
Waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa kandungan Arimbi sudah memasuki bulan ke tujuh. Semenjak diberi tahu jika menantunya hamil, seminggu sekali Mbok Sam selalu mengunjungi mereka dengan membawa rujak dan bakso. Kebetulan Arjuna cerita jika Arimbi nyidam dua makanan itu.
“Ini Mas, jamunya!” Mbok Sam menyodorkan segelas jamu seduh campur ayam kampung ke tukang buah dan rujak.
“Ini, Mbok!” Si Mas asli Slawi ingin membayar jamu namun segera ditolak Mbok Sam.
“Dibayar pakai rujak saja ya, Mas!” pinta Mbok Sam kemudian.
“Oalah, mau nengokin mantu ya, Mbok?”
“Iya, Mas.”
“Simbok ini perhatian banget sama mantu ya!” puji Mas asli Slawi sambil tersenyum.
Dengan riang Mbok Sam menggendong bakul jamunya yang sudah kosong. Alhamdulillah hari ini jualannnya habis terjual. Wanita yang mulai berumur itu mampir ke warung adiknya. Bersyukur sekali Mbok Sam dapat sayur asem dan cabai gratis. Mbok Sam tinggal membeli satu bungkus ikan asin dan setengah papan tempe.
Rutinitas dijalankan seperti biasa. Cuci botol, masak, jemur pakaian lalu bergegas makan karena memang sudah waktunya makan siang. Setelah perut terisi, ia menghampiri tetangganya yang kebetulan jualan bakso.
“Mas, bakso satu ya! Sambal dan saosnya dipisah!” pesan Mbok Sam.
“Mau ke kontrakan Juna ya, Mbok?” tanya Sukidi_penjual bakso.
“Iya. Arimbi lagi nyidam bakso sama rujak.” Mbok Sam mengulurkan uang tapi ditolak oleh Sukidi.
“Mbok Sam tadi sepertinya masak sayur asem dan sambel ya?” tanyanya kemudian yang dijawab anggukan kepala oleh Mbok Sam. “Aku mau dibayar pakai sayur asem dan sambel saja deh.”
“Beneran, Mas?” tanya Mbok Sam sumringah.
“Iya. Sono ambilin!” Sukidi menyodorkan mangkuk. Tak berapa lama mangkok itu sudah berisi penuh sayur asem ditambah sebungkus sambel, ikan asih dan tiga buat tempe goreng.
“Enak tenan ki, Mbok!” Sukidi menerima dengan sumringah.
********
Kontrakan Arjuna memang tak begitu jauh dari tempat Mbok Sam mengontrak. Jadi cukup jalan kaki lima belas menit, Mbok Sam sudah sampai di kontrakan Arjuna yang nyaman dan adem.
“Bawa apa, Mbok?” tanya Arjuna setelah ibunya masuk ke kontrakan.
Tampak Arimbi masih asyik nonton TV sambil rebahan di atas kasur.
“Bakso dan rujak untuk Arimbi,” jawab Mbok Sam mengalihkan pandangan Arimbi. Gadis itu menggeser badannya, mendekati mertua dan suaminya.
“Ambilin mangkok dong, Mas!” perintahnya yang langsung diiyakan sang suami.
Bakso dituang. Arimbi sudah tak sabar menikmati santapan lezat itu. Ia menuang saos dan sambal lalu menambahkan sedikit kecap.
“Makan, Mbok!” tawarnya basa- basi sebelum melahap bakso.
__ADS_1
“Makasih Nduk, buat kamu saja.” Mbok Sam tersenyum bahagia, menantunya melahap habis makanan darinya.
********
Semenjak mengandung, badan Arimbi sering drop. Hampir dia tak bisa beraktivitas sepanjang hari. Otomatis, gadis itu selalu order makanan dari luar. Makanan yang dibelipun tak tanggung-tanggung, selalu makanan enak dan mahal.
Kebiasaan itu membuat keluarga kecil itu tak punya tabungan. Gaji Arjuna cuma numpang lewat.
“Dek, kamu ngirit sih buat nanti lahiran!” pinta Arjuna suatu hari.
“Ini juga sudah diirit-irit Mas, tapi ya itu apa-apa memang mahal,” kilah Arimbi siap berdebat.
“Tapi kan kita harus nabung buat beli perlengkapan bayi dan persalinan nanti.”
“Beli perlengkapan bayi bisa pakai gajian bulan depan. Toh baru tujuh bulan ini!” tukas Arimbi.
“Terus biaya persalinan dari mana? Persalinan di Jakarta kan mahal meski cuma dengan bidan.”
“Ya, bulan depan mulai nabung!” sahut Arimbi kesal.
