“Diminum, Mas!”


“Makasih.” Arjuna meneguk kopi itu sedikit. Meletakkan kembali ke meja lalu menyenderkan punggung ke sofa.


“Maaf ya, sayang dengan kejadian kemarin,” ujarnya sambil menatap wajah belia itu.


“Gapapa Mas, sudah resiko jadi simpanan,” jawab Nindi sendu.


“Kok kamu ngomongnya githu?” Arjuna jadi tak enak hati membuat kekasihnya bersedih.


“Ya gara-gara kemarin, aku dikata-katain pelakorlah, simpanan om-om,” keluh Nindi menghadirkan iba di hati Arjuna.


Ayah dua anak itu meraih jemari Nindi dan menggenggamnya erat-erat.


“Kamu yang sabar ya!” Arjuna menyemangati dengan senyum.


“Kenapa ga nikahin aku saja,Mas?” Seketika pertenyaan itu membuat senyum Arjuna hilang.


“Menikah?” Arjuna memastikan.


“Iya, menikah. Kalau kita menikah kan aku ga lagi jadi pelakor dan simpanan om-om,” jawab Nindi antusias.


“Tapi aku sudah punya istri dan anak.”


“Gapapa jadi istri yang kedua,” jawab Nindi cepat. “Aku ikhlas kok!”


Kepala Arjuna makin cekut-cekut. Belum kelar Arimbi marah karena perselingkuhan ini. Eh, Nindi malah ngajakin meried.

__ADS_1


Arjuna membuang napas kasar. Mumet Mbok.


******


__ADS_2