“Tetep ga cukup, kalau bulan besok baru nabung. Harusnya dari kemarin-kemarin,” gerutu Arjuna kesal dengan sikap boros istrinya.
*******
Suratan takdir tak ada yang tahu. Saat manusia membayangkan kelangsungan hidup yang terus menerus pada sebuah pekerjaan, bisa dengan sekejap Tuhan melenyapkan angan-angan itu.
Wajah kusut Arjuna sepulang kerja membuat tanda tanya pada diri Arimbi.
“Kenapa, Mas?”
“Perusahaan bangkrut. Semua karyawan diPHK.”
“Hah?!” teriak Arimbi histeris. “Kamu diPHK?” tanyanya memastikan. Arjuna hanya mengangguk.
“Terus, dapat pesangon, kan?” lanjut Arimbi penuh harap. Tapi harapannya itu musnah seiring gelengan kepala Arjuna.
“Karyawan tetap saja yang dapat pesangon.”
Arimbi menepuk jidat. “Terus kita makan, bayar kontrakan, beli perlengkapan bayi dan biaya persalinan dari mana?” tukasnya putus asa.
“Bayar kontrakan dan makan bisa dari gaji bulan ini.” Arjuna mengelus punggung istrinya.
“Kalau beli perlengkapan bayi nanti, ya! Mas, mulai besok cari kerja!”
Arimbi tak bergeming. Dia benci keadaan kekurangan seperti ini. Di saat anaknya mau lahir, ada saja cobaan hidup. Apa begini rasanya hidup berumah tangga? Tapi kalau melihat rumah tangga kakaknya, Hana yang notabene orang kaya, adem ayem saja dari awal menikah.
“Nyesel aku nikah muda,” pekik Arimbi dalam hati.
__ADS_1
Andai saja dulu ia nurut dengan ucapan orang tua untuk meninggalkan Arjuna, mungkin saat ini ia sedang di kampus bersama teman-temannya kuliah. Bercanda, shoping, nongki-nongki di café atau mall. Jalan-jalan ke tempat wisata tiap akhir pekan.
Arimbi memang punya impian kuliah di Jogja sekaligus berwisata dengan kota budaya itu. Mengambil jurusan managemen karena dia ingin sekali menjadi wanita karir dan sukses dengan bidang itu. Namun sayang, semua impiannya harus lenyap karena dia dimabuk cinta. Cinta yang akhirnya menjerumuskan hidupnya pada masalah keuangan.
**********
Sebulan sudah Arjuna mencari pekerjaan ke sana kemari. Mengetuk satu kantor ke kantor lain untuk mencari peruntungan. Namun sayang, nasib baik belum berpihak padanya.
Usahanya masih belum membuahkan hasil.
Sedang di rumah, beras, gula, kopi dan teh habis tak bersisa. Uang di tanganpun tinggal hitungan lembar. Sementara sudah waktunya bayar kontrakan.
“Mas, belum dapat kerja lagi?” tanya Arimbi gusar denga keadaan.
“Belum, Dek.”
“Terus kita makan dan bayar kontrakan dari mana?” tanya Arimbi kesal.
“Masih ada sisa uang kan?” Arjuna memastikan.
“Seratus ribu cuma bisa buat makan berapa hari?” tukas Arimbi kesal.
“Tok...tok...assalamualaikum.” Sebuah suara melerai perdebatan itu.
Arjuna berdiri dan membukakan pintu.
“Eh, ibu kontrakan,” sapa Arjuna dengan senyum.
“Saya mau nagih uang kontrakan bulan ini, Mas Juna,” jawab si ibu tanpa basa-basi membuat Arjuna sedikit gelagapan.
“A…anu, Bu…anu, saya belum gajian,” jawab Arjuna berbohong.
“Ya sudah, saya beri waktu tiga hari ya, Mas Juna. Kalau lebih dari tiga hari tapi belum bayar, tolong angkat kaki dari kontrakan saya!” ucap pemilik kontrakan dengan nada sinis.
“Iya, Bu.” Arjuna menutup kembali pintu.
“Gimana ini, Mas?” Arimbi tambah gusar dengan hidupnya.
“Bagaiman kalau kita tinggal lagi sama ibu!” ajak Arjuna yang langsung ditolak Arimbi.
“Ga mau! Udah sempit, kumuh, bau,” jawab Arimbi menghujat membuat Arjuna miris tempat tinggal ibunya begitu dibenci oleh sang istri.
“Lalu, kita mau tinggal di mana?” tanya Arjuna pasrah. “Uang buat bayar kontrakan saja ga punya.”
“Makanya Mas mikir! Itu kan tugasnya kepala keluarga!” tangkis Arimbi tak mau tahu.
****
__ADS_1